
Reva tidak menyangka Sandy akan berkata seperti itu.
Tidak akan melepaskannya?
Reva memundurkan duduknya.
Menatap Sandy lebih fokus.
"Om....
Pernikahan itu usianya panjang.
Seumur hidup.
Aku gak mau bercerai, Om.
Aku juga gak mau suamiku selingkuh.
Aku gak mau suamiku diam-diam punya wanita idaman lain.
Aku gak mau suamiku tiba-tiba jatuh cinta sama perempuan lain.
Atau... cinta lama bersemi kembali.
Aku mau suamiku cuma jatuh cinta sama aku saja.
Seumur hidupnya."
"Dan menurut kamu aku bukan tipe suami seperti itu untuk kamu ?"
Reva menggeleng.
"Om bakal menyesal."
"Tapi Steven bisa ?"
Reva terhenyak.
"Steven?
Kenapa Steven dibawa-bawa ?"
"Karena satu alasan kamu nolak aku ya dia.
Ya kan ?" kejar Sandy membalikkan keadaan.
"Steven gak ada hubungan nya sama obrolan kita sekarang, Om."
"Steven ada hubungannya."
"Enggak !" kata Reva keras.
Reva menegakkan dirinya.
"Aku dan Steven gak punya masa depan, Om !
Om kan tau keluarga ku
Kami gak bisa lepas dari pengaruh keluarga besar.
Dan itu berlaku untuk Om."
"Aku bisa melakukan hal yang sama yang dilakukan Michael, Va."
"Bisa. Tapi apa alasan dibaliknya ?
Om cuma gak mau kalah dan salah.
Om cuma gak mau kalo aku terbukti benar.
Bertahun-tahun dari sekarang...Om akan menyesali tindakan Om sekarang.
Aku gak mau masuk ke pernikahan seperti itu, Om.
Aku gak mau suamiku tiba-tiba menyadari bahwa aku adalah pilihan yang salah."
"Astaga, Va.
Setiap laki-laki yang punya istri seperti kamu gak akan menyesal."
"Om jangan mengubah arah pembicaraan."
"Lho..kamu bicara tentang aku yang bakal menyesal karena memilih kamu kan ?
Enggak.
Enggak akan !" kata Sandy dengan tegas.
Bola mata Reva mengamati Sandy.
"Om juga terlalu ganteng !"
Sandy tertawa.
"Astaga, Vaaa!!
Aku gak minta wajah begini.
Udah dari sononya begini."
"Lha..iya...
Aku kan jadi insecure punya suami banyak yang gandrungin."
"Kamu kebanyakan alesan !" kata Sandy mengeplak ubun-ubun Reva.
Reva memajukan bibirnya.
Matanya bersinar bandel.
"Aku gak mau setiap kali terpaksa numpahin kopi ke baju suamiku biar dia inget untuk gak janjian ketemuan sama mantannya !!" katanya judes.
"Hm..
Jadi kamu ngaku kan, Va ?"
"Ngaku apa ?"
"Kamu sengaja numpahin kopi ke celana ku tadi?" kata Sandy galak.
Reva mengkerut.
"Ehm...
eh...tanganku nyenggol gelasnya Om."katanya.
Matanya menatap kearah lain selain ke mata Sandy.
Sandy melengkungkan bibirnya.
Reva merinding.
"Kamu perlu dihukum !"
"Udah Om !!
Tadi kan Om suruh aku milihin baju.
Aku udah ngelakuin."
"Enak aja.
Numpahin kopi ke celanaku, bikin aku malu di depan orang banyak.
terus gak minta maaf !!"
"Bikin malu di depan siapa ? Mantan ?!"cibir Reva.
"Berarti masih mikirin dong ?!
__ADS_1
Iya kan ?!.Ngaku aja deh !!" kejar Reva.
"Ini anak !!"
Sandy mendadak menerpa tubuh Reva hingga telentang di sofa.
Tangannya mengunci kedua tangan Reva.
"Oom !!" jerit Reva.
"Kamu terima hukumanmu, Va !!"
"Hah ?!
Om...!!"
Sandy sudah menundukkan kepalanya.
Mulutnya mengincar leher Reva.
Dia menggigit daging leher.
Menghisapnya hingga menyisakan bekas merah.
Reva yang merasa geli terkikik.
Juga mengaduh.
"Om....aduh.." katanya mengaduh sambil terkikik.
Sandy memindahkan mulutnya.
Menyasar sisi lain.
Dia bertekad hendak membuat Reva sama malunya Seperti dia.
Dengan memberikan Kissmark di tempat-tempat yang terlihat.
Reva menggeliat.
Berusaha mengelak.
"Om...hhh" desah Reva.
Rasa geli menjalar mengirimkan gelenyar ke perutnya.
Reva kembali menggeliat.
Dadanya menggesek dada Sandy yang sedang menindihnya.
Gerakannya malah membangunkan sesuatu di dalam diri Sandy.
Sandy yang sedang memberikan Kissmark untuk keempat kalinya.
Sandy menekan tubuhnya.
Ingin merasakan lebih banyak kelembutan tubuh Reva.
Gairahnya naik.
Sandy berhenti.
Dia mengangkat wajahnya.
Wajahnya kini kemerahan.
Matanya mengamati Reva.
Reva membuka matanya.
Dia yang sedang tertawa membeku.
Mereka saling bertatapan.
"Va.." bisik Sandy.
Bibirnya mencium lembut.
Menikmati rasa yang ditawarkan bibir Reva.
Sandy melepaskan kunciannya.
Dia membelai Reva.
Reva mendesah.
Kepalanya berkabut dengan gairah.
Desahan Reva membuat gairah Sandy semakin naik.
Tangannya masuk ke dalam kaus.
Menjentik tali bra.
Dan mulai mengeksplorasi dada Reva.
Reva tersentak saat merasakan jemari Sandy di dadanya.
Langsung.
Kulit bertemu kulit.
"Om.."
Reva menggeliat, berusaha melepaskan diri dari tindihan Sandy.
Panggilan Reva menyadarkan Sandy.
Gadis ini masih polos.
Sandy mengangkat wajahnya.
Menatap Reva.
"Va.." katanya.
Dia bangkit.
Menarik Reva duduk.
Reva duduk.
Wajahnya memerah karena gairah dan malu.
Dia memalingkan wajahnya saat membetulkan tali branya.
Berkali-kali terpeleset karena jemarinya yang gemetar.
"Sini, aku bantu." kata Sandy memutar badan Reva.
Reva bertahan.
"A..aku bisa kok." katanya masih berusaha mengaitkan kaitan bra-nya.
Tapi jarinya lagi-lagi terpeleset.
Sandy berdecak.
Dia memaksa Reva berbalik, mengangkat kausnya lalu..
"Oom!!" teriak Reva yang merasa kausnya diangkat.
"Diem ah...
Aku gak bisa liat kalo gak diangkat." gerutu Sandy.
Reva diam.
Wajahnya sudah sangat merah.
__ADS_1
Dicium lain hal.
Tapi..dibantu membetulkan tali bra...duuh...
Mau ditaruh dimana mukanya.
Klik. klik.
Sudah.
Sandy menurunkan kaus Reva.
Dia membalikkan badan Reva.
Lalu memeluknya.
"Aku sayang kamu, Va." katanya di telinga Reva.
Sandy mundur.
Memandang wajah Reva.
Lalu mencium Keningnya.
Senyumnya mengembang.
Reva menatap terpesona pada senyum itu.
Senyum kekanakan.
Betulkah orang ini yang akan jadi suaminya ?
Reva menggelengkan kepalanya.
Dahinya didorong ke belakang.
"Pasti lagi mikir yang enggak-enggak." kata Sandy.
Reva bangkit.
"Aku mau masak, Om." katanya mengalihkan pembicaraan.
Sandy ikut bangkit.
"Aku bantuin." katanya.
"Atur piring aja Om..." kata Reva.
"Ini udah mau selesai."
Sandy mengambil piring lalu mengaturnya.
Dia juga mengambil jus jeruk dari kulkas dan menuangkan ke dua.
Reva menyelesaikan masakannya yang tadi masih ada di atas kompor.
Dia meletakkan nya di piring saji.
Reva lalu memperhatikan dapur Sandy.
"Lengkap banget, Om."
"Iya..kan aku suka masak bareng disini."
Reva mengerutkan keningnya mendengar kata bareng.
"Bareng ?
Sama dia ?" tanyanya.
Sandy mengangkat wajahnya.
"Dia ?
Dia baru sekali ke sini."
Reva melepas celemek nya.
Dia berjalan ke sofa, mengambil tas lalu melangkah menuju pintu.
Sandy mengejar.
"Mau kemana ?"
"Pulang.
Kan udah selesai tugasku.
Milihin baju Om terus masakin.
Sekarang aku mau pulang." kata Reva ketus.
Tangannya ditarik.
"Eh..enggak bisa begitu dong." kata Sandy.
"Apanya yang enggak bisa ?"
"Kamu.
Kamu gak boleh pulang.
Makan dulu abis itu temenin aku disini."
"Aku gak laper, Om.
Udah kenyang nyium masakan."
Reva menarik tangannya.
"Reva !!"
"Apaan sih ?!" balas Reva dengan marah.
Dia menghentak tangannya agar bisa lepas dari cengkeraman Sandy.
Sandy balas menghentakkan tangan Reva.
Menarik Reva ke dalam pelukannya.
"Kamu cemburu ?
Hm ?"
"Ih...enggak !!"
"Asal kamu tau ya..
Aku sama dia gak pernah ngapa-ngapain di sini.
Aku cuma pulang, mandi, abis itu nganter dia pulang."
"Aku Gak nanya, Om." ketus Reva.
"Aku ngasih tau.
Sekarang...ayo makan.
Aku udah laper."
Sandy menarik Reva dengan paksa.
Mau Tidak mau, Reva lalu duduk di meja.
Hatinya sedikit lega.
Dia malas dengan bekas Cindy.
...☘️🍓🌴...
__ADS_1