Kamu Milikku

Kamu Milikku
Sikapmu Pada Yang Lain


__ADS_3

Pagi sekali mereka sudah berangkat.


Cuaca cerah, matahari bersinar.


Bersama teman-temannya, Reva berangkat dengan hati gembira.


Kemarin Setelah menelpon Sandy, Reva menghubungi Steven.


Dia mengkhawatirkan cincinnya.


Tapi...


Steven mengatakan bahwa Reva tidak perlu khawatir, dia akan memberikan cincinnya saat Reva pulang ke Taiwan.


Reva menghembuskan nafas lega.


Steven selalu menepati janjinya.


Dan hari ini, mereka semua bersenang-senang.


Reva pernah main ski di Swiss bersama keluarga Chang dan dia bersemangat membayangkan akan kembali bermain ski.


Setelah meletakkan barang-barang di vila Hong Tao, mereka segera menuju tempat ski.


Mereka memilih jalur yang mudah supaya bisa tetap bersama-sama.


Reva meluncur, menikmati kecepatan yang makin lama makin meningkat.


Didepannya ada Fen yang meliuk.


Reva tersenyum sendiri.


Dia mengayunkan tongkatnya mencoba menyusul Fen.


Kini mereka sejajar.


Fen mengayunkan tongkatnya.


Bersama mereka meliuk di jalur es yang lebar.


Hembusan angin menerpa.


Menerbangkan segala resah dan galau yang ada di hati Reva.


Di satu titik, Fen meliuk lalu berhenti.


Reva mengikuti.


Senyum keduanya merekah.


Waktu berlalu.


Mereka kemudian makan siang lalu kembali main ski.


Sepanjang hari dihabiskan untuk main ski.


Saat hari sudah gelap, mereka berkumpul di dapur menyiapkan makan malam.


Kopi, teh jahe, dan coklat panas disiapkan dalam teko.


Hong Tao rupanya jago masak.


Dia yang memimpin teman-temannya menyiapkan makanan.


Walaupun baru kenal beberapa hari, tapi suasana terasa akrab.


Fen menemukan bahwa Reva mudah untuk diajak berteman.


Dan Reva pun sebaliknya.


Kesan buruk saat pertama berjumpa beberapa hari yang lalu pudar sudah.


Mereka sekarang malah seperti kawan lama.


Reva menyadari bahwa Fen sangat menyukai Steven sejak lama.


Jadi dia paham dengan sikap Fen sebelumnya.


Reva melihat bahwa Fen gadis yang baik.


Kalau...kalau saja... Steven mau membuka hatinya lagi pada gadis lain....


Reva menggelengkan kepalanya.


Ada terselip rasa nyeri di sudut hatinya saat membayangkan Steven move on dengan gadis lain.


Tapi...


Reva juga menyadari bahwa dia harus bisa move on sepenuhnya.


Bukan karena ibu Steven, Sandy atau Steven.


Tapi karena dia sadar bahwa untuk bisa bahagia dalam pernikahannya yang menjelang, dia harus mengubur apapun perasaan lamanya pada orang lain selain calon suaminya.


Dan Reva ingin bahagia.


Ingin seperti pasangan Tia dan Michael atau Biliyan dan Robert.


Reva masih ingat pandangan Michael dan Robert pada istri mereka.


Penuh cinta.


Reva ingin punya suami yang memandangnya penuh cinta.


Sandy memandangnya dengan cara yang persis seperti Robert dan Michael.


Memikirkan Sandy, Reva tersenyum sendirian.


"Ehem !!"


Reva menoleh.


Fen sedang menatapnya sambil tertawa.


"Mikirin siapa sih ?"


Gantian Reva yang tertawa.


Saat akan menjawab, ponselnya bergetar.


Reva meraih ponselnya dari saku.


Sandy.


Reva melirik sebentar ke arah Fen sebelum berbalik menuju teras yang kosong sambil melambaikan tangannya pada Fen.


"Mas.." sapanya manis.


"Hmm..baru kali ini aku disapa mas tanpa harus ngingetin kamu." jawab Sandy sambil tersenyum.


"Ya...kan nanti harus manggil mas terus. jadi..aku harus biasain dari sekarang." balas Reva.


"Hm..."


"Apa?"


"Ah enggak. Cuma...


Paling sebentar doang kamu manggil aku Mas." kata Sandy senyum-senyum.


"Lho...terus nanti aku manggil Mas apaan ?" tanya Reva bingung.

__ADS_1


"Papa...


Daddy.."


"Maas !!"


Merona wajah Reva.


Sambil tertawa keras Sandy memperhatikan wajah Reva.


Hatinya membuncah bahagia.


Hanya melihat sosok Reva saja, dia sudah senang.


Apalagi membayangkan kalau sebentar lagi dia akan memilikinya.


Sandy menatap dalam pada layar ponselnya.


Rona merah wajah Reva....


Hmmm.... rona itu akan ada saat Sandy membuka perlahan kancing kemejanya atau...


di malam panas mereka berdua saat Sandy sedang meng....meng...


Sandy buru-buru menghapus pikirannya yang melayang kemana-mana.


Masih lama San....masih lama...


Tunggu dia lulus dulu baru sikat ! katanya pada diri sendiri.


Senyum Sandy makin menambah ketampanan wajahnya.


Diujung line


Reva berhenti tersenyum.


Satu pikiran menyelusup di benaknya.


Punya suami tampan dan kaya dan....dan...ramah.


Ya itu dia kekurangannya.


Sandy ramah pada siapapun.


Robert juga ramah dan senang bercanda.


Tapi... Sandy tampan.


Diantara mereka bertiga, Sandy paling tampan.


Reva teringat Cindy.


Sudah ditolak mentah-mentah saja pun...masih juga menyimpan rasa cinta yang mendalam.


"Ada apa ?


Kamu kenapa, Va ?" suara Sandy membuyarkan pikiran yang berkecamuk di benak Reva.


Reva tersadar.


Dia mengembangkan senyumnya.


"Ah enggak Mas..


emm..."


Reva ragu-ragu meneruskan.


"Apa ?


Ngomong aja.


Kita ini kan mau jadi suami istri.


Apapun yang kamu rasakan, kamu bisa ngomong ke aku, Va.


Karena aku pun akan seperti itu juga.


Kan suami istri itu teman hidup.


Teman.


Teman curhat juga." kata Sandy panjang lebar.


Reva tersenyum.


"Mas terlalu ganteng !" semburnya.


Sandy tertawa.


Lalu tiba-tiba berhenti dan memandang Reva dengan serius.


"Va...


Wajah ini anugrah Tuhan.


Aku gak bisa mengubah apa-apa.


Tapi hati itu pilihan.


Dan aku memilih untuk menyerahkan hatiku buat kamu.


Kamu saja.


Kamu seorang.


Gak ada yang lain.


Jadi...percaya sama aku ya ...?"


Reva terdiam.


"Ya...


Aku tau kamu belum bisa yakin.


Tapi waktu akan membuktikan."


Reva masih diam.


"Va...


Pernikahan itu ibadah terlama.


Gak main-main.


Hubungannya sama Tuhan.


Aku gak berani main-main sama Tuhan.


Aku akan setia sama kamu.


Kamu dan aku... kita akan saling setia."


Sandy sengaja mengatakannya.


Dia ingin menekan Reva untuk setia padanya.


Tidak lagi memikirkan dan bahkan mencintai orang lain.


Mencintai Steven.

__ADS_1


"Setelah kita menikah, Va..


Aku dan kamu akan saling memberikan hati kita satu sama lain.


Full tanpa batas.


Cuma kamu...dan aku.


Ya..?"


Sandy kembali menekan Reva dengan kata-kata nya.


Sadar bahwa mereka baru bertunangan resmi hanya tiga bulan.


Itupun Sandy memaksa dengan memakai momentum dalam acara jumpa pers girlband Reva.


Sadar bahwa Reva baru saja putus dari Steven.


Sandy menatap mata Reva, mencari keraguan dan ketidak pastian.


Dan kecewa saat menemukan nya.


Tapi Sandy menekan nya dalam hati.


Cinta tidak bisa instan.


Perlahan dia akan membuat Reva mencintai nya.


"Mas...


Jangan terlalu baik sama cewek lain.


Ya ?"


Suara Reva menyadarkan lamunan Sandy.


Sandy tertawa.


"Oke.


Apa perlu aku berubah jadi Michael ?" tanyanya bercanda.


Reva diam tidak menjawab.


Sandy tersentak saat melihat Reva yang tanpa reaksi.


Jadi...


Reva menginginkannya bersikap seperti itu.


Seperti Michael.


Dingin pada perempuan lain.


Tapi hangat pada Tia.


"Kamu pingin aku seperti itu ?


Oke.


Aku juga akan berubah untuk kamu."


Reva tersenyum.


"Mas...


Hati Mas terlalu baik.


Gak tegaan sama orang." katanya sambil tersenyum.


Sandy diam.


Dia memang mengakui bahwa dia tidak pernah tega pada orang lain.


Tapi..


Ternyata itu menyakiti hati orang yang ia cintai.


Reva memandang wajah Sandy yang terdiam.


Dia menjadi tidak enak hati.


Belum jadi istri tapi sudah meminta orang lain untuk berubah.


Padahal...


Dirinya pun bukanlah wanita yang sempurna.


Sandy balas menatap Reva.


Wajahnya menunjukkan tekad.


"Va...


Aku akan berubah.


Aku akan seperti yang kamu inginkan."


"Mas...


Enggak.


Jangan.


Aku...


Aku juga bukan wanita yang sempurna.


Ini sudah watak Mas.


Anugerah dari Tuhan.


Tetaplah seperti ini.


Aku..Aku salah Mas.


Aku menerima Mas apa adanya.


Karena Mas menerima aku apa adanya."


Sandy tersenyum kecil.


"Va...


Aku akan berubah.


Aku memang mau berubah.


Bukan cuma karena aku ingin melihat kamu bahagia.


Tapi juga karena...aku bahagia melihat kamu bahagia."


Hati Reva mencelos.


Sebegitu dalamnya kah cinta Mas Sandy padanya ?


"Mas...


Beneran deh...


Aku senang dengan Mas yang sekarang.

__ADS_1


Aku bahagia kok..." kata Reva tidak enak hati.


Teringat dirinya yang diam-diam bertemu dengan Steven walaupun bukan dia yang menginginkan nya.


__ADS_2