Kamu Milikku

Kamu Milikku
Kalian Aneh


__ADS_3

Reva selalu melihat ke balik pundak Steven atau ke samping lengan Steven yang merangkul pinggang nya.


Tadi dia sempat menolak saat diajak melantai oleh Steven.


Steven... punya pacar.


Dia tidak mau mengganggu hubungan orang.


Apalagi setau Reva, pacar Steven, Jenny juga datang.


Tapi kemudian Steven menarik paksa pinggangnya.


Reva yang tidak ingin membuat keributan terpaksa mengikuti langkah Steven.


"Kamu liat apa ?" tanya Steven menunduk.


"Ya liat kemana aja lah.


Pokoknya liat semua kecuali kamu !" jawab Reva cemberut.


Steven terkekeh.


"Masih marah ?"


"Siapa yang marah ?!


Aku nih nanti yang bakal kena marah cewek lain !" sembur Reva.


"Cewek mana ?


Yang itu maksud kamu ?"


Steven menganggukkan kepalanya kearah Jenny dan Sean yang sedang melantai.


Reva memutar kepalanya.


Dia melihat Jenny dan Sean.


Reva mendongak.


"Kamu gak marah ?" tanya nya bingung.


"Ah enggak." jawab Steven santai.


Reva menggelengkan kepalanya.


"Kalian semua ini aneh." katanya bergumam.


"Siapa yang aneh ?"


"Kalian !


Kalo aku...


Aku gak akan membiarkan orang yang aku cintai bersama dengan orang lain." kata Reva bergumam.


Steven memutar badan Reva.


Reva terkesiap.


Cindy sedang melantai bersama laki-laki berbaju hitam ketat.


"Dan aku gak akan membiarkan pacarku nyeleweng di depan mataku." katanya masih bergumam.


"Kamu ini dari tadi bicara apa sih ?!" kata Steven.


"Aku bicara tentang kesetiaan pada pasangan !


Kalian ini sepertinya tidak paham apa itu setia !


Udah ah..."


Reva menggeliat berusaha melepaskan diri dari pelukan Steven.


Steven mengetatkan pelukannya.


Membawa Reva semakin menempel pada dirinya.


Menikmati kelembutan tubuh Reva.


"Steven !!" bentak Reva.


"Apa sih..dari tadi ngomel melulu ?!" gerutu Steven.


Musik berhenti.


Kini diganti dengan irama yang menghentak.


Jenny dan Sean mendekat.


Reva memucat. Tangannya menepis tangan Steven yang masih merangkul pinggangnya.


Steven bergeming.


Reva dengan kuat memukul tangan Steven.


"Aduh !!" keluh Steven lalu melepaskan tangannya.


Reva melotot.


"Haloo.." sapa Jenny riang.


Reva menghembuskan nafas lega.


Steven sudah tidak merangkul pinggangnya lagi.


"Haloo..." sapa Roger.


Mereka lalu berkumpul bersama membentuk lingkaran berlapis.


Teman-teman sekantor Steven yang juga diundang dalam private party ini.


Beberapa artis dan staf Maxx ikut dalam lingkaran ini.


Nampaknya mereka semua sudah saling mengenal.


Sementara Reva baru mengenal beberapa walaupun semua orang kelihatannya mengenal Reva.


Sambil mengikuti irama, Reva diam-diam mundur.


Menjauhi Steven.


Setelah berada di luar lingkaran, dia lalu berbalik dan kembali ke meja Tia.


Di sana kosong.


Dia duduk.


Mengambil botol minumannya.


Menyesap sedikit.


Memperhatikan orang-orang yang sedang menari.


Di Indonesia, dia hanya sekali dua kali ke tempat seperti ini.

__ADS_1


Dia menangkap celana hitam kulit ketat yang sepertinya mirip dengan yang dia lihat tadi di luar.


Dia menatap wajah orang itu.


Tampan.


Khas bintang drama.


Putih, hidung mancung, rambut dibelah pinggir sedikit berombak sama seperti Sandy.


Pantas tadi dia salah mengenali.


Reva lama menatap orang itu sampai orang itu nampaknya sadar sedang diperhatikan lalu menoleh pada Reva.


mereka saling menatap.


Reva lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Benaknya berputar.


Om Sandy tampan.


Tapi orang itu sangat tampan.


Syuting sebuah drama bisa berbulan-bulan.


Banyak aktor dan aktris yang akhirnya terlibat cinta lokasi.


Jadi..


Kenapa Cindy tidak melepaskan saja om Sandy.


Toh...


Sebagai bintang ternama, orang itu pasti sanggup untuk membiayai gaya hidup Cindy yang glamour.


Reva menumpangkan kakinya satu sama lain.


Meraih ponsel lalu kembali membuka daftar nilainya.


Menikmati rasa kemenangan karena semua nilainya kecuali satu memenuhi target pribadinya.


"Hai..."


Reva mengangkat wajahnya.


Laki-laki itu.


Reva menegakkan tubuhnya.


Waspada.


"Hai.." balasnya.


"Kamu keponakan Tia." kata laki-laki itu.


Reva mengangguk.


"Aku Aaron." kata Aaron mengulurkan tangannya.


Reva menyambut.


"Reva." jawab Reva.


"Ayo kita turun.."ajak Aaron.


Reva menggeleng.


"Aku capek.


"Kamu ngapain ?"


"Aku lagi liat nilaiku."


Aaron mengamati.


"Kamu kuliah ya..


Katanya kamu dapet beasiswa."


"Iya." jawab Reva singkat.


"Aku belum lulus.


Sibuk.


Syuting tiap hari. Kejar tayang."


Reva menatap Aaron.


"Kamu kuliah juga."


"Iya. Boss Daniel menyukai artis yang kuliah.


Kamu tau ? Gara-gara Tante kamu.


Tante kamu bisa lulus kuliah walaupun sedang di puncak ketenaran.


Jadi Boss Daniel mendorong para artisnya untuk kuliah.


Dia juga menyediakan beasiswa buat yang berprestasi.


Makanya...banyak orang yang pingin bernaung di Maxx."


Aaron bercerita panjang lebar.


Reva memandangnya tertarik.


"Kamu ambil jurusan apa?"


"cinematography.


Kamu sendiri ?"


"Biomedical engineering."


Aaron menatap kagum.


"Tia juga ambil architecture.


Kalian rupanya pintar-pintar."


"Ah..enggak juga.


Kebetulan aja."


"Kamu juga Drummer berbakat.


Aku suka liat pertunjukan kamu tadi.


Jim...jenius dengan musik.


kamu bisa bergabung sama dia kalo mau."


Reva menggeleng.

__ADS_1


"Aku mau konsentrasi kuliah aja.


Kuliah ku susah.


Dan..aku bukan orang Taiwan.


Aku masih harus banyak belajar bahasa kalian."


"Kamu sering-sering main ke sini.


Kita hang out bareng.


Kamu bakal makin lancar."


Reva tersenyum.


"Haloo....


Serius banget obrolannya.." sapa suara manja Cindy.


Dia langsung menyelipkan dirinya di meja dan duduk memepet Aaron.


"Yuk turun.." ajaknya menarik tangan Aaron.


Aaron bangkit.


Dia mengulurkan tangan.


"Kapan-kapan kita ngobrol lagi." katanya.


Reva menyambut dengan senyum.


Aktor ini memang ganteng banget.


Pantas aja jadi bintang utama.


Cindy cemberut.


"Kamu ngapain beduaan sama dia ?"


"Ah..semua orang pingin kenal dia.


Aku liat dia tadi sendiri, makanya aku jadi pingin kenalan."


Aaron menatap Cindy.


"Mana pacar kamu ?"


"gak tau, tadi diajak turun sama Tia." jawab Cindy tak acuh.


Aaron kembali menengok ke arah Reva.


"Dia cantik. Pintar lagi.


Pantes jadi obrolan orang."


Cindy kembali cemberut.


"Tapi dia gak bisa ngelakuin b**wj*b buat kamu."


Aaron menoleh menatap Cindy.


"Kamu emang istimewa Cin.


eh..ehmm...enak jadi pacar kamu ya ?"


Cindy diam sebentar.


"Aku gak pernah ngelakuin itu sama dia."


"Hah?!" Aaron terkejut.


"Dia itu..


alim banget.


Cuman gara-gara tidur sekali aja udah ribut pingin kawin."


"Bagus dong.


Lagian dia kan kaya Cin.


Kamu gak usah bingung buat hidup."


"Kan kamu tau, Daniel lagi nyiapin drama baru.


Aku mesti saingan sama anak-anak baru itu.


Kalo kawin, habis karir aku."


Aaron terkekeh.


"Nanti...pulang sama pacar kamu?"


"Enggak..


aku udah bilang aku capek.


ehmm...kamu hutang sama aku tadi." rayu Cindy.


"Tempat kamu apa tempat aku ?"


"Kamu aja.


Nanti tiba-tiba Sandy datang bisa gawat."


"Kamu ini...


Mending kamu putus aja.


Sandy itu teman dekatnya Michael suami Tia.


Tia itu..biarpun gak jadi sama Daniel tapi punya pengaruh besar sama dia.


kamu liat aja..si Jason..


Nempel sama Daniel.


Kalo sampe ketauan kamu tidur sama aku, bisa habis karir kamu."


Cindy diam.


"Kenapa ?


Kamu masih pingin narik perhatiannya Jim?


Belum move on juga ya ?" tawa Aaron.


Cindy menatap Aaron.


"Kamu bikin aku gak selera."


jawabnya sebal.


...⛰️🍎🎋...

__ADS_1


__ADS_2