
Reva mengemudikan mobilnya menjauh dari kota.
Dia menuju pantai.
Selama lima jam dia mengemudikan mobilnya.
Sekali berhenti untuk mengisi bahan bakar.
Jerry tadi memaksanya untuk mengatakan tujuannya.
Tapi dia juga perlu Jerry untuk memberitahunya tempat mana saja yang indah untuk dikunjungi.
Dia Sudah menghubungi semua orang yang perlu dihubungi untuk memberitahu bahwa dia ingin mengambil cuti satu minggu.
Lalu..
"Jerry, aku titip ponselku."
"Hah ?!"
"Aku titip ponselku."
"Kamu dilacak ?"
"Aku gak mau disusul.
Aku...aku pingin sendiri dulu."
Jerry menatapnya sejenak.
"Oke.
Aku belikan kamu ponsel baru.
Aku harus bisa menghubungi kamu."
Reva menatap Jerry..Ragu sejenak.
"Oke.
Aku beli ponsel baru.
Pake nama kamu ya ?"
Jerry menghela nafas.
"Iya.
Tapi janji...
Kamu bakal angkat kalo aku yang telpon."
"Janji."
Dan Reva pun memasukkan ponsel barunya ke dalam tas.
Di tempat lain.
Sandy juga belum tidur.
Dia menatap titik yang terus berjalan.
Sudah enam jam Reva menyetir.
Ingin rasanya Sandy menyusul.
Menemaninya.
Tapi Sandy tau, Reva butuh waktu untuk sendiri.
Di apartemen Reva
Steven berdiri menunggu.
Ponselnya mengatakan bahwa Reva masih di kampus.
Dia akan menunggu.
Ketika waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari, Reva tidak juga muncul, Steven menyerah.
Dia kembali ke apartemen nya sendiri.
Besok dia akan menemui Reva.
Besok..dia juga akan menyelesaikan masalah ini dengan ibunya.
Ibunya tidak punya hak ikut campur dalam urusan pribadinya.
Dia punya hak untuk memilih sendiri pasangan hidupnya.
Ini hidupnya.
Hatinya perih sekali.
Sakit.
Di suatu tempat.
Suara debur ombak menenangkannya.
Reva memarkir mobilnya.
Dia tidak turun.
Merebahkan kursinya, Reva tidur.
Paginya.
Suara dering telepon membangunkan Jerry.
Masih memejamkan mata, dia meraih ponselnya.
"Halo.." jawabnya dengan suara serak.
Steven terkejut mendengarnya.
Dia menjauhkan ponselnya, melihat layar, jangan-jangan dia salah menekan nomor.
Tapi tadi yang dia tekan dial speed 2.
Cuma nomor Reva disana.
Mungkin dia salah.
Steven mematikan ponselnya.
Lalu menekan tombol dua.
"Halo..." kali ini suara Jerry lebih jelas.
__ADS_1
Steven mengerutkan keningnya.
"Halo..
Bisa bicara dengan Reva ?"
"Reva ?
Reva lagi gak ada di sini." jawab Jerry.
"Siapa ini ?"
"Jerry.
Siapa ini ?"
Steven makin mengerutkan keningnya.
Jerry ?
Apa Reva segitu patah hatinya sampai dia tidur dengan Jerry ?
Tidak mungkin !!
"Dimana Reva ?" tanya Steven tidak menjawab pertanyaan Jerry.
"Entahlah.
Mungkin di rumahnya ?" Jerry kini sudah bangun sepenuhnya.
Dia mencoba mengelak memberitahu dimana Reva.
"Kenapa telponnya ada di kamu ?" tanya Steven dengan tajam.
"Tertinggal." Jerry menjawab singkat.
"Sudah ya..aku sudah terlambat." kata Jerry mematikan ponsel Reva.
Bibirnya tersenyum tipis.
Jadi mantan pacar nya Reva khawatir.
Berarti mereka baru putus.
Diseberang line, Steven mengerutkan keningnya lebih dalam.
Tertinggal ?
Tapi Jerry tadi bilang dia sudah terlambat.
Ponsel Reva dibawa ke rumah Jerry ?
Kenapa tidak ditinggal saja di lab ?
Reva dimana ?
Steven bangkit.
Urusan ibunya bisa nanti.
Dia harus menemukan Reva terlebih dahulu.
Di tempat lain.
Sandy membuka matanya.
Dia ketiduran.
Tangannya langsung menyambar ponsel.
Dia menajamkan mata,
Mobil Reva berhenti di tepi pantai.
Ah..anak itu !!
Untunglah negara ini aman.
Sandy menghembuskan nafasnya.
Apa dia menyusul Reva ?
Ingin sekali.
Dia ingin menemani Reva melewati masa sulitnya seperti Reva juga menemaninya di masa sulitnya sendiri.
Tapi Reva sedang ingin sendirian.
Dan Sandy menghormati keinginan itu.
Di tepi pantai.
Reva menggeliat.
Melemaskan otot-otot nya yang kaku karena tidur di mobil.
Cahaya matahari membangunkannya.
Reva meraih botol air mineral. Dia membuka pintu, berkumur-kumur sebentar.
Dia Harus mencari toilet.
Reva menutup pintu mobil lalu mulai memundurkan mobilnya.
Dia mampir di pom bensin.
Setelah membersihkan diri, dia mencari sarapan.
Ini kota kecil.
Reva mencari cafe di tepi pantai.
Sambil menikmati kopinya, dia memposting foto cangkir kopi dengan latar belakang lautan.
'Vacation' demikian caption nya.
Di tempat lain.
Steven sama sekali tidak terpikir untuk melihat stargram Reva.
Dia mencari dalam benaknya saat melihat mobil Reva tidak ada di lot parkiran.
Dia memacu mobilnya menuju Apartemen Sandy.
Hari masih pagi.
Jadi dia menunggu di mobil.
Setengah jam menunggu, dia menatap Sandy yang keluar dari apartemen sendirian.
__ADS_1
Sandy terlihat akan pergi ke kantor.
Sama sekali tidak terlihat Reva.
Steven memacu mobilnya ke rumah Esse.
Esse yang membuka pintu menatap heran.
"Apa kamu tau dimana Reva ?"
Esse mengerutkan keningnya.
"Reva ?
Aku gak tau.
Memang dia kemana ?"
Steven kecut hatinya.
Dimana kamu Reva ?
Esse menatapnya kasihan.
Tapi semalam, Reva memohon supaya tidak ada yang mengatakan dimana dia.
Teman-temannya tau apa yang terjadi.
Termasuk saat Ibu Steven mengajak Reva untuk bertemu.
Saat itu Reva sedang bersama mereka di studio Maxx.
Mereka duduk di meja yang berbeda, dan bisa melihat wajah Reva yang terpukul.
Selama beberapa waktu, mood Reva memang mengacaukan permainan Reva kecuali lagu Jim.
Tapi kemudian Sandy muncul mendampingi Reva dalam hampir setiap latihan mereka.
Reva kembali mendapatkan penampilannya yang biasa.
Mereka semua merasa lega.
Steven memacu mobilnya menuju kampus.
Hari masih pagi.
Dia duduk menunggu.
Empat jam kemudian tidak ada tanda-tanda Reva.
Ponsel Reva menunjukkan dia di kampus.
Tapi itu karena Jerry membawanya ke kampus.
Steven mengacak-acak rambutnya.
Frustasi.
Tadinya dia mengira akan bisa menekan Reva dengan percakapan mereka kemarin.
Menekan Reva untuk menjauhi Sandy.
Apapun alasan yang dipakai Reva.
Tapi saat Reva menyebut kan alasannya.
Steven tak mampu berkata apa-apa.
Ibunya.
Ibunya sendiri yang menyuruh Reva mundur.
Steven tau sekali karakter Reva.
Reva bukan orang yang akan melawan saat orang itu adalah orang tua.
Steven melihat sendiri bagaimana Papa Mama Reva dan Reva berinteraksi.
Reva bukan tipe orang yang akan melawan kehendak orang tua.
Masih belum terlambat.
Steven mengarahkan mobilnya ke kantor.
Dia ke ruangan Josh.
Steven masuk dengan wajah kacau.
"Kenapa ?"
"Aku gak bisa menemukan Reva.
Dia menghilang."
Steven mengusap wajahnya.
Josh menatap kasihan.
Dia tau dalamnya perasaan Steven pada Reva.
Tapi... saat mengetahui bahwa ibu Steven ikut campur dalam hubungan mereka, tidak ada yang berani mengatakan apa-apa.
Ini urusan antara Steven dengan ibunya.
Mereka harus menyelesaikan nya sendiri.
"Coba kamu tanya sama Boss."
Steven memandang Josh.
Josh menaikkan alisnya.
"Boss kelihatannya tenang-tenang aja."
Di ruangan lain.
Sandy masih mengamati pergerakan mobil Reva.
Dia tau kalau Reva tidak membawa ponselnya.
Dua titik itu terpisah jauh.
Pintunya diketuk.
Sandy mengangkat wajahnya.
Lalu menegakkan diri.
Steven tampak acak-acakan.
__ADS_1
Dia kelihatan kacau.
...☘️🎀🌴...