
Addrian menceritakan tentang siapa rekan bisnis barunya itu. Dia juga menceritakan apa yang mba Mona pikirkan tentang tuan Andreas.
"Aku jadi penasaran bagaimana Tuan Andreas itu?"
"Untuk apa? Kamu tidak perlu penasaran dengannya. Nanti aku cemburu." Addrian mengerucutkan bibirnya.
Aira gantian gemas melihat wajah suaminya itu. "Sayang, dia itu rekan kerja baru kamu, jadi kita lebih baik bersikap baik dengannya agar kerja sama kamu dengannya berjalan lancar, dan siapa tau dengan kita baik dengan seseorang, orang itu akan sungkan atau berpikir dua kali untuk berbuat jahat dengan kita."
"Iya juga sih. Istriku ini memang sangat pandai." Addrian menciumi pipi istrinya berkali-kali.
"Kalau begitu kamu coba hubungi Tuan Andreas itu dan kita menerima undangan makan malamnya."
"Besok akan aku hubungi dia, sekarang sebaiknya kita pergi tidur saja karena aku sudah mengantuk." Addrian menggendong istrinya dan membawa ke kamar mereka.
***
Keesokan harinya, Addrian yang sudah bersiap untuk ke kantor berjalan keluar dan menuju ruang makan. Di sana Aira sudah Menyiapkan makan pagi untuknya.
"Kamu bangun jam berapa, Sayang?"
"Dari jam empat pagi, aku sekarang tiap pagi jalan-jalan di taman untuk mempermudah nanti waktu persalinan."
"Kenapa tidak membangunkan aku? Aku bisa menemani kamu untuk jalan-jalan pagi."
Aira mengambilkan makanan pada piring Addrian. "Aku kasihan jika harus mengganggu tidur kamu, Mas. Bagaimanapun juga kamu harus bekerja sampai sore, jadi tidak bisa tidur siang. Pasti sangat lelah."
"Ya sudah! Nanti sewaktu aku libur kerja, aku mau menemani kamu jalan pagi. Sudah lama juga aku tidak berolah raga pagi dengan kamu."
"Iya, nanti pada saat liburan saja. Sekarang Mas makan dulu dan segera berangkat bekerja. Tidak enak kalau atasannya berangkat terlambat. Oh ya, Mas. Ini aku bawakan bekal makan siang untukmu." Aira menunjukkan kotak makan berwarna hitam.
"Tumben kamu membawakan bekal makan siang untukku?"
"Iya. Kalau aku bisa ke kantor kamu setiap hari, pasti aku ke sana saat jam makan siang untuk mengajak kamu makan siang bersama, tapi sayang aku tidak bisa. Jadi, aku bawakan bekal makan siang saja supaya tidak ada yang sok perhatian membawakan kamu makan siang."
__ADS_1
Addrian sekarang paham akan yang di maksud oleh istrinya. "Masih cemburu dengan Citra?"
"Bukan cemburu, Mas, tapi lebih ke arah tidak memberi ruang dan kesempatan untuk wanita lain memberi perhatian pada suamiku."
"Intinya cemburu."
"Dibilang tidak cemburu. Mas, Ini kenapa tidak paham?"
"Bukan tidak paham, tapi aku mencari kata yang tepat saja."
"Terserah."
"Kalau tidak cemburu, berarti kamu tidak sayang sama aku?"
Aira memutar bola matanya jengah. "Ayah kamu sekarang sensitif sekali. Padahal seharusnya mama yang seperti itu." Aira malah mengajak bayi dalam perutnya berbicara.
"Itu karena ayah sayang mama kamu," celetuk Addrian.
Aira mengantar Addrian sampai ke pintu utama. Aira juga tidak lupa memberikan rantang makanan milik Citra. "Mas, ini tolong kamu berikan pada Mba Mona. Siapa tau dia menyukai masakan buatan aku."
"Iya, Sayang. I love you more." Addrian mengecup kening Aira dan pergi dari sana.
Sesampai di gedung yang menjulang tinggi itu. Addrian segera masuk ke dalam ruangannya. Dia agak terkejut saat membuka pintu dan ada Citra yang sedang berdiri membelakanginya.
Citra sedang membersihkan ruangan Addrian. Dia juga menyiapkan air lemon hangat yang selalu Addrian minum tiap pagi.
"Citra, kamu sudah datang? Aku kira kamu belum datang dan yang biasa membersihkan ruanganku mba Mona."
"Mba Mona hari ini izin tidak masuk."
"Bagaimana kamu tau? Dia belum memberi kabar padaku?"
"Kemarin malam saat aku menghubunginya untuk menanyakan tentang pekerjaan, mba Mona sedang ada di luar kota karena ayahnya meninggal dunia."
__ADS_1
"Oh Tuhan! Mungkin dia masih repot jadi belum memberitahuku. Ya sudah kalau begitu kamu tidak perlu repot menggantikan tugasnya karena pekerjaan kamu juga banyak."
"Tidak apa-apa, Pak. Oh ya! Apa Pak Addrian sudah makan pagi? Kalau belum ini aku bawakan makan pagi untuk Pak Addrian." Citra menunjukkan kotak makan susun berwarna biru yang sudah berdiri cantik di atas meja ruang tamu di sana.
"Citra, aku sudah makan pagi dengan Aira di rumah. Bahkan tadi Aira juga membawakan aku bekal untuk makan siang." Addrian menunjukkan box makanan berwarna hitam.
"Aku kira Aira tidak sempat membuat masakan karena perutnya yang sudah semakin membesar. Biasanya wanita hamil dengan perut yang semakin membesar akan malas melakukan banyak pekerjaan. Oleh karena itu aku mau membantunya."
"Kamu salah, justru Aira banyak sekali melakukan aktivitas di rumah, padahal aku sudah melarangnya, tapi dia seolah tidak ingin berhenti bergerak. Bahkan dia tiap pagi berjalan pagi di sekitaran taman, katanya dia ingin melahirkan secara normal dan dengan sering berjalan dapat membantu persalinan dengan cepat."
"Aira memang wanita yang hebat dan kuat. Dia sangat bersemangat sekali ingin menjadi Ibu yang melahirkan secara normal, padahal kata orang-orang lahiran normal itu sangat sakit."
"Aku yakin Aira pasti bisa. Oh, ya! Citra, ini tantang makanan milik kamu." Addrian memberikan tantang makanan milik Citra.
"Apa Aira memuji masakan aku?"
Addrian tampak terdiam sejenak, dia bingung harus menjawab apa? Aira kemarin tidak mencoba masakan Citra dan malah diberikan pada Nadin.
"Maaf sebelumnya, tapi kemarin di rumah Aira juga sudah membuat banyak sekali masakan. Jadi, masakan kamu dan punya Aira juga kita bagi ke tetangga. Di beberapa blok dari rumahku ada anak kecil yang waktu itu pernah menolong Aira dengan memberitahu aku jika Aira sedang diperlakukan buruk oleh pria di kampusmu. Gadis kecil bernama Nadin itu yang sangat senang menerima masakanmu. Katanya masakanmu terlihat enak semua." Addrian berbohong sedikit di sana.
"Nadin?" Citra tampak kaget, tapi dia berusaha menyembunyikan rasa kagetnya itu.
"Citra, Aira dari dulu sangat menyukai masakan kamu, jadi dia sangat berterima kasih denganmu."
"Iya, aku tau, Pak."
"Dan ini untuk kamu. Sebenarnya Aira ingin memberikan pada mba Mona, tapi ternyata mba Mona tidak masuk hari ini. Jadi, untuk kamu saja."
"Tapi saya juga membawa bekal banyak hari ini."
"Kalau begitu kamu berikan saja pada yang lainnya supaya tidak terbuang sia-sia."
"Nanti aku makan saja buatan Aira dan punyaku aku bagi kepada yang lainnya karena bagaimanapun juga Aira sudah susah payah membuatnya. Permisi, Pak."
__ADS_1
Addrian tau jika sebenarnya Citra menyindir istrinya karena kesal makanannya diberikan Aira pada orang lain, tapi dia juga tidak bisa menyalahkan istrinya karena mungkin Aira tidak suka ada wanita lain yang memberi perhatian pada suaminya