Kamu Milikku

Kamu Milikku
Marah


__ADS_3

Jenny membuka pintu kamar Reva.


Dia melongok.


Reva sedang sarapan.


Dan mereka sedang bertengkar.


Reva dan Steven.


Jenny nyengir.


Dia lalu berdehem.


Reva dan Steven mengangkat kepala.


"Halooo.." sapanya.


Reva memucat.


Dia langsung merebut mangkok bubur dari tangan Steven.


Bubur yang ada di sendok yang sedang di pegang Steven langsung berantakan.


Reva melotot.


"Kan aku udah bilang, aku bisa makan sendiri !!" bentaknya.


Wajahnya memerah karena malu.


Malu ketahuan oleh gadis yang pacarnya sedang menyuapi dirinya.


Josh menyusul di belakang Jenny.


Reva membanting mangkok buburnya.


Sementara Steven menghela nafas.


Dia mengambil tissue.


"Lagi makan ya ? " sapa Josh.


"Aduuh...berantakan tuh di selimut.." tunjuk Jenny.


"Iya..


Aku bisa makan sendiri.


Tapi Steven....eh...ehmmm...dia maksa mau nyuapin." kata Reva malu.


"Adduh Steve.. kamu gimana sih ?" kata Jenny pura-pura memarahi Steven.


Steven melotot.


"Sini aku suapin ya ?" kata Jenny.


"Eh..gak usah..


aku..aku bisa kok." tolak Reva dengan malu.


"Mana sendoknya Steve.


Aku suapin ya...


Gak boleh nolak !" kata Jenny.


Jenny langsung menyambar sendok yang sedang dipegang Steven.


Dia meraih mangkok bubur.


"Aaa..." katanya.


Reva ragu-ragu sejenak sebelum membuka mulutnya.


Satu demi satu sendok bubur masuk ke mulut Reva.


Jenny dengan sabar menyuapi nya.


Reva terheran-heran.


Jenny sepertinya tidak marah saat memergoki pacar nya menyuapi gadis lain.


"Steve, mana minumnya ?" pinta Jenny.


Steven menyodorkan gelas pada Reva.


Reva menerimanya tanpa menatap Steven.


"Ini..sekalian obatnya.." kata Steven menyodorkan obat.


Lagi-lagi Reva menerimanya tanpa melihat pada Steven.


Jenny tertawa geli.


"Kalian lagi marahan ya ?" tanya nya iseng.


Reva memerah.


"Enggak !" ketusnya.


"Terus...


Kalian kayak orang marahan." kejarnya.


"Dia yang marah.


Aku sih enggak." jawab Steven datar.


Reva melotot lalu membuang muka.


"Kenapa marah ?


Emang kamu diapain sama Steven ?" senyum Jenny.


Jenny merasa asik mengerjai keduanya.


"Eh...enggak...


Enggak diapa-apain !" bantah Reva kembali memerah.


Steven menatapnya.


Gemas sekali.


Kalau tidak sedang sakit, sudah habis Reva sekarang.


Tidak peduli ada Josh dan Jenny.


Reva menunduk.


Dia mengernyit.


Lalu merebahkan badannya.


Tangannya mengusap kepalanya yang masih benjol dan diperban.


Steven menatapnya.


"Mau aku turunin tempat tidurnya ?" tanya Steven.


Reva menggeleng.


Jenny menatapnya kasihan.


"Oke..aku yang ngomong kalo gitu." kata Jenny.


Reva mengangkat matanya.


"Ngomong apa ?" tanya nya takut bercampur malu.


Takut Jenny akan mengatakan terang-terangan supaya tidak mengganggu hubungan antar dia dan Steven lagi.


Di depan Josh.

__ADS_1


Dia pasti akan malu.


Dan tidak berani lagi keluar untuk selamanya.


Dia..Reva..menjadi pelakor.


Oh..apa kata semua orang nanti ?


Jenny tersenyum.


Melirik Steven sejenak.


Steven tetap menatap Reva dengan muka datar.


Sementara sejak tadi Josh tersenyum-senyum.


"Aku bukan pacar Steven." senyum Jenny.


"Memang bukan..." kata Reva otomatis.


"Hah ?! apa katamu?" tanya Jenny.


"Aku bukan pacar Steven." jawab Reva.


Lalu mengernyit.


Menyadari kesalahannya.


Mukanya semakin merah.


"Eh.. maksudku...


Aduh..aku ngomong apa sih ?


Ini pasti gara-gara gegar otak sialan ini !" gerutu Reva.


Senyum Jenny semakin lebar.


"Reva.....


Aku...bukan...pacarnya.. Steven !


Kami cuma temenan.


Dia dan aku


Dan Josh..


Kami bertiga temenan." kata Jenny.


Reva terdiam.


Dia menatap Jenny.


Lalu Steven.


Lalu Josh yang mengangguk sambil tersenyum.


"Bukan ?" tanyanya.


"Bukan !" jawab Jenny tegas.


Steven masih menatapnya.


Lalu mukanya memerah.


Marah.


"Keluar kalian." katanya pelan.


"Apa ?" tanya Jenny.


"Keluar kalian..


Keluar...!." kata Reva keras.


"Terutama kau !" tunjuknya pada Steven.


Menilai.


Josh berdehem.


"Oke..


Yuk Jenny...


Kita tinggalin mereka.


Biar mereka beresin urusan mereka dulu."


Jenny mengangguk.


"Kami keluar dulu ya Va.." senyumnya.


Reva tidak menjawab.


Steven tetap di tempatnya.


"Kau JUGA !!" bentak Reva.


Lalu meringis.


Bentakannya membuat sakit kepalanya datang kembali.


Reva mengeluh lalu merebahkan kepalanya di bantal.


Dia menutup matanya.


Saat pusingnya mereda dia membuka matanya.


Steven berada di dekatnya.


Bukan cuma di dekatnya.


Wajah Steven berada lima belas senti dari wajahnya.


"Kamu marah.." kata Steven.


Reva menutup mata nya kembali.


Steven menangkup wajahnya..


Memaksanya membuka mata.


"Kamu marah.


Kenapa?


Kan aku gak pernah bilang kalo aku punya pacar.


Kamu sendiri yang mengambil kesimpulan.." senyumnya.


Reva menepis tangan Steven.


Hatinya dongkol.


Tapi sekaligus lega.


Tapi juga malu.


Malu ketahuan oleh Steven bahwa dia menyukai Steven.


Dan sebal.


Sebab Steven tau tapi tidak mengatakan apa-apa padanya.


Pokoknya semuanya campur aduk.


Dan sekarang...dia dipaksa untuk menatap Steven.


"Lepasin !" desisnya marah.


Steven malah tersenyum lebar.

__ADS_1


Menatap turun.


Memandang bibirnya.


"Steve !!" bentaknya pelan.


"Kamu marah-marah melulu.


Nanti lama sembuhnya lho." kata Steven masih memandang bibirnya.


"Steve !!"


Steven terkekeh.


"Jadi begini ya...


Cewek kalo cemburu.." cetusnya masih memandang wajah Reva lekat-lekat.


"Siapa yang cemburu ?!" jerit Reva sambil mendorong dada Steven.


Steven bertahan.


Tangannya masih menangkup wajah Reva.


Bibirnya perlahan turun.


Tok..tok..tok.


Steven menegakkan kepalanya.


Tangannya masih berada di wajah Reva.


Josh membuka pintu.


Melongokkan kepala.


"Pada mau jenguk tuh !" katanya memberi peringatan.


Steven melepaskan tangannya.


Menjauh.


Senyumnya masih melekat di bibir.


Reva menatapnya marah.


Pintu terbuka.


Tia dan teman-temannya masuk.


Cindy mengikuti dari belakang.


Wajahnya datar.


"Halooo..Revaa..." sapa Tia ceria.


Reva melepas senyum.


"Gimana ?


Udah enakan ?" tanya Biliyan.


Mereka semua masuk ke dalam kamar.


Josh dan Jenny menyusul di belakang.


"Steve...kamu pulang dulu gih.


Istirahat." Kata Robert.


Steven mengangguk.


"Ayo..sama aku.." kata Josh.


"Aku pulang dulu ya Va.." pamit Steven.


Reva mengangguk.


"Iya.." jawabnya pelan.


Steven menatapnya lalu tersenyum kecil.


Dia lalu berbalik dan keluar dari kamar.


Di mobil...


"Ck..ck..ck...kamu tu..


Tega mainin anak orang !" decak Josh.


"Aku gak mainin.


Dia ngambil kesimpulan sendiri." bantah Steven.


"Iya..


Tapi kamu tau dan kamu gak benerin dugaannya dia !"


"Kalo kamu jadi aku..


Apa kamu bakal bilang..


Va..aku gak pacaran sama Jenny." kata Steven


"Ya..emang kenapa kalo gitu?" tanya Josh.


"Ya...nanti dia bakal bilang..'Steve, aku gak nanya.' atau 'Steve...aku gak pingin tau.'


Malu dong..!!" Steven beralasan.


"Ck...ck...


Kalian berdua ini orang-orang pinter..


Tapi...logika cintanya gak jalan." decak Josh.


"Kamu juga pinter Josh." kata Steven.


"Hmm...


Kalo soal pinter, kita semua di Methrob emang diatas rata-rata.


Tapi bukan itu masalahnya Steve.


Kamu itu udah mainin perasaan orang.


Reva itu masih gadis kecil.


Baru mau dua puluh.


Belum dua puluh.


Wajar kalau dia belum matang.


Kamunya yang lebih tua, harusnya yang lebih mengalah.


Lebih mengayomi.


Bukannya malah memanfaatkan."


"Aku gak memanfaatkan kok." bantah Steven.


"Kamu itu menikmati kecemburuan dia !" tegas Josh.


Steven diam.


Dia mengakui, dia memang menikmati kecemburuan Reva.


Rasanya...menyenangkan, gadis yang diam-diam disukainya ternyata menyukainya juga.


Dan..cemburu padanya.


Steven tersenyum sendiri.

__ADS_1


__ADS_2