Kamu Milikku

Kamu Milikku
Citra Pindah Rumah part 2


__ADS_3

Aira menjelaskan bahwa dia sama sekali tidak terganggu Citra di sana, tapi apa yang diinginkan oleh mamanya harus Aira turuti.


"Citra, kamu juga bisa berkunjung ke rumahku kalau ada waktu. Pintu rumahku akan selalu terbuka untuk kamu."


"Terima kasih kamu sudah sangat baik denganku, Aira. Mungkin kita nanti sudah jarang bertemu, tapi aku akan sering bertemu dengan Addrian karena aku akan bekerja di sana setelah lulus kuliah. Kalau aku membuat masakan, nanti aku akan titipkan pada suami kamu di kantor."


Aira baru ingat jika Citra nanti akan bekerja di perusahaan suaminya setelah kuliahnya selesai.


"Kamu tidak perlu repot, Citra."


"Aku tidak repot, kalau perlu aku akan mengirimi kamu makanan tiap hari. Bukannya kamu dan Addrian suka masakan aku yang enak?"


"Iya, aku menyukainya, dan dari situ aku belajar untuk membuat masakan seenak kamu."


"Wah! Kamu ternyata membawa pengaruh yang baik untuk kakak iparku dalam hal masakan. Ini Addrian mana? Kenapa dia lama sekali turunnya. Apa dia tidak tau kalau aku sudah sangat lapar ini."


"Sabar Kenzo. Aku memasak banyak hari ini dan kamu boleh makan sepuasnya."


"Aira, apa sudah kamu coba masakan kamu. Siapa tau nanti rasanya keasinan lagi, atau malah kebanyakan gulanya.


"Jangan sampai, Aira. Ini aku lihat masakan kamu sangat enak. Apa iya, rasanya nanti mengecewakan?"


"Semoga saja tidak. Aku malah berharap kamu dan kakak kamu memuji masakan aku." Aira malah tersenyum kecil.


Tidaka lama pria yang sudah ditunggu dari tadi berjalan menuju meja makan.


"Kakak ini lama sekali. Aku sudah lapar," rengek Kenzo.


Addrian hanya tersenyum miring seolah sudah tau sifat adiknya itu.


"Aira, ambilkan saja dulu si cerewet itu supaya dia tidak mengeluh terus."


"Tidak perlu, aku ambil sendiri. Aku mau makan banyak hari ini."


Kenzo mengambil centong nasi agak banyak. Citra yang melihatnya tersenyum devil. Dia ingin menunggu melihat reaksi Kenzo yang kecewa karena makanannya keasinan.


"Mas, kamu mau nasi apa sup saja?"


"Aku mau mencoba sup kamu, Sayang."


Aira mengambilkan sup dan memberikan pada suaminya. Sup yang dibuat Aira sudah ada makaroninya, jadi dia tidak menambah nasi.


"Citra kamu ambil sendiri makanan yang ingin kamu makan."

__ADS_1


"Aku mau sup juga. Kelihatannya sup kamu enak."


"Tentu saja. Cobalah."


Mereka mulai makan pagi. Kenzo tampak lahap sekali menikmati gurame asam manis buatan Aira.


"Sayang, coba supku." Aira menunggu suaminya mencoba sup buatannya.


"Enak, aku suka." Addrian menyendok beberapa kali.


Citra yang melihatnya agak terkejut. Ini Addrian memang jujur apa sengaja berbohong seperti waktu itu?


"Enak, kan? Kamu tidak berbohong untuk menutup kesalahanku yang membuat masakan keasinan, Kan?"


"Tidak, kali ini serius enak. Kalau tidak percaya, Citra biar mencobanya. Citra kamu coba sup buatan Aira."


Citra mencoba dan memang benar adanya jika sup Aira enak dan malah rasanya pas.


"Enak? Kok bisa?" celetuk Citra.


"Tentu saja bisa. Aku memang sudah belajar membuat sup seperti apa yang mamaku ajarkan."


"Oh pantas saja, rasanya enak. Tadi aku kira keasinan lagi."


"Iya sup kamu enak, Kakak ipar," puji Kenzo.


Dalam hati Citra, tau begitu dia tadi harusnya menambahkan semua garamnya.


"Habiskan saja, Mas."


"Kamu tidak makan? Kenapa piring kamu masih kosong?"


"Aku nanti saja makannya. Aku mau melihat kamu makan dulu." Aira menyangga dagunya dengan tangan sambil melihati wajah suaminya.


"Kamu itu tidak sendiri. Di perut kamu juga ada yang sedang menunggu mamanya makan sesuatu. Aku akan suapi kamu." Aira mengangguk dengan cepat.


Aira makan dengan disuapi Addrian. Aira tampak senang karena sarapan pagi yang dia buat disukai oleh semuanya.


Citra yang di sana tampak menghabiskan perlahan demi perlahan dengan menekan rasa kesalnya.


"Kalian ini, tidak pagi, siang, sore dan malam kerjaannya membuat jiwa jomloku meronta-ronta melihat adegan yang membuat orang kena diabetes."


"Makannya, kamu cepat mencari kekasih yang bisa diajak serius. Sebentar lagi kamu lulus dan sudah ada pekerjaan yang mapan. Apa kamu tidak ingin menikah dan memiliki keluarga?"

__ADS_1


"Antara ingin dan tidak. Aku maunya menikah, tapi menunda memiliki anak karena ingin menghabiskan waktu berdua saja dulu dengan istriku."


"Tapi memiliki istri yang sedang hamil itu menyenangkan, seperti aku dan Aira."


"Lucu juga sih kalau membayangkan ada malaikat kecil dari bagian nyawa kita tumbuh di dalam perut pasangan yang kita cintai. Citra, kalau dalam pemikiran kamu, menikah itu enak apa tidak?"


"Tentu saja menyenangkan, apa lagi kita bisa menikah dengan orang yang dari dulu kita cintai." Citra menjatuhkan pandangannya kepada Addrian.


"Itu benar, seperti aku dan Aira."


"Lalu, kalau ternyata dia bukan jodoh kamu, bagaimana? Apa kamu tetap akan memutuskan menikah dengan orang lain atau malah tidak mau menikah sama sekali?"


Citra terdiam sejenak. "Mungkin aku tidak akan menikah, atau bahkan aku memilih mati saja," jawab Citra terdengar serius.


"Hei! Kenapa harus mati? Pria di dunia ini masih banyak. Salah satunya aku. Tampan, baik, lucu, keren, dan yang penting mapan. Apa lagi coba yang mau kamu cari?" Kenzo menarik turunkan alisnya menggoda Citra."


"Tapi kalau tidak ada cinta, susah untuk dipaksakan mencintainya. Apa lagi aku sudah sangat-sangat mencintai pria itu."


"Bisa! Mau coba? Setelah lulus ini, kalau kamu mau aku akan menikahimu."


"Kenzo!" seru Aira terkejut.


"Aku tidak mau, mending aku memikirkan setelah lulus bisa bekerja di perusahaan terbesar di sini. Aku akan mencari uang sebanyak-banyaknya dan menata hidupku agar jauh lebih baik." Citra meringis pada Kenzo.


"Kak, aku barusan di tolak."


Tangan Addrian menepuk tepuk pundak adiknya. "Kamu sabar saja. Kamu memang tidak pantas untuk Citra."


"Hem." Kenzo manyun. Ini kenapa kakaknya malah menjatuhkan dia.


"Bukannya kamu mau mendekati Niana, Ken? Kenapa sekarang berubah dengan Citra?"


"Niana sama kakak kamu. Kalau Niana tidak memilih kakakmu, pasti aku jadikan dia milikku."


"Dasar Playboy cap ikan ******."


"Ikan ******? Kecil itu, Ai."


"Iya karena ikan hiunya punya kakak kamu." Aira tersenyum pada suaminya.


"Aku sekarang sudah bukan playboy lagi, Aira. Aku hanya milik kamu." Telunjuk Addrian mengusap lembut hidung Aira.


"Oh my God! Ayo kita selesaikan makannya dan segera mengantar Citra ke tempat barunya. Aku benar-benar bisa terkena diabetes kalau kelamaan di sini."

__ADS_1


Aira dan Addrian malah terkekeh, beda sekali dengan Citra yang tangannya mencengkeram bajunya di bawah meja.


'Kita lihat saja, Aira. Sampai kapan kamu bisa menunjukan kemesraan seperti ini terus?" Citra berbicara dalam hatinya.


__ADS_2