
Tiga tahun berlalu, sejak kejadian yang menimpa Aira, sekarang Aira dan Addrian sudah dapat hidup tenang karena Dewa sudah tidak akan bisa mengganggu kehidupannya. Dewa masuk rumah sakit jiwa karena gangguan jiwa.
Cintanya untuk Aira yang tidak tersampaikan membuat dia menjadi gila.
"Mas, Addrian, apa besok kita benaran mau menjenguk Mas Dewa di rumah sakit jiwa?"
"Iya, kita akan menjenguknya di sana. Bagaimanapun juga dia pernah menjadi temanku dan pernah ada dalam perjalanan hidup kamu. Besok She dan Langit juga akan datang ke sini."
"Jujur saja aku masih belum bisa memaafkan Mas Addrian karena perbuatannya sama kamu."
"Sudahlah, kita tidak perlu memikirkan hal itu lagi. Apa yang menimpanya kali ini jauh lebih menyakitkan."
Addrian memeluk istrinya dengan erat.
"Mama Aira, Andrei terbangun dan dia mencari Mama," ucap gadis kecil anak angkat Aira.
"Kalau begitu mari kita ke adik kamu."
Aira menggandeng Nadin dan berjalan menuju kamar Andrei. Di dalam kamar, bocah kecil itu berlarian membuat kamarnya berantakan.
"Ya ampun, Adek! Baru Mba tinggal sebentar sudah berantakan kamar kamu."
__ADS_1
"Biarkan saja, nanti biar mama yang bantu membereskan."
"Nadin, Sayang. Besok mama dan ayah mau ke tempat om Dewa. Nadin nanti di rumah sama nenek Tatiana, ya?" Nadin mengangguk perlahan.
"Ayah, tapi lusa kita jadikan ke makam ibu? Lusa ibu Nadin ulang tahun dan Nadin ingin memberikan bunga untuk ibu."
"Tentu saja, Sayang."
Bibi Anna tidak jadi menjadi pengasuh Andrei karena saat masih ditahan, bibi Anna ternyata sudah lama menyembunyikan sakitnya. Beliau menderita kanker darah dan akhirnya meninggal di rumah sakit.
Sekarang Nadin benar-benar menjadi anak dari Addrian dan Aira. Dia menjadi kakak dari Andrei.
Kedua anak mereka dititipkan ke rumah Tatiana. Mereka bertemu dengan She dan Langit di sana.
Di dalam kamarnya Dewa tampak duduk termenung diam dan hanya memandang tembok.
Langit memeluk papinya itu. "Papi, aku Langit. Papi kenapa tidak mau bicara denganku?"
"Langit, papi masih sakit. Langit jangan memaksa papi bicara dulu. Dewa, apa kabar?" Tangan Shelomitha mengusap kepala Dewa perlahan.
Dewa tetap saja tidak merespon. Addrian pun menyapa Dewa yang ada di sana.
__ADS_1
"Dewa, bagaimana kabarmu? Aku tau hubungan kita tidak baik, tapi aku tidak mau menjadikan kamu musuhku. Aku juga sudah memaafkan kamu, Dewa.
Tidak lama dokter datang ke sana dan dia ingin mengajak Addrian bicara sama Addrian karena Addrian yang merekomendasikan dokter yang merawat Dewa.
Di sana tinggal Aira dan Dewa. Shelomitha sedang menenangkan Langit yang tampak sedih karena tau keadaan papinya.
Aira duduk di depan Dewa. "Mas Dewa, jujur saja aku sangat membencimu karena apa yang sudah kamu perbuat pada suamiku waktu itu, tapi aku juga tidak ingin kamu seperti ini. Aku kasihan pada Langit yang selalu menyayangimu. Aku harap setelah kamu sembuh, Mas Dewa dapat berubah menjadi orang yang lebih baik lagi."
Dewa tetap saja diam tidak merespon Aira. Aira tampak sedih melihat keadaan mas Dewa seperti itu. Bagaimanapun Dewa seperti ini karena cintanya pada Aira.
Tiba-tiba Aira terkejut saat tangan Dewa memegang tangan Aira. Aira melihat ada Dewa dan Dewa pun melihat padanya.
Mereka berdua saling memandang. "Aira, aku mencintaimu sampai aku mati," ucap Dewa yang langsung membuat Aira mendelik kaget.
The End
Jangan lupa mampir ke novel baru aku ya, Kak.
Yang baca Novel Mr Mafia And His Little Maid pasti tau ini kisah tentang anaknya Tuan Mafia.
__ADS_1