Kamu Milikku

Kamu Milikku
Restu Keluarga


__ADS_3

Sandy sedang keluar dari ruangan dan menemukan ruangan sepi.


Dia lalu berjalan, melewati ruangan Liu.


Di sana berkumpul anak buahnya.


Sebuah speaker menjadi pusat perhatian.


Sandy masuk.


Mereka menatapnya.


Suara Steven dan Reva jelas terdengar.


"Aku gak liat kamu cuma nolong doang.


Kamu punya hubungan sama dia."


Suara Steven


"Steve...


Kamu pinter.


Enggak...kamu jenius.


Kamu tau banget kalo kita gak punya masa depan.


Dua Bulan lalu..."


Suara Reva


"Dua Bulan lalu...aku ketemu ibumu.


Ibumu jelas bilang sama aku.


Aku bukan calon istri yang dia harapkan.


Aku berbeda.


Kita berbeda.


Dan kamu tau.


Tapi..kamu cuma...


Kamu cuma mau menghindari kenyataan ini sekarang..


Pada saatnya nanti...kamu...aku...


kita berdua harus menghadapi kenyataan ini.


Aku cuma mundur lebih cepat dari yang kamu harapkan."


Suara Reva.


Sandy keluar dari ruangan Liu.


Berjalan menuju pantry lalu berhenti.


Dia berdiri di tengah jalan.


Bersedekap.


Tidak ingin mengganggu percakapan mereka.


Mereka berdua memang harus bicara.


Toh..dia yang mendesak Reva untuk putus.


Dan dia sedang berdiri di sana saat Reva keluar dari pantry.


Dia belum pernah melihat Reva serapuh itu.


Sandy merentangkan tangannya.


Menawarkan pelukan.


Kenyamanan.


Dia lalu menuntun Reva ke ruangan nya.


Diiringi tatapan Steven dan tatapan para anak buahnya yang lain dari pintu ruangan Liu.


Mereka semua melihat Reva yang terisak.


Sandy menutup pintu.


Dia duduk memeluk Reva.


Tak lama terdengar suara 'Braak' yang teredam.


Reva menarik nafas.


Dia menegakkan dirinya.


Sandy tidak melepaskan pelukannya.


"Aku gak papa, Om." katanya mengusap matanya.


Kini mata itu sudah kering.


Sandy tidak menjawab.


"Yuk pulang ?" ajak Sandy.


Reva mengangguk.


"Aku pulang sendiri aja, Om..


Aku kan bawa mobil."


"Mobil kamu ditinggal aja. Nanti aku kirim supir buat jemput."


Reva menggeleng.


"Aku ada janji ke lab.


Aku emang mau pulang dulu, Om.


Ganti baju, mandi."


Sandy memandangnya.


"Aku gak papa, Om.


Bener deh.


Belajar, Kerja di lab bisa bikin lupa segala hal kok." senyum Reva.


Sandy menyerah.


Dia tau rasanya putus.


"Kamu hati-hati.


Inget, Va..


Diri kamu bukan milik kamu sendiri.


Ada Papa Mama kamu yang nungguin kamu di rumah.


Ada Tia yang sayang kamu.

__ADS_1


Ada aku.


Calon bapak anak-anak kamu." senyum Sandy.


Reva tertawa.


"Om ini pede sekali."


"Iya dong."


"Mau pulang sekarang ?" tanya Sandy.


Reva mengangguk.


"Aku pulang ya, Om." katanya.


Sandy tersenyum sambil mengangguk.


Dia menunggu Reva keluar ruangan lalu berjalan ke lacinya.


Reva membereskan tasnya di pantry lalu berjalan ke ruangan Liu.


Mereka semua masih berkumpul disana.


Semua menatapnya.


Anna tersenyum.


"Aku pulang duluan ya.


Aku mau ke kampus lagi."


"Aku antar, Va ?" tanya Josh sambil berdiri.


Reva menggeleng.


"Aku bawa mobil kok.


Tenang aja."


Semua menatap Reva.


Reva balas menatap.


Reva tersenyum.


"Bye semua.." katanya sebelum membalikkan badannya.


Dia lalu berjalan ke ruangan Steven dan mengetuk ringan.


Matanya menangkap bufet yang hancur berantakan.


"Steve, aku pulang dulu." senyumnya.


Steven tidak menjawab.


Dia hanya menatap Reva.


Reva tidak menunggu jawaban, dia langsung membalikkan badannya.


Di luar Reva bertemu Sandy.


"Om ?" tegurnya.


"Aku antar ke mobil." kata Sandy.


"Om pikir aku bakal lupa mobilku yang mana ?"


"Iya


Kamu kan selalu di mobilku.


Siapa yang tau kalo kamu nanti salah masuk.


Aku udah bawa kunci mobilku kok." jawab Sandy santai.


"Yaah...


Asal kamu tau aja, Va..


Dulu aku bisa aja gak waras kalo gak ada kamu.


Kamu.. pegangan aku, Va." jawab Sandy serius.


"Jadi karena itu, Om berkeras mau ngawinin aku ?" tanya Reva ringan.


Sandy berhenti berjalan.


Reva yang masih berjalan ikut berhenti.


Dia menghadap Sandy.


"Bukan."


"Terus ?"


"Karena aku mencintai kamu, Va." jawab Sandy tegas.


Reva terdiam.


Dia hanya menatap Sandy.


"Cinta aja gak cukup, Om." jawabnya sambil membalikan badannya lagi.


Kembali berjalan menuju mobilnya.


"Buat aku cukup, Va.


Aku laki-laki mandiri."


"Mandi sendiri ya, Om.." kata Reva mencoba bercanda, mengalihkan pembicaraan.


"Sebentar lagi ada yang mau nemenin mandi bareng kok." balas Sandy.


Reva tertawa.


"Berdoa aja, Om." katanya.


Mereka sampai di mobil Reva.


Reva masuk ke mobilnya.


Tangan Sandy menyelipkan pelacak ke dalam tas Reva.


Tadi dia juga menempelkan pelacak di mobil Reva sebelum menyambut Reva di luar.


"Va..."


Reva menengadah.


Sandy membungkuk.


Satu tangannya menangkap rahang Reva, mencium pipinya.


Dia membelai leher Reva.


Membuai Reva.


Membuat Reva menutup matanya.


Satu tangannya dengan cepat memasukkan pelacak ke tas laptop yang terletak di bangku samping.


Reva mundur.

__ADS_1


"Om..." katanya.


"Hati-hati." kata Sandy.


Reva mengangguk.


Lalu melajukan mobilnya.


Reva menarik nafas panjang.


Hatinya sekarang lebih plong.


Dia sudah mengatakan apa yang dia sembunyikan dari Steven.


Dia diminta untuk menjauhi Steven.


Tapi juga diminta untuk tidak mengatakan pada Steven bahwa ibunya yang memintanya.


Berita bahwa Steven punya pacar, santer terdengar.


Ibu Steven mendengarnya.


Dan saat mengetahui bahwa pacar Steven berbeda dari Steven, Ibu Steven memutuskan untuk menemui Reva.


Pacar Steven.


Reva masuk ke parkiran apartemen nya.


Dia mau mandi dan kemudian ke kampus lagi.


Dia ada janji dengan timnya.


Dua puluh menit kemudian, Reva keluar.


Dia menyetir mobilnya ke kampus.


Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam saat akhirnya Reva keluar.


Dia berdiri sejenak menghirup udara malam.


Menutup matanya.


Jerry berdiri di sebelahnya.


"Va...makan dulu yuk.." ajaknya.


Reva membuka mata.


"Yuk...aku laper." katanya.


"kamu minta libur seminggu, mau kemana ?" tanya Jerry.


"Mau nenangin diri." senyum Reva.


"Kenapa ? putus ?" tanya Jerry bercanda.


"Iya." jawab Reva.


"Hah ?!


Beneran ?" Jerry kaget.


Reva mengangguk sambil tersenyum.


Jerry menyipitkan matanya.


Semua tau bahwa Steven kelihatan sayang sekali pada Reva.


Semua.


"Berarti aku punya kesempatan dong ?" pancingnya.


"Enggak." tawa Reva.


"Lho..kamu kosong kok !!" bantah Jerry.


"Enggak.


Pokoknya enggak.


Kapok." kata Reva tertawa.


"Aku janji bakal mencintai kamu banget.. banget.. banget." kata Jerry.


"Yaa..


pengalaman ku bilang cinta aja enggak cukup." kata Reva.


"Selain cinta ?"


"Keluarga."


"Keluarga kamu atau pacar kamu ?"


"Dua-duanya dong, Jer...


Kedua keluarga harus menerima."


"Kok kamu kayak enggak patah hati ?"


Reva tidak menjawab.


"Aku orang asing disini.


Bagaimanapun kalian menerimaku, aku tetap orang asing.


Sebagai teman iya.


Tapi sebagai pendamping hidup ?


Jawabnya enggak."


"Keluargaku bakal nerima kamu, Va."


Reva menggelengkan kepalanya.


"Aku beda, Jer.


Percayalah.


Hidup kamu bakal ribet."


Jerry tertawa.


"Aku laki-laki, Va.


Hidupku..aku sendiri yang ngatur."


"Sekarang...


Kalo nanti mau kawin, hidup kamu sebagian diatur juga sama keluarga kamu.


Kamu butuh restu dari orang tua."


"Restu iya.


Persetujuan ?


Enggak.


Orang tuaku harus menerima siapapun yang aku pilih. Yang mau kawin kan aku. Aku yang bakal ngejalanin kehidupan dengan istriku.


Bukan orang tuaku."

__ADS_1


Reva tersenyum.


...☘️🎀🌴...


__ADS_2