Kamu Milikku

Kamu Milikku
Tak Bisa Tidur


__ADS_3

Reva bolak balik di tempat tidur nya.


Dia tidak bisa tidur.


Pikirannya melayang pada percakapan mereka tadi di mobil.


Tiga bulan ?


Ya Tuhan....


Aku belum siap !


Reva meraih ponselnya.


Dia membuka galeri.


Melihat-lihat foto.


Ada beberapa foto dirinya dengan Sandy.


Reva mengklik satu.


Lalu memperbesar gambarnya.


Mengarahkan nya pada Sandy.


Reva menatap Sandy.


Merenungi wajahnya.


Duuh..Om...


Kamu ganteng banget sih ?!


Kuat gak ya aku jadi istrinya ?


Reva lalu melirik jari manisnya.


Cincin safir itu tampak menyolok.


Sandy mewanti-wanti untuk tidak melepasnya.


Bibir Reva tersenyum.


Dia Perempuan biasa.


Dilamar dengan cara menyolok seperti tadi..memang melambungkan dirinya.


Membuatnya merasa dicintai.


Diinginkan.


Reva menatap kembali foto Sandy.


Matanya melembut.


Dia memang menyayangi Om nya ini.


Dari dulu.


Dan sekarang...nampaknya rasa sayang itu mulai berubah menjadi cinta.


Dia merasakan cemburu yang harusnya tidak perlu pada Cindy.


Tapi dia cemburu.


Tapi toh...


Bukan Cindy yang di lamar tadi malam..


Tapi dia..Reva.


Bibir Reva kembali tersenyum.


Memainkan jarinya hingga sinarnya memantul ke matanya.


'Belum tidur ?'


Pop up pesan mengagetkan nya.


Bagaimana tidak kaget.


Orang yang sedang dipikirkan tiba-tiba mengirim pesan.


Padahal sudah jam dua dinihari.


Reva menimbang-nimbang.


Balas...


Tidak...


Balas...


Reva mengetik.


Tak lama pop up balasan muncul.


'Turun Va..Kita ketemu di taman.'


Mata Reva membeliak.


Hah ?!


Malam-malam begini ?


Reva mengetik.


'Udah malam Om.'


Tak menunggu lama, balasan datang.


Satu kata saja.


'Turun'


Reva memonyongkan bibirnya.


Om Sandy ini..belum jadi suami udah suka perintah-perintah.


Dia terpikir untuk membantah.


Tapii....


Hmm....dia juga ingin bertemu Sandy.


Melihat tunangannya.


Reva bangkit.


Dia lalu menyelinap keluar.


Ke taman.


Di mana ?


Reva celingak celinguk.


Suasana taman sebagian terang sebagian temaram.


Reva berjalan pelan.


Hatinya menciut.


Ini jam dua malam.


Bagaimana kalau ada hantu...


Hiy....


Reva bergidik.


Tepat saat dia memutuskan untuk kembali ke kamarnya, bahunya dirangkul.


Didekap ke dada seseorang.


Reva menjerit.


Satu tangan menutup mulutnya.


Reva memberontak.


Pikirnya dia akan diperkosa orang.


"Sst....sst...Va....


Ini aku.." bisik Sandy.


Reva melemas.


Ya Tuhan....

__ADS_1


Reva mengangguk tanda mengerti.


Sandy melepaskan bekapan tangannya di mulut Reva.


Reva berbalik dan langsung berhadapan dengan dada Sandy yang bidang.


Sandy masih memeluknya.


"Om ini !!" kata Reva memarahi Sandy.


Dia memukul dada Sandy.


Sandy menunduk.


Di bibirnya terulas senyum.


Reva menatapnya terpesona.


Baru saja tadi dia melihat foto Sandy yang tersenyum di ponselnya.


Sekarang dia berada dalam pelukan orang itu dan orangnya benar-benar tersenyum padanya.


"Udah kagetnya ?" katanya tenang.


Reva mengangguk.


Tak mampu mengeluarkan kata-kata.


Sandy menunduk.


Mengecup dahinya sejenak.


Jantung Reva langsung berdebar.


"Yuk..nyari tempat duduk." ajak Sandy


Reva mengangguk.


Dia melirik jemari tangannya yang berada dalam genggaman Sandy.


Dekat taman bermain anak-anak, Sandy memilih satu bangku taman.


Dia duduk.


Menepuk pahanya, dia menarik Reva duduk di sana.


"Eh...Om..." Reva menggeliat.


Ingin turun dari pangkuan Sandy.


"Diem Va..." kata Sandy pelan.


"Om..."


"Gerakan Kamu Malah mancing aku."


"Eh...mancing apa ?" tanya Reva heran.


"Mancing ini."


Tangan Sandy membuka satu kancing piyama Reva.


"Hah ?!"


Reva berhenti menggeliat.


Tangannya menepis jari Sandy yang sudah turun ke kancing kedua.


Sandy terkekeh.


Dia membiarkan Reva turun.


Tapi menahan paha Reva tetap diatas pahanya.


"Kenapa belum tidur ?" tanyanya membelai rambut Reva yang sepunggung.


"Om kenapa belum tidur ?"


"Kamu itu kalo ditanya, dijawab...


Bukannya balik nanya." kata Sandy lembut.


Tangannya masih membelai rambut Reva.


Reva tersenyum kecil.


"Masih shock.." jawabnya.


"Masih shock dipasangin cincin sama cowok yang datang sama mantan pacar nya." balas Reva.


"Aku gak datang sama dia, Va.


Aku datang sama Tante kamu kok."


"Hmm...hmm.." Reva tidak menjawab.


"Aku gak masang cincin sembarangan di jari orang, Va."


Reva masih tidak menjawab.


Diam-diam menikmati wajah Sandy yang sedang sibuk meyakinkan nya.


Ganteng...batinnya.


Tanpa dia sadari, jarinya sudah naik ke menelusuri wajah Sandy.


"Ini milikku ? " gumamnya tanpa sadar.


Sandy tidak menjawab.


Dia menikmati belaian jari Reva.


Ya Tuhan..


Dia mencintai gadis ini.


Sangat mencintainya hingga dia sanggup melihat gadis ini bersama orang lain.


Tidak ingin buru-buru memaksakan kehendaknya memiliki Reva.


Matanya terus menikmati wajah Reva.


Mereka berdua saling menikmati.


Reva mendekatkan wajahnya.


Bibirnya menyentuh ringan pipi Sandy.


Hidungnya menghirup aroma sabun maskulin.


Lalu menghirup lagi.


Memenuhi rongga hidungnya dengan aroma Sandy.


Sandy merinding.


Hasratnya naik.


Seorang gadis duduk di pangkuannya dan sekarang sedang mencium pipinya.


Gadis yang dicintainya.


Siapa yang bisa tahan ?


Sandy merenggut dagu Reva.


Membawanya mendekat.


Satu tangannya memegang kepala Reva dan dia mulai mencium bibir Reva.


Awalnya lembut.


Dan kemudian, saat Reva terengah, Sandy memperdalam ciumannya.


Tangan Reva sekarang merangkul leher Sandy.


Dadanya menekan tubuh Sandy.


Reva bergerak diatas pangkuannya.


Sandy berkabut gairah.


Dia menginginkan gadis ini.


Menginginkan nya sekarang.


Tapi ini di taman.


Pikiran itu akhirnya menghentikannya.


Sandy memundurkan kepalanya.

__ADS_1


Bibirnya menyunggingkan senyum saat dia menatap Reva Yang masih memejamkan mata.


Gadis ini... polos sekali.


Tangan Sandy membelai pinggul Reva.


Reva membuka matanya.


Menemukan manik mata Sandy yang sedang menatapnya.


"Om..."


Bibir indah Reva memanggilnya.


"Masih manggil Om ?"


Reva mengangguk.


"Bahkan setelah tadi ?"


Reva kembali mengangguk.


"Kok aku ngerasa kayak sugar daddy-nya kamu sih ?"


Reva tertawa.


"Om tetap Omnya aku.." katanya keras kepala sambil mengedipkan mata.


"Apa kata anak kita kalo kamu tetep manggil aku Om ?"


Reva terkekeh.


"Om kan Om tersayang aku, Om.." jawab Reva.


"Gak papa deh dipanggil Om.. asal disayang." kata Sandy menyerah.


"Sayang kok Om..


Dari dulu juga aku sayang Om.." kata Reva.


"Dari dulu ?" tanya Sandy tak percaya.


"Dari dulu, Om.


Makanya....


Aku marah waktu Cindy...ehmmm..waktu aku liat Cindy selingkuh."


Reva menundukkan matanya.


"Kamu sih..gak ngomong.


Kalo ngomong kan..aku bisa lebih cepat move on."


"Ah...gak ada yang berani ngomong.


Bahkan Tante.


Om kan lagi tergila-gila." jawab Reva memajukan bibirnya.


Dia kembali kesal.


Sandy terkekeh.


"Kamu ngegemesin kalo lagi cemburu."


"Ihh..siapa yang cemburu ?!"


Sandy mengangkat jemari Reva yang tersemat cincin darinya.


Matanya menangkap gelang zamrud pemberian nya


"Kamu suka gelangnya ?" tanya Sandy.


Reva menunduk..


Menatap gelang yang melingkari tangannya.


"Om yang beliin ya ?"


Sandy tidak menjawab.


"Om yang beliin." putusnya.


"Tau dari mana ?" tanya Sandy akhirnya.


"Tante Tia.


Tante bilang, milihnya pake rasa cinta.


Jadi...aku tau..itu pasti Om."


Sandy tertawa.


"Gak sia-sia kamu jadi penerima beasiswa."


Reva menatapnya.


"Om ngasih hadiah juga ke dia ?"


Sandy menghela nafas.


Begini ini kalo pasangan kamu tau banyak tentang mantan kamu.


Dikejar terus...keluhnya dalam hati.


"Va...


Kamu pindah ya..." katanya mengalihkan pembicaraan.


Reva tidak menjawab.


"Kamu pindah ke rumahku.


Aku tetap di apartemen.


Jadi kamu gak perlu curiga kalo aku bakal janjian kek...ngundang orang kek...


Ya..?"


"Emang aku gak boleh di tempat yang sekarang aja Om ?"


"Enggak." jawab Sandy pendek.


"Aku janji gak berhubungan sama Steven." kata Reva.


"Aku pingin tenang juga, Va.


Aku punya dua tempat.


Kenapa enggak kalo satu kamu tempatin menjelang kita nikah."


Reva menghela nafas.


Entah bagaimana dia memberitahu Steven tentang hal ini.


Kuliahnya tinggal satu tahun lagi.


Dia berniat meneruskannya.


Sekaligus meneruskan proyek penelitian nya dengan Prof. Stephen.


"Kamu gak jawab." kata Sandy kecewa.


"Nanti aku ngomong Steven, Om." jawab Reva.


Mata Sandy menyipit.


"Gak usah..Biar aku yang ngomong sama dia.


Kamu pindah aja." putus Sandy.


"Om...!


Akunya gak enak kalo gak ngomong sama dia."


"Akunya yang gak suka, kamu ngomong sama dia."


"Ihh...Om !


Aku datang baik-baik ya perginya juga harus baik-baik dong Om."


"Oke


Sama aku." kata Sandy berkeras.


Reva menghela nafas.


"Iya Om..


Terserah Om aja." katanya menyerah.

__ADS_1


...🌴🍇☘️🍓...


__ADS_2