Kamu Milikku

Kamu Milikku
Sidang Skripsi part 2


__ADS_3

Aira masuk ke ruangan di mana dia akan menghadapi ujiannya. Addrian menunggu di luar dengan cemas.


"Padahal bukan aku yang menjalani ujian skripsi, tapi kenapa aku yang cemas begini?" Addrian mondar mandir di depan ruangan ujian Aira.


Bruk


"Aduh! Kak Addrian, Kakak tidak apa-apa, kan?"


"Aku baik-baik saja. Kamu sedang apa berada di sini?"


"Aku mau menunggu giliran untuk sidang skripsi." Tangan Noura menempel secara perlahan pada dada bidang Addrian. Pria di depannya itu hanya menatapnya datar. "Kak Addrian apa ada waktu luang? Aku mau menemani kamu kalau kamu mencari sesuatu yang bisa membuat kamu senang." telunjuk Noura perlahan-lahan naik ke atas dan menyentuh dagu Addrian.


"Maaf, tapi aku sudah tidak membutuhkan wanita lain selain istriku karena dengan dia aku sudah bisa melakukan banyak hal." Addrian menyingkirkan tangan Noura.


"Aku tidak percaya kalau kamu sudah berubah dan hanya Aira yang kamu cintai."


"Sayangnya, aku memang sudah berubah dan hanya Aira yang aku cintai. Sebaiknya kamu setelah lulus pergi saja sejauh mungkin seperti apa yang dilakukan oleh saudara sepupu kamu yang bernama Danu itu." Addrian menatap dengan tajam.


Noura agak kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Addrian.


"Danu? Dia sudah berada di luar negeri sejak lulus dari sini dan dari mana kamu tau kalau dia adalah saudara sepupuku?"


Addrian tersenyum miring. "Aku tau dari mana itu tidak penting, tapi aku ingin mengucapkan satu hal sama kamu. Terima kasih sudah bekerja sama dengan Danu untuk menjebak Aira waktu itu di hotel, tapi sayangnya rencana kalian gagal dan malah Aira menjadi milikku."


Sekali lagi Noura terkejut dan dia akhirnya memilih pergi dari sana.


"Mas, apa itu tadi Noura yang sedang berbicara sama kamu?" Aira tadi sempat melihat Noura sedang bicara dengan suaminya.


"Iya, itu tadi Noura. Dia hanya menyapaku sebentar sambil penasaran dengan tubuhku."


"Apa maksud kamu?" Seketika bibir Aira mengerucut lucu.


"Dia ingin menggodaku, Sayang."


"Apa? Dasar! Wanita murahan. Dia sering mengataiku begitu saat kekasihnya malah menyukaiku, tapi ternyata dia sendiri yang wanita murahan berani menggoda suami orang," ungkap Aira sebal.


"Siapa kekasihnya yang berani menyukai kamu?"


"Kamu, sayang."

__ADS_1


"Aku bukan kekasihnya. Dia saja yang suka halu aku jadi kekasihnya."


"Sudahlah! Jangan kita bahas masalah ini karena aku mau merayakan hari ini." Aira langsung memeluk suaminya.


"Ada apa, Aira?"


"Tadi mereka mengatakan sangat menyukai skripsiku dan sepertinya aku akan lulus dengan IP terbaik," ucap Aira menyombongkan dirinya.


"Benarkah? Selamat ya, Sayang. Addrian memeluk istrinya dengan erat.


"Harus optimis, Mas. Aku berharap bisa lulus dengan nilai terbaik dan bisa bekerja di sebuah perusahaan besar nantinya."


"Hem...! Masih tetap ingin bekerja? Lalu, bayi kita bagaimana?"


"Ada mama, kan? Katanya mama mau mengurus bayi kita," ucap Aira agak takut.


"Kenapa tidak di rumah saja? Biar aku yang bekerja."


"Aku bekerja nanti kalau bayi kita sudah agak besar. Ayolah, Mas, aku juga ingin merasakan suasana bekerja di sebuah perusahaan."


Addrian terdiam sejenak. "Ya sudah, kalau begitu aku izinkan kamu bekerja, tapi menjadi sekretaris pribadiku di perusahaanku. Bagaimana?"


"Kenapa?"


"Takut," ucapnya lirih.


"Takut apa?" Kedua alis Addrian mengkerut.


"Takut nanti aku dimakan sama bos yang punya sifat mesum seperti kamu."


Addrian tampak mendelik dengan diiringi tawa manisnya. "Aku tidak akan memakan kamu. Paling hanya memberi sedikit tanda merah pada lehermu yang indah itu yang setiap saat seolah menarikku untuk mengecupnya."


"Sama saja itu hal di larang di tempat kerja, makannya aku tidak mau bekerja di sana. Aku lebih baik bekerja di Perusahaan lain saja yang bosnya tidak mesum."


Addrian menarik tangan Istrinya mendekat ke arahnya. "Tidak boleh! Kalau mau bekerja, kamu hanya boleh bekerja di perusahan milikku. Titik."


"Selalu memaksa," gerutu Aira sambil mengerucutkan bibirnya.


"Kalau tidak mau, kamu tidak perlu Bekerja. Sekarang kita pulang saja sambil membicarakan hal ini di tempat tidur kita." Addrian menggendong Aira.

__ADS_1


"Kenapa harus di tempat tidur? Lalu, bagaimana dengan Niana? Kasihan dia tidak ada yang menemani."


"Ada Kenzo. Lagi pula kita biarkan saja mereka dekat, siapa tau mereka bisa jadi jodoh." Addrian bicara sambil menggendong Aira menuju mobilnya.


"Kok jodoh? Niana itu, kan, kekasih Mas Arlan?"


Addrian sudah diletakkan di kursinya dan pria yang menggendongnya itu memakaikan sabuk pengamannya.


"Apa kamu yakin mereka bisa bersama? Kamu lupa apa yang mamamu katakan?" Aira terdiam. Niana bahkan sudah menceritakan jika kakaknya sudah meminta maaf jika suatu saat tidak dapat mempertahankan hubungan mereka. "Kamu memikirkan apa? Biar mereka yang menyelesaikan masalahnya sendiri. Kita tidak perlu ikut campur." Aira mengangguk dan kemudian mereka memilih pulang.


Masih di kampus. Di sana Kenzo menunggu Niana yang sedang menghadapi sidang skripsinya.


"Niana, bagiamana?" tanya Kenzo yang cemas karena melihat Niana yang mukanya tertunduk sedih setelah keluar dari dalam ruangan. "Niana!" seru Kenzo kesal karena tidak mendapat jawaban dari Niana.


Niana kemudian melihat Kenzo dan tersenyum. "Aku berhasil! Kata mereka, mereka menyukai skripsiku dan aku sangat bagus saat menyampaikannya." Niana berjingkat kegirangan dan memeluk leher Kenzo dengan spontan. Pun dengan Kenzo tampak ikut bahagia.


"Selamat ya, Na. Aku benar-benar ikut bahagia."


Mereka berdua tampak saling menatap dengan lekat dan jarak pun sangat dekat. "Aku senang akhirnya bisa mewujudkan impian ibuku, yaitu salah satu anaknya bisa menjadi sarjana."


"Kamu pasti bisa karena kamu gadis yang tangguh, dan cantik." Tangan Kenzo mengusap lembut pipi Niana, dan Niana yang masih mengalungkan kedua tangannya pada leher Kenzo seolah terbawa suasana di sana.


Cup


Sebuah kecupan mendarat lembut pada bibir gadis yang seolah merasakan susuatu yang berbeda dengan sahabat baiknya itu. Kenzo yang tidak mendapat penolakan dari Niana meneruskan ciumannya pada bibir sahabat baiknya itu.


Tidak lama ponsel Niana berdering dengan nada khusus yang dia seting sebagai nada panggilan dari Arlan seketika menarik ciumannya dan menatap Kenzo tidak percaya.


"Ini salah, Ken. Ini salah." Niana berlari pergi dari sana.


"Na...! Aku minta maaf! Tolong dengarkan aku." teriak Kenzo yang tidak dipedukikan oleh Niana. "****! Kenapa aku ini?" Kenzo mengusap mukanya kasar.


"Ken, kamu kenapa?" tanya bundanya yang bingung melihat putranya seolah sedang kesal.


"Bunda? Aku tidak apa-apa." Ken tampak bingung. "Aku mau pergi dulu, Bunda.


"Apa karena seorang gadis?"


"Bunda, nanti saja aku bercerita sama Bunda setelah aku bisa menenangkan hatiku." Kenzo izin pergi dari sana. Wanita cantik yang dipanggil bunda itu hanya bisa menghela napasnya pelan. Dia sudah paham dengan sifat kedua putranya itu.

__ADS_1


__ADS_2