Kamu Milikku

Kamu Milikku
Rencana Berubah


__ADS_3

Addrian berbicara dengan mba Mona mengenai rencana kepergian mereka ke Singapura. Mba Mona menyarankan agar Pak Addrian pergi ke sana dengan membawa Citra karena Citra sudah pernah diberitahu mba Mona tentang proyek itu. Addrian pun akhirnya menyetujui.


Di kantornya, Addrian yang sudah sampai langsung menuju ke lantai atas ruangannya. Dia memanggil Citra dan memberitahu tentang rencana yang berubah.


"Aku tidak menyangka kejadian ini bisa terjadi, Pak. Nanti pulang kerja aku akan mencoba menjenguk ke rumah sakit. Mba Mona orang baik, tapi kenapa nasibnya begitu buruk?" Citra pura-pura meneteskan air mata.


"Kita tidak ada yang tau akan hal yang terjadi menimpa diri kita."


"Iya, itu benar, Pak, tapi yang membuat aku sedih adalah saat mengingat wajah bahagia mba Mona tersenyum bahagia saat dia mengetahui akan pergi ke Singapura karena dia ingin sekali ke sana dan bisa berjalan-jalan serta belanja, tapi ternyata hal itu hanya impiannya saja."


"Orang yang sudah menabrak mba Mona masih diselidiki oleh pihak berwajib, tapi kata Tito jika semua ini bukan sebuah kecelakaan, tapi ada orang yang sengaja ingin melukai Mba Mona."


"Maksud kamu apa, Addrian? Em, maksud aku, Pak Addrian?"


Addrian menceritakan apa yang Tito katakan, dan tadi di rumah sakit mba Mona juga sudah dimintai keterangan oleh pihak yang berwajib.


"Ya Tuhan! Tega sekali orang itu. Apa mungkin mba Mona memiliki musuh atau orang yang dendam dengannya karena cintanya ditolak oleh Mba Mona?"


"Mba Mona mengatakan jika dia tidak merasa memiliki musuh, dan tidak pernah menolak cinta seseorang dengan kasar. Kita tunggu saja apa motif si pelaku menabrak lari mba Mona seperti itu."


Citra mengangguk. "Pak, kalau sudah tidak ada lagi yang Pak Addrian butuhkan, aku pergi dulu karena aku mau mempersiapkan dokumen apa saja yang dibutuhkan nantinya."


"Iya, Citra. Kamu jangan lupa untuk menyiapkan semuanya dengan baik karena lusa kita sudah harus berangkat."


"Jangan khawatir, Pak."


Citra berjalan keluar dari ruangan Addrian dengan wajah tersenyum bahagia. Dia kembali duduk di meja kerjanya dengan tetap tidak menghilangkan senyum di wajahnya.


Dia kemudian mengambil ponsel miliknya dan menghubungi seseorang.


"Bos, apa pekerjaan saya sudah benar?"

__ADS_1


"Tentu saja kamu bekerja cukup baik. Sekarang kamu tinggal saja di sana untuk beberapa waktu karena pihak yang berwajib sedang mencarimu. Habiskan uang yang sudah aku berikan untuk menikmati hidup di Ottawa. Kerja kamu memang sempurna."


Citra kemudian mematikan panggilannya dan membuang kartu yang ada di dalam ponselnya.


"Saatnya untuk membuat si istri manja perebut kekasih orang itu menangis darah. Lihat saja aku akan membuat kamu menderita Aira, sehingga kamu sadar jika tidak baik menjadi wanita yang suka merebut milik orang lain."


Tidak lama ponsel Citra berbunyi dan dia melihat nama seseorang di sana, dan sekali lagi senyum Citra muncul dengan sangat lebar.


"Halo, Citra? Apa kamu bahagia sekarang?"


"Tentu saja, rencana kita berhasil dan aku akan segera mendapatkan apa yang aku inginkan, dan juga apa yang kamu inginkan."


"Bagus. Senang sekali dapat bekerja sama dengan kamu."


"Aku juga senang memiliki partner yang sama-sama memiliki tujuan untuk menuju kebahagiaan." Citra sekali lagi tertawa dengan bahagianya.


"Tapi Citra, untuk sekarang benar-benar kamu simpan kebahagiaan itu sampai rencana kita benar berhasil baru kita rayakan kemenangan ini."


Hari keberangkatan Addrian dan Citra tiba. Aira tampak wajahnya murung akan melepas kepergian suaminya selama satu Minggu di Singapura.


Aira dan Addrian berangkat dari rumah mama Tatiana karena Aira akan tinggal di sana selama suaminya pergi mengurus pekerjaannya.


"Jangan lupa tiap hari harus menghubungi aku ya, Mas?"


"Iya, nanti sehari aku akan akan menghubungi kamu sampai lima kali supaya istriku ini tidak curiga aku di sana tidak berbuat hal yang aneh-aneh."


"Jangan terlalu dekat dengan Citra, kalau urusan bisnis kamu sudah selesai cepat kembali ke hotel dan tidak perlu berbelanja ingin membelikan aku apapun. Aku tidak mau dibelikan oleh-oleh."


Addrian tersenyum. Pun dengan mama Tatiana menahan senyum mendengar putrinya yang setahu dia orangnya pendiam, tapi kenapa ini berubah cerewet sekali pada suaminya.


"Mas! Jangan tersenyum seperti itu, tapi dijawab."

__ADS_1


"Iya, Aira sayang, aku akan melakukan apa yang kamu katakan semuanya. Kamu puas?"


"Belum," jawab Aira tegas.


"Lalu aku harus apa? Apa tidak jadi berangkat saja. Aku tidak masalah, tapi hal yang menjadi impian kamu memiliki tempat rekreasi dan edukasi untuk anak-anak yang kurang mampu tidak bisa terlaksana dengan cepat. Apa lagi Mba Mona sudah merancangnya dengan sangat baik memakai cinta," terang Addrian.


"Tidak seperti itu." Aira mengerucutkan bibirnya.


Addrian mendekat dan memeluk pinggang istrinya. "Doakan saja semoga semuanya segera selesai dan aku akan langsung pulang karena jujur saja aku tidak pernah meninggalkan kamu terlalu lama. Hal ini benar-benar tidak enak."


Aira mengangguk. "Aku juga, Mas. Jaga diri kamu baik-baik ya, Mas."


"Pasti, dan kamu juga jangan lupa jaga diri kamu dan bayi kita baik-baik. Ma, aku titip Aira dan bayiku. Nanti kalau aku sudah pulang akan aku jemput langsung kamu ke sini."


"Kamu tenang saja, Addrian. Mama akan menjaga kedua orang yang sangat berharga buat kamu ini dengan nyawa mama kalau perlu." Aira memeluk mamanya sekarang.


"Kalau begitu aku berangkat dulu." Addrian pergi menuju mobilnya untuk berangkat ke bandara di mana Citra sudah menunggu di sana.


Aira tidak mau mengantarkan suaminya sampai ke bandara karena dia tidak mau terlalu sedih, bahkan Addrian pun memiliki pemikiran yang sama.


Aira nangis saat suaminya sudah tidak terlihat di sana. Mamanya coba menenangkan Aira. Dia benar-benar tidak menyangka jika putrinya akan seperti ini sangat mencintai seorang pria yang dulu sempat Aira tolak dijodohkan dengannya..


Di bandara, Addrian yang sudah datang langsung menuju ke arah pesawatnya. Citra mengikutinya dari belakang.


Perjalanan menuju Singapura juga tidak memakan waktu terlalu lama. Addrian dan Citra yang sudah sampai di sana langsung disambut oleh Andreas dan temannya. Mereka membawa Addrian dan Citra pergi ke suatu tempat di mana Addrian akan melihat sesuatu yang dibuat oleh pria dengan wajah biasa dan penampilan yang sederhana.


"Apa kamu sudah melihat apa yang sekretarisku rancang? Bagaimana menurut kamu?"


"Sangat bagus, Tuan Addrian, hanya saja nanti ada yang harus saya ubah dan waktu itu sudah saya kirim ulang hal yang perlu diubah.".


"Iya, sekretarisku juga sudah mengatakannya, dan maaf jika dia tidak bisa datang karena dia baru saja mengalami kecelakaan dan harus dirawat di rumah sakit."

__ADS_1


__ADS_2