Kamu Milikku

Kamu Milikku
Salju Yang Turun


__ADS_3

Reva berjalan perlahan ke teras hotel, lalu turun ke jalan.


Salju baru saja turun.


Reva merentangkan tangannya ke depan.


Menangkap butiran-butiran salju.


Di tempatnya menempuh pendidikan tidak ada salju.


Dia bertanya-tanya, kenapa dulu memilih Taiwan dan bukan China.


Disini dia bisa merasakan empat musim.


Tapi Reva tau jawabannya.


Dia ingin dekat dengan Tia.


Keluarga nya juga ingin dia ada di dekat Tia.


Tia bisa melindunginya kalau terjadi sesuatu.


Telapak tangannya menutup.


Menggenggam butiran salju.


Meremasnya sedikit, membentuk bola kecil.


Reva menggigil.


Walaupun sudah mengenakan pakaian tebal dan berlapis tapi tubuhnya belum terbiasa dengan suhu dingin yang ekstrim.


Temperatur turun hingga minus lima derajat.


Sementara dia terbiasa dengan temperatur dua puluh derajat di hari yang paling dingin.


Apalagi di kotanya.


Suhu bisa mencapai tiga puluh empat derajat saat musim kemarau.


Tapi Reva tidak ingin masuk ke hotel.


Dia ingin menikmati salju.


Kesempatan yang sangat langka buatnya.


Reva kembali merentangkan tangannya.


Dia memejamkan mata, mengangkat hidungnya, menghirup dalam kesegaran udara dingin di sekitarnya.


Rambut panjangnya menggantung dari kepalanya yang menengadah.


Wajahnya yang bersih terangkat menghadap langit.


Butir-butir salju melayang menyentuh lembut Wajahnya.


Bibirnya tersenyum sedikit.


Sepasang tangan dari belakang menangkup kedua telapak tangannya yang terentang.


Reva terkejut.


Refleks, dia melompat ke depan.


Tapi kedua tangan itu menahannya.


Nafas Reva terdesak keluar.


Rasa takut merayapi hatinya.


"Ssst..Ini aku..."


Reva semakin terlonjak.


"Steve !!"


"Mmm....mmm"


Steven tidak menjawab.


Dia tidak melepaskan pelukannya.


Wajahnya dibenamkan dalam rambut Reva.


Mencium wangi shampo.


Dia menghirup dalam-dalam.


Harum rambut Reva menenangkan dirinya.


"Steve..lepasin !!"


"Mmm....


Sebentar lagi..."


Steven masih menikmati kehangatan tubuh Reva.


Tapi Reva merasa risih dan tidak pantas.


Dia takut teman-temannya melihatnya dipeluk oleh Steven.


Dia gadis yang sudah bertunangan dan sebentar lagi akan menikah.


Dan mereka semua tau siapa tunangannya.


Reva memberontak.


Tangannya bergerak, mencoba melepaskan tangan Steven.


Steven makin mengeratkan pelukannya.


Tubuh Reva yang memberontak malah semakin memberinya alasan untuk memeluk lebih erat.


"Aku pingin kita bisa seperti ini terus sepanjang hidup kita." bisiknya.


Reva kembali memberontak.


"Steve !!


Jangan ngaco !" bentaknya.


Steven tidak menjawab.


Dia masih memeluk Reva.

__ADS_1


Tubuh Reva seperti oksigen baginya


Memberinya kesegaran dari kepenatan bekerja.


Steven mengingat kembali saat-saat mereka masih menjadi kekasih.


Dia sering memeluk Reva dari belakang seperti ini.


Sebelum Reva memutuskan untuk meninggalkan nya.


Steven merapatkan kelopak matanya.


Dahinya berkerut saat mengingatnya.


Sakitnya masih terasa.


Sekarang ada Michael di belakangnya.


Dia tidak ragu-ragu lagi.


Tadi dia sedang minum kopi di cafe lobi hotel.


Lalu dia melihat Reva melintasi lobi berjalan keluar sendirian.


Tanpa berfikir, kaki Steven otomatis bergerak mengikuti langkah kaki gadis itu beberapa meter di hadapannya.


Saat Reva berhenti, Steven pun berhenti.


Dan dia menatap terpesona pada Reva yang merentangkan tangannya dan mengangkat wajah, menyambut butiran salju yang turun ke wajahnya.


Lalu Steven tak tahan lagi.


Dia mendatangi Reva.


"Steven Chou !!"


Reva akhir nya membentakkan nama Steven dengan lengkap.


Dia sudah risih dipeluk erat seperti ini.


Steven melonggarkan pelukannya.


Reva buru-buru mendorong Steven menjauh.


Tapi tidak berhasil.


Badan Steven besar.


Hasil latihan di gym dan jiu-jitsu.


Steven tidak bergeming.


"Kamu hari ini kosong kan ?" tanyanya tetap memeluk Reva.


"Lepasin Steve !!"


Reva masih memberontak.


Steven melepaskan pelukannya..Tapi sebelum Reva bisa menjauh, Steven menangkap tangannya.


"Steve !!"


"Ayo ikut...


Kita jalan-jalan hari ini.." senyum Steven.


Beberapa saat, Steven menghentikan rackshaw, becak yang ditarik oleh orang.


"Ayo !!"


Steven membantu Reva naik ke rackshaw, memegang tangan Reva agar bertumpu padanya.


Reva ragu-ragu sejenak sebelum menerima tangan Steven.


"Mau kemana, Steve ?"


"Aku ajak kamu keliling kota." senyum Steven.


Setelah memastikan penumpang nya duduk dengan nyaman, penarik rackshaw mulai menarik becaknya.


Mereka dibawa ke hutong spot tour terdekat.


Reva dan Steven turun.


Masih tetap menggandeng tangan Reva, Steven mengajak Reva berkeliling toko-toko.


Reva berkali-kali berusaha menarik tangannya dari genggaman Steven, tapi tidak berhasil.


Steven hanya melepaskannya saat Reva hendak memilih-milih barang.


Setelah itu dia kembali menggandeng tangan Reva.


"Laper ?" tanya Steven melirik Reva disampingnya.


"Iya..." jawab Reva.


Lalu..


"Steve....lepasin dong." pinta Reva lembut.


"Apa ?" tanya Steven pura-pura tidak tau.


"Tanganku."


"Hmm..."


Steven tidak menjawab.


Dia terus berjalan menuju penjual jian bing yang penuh dengan antrian.


"Kita sarapan ini ya.." katanya.


Reva mengangguk.


Dia tau jian bing.


Jian bing, sejenis crepe dengan adonan yang lebih kental.


Diatasnya dipecahkan telur, diberi daun bawang dan sosis.


Lalu dibalik, dilipat kemudian diberi saus.


Dilipat lagi baru dipotong dua.


Mirip kebab tapi dengan adonan kulit yang berbeda.

__ADS_1


Steven memesan lalu mereka menunggu.


Tiga menit menunggu, pesanan merekapun siap.


Steven membimbing Reva duduk di bangku taman.


Mereka makan dalam diam.


Reva masih merasa tidak nyaman.


Bagaimanapun Steven mantan pacarnya.


Dan masih menyimpan perasaan padanya.


Demikian pula sebaliknya.


Dia merasa mengkhianati Sandy.


"Kenapa ?" tanya Steven disela-sela kunyahan nya.


Reva menggeleng.


"Kamu gak akan pernah jadi Cindy."


Reva menoleh kaget.


"Apa ?"


"Kamu gak pernah jadi Cindy !" ulang Steven.


Reva diam.


Apa Steven mampu membaca pikiran ?


"Kamu enggak selingkuh, Va, kalo cuma jalan sama aku kayak gini."


Reva tetap diam.


Rasa laparnya mendadak hilang.


"Kamu mau ?"


Reva menawarkan setengah jianbing yang belum dimakannya.


Steven mengambilnya dan memakan setengah jianbing milik Reva.


Reva melirik Steven dari samping.


Memperhatikan rahang Steven yang bergerak mengunyah jianbing.


Rasa sakit melintas di hatinya.


Dulu rahang itu sering mendarat di ubun-ubun kepalanya mengirimkan rasa hangat di hatinya.


"Udah puas liatnya ?" ledek Steven.


Plak.


Bahu Steven dipukul.


Reva berdiri.


"Aku beli minum dulu." katanya sedikit menggigil.


"Gak usah.


Kita kesana aja." ajak Steven menunjuk kedai yang menjual teh.


Steven berdiri.


"Ayo.."


Steven kembali menarik tangan Reva.


Merasakan dinginnya tangan Reva, Steven merangkum jemari Reva lalu memasukkannya ke kantung jasnya.


"Steven !"


"Kamu kedinginan.


Ini biar hangat."


"Tapi..tapi..."


"Aku gak mau kamu kedinginan."


Reva mengalah.


Lagipula dia memang kedinginan.


Dan kedekatan tubuhnya dengan tubuh Steven membantunya menghangatkan dirinya.


Walaupun menyelinap rasa bersalah pada Sandy.


Di kedai teh, Reva memesan teh susu panas, sementara Steven memesan kopi.


Jari Steven masih merangkum tangan Reva.


"Abis ini mau kemana ?" tanya Reva saat teh susu panas sudah terhidang di hadapannya.


"Hutong yang udah ada sejak tahun seribu tiga ratus."


"Wuih...beneran ?!" tanya Reva takjub.


"Iya."


"Ini kan kota tua, Va."


"Kamu tau banyak, Steve."


"Iya.


Aku sering kesini."


"Oh .. ngapain ?"


"Rumah keluarga ayahku ada disini.


Kami beberapa kali pulang ke keluarga besar saat tahun baru."


Reva mengangguk-angguk.


"Nanti kita kesana."


"Hah ?!"

__ADS_1


Reva langsung pucat.


...🍇🌴🍒...


__ADS_2