Kamu Milikku

Kamu Milikku
Kalau Bahagia, Kenapa Tidak ?


__ADS_3

"Aku tak bisa luluhkan hatimu


Dan aku tak bisa menyentuh cintamu"


Tia memulai.


Reva lalu menabuh drumnya.


Tia menyanyi sambil memetik gitarnya.


Lin memegang bass.


Di layar belakang terpampang terjemahan dalam bahasa Mandarin.


"Seiring jejak kakiku bergetar


Aku telah terpagut oleh cintamu"


Reva memukul sambil melirik Sandy sebentar.


Sandy sedang menatapnya.


"Menelusup hariku dengan harapan


Namun kau masih terdiam membisu"


Reva terus menabuh.


Tangannya lincah memukul snare, simbal dan tom tom bergantian.


Kakinya menginjak pedal bass dengan berirama.


Menentukan ketukan.


"Sepenuhnya aku


Ingin memelukmu


Mendekap penuh harapan


'Tuk mencintaimu


Setulusnya aku


Akan terus menunggu


Menanti sebuah jawaban


'Tuk memilikimu"


Reva menatap kebelakang penontonnya sambil menabuh. Menerawang.


Kepalanya ikut mengangguk mengikuti irama bassnya.


Kuncir ekor kudanya terayun-ayun.


Sandy menatapnya.


Ingin tau apa yang ada dipikiran Reva.


Dia tidak tau bahwa Reva sedang memikirkan dirinya.


"Betapa pilunya rindu menusuk jiwaku


Semoga kau tahu isi hatiku"


Reva melirik sekilas pada Steven yang menonton.


"Dan seiring waktu yang terus berputar


Aku masih terhanyut dalam mimpiku"


Reva terus bermain.


Kini dia hanya melihat set drumnya saja.


"Sepenuhnya aku


Ingin memelukmu


Mendekap penuh harapan


'Tuk mencintaimu


Setulusnya aku


Akan terus menunggu


Menanti sebuah jawaban


'Tuk memilikimu"


Tia, Lin dan Reva memainkan alat mereka masing-masing.


Aku tak bisa luluhkan hatimu


Dan aku tak bisa menyentuh cintamu.


Tia menutup lagunya dengan sendu.


Menatap Sandy secara langsung.


Reva menabuh penutup lagu dengan sepenuh hati.


Lalu menyatukan stiknya dalam satu tangan.


Kali ini dia tidak menyajikan atraksi stik.


Hatinya pedih.


Dia pun menatap Sandy langsung ke mata.


Tadi dia melihat interaksi intim antara Cindy dengan Aaron.


Setelah Aaron meninggalkan meja bersama Cindy.


Melihat cemberut manja Cindy pada Aaron.


Aaron yang menertawai Cindy dan tatapan menginginkan diantara mereka berdua.


Bagaimana Sandy tidak bisa melihat hal yang terang-terangan seperti itu, Reva tak habis pikir.


Sementara Sandy yang menyadari menjadi sasaran tatapan kedua gadis itu meneguk ludah.


Reva menunduk.


Dia bangkit dari tempat duduknya lalu turun.

__ADS_1


Tempatnya akan digantikan oleh drummer yang biasa mengiringi Tia.


Tadi itu penampilan spesial mereka berdua.


Tia yang mendadak menginginkan menyanyikan lagu itu.


Menanti Jawaban dari Padi.


Sepertinya Tia pun sama.


Emosinya terganggu.


Steven mendekati.


Reva mendongak.


Tersenyum.


Reva berbalik.


Berdiri bersama yang lainnya Menonton Tia yang akan menyanyi.


Tangannya bersedekap di dada.


Steven meliriknya.


Mengeluh.


Kenapa sih tangan Reva dilipat ?


Reva tadi meninggalkannya saat mereka semua melantai.


Saat menyadari Reva tidak ada, Steven kembali ke meja mereka.


Steven tau alasan Reva mundur.


Dia mengira Steven punya pacar.


dan Steven sengaja tidak memberitahukan yang sebenarnya pada Reva.


Kenapa?


Steven bertanya pada dirinya sendiri.


Karena Steven tau seperti apa keluarga Reva.


Tia dan Reva satu keluarga.


Lihat seperti apa dulu Michael babak belur memperjuangkan hanya untuk menikahi Tia.


Hanya ?


Lihat mereka sekarang.


Bahagia.


Michael bahagia bersama Tia.


Tia pun bahagia bersama Michael.


Yah.. Michael tau perempuan mana yang bisa bikin dia bahagia. Dan bertekad untuk memilikinya.


Sementara dia ?


Steven meminum birnya.


Dia melirik.


Steven menegakkan tubuhnya.


Mengamati dengan seksama.


Aaron, aktor ganteng dan berbakat.


Drama terakhirnya booming.


Apa dia juga tertarik pada Reva?


Beberapa saat kemudian nampak Cindy pacar Sandy mendekat.


Aaron dan Cindy lalu menjauh dari meja Reva.


Keduanya nampak berbisik-bisik dengan intim.


Perempuan sampah !!


Apa sih yang dilihat Sandy dari dia ?


Semua orang mempertanyakan kemampuan Sandy memilih pacar.


Dan sekarang... Steven berdiri di sebelah Reva.


Menginginkan menarik tubuh gadis itu melekat pada dirinya.


Steven melirik.


Memperhatikan bulu mata panjang di bawah alis tebal yang melengkung indah.


Bulu matanya sendiri biasa.


Tidak panjang.Terselip di dalam lipatan mata sipitnya.


Sementara mata Reva lebar, memiliki kelopak.


Seperti apa anak mereka ya ?


Steven menggeleng-gelengkan kepalanya.


Lamunannya terlalu jauh.


Anak?


Boro-boro dia siap untuk kawin.


Mengakui bahwa dia memiliki perasaan lebih dari sekedar suka saja, tidak !


...⛰️🍎🎋...


Malam terakhir liburan Reva, Tia mengundang mereka semua makan malam.


Sandy mengatakan akan mengajak Cindy.


Tia terdiam sejenak lalu mengangguk.


Yaah..kita gak bisa berbuat apa-apa bila orang yang bersangkutan keras kepala bukan ? begitu pikirnya.


Seperti beberapa malam yang lalu, Michael dan keluarganya datang lebih lambat dari yang lainnya.

__ADS_1


Tia dan Reva masing-masing menggandeng satu lengan Michael.


Sore sebelumnya, Biliyan diam-diam keluar dari apartemen nya dan datang ke apartemen Tia.


Mereka merencanakan penampilan Reva.


Dan kini, Reva mengenakan gaun biru tua tajam , rambut digerai, dan make up tipis tapi menonjolkan kecantikannya.


Lipstik nya dipilih dengan hati-hati oleh perias Tia sehingga saat menatap bibir Reva, yang terlintas hanya keinginan untuk memagutnya.


Reva yang pasrah membiarkan dirinya didandani.


Dia hanya tau bahwa kedua tantenya ingin dia terlihat cantik.


Sama sekali tidak terbersit dalam benaknya bahwa penampilannya dipilih dengan hati-hati untuk menggoda Sandy.


Tia, Michael, Robert dan Biliyan kali ini sudah sampai pada batas kesabaran mereka saat Tia menceritakan apa yang dilihat oleh Reva.


Michael dan Robert, pemilik perusahaan high tech sudah gatal ingin membajak ponsel Cindy, meletakkan kamera di apartemennya, mobilnya , menelusuri kehidupan pribadinya dengan menyewa detektif agar bisa memberikan bukti-bukti pada Sandy bahwa pacarnya tidak setia.


Tapi Tia melarang.


Dia sudah bicara pada Sandy.


Dan Sandy tipe keras kepala.


Mereka harus mencari jalan lain.


Sandy mengakui bahwa dia menyukai Reva.


Dan lewat jalan itu, sepertinya Sandy bisa disadarkan.


Saat Sandy mengatakan akan mengajak Cindy, Biliyan mengusulkan agar menyandingkan Reva dan Cindy agar Sandy dapat melihat jelas perbedaan diantara mereka berdua.


Dan akhirnya...


Sandy lagi-lagi terpana dengan penampilan Reva.


Bibirnya terbuka...dan kemudian mengatup.


Meneguk ludah sesaat sebelum melirik Cindy.


Lupa dengan keberadaan Cindy.


Reaksinya tak luput dari pengamatan keempat temannya.


"Halo.." sapa Michael.


Seperti makan malam yang lalu, Reva duduk di seberang Sandy.


"Om..." sapanya sopan.


Pada Cindy dia mengangguk sambil melepas senyum.


Bibirnya yang di tata hati-hati oleh perias, membuat lekukan yang kembali mengakibatkan Sandy menelan ludah.


Makanan dan minuman disajikan.


Mereka semua mengobrol ngalor ngidul sebagian besar memakai bahasa Mandarin diseling bahasa Inggris bagi memberi kesempatan pada Biliyan untuk memahami.


"Halo.."


Willy Chang menghampiri meja mereka.


"Hai Willy.." sapa Tia.


"Makan malam keluarga lagi ?" sapa Willy.


"Iya.


Kamu juga ?"


"Iya.


Aku lagi makan malam sama Pa dan Ma." tunjuk Willy ke mejanya.


Dia lalu menatap Reva.


"Hai Reva.."


"Hai Willy.." senyum Reva.


Cindy menatap pada mereka berdua.


Reva kenal dengan Willy Chang, si pewaris kerajaan bisnis nomor tiga terbesar di Taiwan ?


"Boleh aku pinjam Reva sebentar ?


Reva, aku mau mengenalkan kamu sama Pa dan Ma." senyum Willy.


"Oh..." bibir Reva membentuk huruf O yang indah.


Willy menatapnya.


Sandy juga menatapnya.


Tia mengangguk.


"Va...mau kan kenalan sama orang tua Willy ?"katanya setelah melempar lirikan sekejap pada Sandy.


"Iya." jawab Reva.


Willy lalu mendekati kursi Reva, membantunya bangun dan menawarkan lengannya untuk digandeng.


Berdua mereka berjalan menuju meja Willy.


Seluruh orang menatap punggung mereka yang menjauh.


"Ti...


Emang Willy punya kebiasaan ya... ngenalin cewek ke orang tuanya di tempat kayak gini." tanya Robert dengan kening berkerut.


"Setauku sih gak pernah.


Hmm...naksir kali..?!" jawab Tia acuh tak acuh.


"Lu kasih Ti ?" tanya Biliyan.


Tia menatap semua orang sebelum menjawab.


"Kalo dia mau berusaha seperti suami gue ngusahain gue, ya...gue pikir gak ada salahnya kan ?


Willy konglomerat.


Reva gak akan miskin sepanjang hidupnya.


Dia juga akan bahagia." tandas Tia.

__ADS_1


Sandy terbatuk-batuk.


...⛰️🍎🎋...


__ADS_2