Kamu Milikku

Kamu Milikku
Sadar


__ADS_3

Reva membuka matanya.


Tadi....dalam mimpinya dia mendengar Sandy memanggil-manggil.


Memaksanya untuk datang pada Sandy.


Sandy marah karena dia tidak juga kunjung menghampiri.


Berisik sekali.


Sandy bilang, dia harus membayar hutang pada Sandy.


Hutang Apa?


Reva membuka matanya lebih lebar.


Semua orang ada di sekitar tempat tidurnya.


"syukurlah...


Kamu udah sadar, Va" terdengar satu suara perempuan.


Reva mengedarkan pandangannya.


"Va.. kamu bikin kami semua takut !" kata satu suara lagi.


Reva tidak mengenali suaranya.


"Syukur, kamu balik, Va !" kata Sandy.


Reva menggerakkan kepalanya sedikit.


"Berisik !" katanya pelan.


"Apa ?" tanya Sandy.


"Mas berisik !" gerutu Reva.


Semua tertawa.


"Ya ampun Va, baru bangun udah bisa ngomel.." kata satu suara lainnya.


Reva menggerakkan kepalanya lagi, lalu mengernyit.


"Jangan bergerak dulu, Va."


Steven.


Reva mencari keberadaan Steven.


Reva melirik ke samping.


Steven.


Reva tersenyum.


Lalu memejamkan matanya kembali.


Dokter di panggil.


Reva diperiksa.


Gegar otak ringan, vonis dokter tadi.


Harus istirahat selama dua hari untuk observasi di rumah sakit.


Sementara Sandy masih tercengang.


Reva memanggil dia apa tadi ?


Mas ?


Angin apa Reva memanggil dia Mas ?


Selama ini Reva selalu berkeras untuk tetap memanggil dia Om.


Dan memperlakukannya sebagai Om-nya.


Pasti karena gegar otak.


Sandy menggelengkan kepalanya.


Tadi dia kembali ke hotel, mandi lalu langsung kembali ke rumah sakit.


Sandy juga menelpon orang tua Reva.


Dengan suaranya yang memang tenang, Sandy menenangkan Papa dan Mama.


Mengatakan bahwa dia akan mengurus Reva selama masa perawatan dan akan mengantarkan Reva pulang.


"Om sama Tante tenang saja.


Ini gegar otak ringan.


Sudah di scan dan gak ada apa-apa.


Reva cuma harus istirahat.


Begitu kondisi Reva sudah kondusif untuk pulang, saya akan mengantarkan dia ke rumah."


Tia juga menelpon Papa dan Mama Reva.


"Iya Mas, kita semua memang nungguin Reva di sini..Mas gak usah khawatir.


Kondisi Reva stabil.


Perlu istirahat untuk menyembuhkan gegar otaknya.


Dia kebentur papan selancar nya Mas.


Hmm...Mas Sandy ?"


Tia menoleh pada Sandy.


Sandy balas menatapnya.


"Iya...


Mas Sandy nanti ikut mengantar.


Kami semua nanti ke tempat Mas.


Nganterin Reva.


Langsung dari bandara."


Tia menutup telpon.


Lalu menatap Sandy lurus-lurus.


"Ko, Lu apain Mas gue, sampe segitu percayanya sama lu ?" tuduhnya.


Sandy tercengang.


"Apa ?"


"Mas gue.


Sepupu gue.


Lu apain sampe segitunya sama lu, Ko ?"


"Gak gue apa-apain." jawab Sandy bingung.


Robert tertawa.


"Ini praktek lama Ti.

__ADS_1


Belum dapet anaknya, deketin dulu orang tuanya."


Sandy memerah.


"Astaga...


Kalian ini buruk sangka banget sih sama gue ?


Kan gue emang kenal sama Papa Mama nya Reva." elaknya.


"Lha iya..


Pasti kenal.


Cuma masalahnya...


Kenapa bisa kenal?


Kenapa repot-repot mengenalkan diri ?" kejar Robert.


Sandy kembali memerah.


Dia menatap Robert, lalu Tia..


Pandangannya beralih pada Michael yang sedang tersenyum lebar.


"Lu semua pada kenapa sih ?


Gue kan bantuin mereka waktu panen raya kemarin."


Sandy mencoba untuk terdengar biasa-biasa saja.


"Naah !!!


Itu...!


Ngapain lu bantuin ?!" tembak Robert senyum-senyum.


"Ahh..sialan lu semua !" tutup Sandy tak mampu berkata apa-apa lagi.


"Tapi gak apa-apa kok Mas Sandy..." ledek Tia.


"Lu gak usah ikut-ikutan Ti !"


"Lho..aku emang gak ikut-ikutan kok Maaass..." jawab Tia sengaja mengucapkan kata Mas dengan manja.


"Kok enak banget ya denger kata Mas.." cetus Robert.


"Enak banget Bet.


Apalagi kalo abis itu dia buka-buka...wuihhh...


Merdu banget." sambar Michael.


Tia nyengir.


Sandy memerah.


"Tapi...


Lu beresin dulu yang ini." kata Robert menunjuk dengan dagunya ke arah Cindy yang menghampiri mereka.


Beberapa jam kemudian di kamar.


Reva bangun.


Mengeluh.


Steven menepuk tangannya perlahan.


Reva menoleh.


Steven sedang duduk di sampingnya.


"Haus.." bisik Reva


Steven mengambil gelas.


Reva minum sedikit.


Lalu mengeluh.


"Sakit."


"Iya.


Istirahat aja."


Steven membelai jemari Reva.


"Silau Steve."


Steven berdiri.


Mematikan satu lampu yang ada di dekat Reva.


Lalu kembali duduk.


Reva kembali tidur.


Masuk dalam kegelapan yang menenangkan.


Steven menyandarkan dirinya di kursi.


Matanya menatap sayang pada gadis yang sedang tidur ini.


Tadi dia takut setengah mati.


Rasanya ingin mendorong Sandy dan menggantikannya melakukan CPR.


Tapi dia tau...itu malah membuat pertolongan terhadap Reva akan semakin lambat.


Jadi dia hanya melihat dan bersiap untuk menggantikan melakukan kompresi.


Tapi Liu ternyata lebih cepat.


Mereka semua memang melihat bahwa Sandy sudah lelah.


Dan frustasi saat Reva masih diam.


Sementara kompresi harus dilakukan dengan tenaga yang kuat.


Untunglah..Reva sadar.


Tapi di rumah sakit, dia kembali cemas.


Ternyata Reva kembali harus dikejut jantung.


Suara dari balik tirai membuat cemas semua orang.


Pintu terbuka.


Tia masuk.


"Steve.." panggilnya.


Steven tersenyum.


"Tadi bangun. Sekarang tidur lagi.


Kalian pulang aja.


Biar aku yang nungguin disini." kata Steven.


"Padahal aku mau ngajak kamu pulang.


Sandy yang mau nungguin malam ini." kata Tia.

__ADS_1


Steven menggeleng.


"Gak papa.


aku aja.


Besok aja gantiannya." tolak Steven.


"Hmm..."


Tia memandang Steven.


Menimbang-nimbang.


"Oke...


Besok pagi kita gantian ya.."


Steven tersenyum.


Dia mengangguk.


Tia lalu berbalik.


Keluar dari kamar.


Dia menemui Robert, Michael dan Sandy.


"Steven mau nungguin malam ini.


Lu pulang aja Ko, bareng kita.


Istirahat dulu.


Besok kita gantian sama Steven." katanya dengan suara tegas.


Sandy membuka mulut untuk membantah.


Tapi lalu diam saat melihat wajah Michael dan Robert.


Dia harus mengakui bahwa dia capek sekali.


Sandy mengangguk.


"Aku pamit dulu." katanya.


Mereka lalu bersama-sama kembali ke ruang rawat Reva.


Steven mengangkat wajahnya saat pintu terbuka.


Sandy masuk.


Steven bersiap-siap untuk membantah saat Sandy berkata, "Steve, kita pulang dulu ya.


Titip Reva.


Besok pagi kita gantian."


Steven kaget.


Lalu mengangguk.


Dia tersenyum.


Dia pun lelah dan Tidak punya energi untuk berdebat.


Jadi saat Sandy berkata demikian, dia lega.


Mereka kemudian keluar kamar.


Di mobil...


"Ti, tolong bukain balkon Reva.


Gue mau tidur di sana malam ini."


Teman-temannya memandangnya.


Sandy menghembuskan nafasnya.


"Cindy pasti gedor kamar gue malam ini.


Gue tadi liat mukanya.


Dia gak suka gue deket-deket Reva.


Apalagi nolongin.


Gue lagi males berantem.


Capek." katanya sambil merebahkan kepalanya ke sandaran jok.


"Gue lupa kalo cewek lu gigih." tukas Robert.


"Hmm...gak tau kenapa sih dia begitu sekarang ?" keluh Sandy.


"Oke...


gue sama Tia yang pindah ke kamar Reva.


Lu tidur di kamar gue.


Takutnya...dia tau strategi lu..


Nyusul ke kamar Reva." kata Michael.


"Kalo gitu...


Mas temenin Ko Sandy deh.


Aku sama Jason bedua." kata Tia.


"Hah ?!


Lhoo..kok gitu Ti ?!" protes Michael.


"Iya..biar kalo dia ngetok kamar yang keluar kamu Mas..." jawab Tia.


"Aduuh Ti...


Aku gak bisa tidur kalo gak sama kamu.." jawab Michael memelas.


Sandy dan Robert tertawa terbahak-bahak.


"Eh....bentar.. bentar...


kenapa gue yang kudu ngalah.


Kenapa bukan Robert aja yang tidur sama Sandy." kata Michael.


"Karena..lu sayang sama kakak lu.


Kasian..kakak lu kan lagi hamil.


Masa gue tinggal ?" jawab Robert.


"Ck...


San !


Pokoknya lu putusin tu cewek bulan depan.


Gue gak mau tau !!


Empat tahun kawin, baru kali ini gue tidur sama cowok !" gerutu Michael.


"Kalo bisa, udah gue putusin dari dua bulan yang lalu Kel.." jawab Sandy kalem.

__ADS_1


Mereka semua tertawa.


...⛰️🍎🎋...


__ADS_2