Kamu Milikku

Kamu Milikku
Paket Misterius part 2


__ADS_3

Rico menyarankan agar Addrian tidak perlu memikirkan terlalu larut masalah itu. Siapa tau ada orang yang ingin mengerjai Addrian.


"Jangan-jangan kamu yang sudah berbuat iseng denganku?"


"Enak saja, kalau aku mau iseng sama kamu, aku tidak akan mengirimkan lingerie itu, tapi langsung video kamu saat bercinta dengan salah satu kekasihmu dulu."


"Apa? Kamu serius memiliki videonya? Kapan kamu merekamnya? Rico, jangan bercanda denganku," ucap Addrian seketika panik.


Rico malah tertawa dengan kerasnya di seberang telepon. "Kapan-kapan kalau aku sedang membutuhkan uang, aku tinggal menemui kamu di perusahaanmu. Bagaimana? Bolehkah aku berkunjung ke sana?"


"Rico, aku tidak bercanda. Apa benar kamu memiliki video itu?"


"Video?" Aira yang baru keluar dari kamar mandi mendengar apa yang baru saja Addrian katakan. "Mas, video apa?"


Addrian seketika panik dan menoleh pada Aira yang senang menunggu jawabannya.


"Bukan video apa-apa, Sayang."


"Aira, itu Aira, kan?" tanya Rico.


"Urusan kita belum selesai ya, Ric," ancam Addrian.


"Oh ... kalau mau selesaikan, aku mau datang ke rumah kamu sekarang."


"****! Awas kalau sampai kamu ke sini."


"Mas, ada apa? Kenapa Rico tidak boleh datang ke rumah kita?" Aira melihat penasaran pada suaminya.


Addrian menutup panggilannya dan dia menjelaskan jika Rico itu sukanya usil dan dia malas dengan kejahilan sahabatnya itu.


"Aira, apa kamu masih memikirkan siapa yang mengirim paket itu?


Aira langsung menggeleng. "Aku sudah tidak mau membahas masalah itu lagi karena aku tidak mau nanti malah membuat hubungan rumah tangga kita tidak baik. Lebih baik kita memikirkan hal yang lebih penting saja, bukannya aku sudah percaya dengan apa yang kamu katakan, Mas."


"Terima kasih, sayang." Addrian memeluk istrinya, dan sekarang yang dia pikirkan adalah tentang video yang baru saja dikatakan oleh Rico tadi. Apa benar ada video itu? Rico walaupun suka bercanda, tapi kadang bercandanya beneran.


Malam itu Aira tampak sedang membuat makanan di dapur dan Addrian sedang sibuk berkutat dengan laptopnya, dia sedang mempelajari beberapa dokumen dari ayahnya.


Sejak Citra keluar dari rumah, Aira tidak mau memakai jasa juru masak lagi karena dia ingin menjadi istri yang sempurna yang bisa setiap hari membuat makanan enak untuk suaminya.


"Mas, kita makan dulu," panggil Aira lirih, tapi Addrian yang sedang fokus tidak mendengarkan.


Wanita cantik yang sedang hamil itu berjalan menuju suaminya. Dia mengecup lembut rambut suaminya dari belakang.

__ADS_1


"Ada apa, Sayang?" Addrian yang merasakan sentuhan istrinya seketika menoleh ke belakang.


"Kita makan dulu, nanti lanjutkan lagi pekerjaan kamu."


"Iya, ini juga hampir selesai."


Bel rumah Aira tiba-tiba berbunyi dan Aira berjalan menuju arah pintu utama.


Saat pintu terbuka, Aira agak kaget melihat siapa yang ada di depan pintu.


"Malam, Aira," sapanya dengan tersenyum.


"Citra?"


"Maaf, apa aku mengganggu kamu dan Addrian?"


"Tentu saja iya," ceplos Aira.


"Apa?" Citra tampak kaget dengan ucapan Aira.


"Aku dan suamiku mau makan malam berdua, dan kamu tiba-tiba datang."


"Oh ... aku minta maaf, tapi aku ke sini tadi niatnya ingin memberikan kue ini untuk kamu dan suamimu." Citra menunjukkan paper bag dengan tulisan Cake Angel pada Aira.


"Addrian, aku ke sini ingin memberikan kue ini untuk kalian, tadi aku diajak jalan oleh teman kampusku dan dia membelikan aku banyak sekali kue ini."


"Teman kamu apa kekasihmu?" goda Addrian.


"Kita masih baru kenal walaupun satu kampus." Citra mencoba menunjukan wajah malunya.


"Sayang, kenapa tidak menyuruh Citra masuk?"


"Tadi aku bilang kita mau makan malam berdua,. dan aku kira dia cuma mampir sebentar, jadi tidak aku suruh masuk." Aira melihat malas pada Addrian.


Addrian agak terkejut dengan sikap istrinya yang tidak biasanya. Aira biasanya selalu ramah pada orang, tapi kenapa ini tiba-tiba begini?


"Kalau aku mengganggu, aku pulang saja."


"Tidak-tidak! Kamu boleh ikut kita makan malam, aku ingin kamu mencoba masakan aku, siapa tau nanti kurang pas, bukannya kamu sangat pandai dalam hal masakan."


"Oh! Terima kasih kalau begitu. Aku sampai lupa. Ini tadi ada paket di depan rumah kalian saat aku ke sini."


"Paket?" Aira tampak kaget.

__ADS_1


"Ini tadi diletakkan di atas meja kamu." Citra memberikan kotak berukuran sedang, dan yang jelas kotaknya lebih kecil dari paket misterius yang dikirim ke rumah mamanya Aira.


"Apa kamu melihat siapa yang mengirim?"


Citra menggeleng pelan. "Aku menemukan saat aku sudah berdiri di depan pintumu. Aku baca tulisannya, jika paket ini untuk kamu, Addrian."


"Apa lagi ini?" Addrian mengambil dari tangan Citra.


Mereka semua masuk dan Addrian membuka paket itu di ruang tamu dengan ditunggui oleh Aira dan Citra.


"Oh my God!" seru Addrian kesal.


"Ya Tuhan!" Citra sampai menutup mulutnya dengan telapak tangan.


Aira hanya berdiri terdiam di tempatnya. "Addrian, ini adalah ****** ***** favorite kamu, tapi aku kembalikan karena aku tidak sanggup untuk menyimpannya, atau kalau kamu rindu melihat aku menggunakan ini, aku akan dengan senang hati memakainya di hadapan kamu." Addrian membaca apa yang pengirim paket itu tulis.


"Addrian, siapa yang mengirim ini?" tanya Citra.


"Aku tidak tau, tadi saat di rumah Aira pun ada yang mengirimkan paket berisi lingerie dan ada nama pengirimnya, yaitu Lita."


"Lita? Apa itu salah satu mantan kekasih kamu?"


"Aku tidak memiliki mantan kekasih bernama Lita."


"Kamu yakin? Siapa tau kamu lupa?".


"Aku yakin tidak pernah memiliki manta kekasih dengan nama Lita." Addrian melihat ke arah Aira yang masih terdiam. "Sayang, kamu tidak apa-apa, kan?" Addrian menarik tangan Aira dengan lembut.


Citra samar melihat pada Aira, ada rasa senang di hatinya saat Aira terlihat shock melihat isi paket itu.


"Aku tidak apa-apa, Mas," jawab Aira lirih.


"Orang yang bernama Lita ini benar-benar membuatku geram saja. Lihat saja, aku tidak akan tinggal diam. Akan aku cari dia.".


"Tidak perlu, Mas." Aira mengambil paket dari tangan Addrian dan membuangnya ke tempat sampah.


"Aira, kenapa dibuang?" Addrian kaget.


"Kenapa? Mau menyimpannya?" celetuk Aira santai.


"Bukan menyimpannya, Sayang. Aku bisa mencari tau dari benda itu."


"Mas, kamu tidak perlu mencari tau apa-apa dari benda tidak penting itu. Aku percaya sama kamu dan benda itu tidak akan membuat aku sedih ataupun kecewa denganmu."

__ADS_1


Citra agak kaget melihat apa yang dikatakan oleh Aira. "Aira, benar apa kata Addrian, pengirim paket itu harus dicari karena apa yang dia lakukan itu sudah hal yang buruk."


__ADS_2