Kamu Milikku

Kamu Milikku
Saling Membutuhkan


__ADS_3

Hari itu Addrian yang memang libur bekerja, dia disuruh tetap di sana untuk menemani istrinya karena mama Tatiana tidak mau jika Aira dan Addrian sampai pisan ranjang. Bagaimanapun juga masalah ini belum dapat titik terang.


Aira dan Addrian juga tidak pernah ada kata pisah, jadi mereka berdua tidak boleh sampai pisah ranjang.


"Mama pulang dulu karena sudah sore, mungkin besok sore Amanda akan ke sampai ke sini karena dia sedang ada di Kanada waktu dia menghubungiku."


"Aku juga sangat senang melihat Aira dan Kak Addrian bersama seperti ini. Yakinlah jika kalian akan tetap bersama dan bisa melewati ini semua," kata Niana memberi semangat.


"Na, apa kamu mau pulang dengan Tante? Apa masih mau di sini?"


Niana seketika melihat pada mamanya Aira. "Aku nanti pulang dengan Kenzo saja, Tante, lagi pula aku juga belum membereskan baju-bajuku yang ada di sini."


"Kenzo? Kamu pacaran dengan Kenzo?"


Niana melihat ke arah Aira. Bagaimana Niana bisa jadian sama Kenzo saat hatinya belum bisa melupakan putra Tante Tatiana yang tak lain adalah Arlan.


Niana terpaksa mengangguk perlahan. "Tante senang kamu bisa menemukan seseorang yang baik seperti Kenzo. Semoga kamu bisa segera menyusul Aira."


"Terima kasih, Tante." Niana mencoba tersenyum tulus pada ucapan yang mamanya Arlan katakan. Andai mamanya Arlan tau apa yang sekarang Niana rasakan.


Wanita cantik paruh baya itu keluar dari rumah Aira. Aira berjalan mendekati Niana dan bersandar pada pundak Niana dengan tangan melingkar pada lengan tangan Niana.


"Na, kamu baik-baik saja, kan?" Aira ini tau bagaimana perasaan Niana, tapi Aira juga tidak bisa membantu apa-apa. Aira juga menceritakan tentang acara pertemuan kakaknya dengan calon istrinya itu karena Niana ingin tau.


"Aku tidak apa-apa, Gendut, aku baik-baik saja karena aku mencoba ikhlas menerima semuanya." Niana tersenyum pada Aira.


"Kamu memang bestieku yang terbaik dan kuat. Andai aku bisa sekuat kamu, Na."


"Bisa. Kamu pasti bisa." Niana melihat pada Addrian yang masih berdiri di sana. "Ai, aku akan menghubungi Kenzo agar menjemputku. Aku ke kamar dulu untuk merapikan barang-barangku." Niana sengaja memberi waktu agar dua orang yang sedang ada masalah itu bisa berbicara empat mata. Niana berjalan pergi dari sana.


Aira melihat malas pada suaminya. Aira berjalan melewati suaminya, tapi langkahnya terhenti saat pergelangan tangannya dipegang lembut oleh Addrian.


"Apa kamu tidak merindukan aku, Sayang?" tanya Addrian lirih terdengar sedih.

__ADS_1


Aira yang juga sangat merindukan suaminya itu hanya bisa meneteskan air matanya perlahan.


Addrian perlahan mendekat ke arah Aira dan mendusel pada ceruk leher Aira. Dia menghirup aroma Aira dengan dalam. Aroma tubuh Aira yang sangat dia rindukan.


"Aku membencimu, Mas," ucapnya lirih.


"Benci aku semau kamu, tapi jangan menyuruhku menjauh dari kamu karena aku tidak akan bisa."


Aira menoleh pada Addrian. "Saat melihatmu sekarang, aku seolah membayangkan kamu dan Citra--."


"*** ...! Aku melakukan itu karena di bayanganku dia itu adalah kamu. Bukan diri Citra, malahan aku merasa tidak pernah menyentuhnya, tapi aku benar-benar tidak begitu jelas akan semua yang Citra katakan malam itu." Addrian tampak begitu bingung.


Aira menatap serius pada suaminya. "Mas, apa yang akan kamu lakukan jika apa yang dikatakan Niana benar?"


"Jika Citra hamil?"


"Iya."


"Aku akan melakukan tes DNA dulu, dan jika memang itu anakku, aku akan bertanggung jawab, tapi tidak untuk menikahinya."


"Sayang, kita akan mencari penyelesaian masalah ini bersama-sama. Kamu jangan memikirkan hal itu terlalu berat. Aku mohon jaga kesehatan kamu dan bayi kita. Dia akan segera lahir ke dunia ini. Kita bedua menginginkan dia lahir dengan selamat dan sehat, kan?"


Aira mengangguk perlahan. "Jujur saja aku juga takut kehilangan kamu. Aku bahkan tidak mau kamu bersama dengan Citra kalaupun dia hamil anak kamu, tapi aku juga tidak mau egois dengan membiarkan Citra hamil tanpa suami."


"Kamu jangan memikirkan hal itu dulu. Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu apapun yang terjadi dengan Citra." Addrian memeluk erat Aira. Jujur saja jika Addrian saat ini sangat takut jika Citra sampai hamil.


Hari itu, Niana pulang ke rumahnya karena di sana sudah ada Addrian yang menemani Aira, walaupun mereka berdua masih ada masalah. yang belum terselesaikan?"


Di dalam kamarnya. Aira sedang merapikan tempat tidurnya karena dia sudah sangat lelah hari ini. Tidak lama Addrian masuk dan melihat istrinya sedang membereskan tempat tidur. Dia mengambil alih dan menyuruh Aira untuk duduk saja di sofa.


"Biar aku sendiri, Mas."


"Sayang, kenapa tidak menungguku? Biar aku yang membersihkannya, bukannya ini adalah tugasku."

__ADS_1


"Aku sudah lupa kalau biasanya kamu yang merapikan tempat tidur." Aira melirik pada suaminya.


"Apa selama beberapa hari kita terpisah kamu sudah melupakan semuanya tentang aku?"


"Iya," jawab Aira singkat, cepat dan tegas.


Addrian yang gemas melihat wajah istrinya dengan cepat mengecup bibir istrinya. "Mas! Jangan mencium seenaknya seperti itu," ujar Aira kesal.


"Kenapa? Aku, kan, masih suami kamu? Apa kamu sudah lupa kalau aku suamimu?"


Aira tidak bisa menjawab karena memang Addrian berhak atas dirinya.


"Ya sudah rapikan saja, aku mau duduk sebentar. Punggungku sakit sekali." Aira wajahnya memang tampak sedang menahan sakit, dia pun memegangi punggungnya.


Kamar tidur sudah rapi. Addrian berjalan menuju Aira dan menggendong istrinya untuk dia bawa ke atas tempat tidur.


"Aku bisa jalan sendiri, Mas."


"Aku tau, tapi aku ingin menggendong kamu." Sekali lagi Addrian mendaratkan kecupannya dengan cepat pada bibir Aira. Aira hanya bisa mengerucutkan bibirnya.


Aira sudah duduk bersandar dengan nyaman di atas tempat tidurnya. Addrian pun naik ke atas tempat tidur dan duduk di sampingnya.


Kedua mata Aira melirik pada suaminya dengan tatapan yang tidak suka. "Mas tidak tidur di sini. Mas, tidur di kamar satunya saja karena aku tidak mau tidur sama Mas Addrian."


"Kenapa? Apa kamu masih marah denganku?"


"Iya. Mas memang boleh pulang ke sini, tapi tidak tidur denganku sampai kita menemukan jalan keluar dari apa yang terjadi antara Mas Addrian dengan Citra."


Addrian menghela napasnya. "Jangan seperti ini padaku, Aira. Aku sangat membutuhkan dukungan kamu saat ini." Aira hanya diam saja melihat datar pada suaminya.


Addrian beranjak dari tempat tidur hendak turun, tapi tangannya dengan cepat ditahan oleh Aira.


"Aku juga saat ini membutuhkan kekuatan untuk menghadapi semua ini, Mas," ucap Aira lirih.

__ADS_1


Addrian sekali lagi melihat kesedihan di mata Istrinya.


__ADS_2