Kamu Milikku

Kamu Milikku
Malam Perpisahan part 2


__ADS_3

Niana dan Aira yang sedang mengambil minuman di stand minuman terlihat saling berbicara serius. "Na, apa hubungan kamu dengan kakakku sudah serius akan berakhir setelah kelulusan ini?"


"Iya, Ai. Kakak kamu akan segera dipertemukan dengan gadis yang akan dijodohkan dengannya dan aku sudah siap menerima semuanya." Bibir Niana bergetar saat mengatakan hal itu.


Aira seketika memegang tangan sahabatnya itu, dan memeluk Niana dengan erat. "Kalau mau menangis kamu menangis saja karena itu akan membuat kamu lebih baik."


Niana menggeleng pelan. "Aku sudah berjanji tidak akan pernah menangis karena hal ini. Aku yang sudah memilih untuk tidak meneruskan hubungan yang tidak mendapat restu ini, sebab aku tidak mau membuat seorang anak menjadi berani melawan orang tuanya dan Mas Arlan juga siap menerima semua ini."


"Kamu kuat sekali. Dulu aku dengan Mas Dewa berusaha meminta restu, tapi jodoh tidak ada yang tau, Na."


Niana yang sudah menarik dirinya melihat pada Aira dan mengangguk perlahan. "Kalau memang aku masih jodoh dengan Mas Arlan, biar Tuhan nanti yang menunjukkan jalannya, dan kalau tidak, akupun tidak akan menyalahkan siapapun."


"Tapi walaupun kamu dan Mas Arlan tidak jadi bersama, aku harap kamu tetap mau bersahabat denganku, kan?"


"Tentu saja, Ai. Aku mau menjadi tante dari bayi kecil yang sedang kamu kandung itu." Sekarang gantian Niana yang memeluk Aira dan mereka berdua saling berpelukan.


"Ehem!"


Terdengar suara orang berdehem tepat di depan mereka, dan acara berpelukan pun berakhir. Mereka melihat siapa yang tiba-tiba muncul di sana.


"Kenzo? Kamu ada apa ke sini?" tanya Aira.


Kenzo tidak langsung menjawab, dia melihat pada Niana. Pun Niana hanya melirik sekilas. "Aira, aku kembali ke ibuku dulu."


"Na, kamu masih marah denganku?"


Niana tidak menjawab, hanya memberi lirikan sekilas. "Ai, aku ke meja ibuku dulu. Kamu tidak apa-apa kan, ditinggal sendirian di sini?"


"Aku tidak apa-apa, ada Kenzo di sini."


"Ya sudah kalau begitu." Niana berjalan pergi dari sana. Aira yang melihat tampak heran. Dia curiga jika kedua sahabatnya ini sedang ada masalah dan dia tidak tau.

__ADS_1


"Kenzo, tunggu!" Aira menahan tangan Kenzo yang mau pergi dari sana. "Apa ada hal yang kamu dan Niana sembunyikan dariku?" Aira melihat curiga pada adik iparnya itu.


"Tidak ada apa-apa, Kakak ipar."


"Kalau kamu memanggilku kakak ipar, seharusnya tidak ada hal bohong yang kamu sembunyikan dariku. Katakan, kamu dan Niana ada masalah apa?"


Kenzo terdiam sejenak, dia takut jika harus mengatakan pada Aira, tapi mungkin Aira bisa menolongnya agar dirinya dengan Niana bisa kembali baikkan.


"Sebenarnya Niana marah padaku karena aku pernah menciumnya pada saat selesai sidang skripsi waktu itu."


"Apa?" Aira sampai mendelik mendengar apa yang baru saja adik iparnya itu katakan.


"Jangan terkejut terlalu berlebihan Kakak ipar, nanti bayi kamu ikut terkejut."


"Apa yang kamu katakan ini memang benar-benar membuat orang terkejut, Kenzo. Kamu mencium Niana? Apa ciuman di bibir?" tanya Aira agak ragu.


Kenzo mengangguk perlahan. "Aku terbawa suasana di sana saat itu dan aku sudah minta maaf pada Niana, tapi Niana kelihatannya masih tidak bisa memaafkannya. Aku juga sudah berusaha untuk menghubunginya, tapi dia tidak mau menerima teleponku."


"Dia tidak bahagia dengan kakakmu, Aira, dan aku tau itu."


Aira terdiam sejenak. Memang benar apa yang dikatakan oleh adik iparnya ini. "Tapi, Ken, bahagia atau tidak bahagia, tetap saja Niana itu kekasih kakakku dan kamu harus menghormatinya. Kenapa kamu sikapnya seperti kakakmu Addran dulu?"


"Kalau kakakku dulu pemaksaan sama kamu, Ai, tapi aku, kan, tidak. Aku sudah bilang jika waktu itu aku sedang terbawa suasana, Ai."


"Tunggu! Apa kamu mencintai Niana, Ken?" Aira melihat serius pada Kenzo.


Kenzo tidak menjawab, dia malah masih diam saja dari tadi. Aira menjadi kesal dengan adik iparnya ini. Apa Kenzo tidak tau rasanya mencintai dan dicintai?


"Kenzo, jawab aku? Apa kamu mencintai Niana?"


"Mencintai siapa, Sayang? Kenapa aku lihat dari sana kalian sepertinya sedang membicarakan hal yang serius, ada apa ini?"

__ADS_1


"Adik kamu ini, Mas. Dia sudah mencium Niana seenaknya, dan sekarang Niana marah dengannya karena hal itu. Niana pasti marah karena dia sudah memiliki kekasih, yaitu mas Arlan."


"Kamu serius mencium Niana, Ken? Aku kira kamu tidak bisa caranya berciuman." Addrian malah meledek adiknya.


"Tentu saja bisa, bukannya aku belajar dari kamu."


"Enak saja!"


"Mas, kamu malah mengajak bercanda. Aku ini tadi sedang menanyai Kenzo, apa benar dia mencintai Niana? Dia malah diam saja dan tidak mua menjawab pertanyaanku."


"Kamu itu lelaki sejati, kalau memang kamu mencintai Niana, kamu katakan saja sejujurnya dan tidak perlu takut. Kalau sampai nanti ditolak, ya memang kamu harus menerimanya, atau kamu kejar terus sampai dapat, tapi dengan cara yang benar sebagai laki-laki."


"Aku sendiri tidak tau bagaimana perasaanku sekarang pada Niana, Kak. Saat melihatnya waktu itu aku merasa nyaman dan menyukainya."


"Sepertinya kamu memang jatuh cinta sama sahabat kamu sendiri, Ken."


"Tapi, Mas, Niana itu masih pacaran dengan mas Arlan, dan Kenzo tidak berhak menjadi orang ketiga dia antara hubungan mereka karena itu tidak baik."


Kenzo mengangguk. "Aku paham, Ai. Ai, aku ingin meminta maaf pada Niana karena jujur saja, beberapa hari ini saat hubungan pertemanan kita seperti ini, rasanya sangat tidak enak dan aku mau kita bisa sama seperti dulu lagi."


"Itu semua kamu harus berusaha sendiri, adikku." Addrian menepuk pundak adiknya. "Kamu temui saja sekarang Niana langsung dan kalau dia mencoba menghindar, kamu harus pandai membuat dia mau mendengar apa yang ingin kamu sampaikan."


Kenzo melihat Niana sedang berdiri di depan gerbang dekat taman yang ada di kampus mereka. "Kalau begitu, aku akan menemui Niana sekarang dan meminta maaf." Kenzo berjalan pergi dari sana.


"Mas, Kenzo pasti akan ditolak oleh Niana jika dia mencintai Niana karena aku tau jika Niana sangat mencintai mas Arlan, walaupun hubungan antara Niana dan mas Arlan juga akan berakhir. Niana juga pernah bicara padaku jika sahabat tidak akan mungkin bisa berubah menjadi cinta."


Addrian memeluk istrinya. "Kita tidak akan tau bagaimana cinta akan menemukan jalannya. Kadang, apa yang kita katakan, belum tentu akan sesuai hati kita karena cinta itu ajaib, Sayang. Biarkan saja apa yang ingin dilakukan Kenzo untuk menemukan cinta sebenarnya."


"Suamiku pandai sekali jika soal cinta," sindir Aira.


"Tentu saja itu karena dulu aku suka sekali menebar cinta."

__ADS_1


__ADS_2