Kamu Milikku

Kamu Milikku
Berantakan


__ADS_3

Selama dua hari berikutnya, Reva sudah mengikuti kegiatan-kegiatan liburan walaupun membatasi diri untuk tidak terlalu lelah.


Steven selalu berada di dekatnya.


Pada teman-teman nya, dia beralasan bahwa Reva baru saja sembuh. Jadi dia menjaganya takut terjadi sesuatu.


Kalau Reva tidak ikut, dia juga tidak ikut.


"Ya...ya...ya...


Percaya Steve.. percaya..." jawab Andrew dengan senyum lebar.


Steven melotot.


Mereka semua meledeknya.


Tapi Steven tidak marah.


Dia tidak bisa marah.


Rasa bahagia yang membuncah dalam dirinya mengalahkan segala rasa lainnya.


Steven jadi sering tertawa.


Dia juga menanggapi lelucon teman-teman nya dengan wajar.


Biasanya... dia menanggapi lelucon orang lain dengan aneh. Karena dia berfikir dua kali lebih cepat dan lebih jauh dari orang lain, jadi dia menanggapi lelucon orang dengan akibat yang belum sempat dipikirkan oleh si pembuat lelucon.


Tapi sekarang...dia menanggapi semuanya dalam porsi yang wajar.


Josh menyenggolnya.


"Udah ngomong ?"


Steven menggeleng sambil tersenyum.


"Bandel ya !"


"Biarin.


Dicemburuin itu asik !" cetus Steven.


Josh menghela nafas.


"Jadi belum resmi ?"


Steven tertawa.


Josh berdecak.


"Bahaya lho.." katanya menganggukkan kepalanya pada Sandy.


Steven ikut menengok.


Matanya memincing.


Sandy tampak sedang menunjukkan sesuatu di ponselnya pada Reva.


Kepala keduanya berdekatan.


Mereka berdua tertawa bersama.


Sandy lalu melirik Reva. Dan Reva memerah.


Sandy lalu tertawa.


Menepuk belakang kepala Reva.


Steven menarik nafas.


Steven tau masalah Sandy.


Tidak sampai detil, tapi memahami garis besarnya.


Steven juga tau kalau Reva walaupun tidak punya hubungan saudara tapi tetap menganggap Sandy sebagai Om nya sendiri.


Bagian dari keluarganya.


Walaupun terlihat jelas bahwa Sandy tidak demikian.


Semua orang tau, Sandy sedang mengincar Reva.


Josh benar.


Tapi Steven juga belum mau melangkah lebih jauh.


Dia masih merasa aman dengan perasaan Reva padanya.


Meskipun Reva terlihat jelas menahan diri padanya karena masih menyangka dia milik orang lain.


Steven tersenyum kecil.


Cinta itu sungguh berbeda dengan logika.


Dan semua kebahagiaan itu berlangsung selama tiga hari saja.


Mereka semua sedang makan siang di meja panjang saat Manager hotel mendekati Michael.


Mereka berbisik-bisik.


Michael menatap Sandy lalu memberi kode untuk mengikutinya.


Sandy berdiri.


Instingnya mengatakan sesuatu yang tidak enak.


Robert ikut berdiri.


Mereka masuk lobi.


Dan menemukan kejutannya.


Cindy, Jenny dan dua asisten berdiri menunggu.


Michael dan Robert melirik Sandy.


Sandy sendiri berubah pucat.


Lalu marah.


Dia kemudian mengguncang dirinya dan memaksakan senyum.


Robert menelepon Steven.


Steven masuk ke lobi dan berhenti.


Menatap Jenny yang balas menatapnya dengan air muka memelas.


Liburan mereka berantakan.


...⛰️...


"Kalian bisa tinggal di hotel lain yang lebih baik dari ini.


Manager hotel akan mengantar kalian." kata Michael tanpa tedeng aling-aling.


Cindy cemberut.


"Saaan..." katanya manja.


"Aku kan bisa tinggal di kamar kamu.


Kita bisa berdua."


Sandy menggeleng.

__ADS_1


"Sori Cin..bukan gak mau.


Tapi gak enak.


Ini kan lagi kerja, bukan liburan aja." katanya melirik Steven.


Steven balas menatapnya.


Robert kembali ke meja.


"Ada sisa dua kamar.


Kalian kalo mau disini, berbagi aja." katanya.


Robert sudah berunding di ruang manager hotel dengan Tia dan Biliyan.


Sandy menoleh.


Mengerutkan keningnya.


Lalu kembali menatap Cindy.


"Cin..kamu kan udah biasa pake kamar suite.


Kamu di hotel lain aja ya..


Emang kamu mau berdua Jenny ?" bujuk Sandy.


Cindy memajukan bibirnya.


Dia tidak terbiasa berbagi kamar dengan orang lain.


Dia artis papan atas.


Selalu mendapat peran utama.


Bagaimana mungkin dia berbagi kamar dengan Jenny ?


Tapi tampaknya itu satu-satunya jalan agar dia bisa berdekatan dengan Sandy.


Dia merindukan Sandy.


Merindukan pandangan memuja dari Sandy.


Dan akhir-akhir ini, pandangan skeptis yang justru malah memancing gairahnya.


Karena setelah itu, usaha yang dia lakukan akan membuat Sandy memandangnya juga dengan penuh hasrat.


Empat hari lalu dia melihat satu foto.


Ada Reva disana.


Instingnya langsung mengatakan untuk segera menyusul Sandy atau... Sandy akan lepas dari tangan nya.


Dia lalu berfikir dan membuat rencana.


Di tempat syuting, dia mendekati Jenny. Kebetulan mereka satu drama.


Dia membujuk, merayu dan bahkan menyogok Jenny agar nantinya bisa mendapatkan peran yang lebih besar dari sekarang.


Jenny menatap Cindy.


Melihat tekad bulat diwajahnya untuk tetap menyusul Sandy walaupun dia tidak ikut serta.


Jenny akhirnya mengangguk.


Nanti dia bisa menjelaskan pada Steven alasan nya.


Jenny menatap Cindy.


"Gak papa ya kita satu kamar ?


Daripada kita di hotel lain ?" katanya sambil melirik Sandy.


Cindy mengangguk.


"Ya udah...


Nanti juga aku bisa pindah ke kamar pacarku." katanya tersenyum manja pada Sandy.


Sandy diam.


Tidak mengatakan apa-apa.


Cindy berkerut.


Harusnya Sandy senang.


Dia ke sini kan untuk menyenangkan Sandy dan membuat Sandy hanya memikirkan dirinya.


Bellboy dipanggil untuk menolong mengangkat barang-barang mereka.


Cindy bergelayut manja di lengan Sandy.


Mereka semua lalu menuju ke taman tempat makan siang di gelar.


"Halo semua..." sapa Jenny dan Cindy.


"Jenny !


Kejutan banget.


Kapan datang ?" sapa Josh.


"Tadi.


Sama Cindy." jawab Jenny.


Dia menatap Tia.


"Halo Tia.."


"Halo Jenny..ayo duduk." ajak Tia ramah.


Steven berdiri di belakang Jenny.


Matanya terus menatap Reva.


"Hai Reva." sapa Jenny.


Reva melirik sebentar ke arah Steven lalu menatap Jenny.


Wajahnya merah padam.


"Hai Jenny." sapanya tersenyum.


Lalu menunduk.


Menyuap nasinya.


"Halo Tia..." sapa Cindy.


Tia melayangkan senyum.


"Hai Cindy.


Kejutan.


Udah selesai ya syutingnya ?" tanya Tia.


Cindy memerah sedikit.


"Aku minta libur dulu.


Mau nemenin Sandy." katanya manja menatap Sandy.

__ADS_1


Sandy tersenyum tipis.


Dia menarik kursi di sebelah Andrew. Di ujung.


"Cin..kamu duduk sini ya..


Sebelahku udah penuh."


Cindy berkerut sebentar.


Oke...ini lagi di tengah makan siang.


Dia tidak mau membuat keributan.


Nanti makan malam dia akan memaksa Sandy untuk duduk di sebelahnya.


Jenny pun ditempatkan di sebelah Steven yang memang kosong.


Steven juga duduk di ujung bersebrangan dengan Andrew.


Reva kembali melirik.


Lalu menunduk kembali.


Sandy menarik kursi di sebelahnya.


Kembali duduk.


Menengok sebentar ke arah kepala yang menunduk itu.


Tersenyum tipis lalu menepuk belakang kepala Reva.


Reva menepis.


"Apa sih Om .." katanya pelan.


Sandy tersenyum.


Dia melanjutkan makan dan mengobrol.


Reva tetap diam dan menunduk.


Hatinya mencelos.


Yang punya sudah datang.


Dia harus kembali pada kenyataan.


Steven sudah punya pacar.


Dan pacarnya datang.


Beberapa hari ini..anggap saja mimpi.


Dan dia sudah harus bangun.


Ternyata sakit sekali rasanya.


Tia dan Biliyan berpandang-pandangan.


Sandy menangkap pandangan mereka.


Sandy menunduk, menatap Reva.


Jarinya ditekan pada dahi Reva.


Memaksanya tegak, menatap ke depan.


"Om !" tepis Reva.


Sandy bertahan.


Jarinya tetap di dahi Reva.


Michael, Robert, Tia dan Biliyan menatap mereka.


"Tegak Reva !" katanya tegas.


"Tegakkan kepala kamu.


Kamu pasti bisa.


Bertahan !


Jangan kalah sama keadaan." kata Sandy pelan.


Reva menoleh menatap Sandy.


"Om..." katanya pelan.


Sandy tersenyum.


"Ayo...


Kamu bisa !" Sandy memberi semangat.


Reva menatap Sandy lama.


Matanya berkaca-kaca.


Sandy menurunkan jarinya.


Merangkul pundak Reva.


Menepuknya.


Lalu semangat Reva kembali.


Dia tersenyum pada Sandy.


Mengangguk.


"Makasih Om.


Om juga jangan kalah !" bisiknya.


Sandy tersenyum.


Dia lega.


Dari sudut yang lain, Josh menatap mereka berdua.


Dia menggeleng kepalanya.


Steven cari perkara.


Pokoknya aku udah ngingetin !!


...⛰️🍎🎋...


Halo Pembaca Tersayang...


Author akan terus update agar novel ini bisa menemani di hari libur kalian.


Jaga kesehatan ya..


Taati protokol kesehatan.


Jauhi kerumunan.


Tetaplah di rumah bila tidak ada kepentingan.


Semoga wabah ini cepat berlalu.


Selamat membaca...😘😘

__ADS_1


__ADS_2