Kamu Milikku

Kamu Milikku
Kembali Berulah


__ADS_3

Addrian berjalan menuju lift, tapi tiba-tiba dia menoleh kembali saat mendengar erangan dari seseorang. Ternyata itu adalah Citra. Citra terlihat seperti sedang menahan sakit pada perutnya. Addrian kembali berjalan mendekat pada meja Citra.


"Kamu kenapa?"


"Perutku tiba-tiba sakit, dan aku tidak tau kenapa?"


"Apa perlu kita ke dokter saja? Aku sudah bilang jangan terlalu memaksakan pekerjaan kamu. Kalau besok masih bisa dikerjakan, kamu kerjakan besok saja."


"Tapi aku tidak suka menunda pekerjaan, Addrian. Aku ingin menyelesaikan pekerjaan sampai selesai."


Addrian masih melihat Citra memegangi perutnya.


"Citra, aku akan mengantar kamu ke dokter saja kalau begitu. Kita ke dokter perusahaan."


"Tidak perlu, Addrian. Aku minta tolong antar aku ke apotek dan pulang saja, nanti setelah minum obat pasti sudah enakan."


"Ya sudah, kamu bereskan barangmu dan kita pergi."


"Iya."


Citra membereskan pekerjaannya dan kemudian dia mengambil tas miliknya.


Suasana di sana sudah sepi karena semua sudah pulang. Saat menunggu di depan lift khusus para kepala bagian tak terkecuali CEO, Citra kembali memegang perutnya yang sakit sampai dia terduduk di lantai.


"Sakitnya," erangnya sekali lagi.


"Kamu baik-baik saja, kan Citra?" Addrian pun sampai khawatir hingga terduduk juga memeriksa keadaan Citra.


"Kakiku rasanya lemas karena sakit."


"Aku akan membawa kamu ke rumah sakit saja." Addrian menggendong Citra ala bridal style.


Citra yang sudah berada dalam gendongan Addrian mengalungkan kedua tangannya pada leher Addrian. Citra menatap lekat wajah Addrian, beda dengan Addrian menatapnya biasa.


'Kamu dari dulu memang adalah pahlawanku karena itu aku sangat mencintaimu. Aku akan segera menjadi milikmu, Sayang.'


"Kamu melamun apa?"


"Aku tidak sedang melamun. Aku tidak apa-apa, Addrian, turunkan saja aku, aku bisa berjalan sendiri."


"Tidak apa-apa." Addrian membawa Citra turun menuju ke tempat parkir khusus CEO dan para atasan di sana. Di sana pun hanya ada mobil Addrian yang belum pergi.


Addrian memasangkan sabuk pengaman dan dia melihat Citra yang bersandar nyaman pada tempat duduknya.


"Apa masih sakit?"


"Setelah dibuat duduk seperti ini rasanya lebih baik. Mungkin tadi aku terlalu makan pedas, jadi seperti ini."

__ADS_1


"Kamu harus menjaga kesehatanmu karena kamu di sini tinggal seorang diri, Citra."


"Kita pergi ke apotek saja."


Addrian membawa Citra menuju apotek dan saat tiba di sana Citra turun perlahan dan masuk ke dalam apotek. Addrian pun menemaninya.


"Obatnya ada, tapi tolong tunggu sebentar, ya?"


"Iya, saya tunggu di sana saja."


Citra dan Addrian duduk menunggu di kursi panjang yang ada di sana. Citra memegang perutnya yang sebenarnya tidak apa-apa, dia hanya datang bulan.


"Istri kamu hamil?" tanya seorang wanita tua di sebelah Addrian.


"Iya, istri saya sedang hamil dan mau melahirkan, tapi kenapa ibu bisa tau?"


"Mau melahirkan? Bukannya perut istri kamu masih kecil?"


"Hah?" Addrian agak kaget. Lalu, dia melihat ke arah Citra. "Apa Maksud ibu dia?" Addrian menunjuk pada Citra.


"Iya, dia istrimu, kan?"


"Oh maaf, dia bukan istriku, dia hanya temanku."


"Teman? Kamu memiliki istri dan berteman dengan seorang wanita muda?"


"Jangan terlalu dekat dengan seseorang kalau tidak mau dituduh selingkuh nantinya."


"Selingkuh? Saya sangat mencintai istriku dan wanita ini adalah teman baik aku dan istriku."


"Aku juga tidak akan mau menjadi selingkuhan, Bu. Kalaupun aku mau dengan pria ini, aku akan menjadi istri satu-satu bukan selingkuhan, tapi itu tidak ada dalam pikiranku. Ibu kalau bicara tolong hati-hati." Citra seketika marah.


Addrian jadi tidak enak juga dengan suasana di sana.


"Citra sebaiknya kamu tunggu di dalam mobil saja, biar aku yang menunggu obat kamu."


"Tidak perlu, Addrian. Kamu saja yang kembali ke mobil biar aku tunggu."


Tidak lama petugas apotek memanggil nama Citra dan memberikan obatnya.


Mereka berdua di dalam mobil menuju rumah Citra. Sesampai di tempat Citra. Addrian yang tidak turun karena Tante Citra juga sedang tidak ada di rumah, memilih langsung pulang saja.


"Addrian, aku minta maaf jadi merepotkan kamu. Kamu jangan cerita tentang masalah ini pada Aira karena aku tidak mau dia nanti salah paham dengan hal ini."


"Iya. Citra, aku permisi pulang dulu karena Aira pasti menungguku."


"Sekali lagi terima kasih atas bantuannya." Addrian mengangguk perlahan.

__ADS_1


Addrian berjalan pergi dari sana dan dia dengan cepat menuju rumahnya.


Di tengah perjalanan, Aira menghubunginya. Addrian menjawab dengan mengaktifkan earphone bluetoothnya.


"Mas, kamu di mana? Kenapa belum pulang?"


"Ini aku sedang perjalanan pulang ke rumah, Sayang. Kamu tunggu saja dulu."


"Apa ada masalah di kantor, Mas?"


"Tidak ada, semua baik-baik saja. Kamu tunggu aku pulang ya."


"Iya, Mas. Mas jangan mengebut di jalan. Hati-hati ya, Mas."


"Iya, Sayang. I love You."


"I love you more."


Mereka mengakhiri panggilannya. "Hm! Semoga nanti dia tidak marah jika aku menceritakan tentang kejadian hari ini di kantor. Semoga."


Sekitar sepuluh menit Addrian baru sampai di depan pintu garasi rumahnya. Dia agak kaget melihat ada mobil sport berwarna hitam di sana.


"Mobil siapa ini?" Addrian langsung turun dan masuk ke dalam rumah di mana Aira sedang merapikan sesuatu di ruang tamu.


"Eh, Mas, sudah datang?"


"Sayang itu mobil siapa? Kenapa ada di garasiku? Kamu tidak sedang selingkuh dengan seorang pria pemilik mobil itu, kan?"


"Ih ...!" Aira malah memberi cubitan maut pada lengan tangan suaminya. "Siapa yang selingkuh? Kalaupun selingkuh juga tidak mungkin aku bawa ke rumah ini. Aku ajak ketemuan saja di hotel."


"Apa?" Addrian memeluk istrinya lebih ke arah memiting leher istrinya pelan.


"Mas ini mengesalkan. Mana ada orang mau sama wanita hamil besar seperti ini?"


"Kalau wanita cantik dan manis seperti kamu pasti mau." Addrian mencium dalam pipi istrinya."


"Kalau kamu yang selingkuh itu bisa jadi. Apa lagi sekarang kamu seorang CEO di perusahaan besar di kota ini. Kamu juga tampan, pasti lebih banyak yang mengejar kamu."


"Aku sudah bosan dikejar banyak wanita. Sudah cukup aku main-mainnya, sekarang hanya fokus sama kamu dan bayi kita."


Aira tersenyum pada suaminya. Aira yang mau membalas mencium suaminya terhenti saat dia mencium aroma lain pada tubuh suaminya. Apa lagi dia melihat ada bekas merah jambu seperti bentuk bibir, tapi tidak berbentuk sempurna.


"Sekarang, bukan aku yang selingkuh, tapi kamu, Mas."


"Maksud kamu apa?"


"Ini bau parfum siapa? Baunya seperti parfum wanita, dan ini bekas lipstik siapa yang menempel pada kra kemeja kamu." Tangan Aira menarik kra kemeja suaminya.

__ADS_1


Wajah Aira sudah dipasang masam sama melihat bekas lipstik yang sengaja Citra ciptakan.


__ADS_2