
Reva bersiap di matras.
Dia berputar mencari posisi Steven yang paling lemah.
Sementara Steven pun berputar.
Tapi sikap yang ditunjukkannya bukanlah waspada pada serangan Reva.
Tapi pasrah.
Reva berhenti.
Memandang Steven dengan memicingkan matanya.
"Aku gak mau !" katanya.
Lalu mengambil langkah hendak meninggalkan matras.
Lengannya ditarik.
"Ayo !" kata Steven.
"Aku gak mau ngelawan orang yang anggap enteng aku.
Maaf ya.." jawab Reva menepis tangan Steven.
Tangannya kembali ditarik.
"Oke...oke.
Aku gak anggap kamu enteng kok." bantah Steven.
Reva memandang
"Kalo gitu, yang serius dong !!" bentaknya.
Semua yang menonton kaget.
Sudah lama Tidak ada orang yang berani membentak Steven.
Steven wakil Michael di Methrob.
Kedua tertinggi setelah ketiga pemilik Methrob itu.
Semua memandang Steven.
Steven tetap memandang Reva.
Tenang dan menilai.
Lalu mengambil kuda-kuda.
Reva pun mengambil kuda-kuda.
Lalu dia menyerang.
Steven mengelak.
Reva kembali menyerang.
Steven mundur.
Berputar.
Reva menendang naik ke muka Steven.
Steven menepis.
Reva berhenti.
"Kamu anggap aku enteng." katanya.
"Enggak." jawab Steven.
Steven lalu menyerang, mengincar bahu Reva
Reva berkelit lalu melancarkan tendangan memutar.
Steven jatuh.
Dia lalu bangun.
Reva menunggu.
Steven berputar mencari celah untuk menjatuhkan Reva.
Bukan ingin mengalahkan Reva tapi....
Dia ingin menindih Reva.
Merasakan kelembutan tubuh Reva dibawah tubuhnya.
Steven tidak mengira pukulan itu datang.
Mulutnya seketika mati rasa.
Steven mengusap bibirnya.
Lalu menunduk menatap jemarinya.
Darah.
Bibirnya pecah.
Dia mengangkat kepala.
Reva sedang memandang nya.
"Kamu meleng." kata Reva.
"Mikirin apa kamu ?" tanya Reva kembali berputar.
Steven menyerang.
Kali ini dia betul-betul berkonsentrasi untuk menjatuhkan Reva.
Reva jatuh setelah kakinya disengkelit.
Tubuh Steven menutupi tubuhnya.
Tangannya secepat kilat mengunci tangan Reva.
Mengerahkan tenaganya.
Wajah Steven berada diatas wajah Reva.
"Mikirin kamu.
Mikirin gimana rasanya nindih kamu seperti ini."
Steven mendekatkan bibirnya ke bibir Reva.
"Mikirin kapan aku bisa merasakan bibir kamu lagi, Va" katanya pelan.
Reva memerah.
Steven lalu melepaskan Reva.
Mengulurkan tangannya untuk membantu Reva berdiri.
Reva memalingkan muka.
__ADS_1
Menolak uluran tangan Steven.
Dia bangun.
Mereka kembali berputar.
Steven tersenyum menggoda Reva.
Berhati-hati agar hanya Reva saja yang melihatnya.
Reva menyerang.
Steven membiarkan dirinya disengkelit jatuh.
Tapi tangannya memeluk Reva.
Membawanya jatuh bersamanya.
Reva jatuh menindih tubuh Steven.
Dia lalu mengunci tangan Steven.
Steven membiarkan nya.
Melawannya sedikit agar Reva tidak curiga.
Mereka bertatapan.
Reva perlahan menyadari bahwa dia jatuh ke perangkap Steven.
Dia lalu melepaskan kunciannya pada Steven.
Tapi terlambat.
Steven sudah menahan tangannya untuk tetap berada di belakang tubuhnya.
Reva tidak bisa menarik tangannya.
"Ah...aku juga mikirin gimana rasanya dipeluk kamu kayak gini, Va.." senyum Steven padanya.
Reva kembali memerah.
"Kamu laki-laki kurang ajar.
Playboy kelas teri !" maki Reva pelan.
Dia kembali berusaha melepaskan tangan nya.
"Maki-maki aku sepuas kamu, Va." jawab Steven di bibir Reva.
Reva memerah.
Dia menggeliatkan tubuhnya berusaha melepaskan dirinya.
"Hmm..jadi begini rasanya kalo kamu bergerak diatas aku, Va.." bisik Steven merenung.
Matanya masih menatap mata Reva.
"Steven !!" bentak Reva.
Reva menoleh menatap Liu.
Meminta bantuan.
Liu mendekat.
"Steve...udah.
Lepasin." katanya.
Steven menoleh pada Liu.
Reva bangun dan langsung meninggalkan matras.
Pergi kembali ke kamarnya.
Wajahnya merah padam.
Josh menatap Steven.
Tersenyum lebar.
Mereka semua melihat bagaimana Steven mempermainkan Reva.
Dengan bayaran bibir yang pecah.
Sandy menghampiri.
"Selesai istirahat, mau sparring sama aku ?" tanya nya santai.
Steven menatap sambil mengusap sudut bibirnya yang pecah.
"Jangan segan-segan Boss." jawabnya.
Sandy menepuk pundak Steven.
"Obatin dulu bibirnya." katanya sambil meninggalkan Steven.
Cindy menghampiri.
"Ngapain ?" tanyanya.
"Ah enggak.
Cuma ngajak sparring."
Cindy menatap Steven lalu menatap Sandy.
"Kamu perhatian banget sama anak itu."
"Siapa?" tanya Sandy pura-pura tidak tau maksud pertanyaan Cindy.
"Anak itu.. keponakan Tia.
Kamu terlalu perhatian sama dia.
Padahal kamu bukan saudaranya.
Kamu bukan apa-apa nya.
Kamu gak ada hubungan apapun sama dia."
Sandy menoleh.
"Kamu cemburu ?" tanya nya mengalihkan perhatian Cindy dari Reva.
Cindy cemberut.
"Kenapa aku harus cemburu sama dia.
Dia...ehm...yah..dia bukan saingan ku.
Dia kan masih kecil." katanya.
"Dan...enggak secantik aku." sambungnya pelan tapi masih terdengar oleh Sandy.
Sandy tertawa.
"Nah..itu tau !" tutupnya.
Dia malas membahas.
__ADS_1
Nanti malah keceplosan.
Cindy tersenyum.
Hatinya lega.
Sandy masih menganggap dirinya lebih cantik dibanding Reva.
Sandy menghela nafas.
Dia tadi melihat dengan jelas apa yang dilakukan Steven pada Reva.
Reva menaruh hati pada Steven.
Dan Steven pun kelihatannya merasakan hal yang sama.
Kenapa mereka berdua bertengkar...
Tidak..
Bukan bertengkar
Tapi Reva marah pada Steven.
Sandy melayangkan pandangannya.
Jenny.
Dia ingat saat makan malam.
Steven mendatangi mereka dan tak lama Jenny pun datang.
Merangkul lengan Steven.
Tapi Steven tidak menolak.
Dia hanya diam.
Sandy tersenyum diam-diam.
Kalau saling suka..kenapa mereka gak jadian ya ? pikir Sandy.
Yaah..gak papa.
Malah bagus untuknya.
Dia masih harus memutar otak memikirkan cara agar Reva tidak lagi menganggapnya sebagai Om, saudara.
Membuat Reva menyukainya sebagai laki-laki.
Bukan saudara.
Perutnya dicubit.
Sandy menoleh.
"Kamu lagi-lagi gak dengerin aku ngomong." kata Cindy.
Sandy membelai pipi Cindy.
Menenangkannya. Dia harus sabar.
Tiga minggu lagi.
Tapi..
Harusnya sih bisa sekarang.
Sudah dua bulan.
Kalau memang hamil, Cindy pasti sudah teriak-teriak sekarang.
Tapi dia ingin aman.
Nanti .. setelah pulang ke Taiwan, dia akan mulai menjauhi Cindy.
Lalu memutuskan hubungan.
Pokoknya jangan sampai dia terjebak meniduri Cindy lagi.
"Apa ?" tanya Sandy.
"Kamu kapan pulang ?"
"Mungkin bareng mereka.
Kenapa ?"
Cindy merangkul lengan Sandy.
"Kalau di Taiwan, kita lebih bebas."
Sandy tersenyum.
"Hati-hati...kamu kan artis.
Nanti ketangkap basah kalo aku nginap di apartemen kamu.
Selama ini kan aku hati-hati kalo ke sana.
Makanya enggak ketauan kalo aku kesana."
Cindy meletakkan kepalanya di bahu Sandy.
"Emang kalo ketauan kenapa ?"
"Kalo ketauan, nama kamu kan jelek.
Nanti gak dapet peran utama lagi lhoo."
"ehmm...biarin !"
Cindy mengecup cuping telinga Sandy.
"Hah ?!
Kok biarin ?"
"Biarin ! Pokoknya asal ada kamu, aku udah bahagia kok."
"Lho karir kamu ?"
"Aku mau jadi nyonya Sandy aja." jawab Cindy.
Jantung Sandy melorot turun ke perutnya.
Dia tidak mampu menjawab.
Josh melambai.
Dia balas melambai.
"Cin..aku udah dipanggil tuh.
Sparring dulu sama Steven." katanya berdiri.
"Aku ikut." kata Cindy.
Oh God.. kenapa jadi kayak lintah niy cewek ?! gerutu Sandy dalam hati.
...⛰️🍎🎋...
__ADS_1