
Mereka latihan jiu-jitsu di pantai.
Pasirnya lembut. Jatuh di sana tidak menyakitkan.
Reva sparring dengan Anna.
Tubuh mereka tumpang tindih di matras.
Semua orang menonton mereka.
Reva sekarang sudah menguasai banyak tehnik. Hasil dari latihan setiap minggu.
Mengalahkan Reva sekarang menjadi hal
yang sulit untuk Anna.
Mereka berdua masih saling berkait.
Jenny, Cindy dan kedua asisten nya ikut menonton.
Jenny menggelengkan kepalanya melihat kekuatan Reva.
Sampai kapanpun, dia tidak akan bisa mengalahkan gadis ini.
Sementara Cindy mengernyit.
Dia jijik melihat keringat yang bercucuran dari Anna dan Reva.
Dua orang yang tidak dia sukai.
Tapi pamer kekuatan oleh keduanya membuatnya sedikit jeri.
Tidak ingin membuat masalah dengan mereka berdua.
Reva dan Anna akhirnya saling melepaskan.
Sparring kembali dilanjutkan.
Sementara Reva dan Anna istirahat.
Biliyan menyodorkan minum pada keduanya.
"Kalo anakku perempuan, aku pingin seperti kalian.
Pinter dan kuat." katanya.
Robert menoleh.
"Tenang, Sayang...
Anak kita pasti kayak mereka..
Kan bapaknya juga perkasa."
Tangan Biliyan melayang.
"Aduh !!"
Robert mengeluh sambil mengusap pinggangnya.
"Emang lu seperkasa itu Bet ?" ejek Michael.
"Eettdah..
Lu liat aja bini gue tuh...
Mukanya bersinar-sinar tanda bahagia.
Dalam perutnya ada junior gue." senyum Robert jail.
Tangan Biliyan kembali melayang.
"Aduh !!"
"Kamu kok kejem banget sih, Yang ?" kata Robert sambil menyurukkan wajahnya ke leher Biliyan.
Biliyan mendorong.
"Kamu itu..!
Ada Reva.
Jangan dicemari matanya sama yang enggak-enggak." katanya.
Robert mendehem.
"Lho...Reva udah pernah liat yang lebih parah kok." katanya.
Brrr.....
Air tersembur dari mulut Reva yang sedang menenggak minuman nya.
Dia terbatuk-batuk.
"Om !!" katanya mendelik.
Robert cengar-cengir.
Sementara wajah Sandy memerah.
Anna menepuk-nepuk punggung Reva.
Sementara Tia dan Michael tertawa terbahak-bahak.
Robert sengaja mengungkit hal itu.
Mengingat kan Sandy alasan yang paling jelas untuk memutuskan Cindy.
Jangan sampai gara-gara Cindy menyusul ke sini, mereka malah balikan.
Semalam mereka bicara panjang lebar tentang hal ini.
Dan semua sepakat untuk bekerjasama menjauhkan keduanya.
"Va !!" panggil Liu.
Reva menoleh.
"Ayo latihan karate."
Reva melambai lalu berlari ke tempat Liu.
"Anak itu semangat sekali." komentar Anna.
"Yaah..baguslah semangatnya untuk olahraga.
__ADS_1
Daripada semangat yang lain." sindir Robert.
"Kalo semangat belajar kan juga bagus Bet.." kata Michael kasihan melihat Sandy kembali memerah.
"Belajar biar jadi sarjana kan maksud lu?
Ya...bagus juga." jawab Robert cuek.
Robert memang sengaja terang-terangan dan mengambil jalan konfrontasi supaya Sandy merasa ditampar.
Dia sudah gemas.
Sementara Reva sudah mulai sparring dengan Liu.
Keduanya mengeluarkan jurus.
Liu tidak ragu-ragu mengerahkan tenaganya karena Reva juga bukan lawan yang enteng.
Reva terengah-engah.
Steven maju ke tengah mereka.
Menghentikan sparring.
"Kamu capek." katanya.
Liu menurunkan kuda-kuda nya.
Dia pun melihat Reva sudah kelelahan.
Reva yang dihentikan menatap marah.
"Aku gak papa !" katanya keras kepala.
"Kamu capek." tandas Steven.
"Iya Va, kamu udah capek.
Kita istirahat dulu. Nanti dilanjutin." kata Liu.
Reva melotot marah pada Steven.
"Aku masih kuat ngadapin kamu !"
Steven berkacak pinggang.
"Kamu istirahat dulu.
Kalo udah gak capek lagi, aku ladenin kamu, Va !" katanya tenang.
Matanya mengamati wajah Reva yang memerah.
Baik karena marah maupun karena olahraga.
"Oke.
Jangan mundur kamu Steve." kata Reva dengan geram.
Reva berjalan dengan langkah menghentak-hentak menghampiri Biliyan yang kini duduk sendirian.
"Kenapa Sayang ?" tanya Biliyan.
"Gak papa Tante.
"Kamu udah capek.
Istirahat dulu ya...
Temenin Tante di sini."
"Tante Tia mana, Tante ?"
"Tuuh..
Lagi nonton Om Michael sparring sama om Sandy."
Reva memicingkan mata.
Dia lalu merebahkan tubuhnya ke kursi santai.
Telinganya menangkap teriakan Cindy yang memberi semangat.
Reva tersenyum tipis.
Entah apa yang ada di kepala Sandy sekarang.
Di matras.
Sandy dan Michael saling mengait.
Keduanya mengerahkan kekuatan masing-masing untuk saling mengunci.
Kulit Sandy yang sekarang menggelap akibat membantu panen di sawah milik Papa Reva terlihat mencolok dengan kulit Michael yang putih.
Otot-otot nya bertonjolan.
Cindy memperhatikan Sandy.
Memperhatikan tubuh Sandy.
Merasakan aura maskulin menguar dari sana.
Cindy merasa bergairah hanya dengan melihatnya.
Dia kembali teringat semua yang dilakukan Sandy saat mereka sedang bermesraan.
Dia ingin memukul dirinya sendiri karena tidak sejak dulu membalas perhatian yang diberikan oleh Sandy.
Dari sejak awal mereka berhubungan.
Sandy ganteng, menarik, senyumnya menawan.
Dan sekarang Cindy tidak bisa melepaskan matanya dari Sandy.
Dan Sandy pemilik Methrob.
Cindy melirik.
Reva terlihat menonton dari jauh.
Bagus.
Dia tidak ingin gadis itu dekat-dekat dengan pacarnya.
Cindy punya feeling.
__ADS_1
Sandy bukan laki-laki yang suka lirik sana lirik sini seperti kebanyakan laki-laki yang dikenalnya.
Sandy pemilih.
Kalaupun ada yang menarik perhatian Sandy, itu pasti Reva.
Setiap ada Reva, perhatian Sandy terpecah.
Apapun alasan yang dipakai oleh Sandy, Sandy menaruh perhatian lebih pada anak kecil itu.
Dan itu belum pernah terjadi.
Jadi Cindy bertekad menjauhkan Sandy dari Reva.
Dan tantenya.
Dan suami tantenya.
Serta teman-teman Sandy.
Sparring akhirnya berakhir.
Sandy berhasil mengunci Michael.
Cindy berdiri.
Menyodorkan handuk pada Sandy.
Sandy menerimanya sambil tersenyum lalu membalikkan tubuhnya membelakangi Cindy.
Mengelap tubuhnya.
Cindy memeluk Sandy dari belakang.
Memperlihatkan kepemilikannya pada semua orang.
Sandy terjengit kaget.
Dia berbalik.
"Cin ?!" tegurnya.
Cindy tersenyum manja.
Makin merapatkan tubuhnya.
Sandy melirik sekitar nya.
Semua orang memandangnya.
Reva memalingkan wajahnya.
Sandy memerah.
"Cin..aku lagi keringetan.
Jangan gitu..Gak enak sama yang lain." katanya sambil melepaskan tangan Cindy yang melingkari pinggangnya.
Cindy makin menautkan jari jemarinya.
"Cin..." kata Sandy lembut.
Cindy cemberut.
Sandy akhirnya berhasil melepaskan tangan Cindy.
"Sebentar ya..
aku ke toilet dulu." katanya pergi meninggalkan Cindy.
Sandy melenggang santai kembali ke villa walaupun rasa hati dia ingin berlari masuk ke kamarnya dan bersembunyi disana.
Menenangkan dirinya.
Di pantai sparring terus berlanjut.
Reva masih duduk menemani Biliyan saat Steven menghampiri.
"Kamu masih tetep mau sparring sama aku ?" tanyanya sambil menatap lekat pada wajah Reva.
Reva menengadah.
Wajahnya berubah kaku.
"Enggak." jawabnya ketus lalu memalingkan muka.
Steven menarik nafas panjang.
Gadis ini marah besar padanya.
Lalu mencoba lagi.
"Takut ?" pancingnya.
Reva kembali menengadah.
"Siapa yang takut ?" katanya ketus.
Biliyan yang mendengarkan mereka berdua menatap bolak balik.
"Kalo gitu ayo.
Selesai ini.
Kamu bisa lampiaskan semua."
"Mau ngelampiasin apa ?
Kamu itu geer banget !"
Reva memalingkan muka.
Jari Steven memaksa Reva menatapnya.
"Melampiaskan kemarahan kamu sama aku.
Aku janji, aku gak bakal balas." kata Steven pelan di wajah Reva.
Lalu Steven melepaskan dagu Reva dan pergi.
Kembali ke matras.
Menonton.
...⛰️🍎🎋...
__ADS_1