
Citra berjalan ala model di atas catwalk dengan telunjuk menelusuri setiap tempat di sana.
"Andai ini adalah rumahku dan semua yang di sini menjadi milikku, termasuk juga pangeran tampanku."
Citra berjalan mendekat ke arah kamar tidur milik Aira dan Addrian.
"Aku akan membuat ibu hamil itu gatal-gatal dan dia tidak akan tau apa yang sudah aku siapkan untuknya." Citra tersenyum licik.
Citra membuka pintu kamar Aira yang menggunakan kode itu. Ternyata Citra sudah tau nomor sandinya.
Dia masuk dan mencari piyama tidur yang biasa dipakai oleh Aira, ada tiga piyama tidur yang diberi bubuk penyebab gatal pada kulit.
"Nanti malam akan menjadi mimpi buruk untuk kamu, Gadis perebut kekasihku."
Citra kemudian melihat-lihat baju Aira dan dia mengambil salah satu baju yang menurutnya bagus. Citra mencoba baju itu dan berpenampilan mirip Aira, bahkan Citra memakai bantal agar perutnya mirip seperti perut Aira yang sedang hamil.
"Masih lebih baik dan cantik aku dibandingkan dengan Gadis manja itu," celotehnya sendiri.
Dia masih bercermin dengan menggunakan baju Aira, bahkan dia juga tidur di atas tempat tidur Aira.
"Bau tubuh Addrian sangat harum dan aku sangat menyukainya."
Citra membayangkan hal yang tidak sepatutnya dia bayangkan.
Tok ... tok ... tok
"Citra!" panggil seseorang dari arah pintu utama rumah itu.
Citra yang mendengar suara memanggil namanya, seketika bangun dan dia tampak cemas.
"Siapa yang datang ke sini?"
Citra segera mengganti bajunya dan membereskan semuanya. Kemudian Citra berpura-pura tidak terjadi apa-apa.
Citra membuka pintu dan dia agak kaget melihat ada Kenzo di depan pintu rumah Addrian.
"Hai, kamu ingat aku, kan? Aku Kenzo, adiknya Addrian."
"Iya, aku ingat."
__ADS_1
"Kamu sedang apa? Kenapa lama sekali membuka pintunya?"
"Tadi aku sedang di kamar mandi, jadi lama membukanya. Kamu ada apa ke sini? Addrian dan Aira sedang pergi ke pesta pernikahan mantan tunangannya Aira."
"Aku tau." Kenzo melangkah masuk dan duduk di ruang tamu. "Aira menghubungiku dan menyuruhku datang ke sini untuk menjaga kamu."
"Oh begitu, tapi sebenarnya aku tidak apa-apa di rumah sendirian."
"Kakak iparku itu orangnya khawatiran dan dia sangat perhatian sama kamu. Aira takut kalau keluarga paman kamu akan datang dan memaksamu pergi dari sini."
"Iya, Aira sangat perhatian kepadaku."
"Kamu kalau mau beristirahat silakan saja, aku akan di sini bermain game sampai kakakku pulang."
Citra memiliki ide untuk mendoktrin Kenzo agar tidak menyukai kakak iparnya itu.
"Kenzo, aku akan membuat minuman hangat untuk kita di sini, atau kamu mau menemaniku di pantry. Kita bisa mengobrol di sana."
"Ide yang bagus. Kalau bisa kamu juga buatkan aku makanan karena aku lapar."
"Tentu saja. Aku koki yang handal."
"Kamu sudah siap menghadapi sidang nanti?"
"Tentu saja, semua sudah aku pelajari dengan baik. Kamu sendiri, bagaimana dengan skripsi kamu?"
"Aku masih belum selesai seratus persen, tapi aku tidak terlalu bingung dengan sidang nanti, yang terpenting harus tetap tenang." Kenzo tersenyum.
"Kamu mau aku buatkan nasi goreng dengan telur?"
"Boleh."
"Aku akan buatkan. Jujur saja aku suka sekali dengan dunia memasak. Dulu aku bercita-cita menjadi seorang chef, tapi ayahku ingin aku bekerja di sebuah perkantoran."
"Kamu bekerja saja di perkantoran, lalu kumpulkan uang dan buka bisnis kuliner, atau kamu menikah dan jadi koki untuk suami kamu karena seorang pria akan senang jika memiliki istri yang pandai memasak. Salah satunya aku."
"Tapi kenapa kakak kamu tidak begitu?"
Kenzo yang mau menyeruput coklat hangat buatan Citra terhenti karena bingung dengan pertanyaan Citra.
__ADS_1
"Maksud kamu?"
"Kakak kamu sangat mencintai Aira walaupun dia tidak pandai memasak."
"Oh ... kalau itu hanya Addrian yang tau. Addrian itu bucin akut sama Aira karena Aira salah satu gadis yang tidak terpesona dengan Addrian. Malahan Addrian jatuh cinta pada Aira karena pernah ditampar oleh Aira." Kenzo terkekeh.
"Ditampar? Kenapa Aira berbuat buruk seperti itu pada kakak kamu?"
"Addrian dulu memang rajanya playboy, dan Aira tidak suka cowok playboy, tapi mereka ternyata dijodohkan dan saling jatuh cinta sekarang. Aku juga yakin, cinta seperti yang Addrian dan Aira rasakan pasti akan menjadi cinta yang kuat dan tidak akan mudah dirusak oleh siapa pun."
"Benarkah?" Kenzo mengangguk perlahan. "Apa kamu senang memiliki kakak ipar seperti Aira?"
"Tentu saja senang. Aira itu teman kuliah aku dan aku sedikit banyak mengenalnya. Jadi, saat dia menikah dengan Addrian, aku yakin jika Aira bisa membawa kakakku menjadi pria yang baik walaupun sebenarnya Addrian adalah pria yang baik, hanya saja dia dulu suka bermain wanita dan hidupnya semaunya."
"Oh ya! Aira dulu hampir menikah dengan yang namanya Dewa ya? Aku dengar Dewa cinta pertama Aira. Apa Aira benar-benar mencintai kakak kamu?"
Kenzo terdiam dan tampak berpikir sejenak. "Aku yakin Aira sudah melupakan Dewa. Buktinya dia ingin melihat Dewa menikah dengan wanita lain."
"Aku minta maaf jika harus mengatakan ini sama kamu, tapi aku dan Addrian pernah bertemu dengan seorang pria dan pria itu katanya memiliki hubungan dengan Aira."
"Kamu serius?"
"Serius, bahkan di ponsel pria itu ada foto dirinya bersama Aira." Citra menceritakan tentang kejadian malam di mana dia dan Aira serta Addrian makan malam bertiga.
"Aira tidak mungkin berselingkuh."
"Aku juga tidak percaya dengan pria itu, tapi dia bisa menunjukkan foto dirinya dengan Aira."
"Lalu, Addrian bagaimana?"
"Kakak kamu itu seolah tidak mau mempermasalahkan hal itu. Dia menghapus foto Aira yang ada di ponsel pria itu dan pergi. Jujur, aku benci dengan wanita yang berselingkuh, tapi sok polos dan lugu karena ayahku dulu juga memiliki selingkuhan, padahal ayahku orangnya sangat baik dan terlihat polos." Wajah Citra tampak sedih.
"Citra, kamu jangan bersedih." Tangan Kenzo menepuk pundak gadis yang sedang berakting sangat baik itu.
"Aku baru mengetahui jika mereka berdua meninggal dalam keadaan sedang ada masalah, dan mereka menyembunyikan masalah ini dariku. Aku berharap Aira benar-benar bisa menjadi istri yang setia karena aku benci perselingkuhan." Citra menyeruput coklat hangat miliknya.
Kenzo tampak terdiam melihat Citra, dan dia sepertinya percaya dengan cerita Citra dan menganggap seolah kesetiaan Aira perlu dipertanyakan.
"Aku juga sebenarnya tidak suka dengan perselingkuhan. Bundaku mengajarkan agar aku harus setia dengan pasangan apapun kekurangan pasangan kita itu, bunda juga mengajarkan untuk jujur dengan pasangan kita kelak. Kakakku juga selalu mengingat hal itu."
__ADS_1
"Semoga saja Aira memang jujur tidak pernah mengenal pria itu. Semoga foto itu pun tidak benar." Citra melirik pada Kenzo.