Kamu Milikku

Kamu Milikku
Didatangi


__ADS_3

Hari Kamis.


Reva sudah selesai mengatur hidangan di pantry.


Biliyan mengirimkan banyak kue-kue tadi pagi.


Jadi Reva hanya tinggal menghangatkannya lagi di microwave.


Reva kembali menekuri tabletnya.


Anak-anak Methrob bergantian masuk ke pantry.


Ada yang mengambil minuman dan makanan saja, ada juga yang mengajak Reva mengobrol sebentar.


Semua sudah tau bahwa Reva lebih suka berada di pantry dibandingkan diminta duduk di ruangan manapun.


Hari sudah sore ketika ada keributan di pintu depan.


Tak lama, Cindy masuk.


Kedua asistennya diminta untuk menunggu di luar.


Bukan apa-apa...


Michael tidak mengijinkan sembarang orang masuk ke ruang kantor yang penuh dengan segala peralatan.


Dan mereka protes.


Tapi Michael tetap bersikukuh.


Sandy berdiri di pintu ruangannya.


Cindy masuk.


Pintu dibiarkan terbuka.


Cindy mengerutkan kening.


Biasanya Sandy menutup pintu.


Dia ingin memeluk Sandy.


Tapi pintu terbuka.


Jadi dengan diam dia duduk di kursi di hadapan Sandy.


"Kamu gak bilang kalo udah pulang." sapa Cindy cemberut.


Sandy tersenyum kecil.


"Yaah..aku kan ninggalin kantor dua bulan lebih. Banyak yang harus diselesaikan." katanya.


'Dan semua gara-gara kamu !' sambungnya dalam hati.


"Kamu gak tau kalo aku rindu kamu, Saan..." kata Cindy dengan manja.


Sandy tidak menjawab.


Dia hanya tersenyum.


"Kamu ngapain ke sini ?" tanya nya.


"Ya nyariin kamu dong !" kata Cindy.


"Ini kan kantor Cin." kata Sandy.


"Ya..pokoknya aku nyari kamu.


Karena kamu gak nyari aku.


Abis ini.. kamu ikut aku ke apartemen." perintah Cindy.


"Abis ini kamu sama aku makan malam.


Ada yang mau aku omongin.


Sekarang..kamu tunggu dulu di situ.


Aku masih ada kerjaan yang belum selesai." kata Sandy.


Dia lalu berdiri dari sofa dan kembali duduk di mejanya.


Sandy tetap diam di mejanya.


Sibuk dengan pekerjaannya.


Sama sekali tidak melihat Cindy.


Sementara Cindy melayangkan pandangan nya ke seluruh ruang kerja Sandy yang mewah dan elegan.


Ruangan Sandy memang dibuat berbeda sendiri karena Sandy memang sering menerima klien.


Cindy berdiri, lalu memutari ruangan.


Menikmati nyamannya ruangan itu.


Menatap keluar jendela yang memberi pemandangan kota kecil itu.


Kota yang tidak terlalu banyak penduduknya.


Berbeda dengan Taipei.


Sandy mengangkat matanya.


"Kamu ngapain ?


Duduk, aku bilang !" katanya tegas.


Cindy memandang Sandy.


Lalu menurut.


Sandy sekarang berbeda dengan Sandy saat awal mereka berhubungan.


Sekarang Sandy lebih diam dan...dingin.


Juga cepat marah.


Tidak banyak berkata-kata.


Tapi...di tempat tidur... Sandy malah menggairahkan.


Cindy tertantang untuk mengubah raut muka Sandy yang tadinya dingin, memandangnya dengan skeptis menjadi bergairah memandangnya.


Ah..rindunya dia.


Merindukan belaian Sandy yang tegas.


Dan kalau dipikir-pikir, dia tidak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya.


Pada siapapun.


Kecuali Jim.


Tapi Jim itu..


Seperti angan-angan saja.

__ADS_1


Tidak pernah menjadi realita.


Tok..tok...


Cindy menoleh.


"Permisi...


ini kopinya Om..." kata Reva yang masuk sambil membawa nampan.


Sandy mengangkat matanya.


"Masuk, Va.." katanya lembut.


Cindy menoleh ke arah Sandy.


Dan melihat perubahan mata Sandy yang melembut saat menatap Reva.


Amarahnya bangkit.


"Kamu..


Kamu ngapain disini ?" sergahnya.


Reva kerja disini yang artinya..lebih sering berinteraksi dengan Sandy.


Reva yang sedang mengatur cangkir kopi dan piring kue menoleh.


"Aku kan harus bayar liburan ku kemarin." jawabnya.


"Jadi office girl ?" tanya Cindy merendahkan.


"Iya.


Gak papa kan.


Yang penting halal." jawab Reva.


"Yaah..kamu kan masih muda...jadi..enggak apa-apa kerja kasar." kata Cindy mencemooh.


Membuka mata Sandy.


Membandingkan dirinya yang jauh lebih berkelas dibandingkan Reva.


Dia menatap penampilan Reva yang mengenakan jeans, kaus dan sepatu kets.


"Dia mahasiswa Cin.


Dan sebetulnya..dia gak perlu bayar kok.


Dia aja yang terlalu sopan untuk nerima liburan gratis." kata Sandy.


Matanya tetap menatap monitor.


Cindy memerah.


Di kantor Maxx, Jenny juga berkeras untuk menyertai Tia kemanapun.


Untuk membayar liburannya.


Steven datang.


Dia berdiri di pintu Sandy.


Kedua tangan nya terentang memegang kusen pintu.


"Va...Ayo pulang." katanya.


Matanya menatap Sandy.


Reva menoleh.


Reva mundur.


Dan membentur tubuh Steven yang menghalangi pintu.


Steven cepat menangkapnya.


Dengan sengaja memegang bahu Reva.


Lalu dia mengalungkan satu lengannya yang kekar melingkari leher Reva.


Dia menunduk.


"Ayo.." katanya lembut.


Reva menengadah menatap mata Steven yang kembali menatap Sandy.


Steven menurunkan lengannya lalu menggandeng Reva.


"Pulang dulu, Boss !!" katanya sambil berlalu menyeret Reva keluar.


Sandy menatap mereka.


Berusaha sebisa mungkin menjaga wajahnya tetap datar walaupun hatinya marah sekali.


Dia ingin menyelesaikan masalahnya dulu dengan Cindy malam ini.


Selesai dan tinggalkan.


Baru dia akan mengurus Reva.


Sementara itu...


Steven tadi dengan sengaja menyusul Reva di ruangan Sandy.


Dia tau karakter Cindy.


Walaupun tau bahwa Reva bisa membela dirinya, tapi dia tidak rela.


Dia tidak rela, gadis manis yang diam-diam dia sayangi dicerca oleh perempuan jalang tak ada akhlak itu.


Begitu sebutan Steven pada Cindy.


Sekarang Steven memperhatikan Reva membereskan buku dan laptopnya.


Dia memperhatikan raut wajahnya.


Reva terlihat sedang berfikir.


"Mikirin apa ?" tanyanya.


Reva menoleh.


"Hmm...aku lagi mikir mau makan malam apa ?


Pizza ? mie goreng ? nasi goreng ?


oyster mee sua ? "


Steven tertawa.


"Aku ajak kamu ke tempat enak."


"Bukan resto mahal yang kaku itu kan ?" kata Reva


"Emang kenapa ?"

__ADS_1


"Aku pingin makan santai..Dan ehmm...kali ini aku yang traktir ya Steve.


Aku baru dapat honor penelitian." kata Reva.


Mata Steven melembut.


"Oke.


Kamu yang bayar.


Kita makan di tepi pantai."


"Jauh ?"


"Enggak.


Kenapa ? Besok ujian ?"


Reva menggeleng.


"Ada nasi ?


Aku mau makan nasi deh." katanya.


"Ada.


Semua yang kamu mau ada.


Apa sih yang enggak buat kamu, Va ?" kata Steven.


"Kamu." jawab Reva pelan.


"Apa?"


"Ah enggak..." jawab Reva.


Dia lalu menyandang tasnya dan mengepit diktat.


"Yuk..."


Reva mendului.


Melewati ruang Sandy.


"Om...aku pulang dulu."


pamitnya berhenti sebentar di pintu.


Sandy melepas senyum.


"Oke.


Hati-hati"


Reva melirik sejenak pada Cindy yang tidak mau menolehkan kepala padanya.


Lalu meninggalkan mereka.


"Boss..pulang." pamit Steven.


Sandy mengangguk.


"Hati-hati" katanya.


Dia menatap Cindy.


Lalu menghela nafas.


Di luar....


Reva meletakkan tasnya di bangku belakang lalu menyandar di kursi sambil menutup matanya.


Baiklah.


Aku ingin menikmati malam ini.


Sebelum meninggalkan semuanya di belakang.


Aku pingin fokus sama tujuanku datang kesini.


Bukannya diacak-acak sama orang-orang ini.


Orang-orang yang make aku sebagai pengalih perhatian.


Yang satu baik tapi... mempermainkan dia.


Dan mereka sangat berbeda.


Satunya lagi sibuk sama pacarnya.


Walaupun terang-terangan memberi rumah dan tanah padanya.


Dipikir aku ini barang !


Bisa di DP sementara dia bersenang-senang tidur sama cewek lain selagi akunya belum mau !!


Huh !!


Dan sekarang dia tidak mau peduli.


"Capek, Va ?" kata Steven memandang Reva sekilas sebelum kembali menujukan perhatiannya pada lalu lintas.


"Ah enggak.


Aku pingin makan."


Steven kembali memandang sekilas.


Dahinya sedikit berkerut.


Dia mengenal Reva sudah setahun.


Dan sering berinteraksi dengannya.


Reva memikirkan sesuatu.


"Kamu mikirin Sandy ?" tembaknya langsung.


"Enggak.


Kenapa sih ?!


Kamu cerewet banget.


Kalo mau interogasi aku, gak udah pake alasan mau ngajak makan.


Kita pulang aja.


Aku order delivery !" cemberut Reva.


"Oke...


Aku gak nanya-nanya lagi.


Kita makan.


Murni makan." jawab Steven mengalah.

__ADS_1


...🌄🍇🎋...


__ADS_2