
Reva melangkah masuk ke apartemen Sandy.
Dia baru pertama kali ini datang ke sini.
Berbeda dengan milik Michael dan Robert, apartemen Sandy terlihat sederhana.
Ini adalah apartemen tempat mereka dulu berkumpul saat masih sama-sama bujangan.
Kamar Michael dan Robert masih tetap sama.
Hanya tempat tidurnya yang berubah.
Sandy sudah membuat beberapa perubahan kecil di dapur, ruang TV, kamar mandi dan kamarnya sendiri.
Menambah beberapa peralatan olahraga.
Reva duduk di depan TV.
Sementara Sandy menghilang ke kamarnya setelah sebelumnya berpesan untuk mengambil sendiri minuman atau makanan yang diinginkan nya.
Tujuh menit kemudian, Sandy keluar dari kamar dan menemukan Reva duduk di balkon.
"Va.." tegur Sandy.
"Ya Om..?"
Reva sedang bersandar di pagar balkon sambil menatap pemandangan.
"Kamu gak minum ?"
"Ah..enggak Om.
Enggak haus.
Om kok cepet banget mandinya.
Mandi bebek ya ?" ledek Reva.
"Lho..katanya setengah jam lagi kamu harus latihan." jawab Sandy.
Reva tersenyum.
"Om...ini apartemen yang Om tinggalin dulu barengan ya ?" tanya nya.
Sandy mengangguk.
"Kenapa Om beli ?"
"Buat nostalgia, Va.
Kita masih suka ngumpul disini kok.
Michael masih suka masak makan siang di sini."
"Enak ya Om... tempatnya." kata Reva.
"Hmm.." Sandy tidak menjawab.
Dia menatap Reva.
"Kamu mau tinggal di sini ?"
Reva menoleh dengan cepat.
"Maksud Om ?" tanyanya was was.
Sandy menangkap rasa was-was itu di mata Reva.
"Aku beli rumah.
Apartemen ini bakal kosong.
Kalo kamu mau, kamu bisa tempatin.
Free.
Syaratnya...jangan tidur sama orang lain di sini.
Tapi kalo sama aku sih..boleh." senyum Sandy.
"Om !!
Ihhh....
Aku bukan penganut hubungan bebas ya...
Aku ini tinggal di desa.
Bisa diomongin orang tujuh turunan kalo sampe suamiku nemuin aku bukan virgin !!" omel Reva.
Sandy mendekati Reva perlahan.
"Hm....masih virgin ya ?" tanyanya menatap mata Reva.
Reva mundur.
"Om !!" katanya memperingatkan.
"Kamu kan udah kalah, Va." kata Sandy.
Jarinya mengambil beberapa helai rambut Reva yang tergerai di pundaknya dan memilinnya.
"Om !!"
Reva mengibaskan jari Sandy.
Sandy membiarkannya.
Tangannya berpindah.
Menarik Reva menempel padanya.
"Om !!!"
"Kamu kalah." ulang Sandy.
Reva memerah.
"Iya Om...aku kalah.
Terus?
__ADS_1
Aku masih ngasih kesempatan Om untuk berubah pikiran."
"Aku yang berubah pikiran ?
atau...
Kamu yang gak mau mengakui kalo sekarang kamu harusnya udah jadi milikku, Va?" tanya Sandy pelan.
Ditelinga Reva.
Reva mencoba menjauh.
"Om.."
"Kamu mau minta waktu berapa lama lagi main-main sama Steven ?" pegangan Sandy di pinggang Reva mengerat.
"Aku gak main-main sama orang, Om !"
"Kamu pacaran sama dia..Padahal kamu tau kalo kamu bakal jadi istriku, Va."
Reva menelan ludah.
Mau tidak mau, seberapa besar apapun dia menyangkal, dia harus mengakui kenyataan itu.
Sandy menang dan dia kalah.
Sandy sudah menunjukkan kesungguhan nya.
Tapi dia malah sibuk melemparkan dirinya pada orang lain.
Orang yang diam-diam dicintainya.
Dan mencintainya juga.
"Katakan..
Aku harus nunggu berapa lama lagi ?
Ngeliat kamu bermesraan sama Steven." kata Sandy pelan.
Reva tersedak mendengar kata-kata Sandy.
Sandy tidak melonggarkan pelukannya.
Dia ingin menekan Reva.
Memaksa Reva untuk mengakui kenyataan bahwa dia calon istrinya.
"Om...lepasin." bisiknya.
"Ah..kamu !
Jawab !" desak Sandy.
Reva mengangkat wajahnya.
Memandang dalam pada mata Sandy yang menatapnya.
Mencari kesungguhan.
Dan menemukannya di sana.
"Kamu tau ?
Tinggal nunggu waktu aja sampe aku ngelamar kamu resmi.
Dan sampai waktu kita kawin nanti, Va..
Aku mau istriku virgin." kata Sandy.
Perlahan jarinya menelusuri dahi turun ke tulang hidung Reva yang mancung lalu membelai bibirnya.
Jari itu terus turun menelusuri dagu dan kemudian leher Reva yang jenjang.
Terus turun ke gundukan lembut.
Reva menggigil.
Dia kembali berusaha mundur.
Tangan Sandy kembali memegang leher Reva.
Memaksanya tetap disana saat bibir Sandy turun mencium lembut bibir Reva.
Ibu jarinya membelai leher yang membuat Reva mengeluarkan suara.
Saat bibir Reva terbuka, Sandy memasukkan lidahnya.
Reva tidak lagi melawan.
Dia membiarkan Sandy menikmati bibirnya.
Mengakui kepemilikan Sandy terhadapnya.
Bau aftershave yang dipakai Sandy menerobos inderanya.
Sandy menghentikan ciumannya.
Dia mundur.
Menatap tajam Reva yang buru-buru menunduk.
Tangannya mengangkat dagu Reva.
Memaksa Reva menatapnya.
"Aku mau kamu putus besok."
"Haaa ??"
Reva ternganga.
Mata Sandy yang tadinya hangat kembali menjadi dingin.
"Kamu...besok..putus.
Paham ?!"
"Ta..tapi.."
"Apa ?" tantang Sandy.
__ADS_1
Angin dingin bertiup.
Reva menggigil.
Menggigil karena angin dan sikap Sandy.
Dia lalu memeluk tubuhnya.
Matanya menatap kemanapun kecuali ke mata Sandy yang sedang menatapnya.
Sandy tetap diam.
Dia menunggu jawaban.
Dia harus bertahan.
Keras..
Michael benar.
Ini satu-satunya cara memaksa gadis ini menjadi miliknya.
Reva bimbang. Dan Bingung.
Bagaimana dia harus mengatakan pada Steven ?
Dia tidak pernah benar-benar mengiyakan bahwa Steven adalah pacarnya.
Tapi dia juga tidak pernah menolak perlakuan Steven padanya.
Dan itu semua terjadi di hadapan teman-teman mereka.
Jujur saja...
Dia tidak pernah menyangka bahwa Sandy akan berkeras dan sungguh-sungguh ingin memilikinya.
Sandy dengan gayanya yang selalu kalem dan santai.
Wajah nya yang kekanakan.
Membuat Reva tidak pernah menganggap Sandy benar-benar serius.
Bahwa apa yang dikatakan dan dilakukan Sandy benar-benar tulus.
Dia selalu berfikir bahwa suatu kali nanti, Sandy akan menemukan seseorang sebagai pengganti Cindy.
Yang sesuai dengan selera Sandy.
Cantik, putih, terkenal.
Seperti Cindy.
Reva berdehem.
"Kita belum betul-betul saling mengenal Om."
Masih mencoba mengelak.
Sandy memaki.
Dia betul-betul kesal.
"Apanya yang belum betul-betul kenal ?!" kejarnya.
"Kita. Sebagai pasangan."
"Apapun itu..
Kamu harus putus."
Reva menunduk.
"Aku...ehm...aku enggak pernah benar-benar menganggap kalo aku pacarnya, Om.
Bagaimana aku harus bilang putus ?
Kami gak pernah benar-benar jadian."
"Tapi dia menganggap kamu pacarnya kan ?" kejar Sandy.
Reva tertegun. Lalu mengangguk.
"Dan semua orang menganggap kalian pacaran.
Kamu...pacar Steven.
Kamu kencan, ciuman sama dia."
"Om !!"
"Tapi benar kan ?!"
Reva melarikan matanya menatap pemandangan di belakang Sandy.
"Aku nungguin, kapan kamu sadar sejak berapa waktu lalu saat masa taruhan kita berakhir.
Tapi kamu gak sadar-sadar.
Dan sekarang.....
Aku kasih kamu ultimatum.
Kamu putusin Steven.
Mulai sekarang..lepasin perasaan kamu sama dia
Karena di masa depan....kamu sama aku !." tegas Sandy.
Pundak Reva turun.
"Masih ngeyel ?" tanya Sandy dengan nada keras.
Reva menggeleng.
"Enggak, Om."
"Masih ngeyel." putus Sandy.
Sebuah pernyataan.
Reva mengangkat matanya, bertanya tanpa kata-kata.
__ADS_1
"Gak ada suami yang dipanggil Om sama istrinya, Va !!" kata Sandy dengan gemas.
...🌴🍓☘️...