Kamu Milikku

Kamu Milikku
Dirawat


__ADS_3

Reva membuka matanya.


"Selamat pagi..."


Reva menoleh.


"Suster Dianxi.." sapanya membuka sedikit masker oksigen yang menutupi hidung dan mulutnya.


Suster Dianxi tersenyum cerah. Lalu menoleh ke sofa nyaman di dekat tempat tidur Reva.


"Lho...mana si ganteng ?"


Reva memerah.


Reva kembali membuka masker oksigen nya.


"Ke kantor, Suster."


"Ck....ck...ck...pacar kamu itu yaa...udah ganteng, baik, rajin lagi !" puji suster Dianxi.


Reva hanya diam.


Sudah berkali-kali dia mengatakan bahwa Steven bukan kekasihnya. Tapi tak ada yang mau percaya. Karena setiap hari Steven absen di kamarnya. Siang atau malam tergantung waktu kerja Steven.


Tak heran, para perawat, dokter hingga petugas cleaning services menganggap mereka berdua pasangan.


Reva sendiri terlalu lemah untuk membantah. Pada akhirnya dia hanya menerima saja. Kenyataannya, Steven memang memberikan sebagian besar waktunya untuk menunggui Reva.


Dia memandang suster Dianxi yang mengeluarkan termometer gun dari sakunya.


"Hmmm...sudah normal dua hari berturut-turut. Bagus ! Mudah-mudahan bisa cepat keluar dari rumah sakit ya.. Kasian si ganteng capek bolak-balik rumah sakit dan kantor." cetusnya.


"Terima kasih suster.." jawab Reva dengan suara serak lalu terbatuk-batuk.


"Ck...ck...istirahat lagi. Banyak tidur. Untung pacarnya gak ngasih ponsel. Kamu gak istirahat kalo pegang ponsel."


Suster Dianxi berkata dengan serius.


Reva menghela nafas berat. Dia tidak bisa menelpon karena ponselnya dipegang oleh Steven.


Tapi Steven meyakinkannya bahwa kedua orang tua Reva sudah dihubungi dan diberi tahu bahwa Reva masuk rumah sakit.


Itu saja yang diberitahu oleh Steven.


Lalu rencana pernikahan nya? Mas Sandy?


Steven tidak mengatakan apa-apa.


Hanya menekankan pada Reva bahwa saat ini yang penting adalah kesembuhan nya. Jangan pikirkan yang lain - lain. Itu saja.


Reva kembali merebahkan kepalanya.


Sebentar kemudian dia tertidur kembali.


Menjelang siang, Reva membuka matanya.


Steven sedang menatapnya. Senyum tersungging di bibirnya.


"Udah bangun ?"


Reva mengangguk. Dia mengangkat masker oksigennya hendak berbicara.


"Jangan. Kamu diem aja. Istirahat." cegah Steven.


Reva mengangguk.


Tak lama kemudian makan siang diantarkan. Steven bangkit dari duduknya membuka plastik pembungkus makanan, mengatur lauk di piring lalu duduk di sisi tempat tidur sambil memegang piring.


"Makan ya.." ajaknya.


Reva kembali mengangguk. Dengan patuh dia membuka mulutnya saat Steven menyuapkan sesendok makanan. Lalu sendok berikutnya. Lalu berikutnya.


"Steve...udah..." tolak Reva.

__ADS_1


Steven melirik piring yang hampir kosong.


"Sedikit lagi.." bujuknya.


Reva menggeleng tapi lalu kembali membuka mulutnya.


"Satu ini aja Steve."


"Oke." Steven tidak memaksa. Dia lalu menyodorkan gelas.


"Minum dulu."


Steven lalu membuka bungkus obat.


"Minum obatnya."


Reva meraih gelasnya, meminum semua tablet sekaligus yang diberikan Steven lalu mengembalikan gelasnya pada Steven.


Reva kembali bersandar pada bantalnya.


"Ada masalah apa ?" tanyanya tenang menatap Steven.


Steven balas menatapnya.


"Kok kamu tau kalo aku ada masalah ?" tanyanya balik.


Reva tersenyum kecil.


"Muka kamu." jawabnya terkekeh lalu terbatuk-batuk.


"Ck ! emang kenapa sama mukaku ? Hm?"


"Muka kesel.."


Steven tidak menjawab. Matanya menelusuri wajah Reva.


"Apa ?" tanya Reva.


"Kamu ! Kamu selalu yang paling paham tentang aku."


Setelah diam beberapa saat.


"Cerita, Steve." katanya


Steven menarik nafas dalam-dalam. Dia lalu mulai bercerita.


"Aku gak tau ada apa dengan Mike. Tapi dua hari ini dia melakukan beberapa kesalahan. Enggak fatal tapi membuang banyak waktu. Padahal..."


Padahal Steven butuh banyak waktu luang untuk menemani Reva di rumah sakit. Tapi gara-gara Mike, dia jadi harus berdiam di kantor jauh lebih lama dari seharusnya.


Seperti hari ini. Hari ini yang seharusnya ingin dia habisnya bersama Reva akhirnya harus dia habiskan di kantor. Steven kesal sekali. Rasanya ingin memecat Mike saat itu juga.


Tangan dingin Reva menyentuh tangan nya.


"Sabar, Steve."


Nyess.....Bara di hati Steven langsung padam. Tangan Reva langsung digenggamnya. Dipegang erat-erat seolah itu kayu yang mengambang ditengah usahanya untuk tidak tenggelam. Perlahan dikecupnya jemari Reva. Dingin batu permata warna merah menyentuh pipinya.


Steven tersenyum. Reva masih memakai cincin miliknya di jari manis tangan kanannya.


"Iya aku sabar. Dia pacar teman kamu kan ?" senyum Steven.


"Bukan itu.." bantah Reva lalu terbatuk-batuk.


"Sst...udah..gak usah banyak ngomong. Aku tungguin sampe kamu tidur, baru aku ke kantor lagi, hmm ?"


"Gak usah, Steve. Kamu bisa berangkat sekarang." jawab Reva lalu terbatuk-batuk.


Senyum Steven semakin lebar.


"Sst....udah..udah..."


Reva mengangguk. Steven lalu membantu Reva memakai kembali masker oksigennya.

__ADS_1


Diaturnya kembali posisi tidur Reva.


Puas melihat Reva sudah nyaman, Steven kembali duduk di kursinya.


"Sini aku cerita sedikit tentang kerjaanku dan kesalahan Mike." katanya sambil kembali menggenggam tangan Reva.


Reva mengangguk. Dia tau bahwa Steven akan terus bercerita sampai dia tertidur kembali.


Saat Reva sudah memejamkan mata dan nafasnya berubah teratur, Steven menegakkan tubuhnya. Dahinya berkerut.


Bercerita pada Reva membantunya kembali merekonstruksi masalah yang dibuat oleh Mike.


Dia lalu bangkit, membungkukkan badannya mencium kening Reva lalu keluar kamar.


...🌻🌻...


Di sisi lain kota....


"Gila kalian ! Aku jadi tumbal !" maki Mike dengan keras.


Josh dan Andrew tertawa.


"Ini perintah Boss ! Udah...kamu tenang aja. Nanti Big Boss yang bakal cover kamu !"


"Beneran ini perintah Boss Michael ? Awas aja kalo enggak ya ! Habis tadi aku dimarahin Steven. Digoblok-goblokin. Kayak orang bego aja aku ini." keluh Mike.


"Sabar Mike. Bonus besar menunggu." kata Josh menenangkan.


"Bonus apaan?! Bonus dimaki-maki ? Mana Steven kalo ngomong nyelekit !" gerutu Mike.


Josh dan Andrew kembali tertawa.


...🌻🌻...


"Selamat pagi..."


Reva mendongakkan kepalanya.


Dia menggeser maskernya untuk menjawab.


"Pagi juga Suster."


Suster Dianxi mengedarkan pandangannya ke sekeliling.


"Tumben nih, sudah dua hari berturut-turut si ganteng gak nginep di sini." cetusnya saat melihat sofa besar yang nyaman kosong dan tidak tampak ditiduri.


"Di kantor, lagi banyak kerjaan." jawab Reva.


Suster Dianxi mengangguk-angguk. Setelah selesai mencatat dan memeriksa kondisi Reva, dia lalu keluar.


Ruangan kembali hening. Monitor tv memang di setel untuk tidak mengeluarkan suara. Reva menatap kosong pada rangkaian berita yang disiarkan.


Hari ini harusnya hari pernikahan nya. Entah sedang apa Mas Sandy sekarang. Marahkah dia ?


Atau Mama Papanya. Mereka pasti malu. Karena semua persiapan pernikahan harus dibatalkan mendadak seperti ini.


Entahlah. Reva juga tidak bisa mencari tau. Ponselnya ada pada Steven.


Reva termenung. Dia kembali menutup matanya.


Krieeet....bunyi pintu dibuka. Beberapa orang masuk.


Reva tidak membuka mata. Biasanya petugas kebersihan.


"Reva...nduuk.."


Reva tidak membuka mata. Dia mendengar Mama memanggil namanya. Ini pasti mimpi.


"Reva..."


Kali ini suara mas Sandy.


Mas Sandy ?!

__ADS_1


Reva membuka matanya.


__ADS_2