
"Mas..." sapa Reva sambil menjulurkan kepalanya.
"Eh...Va...masuk..!" kata Sandy.
"Aduh..maaf...ada tamu ya. Aku di luar aja dulu." jawab Reva malu.
"Enggak, Va...ini temanku. Kamu kenalan dulu ya ." kata Sandy tersenyum. Matanya melirik Ernest dan Charles sebentar.
"Oo..."
Reva masuk ke dalam ruangan Sandy. Disana ternyata sudah duduk juga Michael beserta Liu.
"Om..." sapanya sopan.
Michael tersenyum.
"Halo Va.." katanya.
"Sini duduk, Va.." kata Sandy menepuk sofa di sebelahnya.
Reva lalu duduk di sebelah Sandy.
"Va kenalin..ini Ernest dan Charles. Mereka klien kita sekaligus supplier kita. Ini istriku, Reva." kata Sandy.
Reva mengangguk lalu mengulurkan tangannya.
Charles dan Ernest menjabat tangan Reva sambil memperhatikan Reva dengan cermat.
Ernest dan Charles saling bertatapan.
Oo..jadi dia yang namanya Reva...pantas Sandy berkeras tidak mau balik lagi sama Cindy. Apalagi Reva ini dengar-dengar punya backup Willy Chang dan keluarganya. Sudah pasti Sandy akan memilih Reva.
Sementara Reva pun menatap tajam pada kedua orang yang disalaminya itu.
Jadi ini yang suka jebak Mas Sandy. Teman Cindy ? Hmmpph...
Bibir Reva sedikit mencibir, tapi cepat dia mengubah air mukanya.
Sandy mengambil tangan Reva lalu meletakkannya di paha. Jarinya mengelus telapak tangan Reva. Gerakan ini tak lepas dari perhatian Ernest dan Charles.
Mereka berdua kembali saling berpandangan.
Sandy benar-benar mencintai istrinya.
"Oh..iya..sekalian, aku ngundang kalian ke pesta pernikahan kami ya. Dua Minggu lagi." senyum Sandy. Tangannya masih memegang tangan Reva.
"Dua Minggu lagi ? Oke..kita pasti dateng."
"Ajak adik kamu Nest. Udah lama gak ketemu." sambung Sandy.
Ernest tertawa kecil.
"Pas banget. Baru kemarin dia ngomongin kamu, San."
"Oh ya ?"
"Hmm... iya. Dia juga mau kenalan sama istri kamu." senyum Ernest.
Reva mengerutkan kening sedikit. Mau kenalan ? Adiknya Ernest ? Ngapain ?
Sandy tertawa kecil, kepala nya menoleh pada Reva.
"Adik Ernest perempuan. Seumuran kamu, Va .." senyum Sandy.
Reva balas tersenyum. Walaupun hatinya bertanya-tanya.
"Dia juga mau ngundang kalian ke Pesta pertunangannya."
"Lho...udah mau tunangan aja.." komentar Charles.
"Iya dong. Sebaya kok sama Reva." kata Ernest.
"Reva malah udah kawin." senyum Michael.
"Kamu malah belum kawin !" kata Sandy.
Ernest terkekeh.
"Enak jadi bujangan. Bisa ganti- ganti." katanya.
__ADS_1
Reva yang mendengar kata-kata Ernest menjadi makin tidak suka padanya.
"Selamat ya untuk adiknya..." katanya singkat.
"Terima kasih. Nanti aku sampaikan." senyum Ernest.
"Mas...aku bikinin minum dulu ya.." kata Reva sambil berdiri.
Sandy mengangguk.
Reva lalu keluar. Mata Sandy mengikuti hingga Reva berbelok.
"Jiah..segitunya. Entar malem juga puas kamu, San !" ledek Charles melihat tingkah Sandy.
"Entar malam lain. Sekarang lain..." senyum Sandy.
Ernest dan Charles kembali saling berpandangan. Sandy terlihat bahagia.
Di pantry, Reva mulai sibuk membuat minuman.
Steven masuk. Reva mengangkat kepalanya lalu tersenyum.
"Steve...mau minum ? Aku bikinin sekalian ya ?" senyumnya.
Steven mengangguk. Dia lalu berdiri menyandar dinding. Tangannya dilipat di depan dada. Matanya menatap Reva dengan dalam.
Reva menunduk. Merasakan dirinya ditatap, jantung nya berdebar keras.
Ngapain sih Steven ?! batinnya. Dia mulai gugup.
Reva lalu mulai menuang air satu demi satu ke cangkir yang sudah dia siapkan. Tapi karena gugup, tangannya terpeleset. Cangkir yang sedang dipegangnya jatuh.
Prang...
Suara cangkir yang pecah terdengar kemana-mana.
"Va..!" Steven cepat menghampiri. Tangan Reva memerah terkena air panas.
"Aduh..." keluh Reva pelan.
"Sini !"
"Sakit ya ?" kata Steven pelan.
Reva mengangguk. Dia berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Steven.
"Diam, Va. Kamu lagi luka !" desis Steven.
"Aku tau. Tapi kamu gak usah pegang tanganku terus !"
"Kenapa ? Kamu takut ?" tantang Steven. Suaranya tetap pelan dan bibirnya tersenyum kecil.
Bagaimana dia tidak tersenyum...Dia tau sekali kenapa Reva memecahkan cangkir. Reva jelas-jelas gugup karena kehadirannya. Artinya....
"Siapa yang takut ?!" bantah Reva sebal.
"Udah ah..kamu sana gih !" Reva mendorong Steven dengan pundaknya.
"Reva..."
Reva terlonjak kaget. Matanya menatap pintu pantry. Bibirnya terbuka. Terpana.
Disana berdiri Sandy, Michael, Ernest, Charles, Liu dan yang lainnya.
Semuanya menatap Reva dan Steven.
Reva menarik paksa tangannya.
Steven perlahan menoleh lalu melepaskan tangan Reva.
Sandy maju menghampiri.
"Kenapa ?" tanya sambil menekan amarah.
Bagaimana tidak marah ? Saat terdengar suara benda pecah, Sandy dan yang lainnya segera datang ke pantry. Dan apa yang mereka lihat ?
Steven sedang memegang tangan Reva di depan bak cuci piring sementara Reva menyenggolkan pundaknya pada lengan Steven. Mereka terlihat intim sekali.
Sandy menatap Steven tajam.
__ADS_1
"Mas...ini...Aku ehmm...tanganku kena air panas." jawab Reva. Matanya menampakkan rasa bersalah.
Sandy mengalihkan matanya ke Reva.
"Hmm....yuk...di ruangan ku ada salep. Kita obatin biar gak melepuh." katanya lalu kembali menoleh pada Steven.
"Biar aku yang ngobatin istriku." katanya menekankan kata istri pada Steven.
Lalu Sandy membimbing Reva keluar dari pantry.
Steven tidak berkata apa-apa. Dia pergi meninggalkan pantry.
Melewati Josh dan Andrew, dia merasakan pundaknya ditepuk.
Sampai di ruangannya, Steven lalu duduk. Matanya menatap monitor. Lalu perlahan senyum mengembang di bibirnya.
Reva ...Reva.... batinnya sambil menggelengkan kepala.
Sementara di ruangan Sandy...
"Mas..."tegur Reva.
Sandy tidak menjawab. Tangannya sibuk mengoleskan salep ke pergelangan Reva yang memerah.
"Maaas ..." suara Reva kini lembut merayu.
Sandy mengangkat kepalanya.
"Kenapa sih Kamu gak hati-hati !" omelnya dengan suara meninggi.
"Maaf Mas.. Namanya juga kecelakaan. Gak sengaja.." jawab Reva tetap dengan suara lembut. Dia tau Sandy marah dan... cemburu.
Berfikir tentang Sandy yang cemburu, bibir Reva mengembang.
"Kenapa senyum-senyum ?!"
"Ah enggak..." jawab Reva kalem.
Sandy mendelik. Wajahnya yang kekanakan menjadi lebih lucu. Persis seperti anak kecil yang ngambek. Reva gemas sekali melihatnya.
"Maas..." katanya manja.
"Apa sih... manggil-manggil ?!" kata Sandy cemberut.
Cup.
Satu kecupan ringan mendarat di bibir Sandy.
Sandy menoleh menatap Reva.
Sementara Reva juga sedang menatap dirinya sambil tersenyum lebar.
"Ngerayu ?! Ngerasa salah ?" tantang Sandy.
"Ehmm...heeh..." jawab Reva terang-terangan.
"Terus ?!"
"Maaf ya..." kata Reva lembut.
"Maaf doang ? Enak aja !" kata Sandy jual mahal.
"Terus..Mas Sandy sayang maunya apa ?" rayu Reva.
"Ya masa..cuma cup gitu doang ?!" kata Sandy. Senyum tamak terlihat di sudut bibirnya.
"Jadi...maunya gimana nih ?"
"Ntar malem."
Reva tersenyum memahami.
"Hmm...ya udah..ntar malam yaa. Seperti biasa kaan... " senyum Reva.
"Enak aja !! Entar malem kamu topless !!"
"Hah ?!"
...πΌπ»πΊ...
__ADS_1