
"Ini rumahku, dan aku berhak masuk ke setiap ruangan di sini."
"Iya, tapi kamar itu aku tempati dan tidak seharusnya kamu masuk atau kamu bisa izin dulu, Aira."
"Aku mencari bajuku karena aku suka dengan baju ini meskipun Mas Addrian tidak memperbolehkan aku memakainya."
Citra tidak berkata apa-apa dia lantas berjalan masuk ke dalam kamarnya.
Aira melihat dengan pandangan datar. Rico dan Addrian saling melihat.
"Sayang, apa ada sesuatu yang mau kamu katakan padaku?"
Aira melihat malas pada Addrian dan dia berjalan melengos masuk ke dalam kamarnya.
"Huft! Sepertinya aku salah lagi," gerutu Addrian.
"Sabar, Bro." Tangan Rico menepuk pundak sahabatnya itu. "Beginilah rasanya kalau kamu tinggal dengan dua orang wanita." Rico menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Apa maksud kamu? Istriku itu hanya Aira, kenapa kamu bicaranya seolah-olah aku memiliki dua istri?"
"Ahahahah! Kalau begitu aku pulang saja. Semoga kamu dapat jatah nanti malam." Rico berlari menuju pintu keluar sebelum digetok kepalanya sama Addrian.
Addrian berjalan perlahan menuju kamarnya. Dia membuka pintu kamarnya dan melihat istrinya sedang duduk di depan balkon kamarnya.
Addrian mendekat dan memeluk Aira dari belakang. "Kamu kenapa? Apa aku salah sama kamu?"
"Kenapa memberikan baju yang aku sukai pada Citra?"
Addrian terdiam sejenak. "Kalau aku cerita, kamu janji tidak akan marah, kan?"
Aira langsung menutup skripsi yang dia pegang. "Ada apa, Mas?"
"Kamu ingat saat ada ular di dalam kamar Citra? Aira mengangguk. "Citra berteriak dan aku langsung berlari ke arah kamarnya, dan kita saling bertabrakan dengan posisi Citra hanya memakai pakaian dalamnya. Saat itu dia sedang berganti baju, tapi terkejut ada ular di lemari bajunya."
"Apa? Jadi, kamu melihat tubuh Citra tanpa baju?" Aira seketika melepaskan pelukan suaminya dan berdiri menatap Addrian dengan tatapan kesal.
"Katanya tidak akan marah? Kenapa sekarang jadi marah?"
"Kalau aku yang begitu bagaimana? Apa kamu tidak akan marah?" Aira memukul-pukul dada suaminya untuk melupakan amarahnya.
Addrian hanya menghela napasnya pelan sambil merasakan pukulan Aira yang sama sekali tidak terasa sakit baginya.
"Aku sudah jujur sama kamu, Sayang, lagi pula kejadian itu tidak disengaja, aku juga tidak tertarik dengan tubuh Citra."
"Lalu, kenapa malah baju itu yang kamu berikan padanya?"
__ADS_1
"Kamu sudah tau alasannya. Sudah, jangan marah. Kalau kita bertengkar terus, suasananya jadi tidak enak." Addrian memeluk Aira yang masih cemberut.
"Ya sudah, kali ini aku maafkan karena Mas sudah jujur sama aku. Lagian waktu itu Mas juga memaafkan aku." Aira membalas pelukan suaminya.
"Sayang, kamu jangan marah dengan Citra. Bukan dia yang meminta baju kamu, tapi aku yang meminjamkannya."
Aira tampak terdiam sejenak. "Aku tidak marah soal baju ini, hanya saja kata-katanya tadi yang membuat aku kesal. Kenapa dia seolah-olah aku ini lancang? Padahal aku hanya mencari bajuku, dan kamu tau? Tadi baju ini ada di dekat keranjang sampah di kamarnya."
"Oh ya? Tapi tidak mungkin Citra membuang baju kamu, Sayang."
Tok ... Tok ... Tok
Terdengar suara pintu kamar Aira diketuk oleh seseorang. Aira berjalan mendekat, dan saat membuka pintu, dia melihat ada Citra berdiri di sana.
"Aira, aku minta maaf. Tadi sebenarnya aku bukan marah sama kamu yang masuk ke dalam kamarku, tapi karena aku malu kamu melihat isi kamar yang berantakan. Aku sudah menumpang di sini dan seharusnya aku menjaga agar tetap bersih."
"Lalu, kenapa bajuku itu berada di dekat tong sampah? Kamu tidak mungkin membuangnya bukan?"
"Membuangnya? Tentu saja tidak. Aku tadi kesal karena tidak jadi pindah dari sini, dan memberantakan isi tas yang sudah aku tata. Mungkin baju kamu terlempar di dekat keranjang sampah."
Addrian memeluk pundak istrinya. "Citra itu tau bagaimana cara berterima kasih, jadi dia pasti tau bagaimana bersikap."
"Aira." Citra memegang tangan Aira. "Aku minta maaf sekali lagi kalau ada kata-kataku yang menyinggung kamu."
"Tidak ada. Aku juga minta maaf, mungkin tadi aku terbawa suasana dan mengira kamu membuang bajuku karena kamu sebenarnya tidak suka denganku."
***
Keadaan kembali berjalan seperti biasanya. Aira pergi ke kampus dengan suami dan Citra.
"Na, aku nanti mau pergi sebentar ke suatu tempat. Apa kamu bisa membantuku?"
"Hah? Kamu mau ke mana lagi?" Niana tampak kaget mendengar perkataan Aira.
"Ada pokoknya. Kamu bantu saja aku."
Niana menggaruk-garuk kepalanya. "Kamu jangan mencari masalah lagi sama suamimu. Kamu mau menemui mas Dewa ya? Bukannya nanti malam kamu diundang ke acara pernikahannya?"
"Iya. Na, aku mohon bantu aku."
"Bantu bagaimana?"
"Kamu hubungi nomor suamiku dan katakan kalau kamu mau mengajakku ke rumahmu karena ibu kamu ingin bertemu denganku."
"Ponsel kamu mana?"
__ADS_1
"Sengaja aku tinggalkan di rumah."
"Jadi, kamu sudah merencanakan hal ini dari rumah?" Aira mengangguk. "Kamu sebenarnya mau apa, sih?"
"Aku mau memberi kejutan buat suamiku. Please bantu aku."
"Suami kamu ulang tahun?"
"Tidak, tapi aku ingin memberinya kejutan. Apa salah?"
"Tidak salah, sih."
"Ya sudah, sekarang kamu hubungi Mas Addrian dan katakan jika aku berada di rumah kamu dan nanti dia jemput ke sana saja."
"Oke! Eh, tapi aku nanti ikut kamu ke tempat yang kamu maksud, ya?"
"Kamu tidak bisa ikut, Na. Pokoknya kamu tunggu aku di rumahmu saja."
Niana melihat curiga pada Aira. "Kamu sedang menyembunyikan sesuatu dariku, ya?"
"Tidak ada. Cepat hubungi suamiku."
Niana sebenarnya curiga, tapi jika sahabatnya itu tidak mau bercerita, dia tidak akan memaksa.
Niana menghubungi Addrian dan mengatakan jika dia mengajak Aira ke rumahnya. Addrian mengizinkan, dan nanti pulangnya Addrian akan menjemput di rumah Niana.
Niana dan Aira pulang dengan naik mobil online. Niana turun di depan rumahnya dan Aira pergi ke suatu tempat.
"Hati-hati, Ai."
"Iya, tunggu saja aku. Jangan lupa buatkan aku minuman kesukaanku." Aira terkekeh.
"Cepat kembali, Ai. Kamu benar-benar membuatku cemas."
Niana ini sebenarnya khawatir dengan Aira, dia takut Addrian mengetahui kebohongannya lagi dan akhirnya timbul masalah di antar mereka.
Sekitar satu jam Aira pergi. Niana cemas menunggu di rumahnya, dia mondar mandir sambil komat kamit sendiri.
"Na, kamu ini kenapa?"
"Aku menunggu Aira datang, Bu."
"Aira mau ke sini?"
Niana menceritakan tentang apa yang mereka rencanakan tadi. Ibu Niana menyayangkan sikap Aira yang tidak sepatutnya berbohong dengan suaminya.
__ADS_1
"Tapi Aira ingin membuat kejutan untuk suaminya, Bu."
Wanita yang memiliki wajah hampir mirip Niana ini tampak berpikir. "Ibu jadi bingung juga kalau begini."