
Syahna yang baru saja bangun langsung menuju dapur melihat setiap kegiatan memasak para rekan yang lebih tua dari nya. Syahna ingin sekali membantu mereka, namun saat Syahna mendekati dapur dan ada kompor yang menyala Bibi Lena akan memarahinya tidak tau apapun alasannya Syahna tetap saja selalu kekeh terus menerus mendatangi dapur, membuat Bibi Lena harus menunggu di pintu dapur agar Syahna tidak terlalu masuk kedalam ruangan masak.
"Bibi apa kau akan terus berjaga didepan pintu ini selamanya?" tanya Syahna dengan nada seraknya.
"Iya sampai aku tua pun aku akan tetap menjaga pintu ini pagi-pagi agar kau tidak bandel masuk kedalam ruangan masak" balas bibi Lena serius.
"Apa sih yang membuat kalian itu selalu saja melarang ku masuk kedalam ruangan masak, padahal aku baik-baik saja" kini Syahna memanyunkan bibirnya. Bibi Lena hanya menghela nafas lalu memeluk Syahna tiba-tiba.
"Suatu saat kau akan tau Syahna kenapa kami melarang mu kesana" bisik bibi Lena membuat Syahna yang masih mengantuk jadi segar.
"maksudnya bibi?"
"Sudah-sudah kau mau apa aku ambilkan" elak Bibi Lena agar Syahna tidak terus menanyakan nya.
Selalu seperti ini, mengelak omongan ku
"Aku ingin sereal dan susu bi" Syahna mengurung kan niatnya untuk terus bertanya-tanya. Pasti pertanyaan akan selalu di tolak mentah-mentah oleh Bibi Lena. Bibi Lena langsung mengambil yang di butuhkan Syahna untuk sarapan pagi.
Selama makan Syahna memikirkan kejadian setiap pagi kenapa bibi Lena melarang nya, kadang mengingat hal itu membuat nya sakit kepala.
"Kak...." sebuah tangan kecil membuat Syahna menjatuhkan sendok nya karena kaget.
"Astaghfirullah alazim, sayang bikin kaget kakak aja" Syahna mengambil sendok nya lalu menggendong anak kecil itu kepangkuan nya.
"Kakak aku mau makan lapar" keluh nya ke Syahna. Baru saja ingin berbicara Tina sudah berteriak dari arah dapur.
"Taraaaa makanan telah siaapp" teriak Tina yang selalu saja ia lakukan setelah selesai memasak.
"Wahh nasi goreng kesukaan ku yes yes" ucap gadis kecil dengan begitu girang melihat Tina membuat nasi goreng kesukaan nya. Syahna dan Tina menatap gemas ke arah gadis kecil itu kemudian mencubit pipinya bergantian.
"Riana" panggil Syahna saat melihat Riana baru saja keluar dari kamar nya.
"Bangunin anak-anak ya"
Riana mengangguk lalu masuk keruangan bel untuk menyalakan bel pagi hari. Sudah kebiasaan di panti ini, sejak kehadiran Syahna bibi Lena memutuskan memasang bel di setiap kamar anak-anak dan berbunyi saat waktu nya. Tidak butuh lama semua anak panti turun dari lantai atas, berbeda untuk para balita dan batita mereka berada di kamar bawah. Bahkan semenjak kehadiran Syahna anak panti lebih patuh dan lebih nurut, sekarang pun mereka sedang bercuci tangan secara bergantian dan membasuhi wajah nya. Semua nya sudah duduk dengan rapih, Syahna yang memimpin doa.
"Berdoa menurut ke yakinan nya masing-masing di mulai" ucap Syahna yang memimpin doa. Semua anak berdoa dengan khusyuk, selesai berdoa mereka makan bersama. Tidak butuh waktu lama mereka semua telah selesai, dari beberapa mereka siap-siap untuk sekolah dan lain nya bersiap untuk bermain dengan satu sama lain.
Melihat semua anak apa Syahna juga memiliki masa kecil seperti mereka, rasanya ingatan Syahna hanya lah sebuah tempat kosong tidak memiliki ingatan apapun tentang masa kecilnya. Bahkan saat melihat Raina dan kakak nya bermain bersama membuat Syahna menangis. Ia ingin sekali mengingat bahwa dirinya pernah merasakan semua itu.
__ADS_1
"Sayang kenapa menangis?" suara tegas serta wangis maskulin yang menguak masuk kedalam pendengaran serta penciuman Syahna membuat nya melotot tak percaya akan kehadiran Holmes serta Frans.
"Kakek!" pekik Syahna berlari memeluk Frans gembira, bagi Syahna Frans adalah sosok kakek serta Ayah yang membuat nya merasa sedikit memiliki keluarga selain orang panti asuhan. Melihat kakek nya di peluk Syahna Holmes berdecih lalu masuk begitu saja.
"Dasar lelaki tua kurang aja, lihat saja aku akan mendapatkan semuanya!" gerutu Holmes selama melangkah. Sedangkan Frans membalas pelukan Syahna dengan penuh kasih sayang.
"Mari kek masuk" ajak Syahna lalu di angguki Frans.
Semua rekan Syahna langsung berkumpul mengetahui Holmes dan Frans datang berbarengan.
"Selamat Pagi Tuan besar dan Tuan Muda"
"Selamat pagi kakek dan Selamat pagi Om Holmes"
Holmes hanya memasang wajah datarnya tidak ada balasan darinya berbeda dengan kakek nya yang selalu ramah kesemua orang.
"Ke ke ihat nih Cilo ikin gambal agus dong" ucap salah satu anak kecil yang menghampiri Frans menunjukkan gambar yang ia buat sejak selesai mandi.
"Wah cucu opa yang satu ini pintar nya yaa. Yuk main sama opa di belakang, Jom" ajak Frans menggendong anak itu lalu mengajak anak lain-lain nya. Itu lah kebiasaan Frans sejak pertama kali nya ia menaruh sumbangan ke panti tersebut, ada kenangan yang tak ia bisa lupakan dalam panti tersebut bahkan panti itu lah yang pertama kali membuat nya bertemu dengan istri pertamanya yang sudah lebih dahulu meninggalkan nya untuk selamanya.
Holmes sebenarnya tidak ada niat untuk ke panti ini, karena nanti siang ia harus mengadakan rapat. Tetapi saat mengingat bahwa ada pujaan nya Holmes pun ikut dengan Frans hanya beralasan ingin bertemu dengan Syahna, namun wanita itu tidak menggubris kehadiran nya. Membuat Holmes gemas, ada ide usil yang tiba-tiba muncul di otaknya.
"Hei kamu sini-sini" panggil Holmes pada salah satu anak kecil didekat nya. Anak itu menurut saja.
"Tolong berikan ini kepada Kakak itu?"
Anak lelaki itu menoleh ke Syahna lalu kembali menatap Holmes curiga
"Paman mau ngapain kakak!" nada anak itu berubah, Holmes harus sabar menghadapi anak-anak.
"Aku tidak berniat jahat, sekarang berikan permen ini. Lalu bilang seperti ini ya 'Kakak ini permen dari calon suami mu'. Tetapi kau berbicara dengan berteriak ya, mengerti tidak?"
Anak lelaki itu sempat terdiam lalu mengangguk lalu mengambil permen yang di tangan Holmes lalu menuju ke arah Syahna, Holmes tersenyum senang.
"KAKAK, KATA PAMAN ITU INI PELMEN DALI SUAMI KAKAK" teriak anak lelaki itu membuat semuanya menoleh ke arah suara. Syahna membulatkan matanya, tidak percaya yang di ucapkan anak lelaki itu.
Syahna melirik tajam Holmes, kemudian ia mengambil permen nya. Sungguh Syahna harus lebih banyak belajar bersabar lagi semenjak kehadiran lelaki itu.
"Kau ini apa-apa sih. Jangan asal mengajari omongan yang tidak pantas!" ucap kesal Syahna, Holmes hanya memasang wajar datar memberikan kesan ia tak perduli. Walaupun dalam hatinya ia sangat gembira.
__ADS_1
"Hei dengar tidak, kau itu tuli dan bisu ya!" Holmes tidak membuka suaranya, dia memang sengaja membuat gadis itu marah ada hal tersendiri membuat nya senang ketika melihat wajah kesal Syahna.
imut dan lucu saat marah
"Dasar manusia aneh, sudah lah kau selalu menyebalkan!" merasa lelah tidak ada jawaban dari Holmes, Syahna memilih meninggalkan lelaki itu. Namun tanpa di sangka...
Cup
Benar-benar di luar dugaan, semua rekan panti menutup mulutnya tak percaya Holmes mencium sekilas pipi Syahna. Frans yang melihat itu menutup wajah nya malu dengan kelakuan cucu nya.
"Kakek aku pamit kekantor duluan" ucap nya sedikit meninggi kan suaranya agar Frans mendengar nya di ruang sebelah. Melihat wajah Syahna memerah akibat malu serta kesal Holmes buru-buru menghubungi Derga, lalu meninggalkan panti begitu saja.
"HOLMES KAU GILA!" teriak Syahna melihat Holmes pergi begitu saja tanpa meminta maaf.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Next to be continued 👉