
Selepas makan siang yang terlambat, mereka semua pergi ke pantai untuk surfing.
Steven mengeluh saat bibirnya yang pecah terkena air laut. Perih.
Ini harga yang harus dia bayar saat dia berani mencium Reva tapi tidak mau mengatakan bahwa Jenny bukan pacar nya.
Josh mengejeknya.
Jenny apalagi.
Dan teman-temannya yang lain menepuk pundaknya sambil tertawa lebar.
Belum lagi pukulan dan tendangan dari Sandy.
Sandy tidak main-main saat sparring tadi walaupun masih dalam batas olahraga.
Badannya sakit-sakit.
Steven dengan lesu mengangkat papan surfingnya.
Reva lagi-lagi tidak mau didekati.
Dia menjauh.
Dan kadang...karena Steven sering dikelilingi oleh teman-temannya, Reva mendayung sendirian.
Mengambil ombak yang jauh darinya.
Walaupun itu hanya ombak kecil, Reva kelihatannya tidak masalah.
Dari jauh terlihat Reva mendayung.
Ada calon ombak di ujung sana.
Kelihatannya tinggi.
Steven mendayung.
Menyusul di jalur yang berbeda.
Ada satu lagi yang juga sedang berada di belakang Reva.
Sandy mendayung.
Dia sejak tadi berusaha berada di dekat Reva.
Dia mengkhawatirkan Reva.
Reva selalu mengambil jalur yang sepi.
Memang enak, sebab tidak perlu khawatir akan bertabrakan dengan surfer lain.
Sandy juga tau mengapa Reva mengambil jalur sepi.
Dia sedang menghindari Steven.
Tapi masalahnya, Reva tidak terlalu pandai berenang.
Salah satu kelemahan Reva.
Reva mengandalkan papannya untuk tetap bisa mengapung saat dirinya tertelan ombak.
Sandy melihat ombak.
Dilihatnya Reva sedang mengangkat badannya.
Bersiap-siap untuk berseluncur.
Sandy pun mengangkat badannya.
Dia melihat Reva melewatinya.
Ombak datang.
Sandy membalikkan papannya.
Berseluncur.
Menikmati hempasan angin di wajahnya.
Menikmati kebebasannya.
Di depan Reva tergulung ombak.
Dia jatuh.
Papan surfing menghantamnya dengan keras saat dia berusaha berpegangan supaya tidak tenggelam.
Sandy melihat semuanya.
Dia melompat.
Menceburkan diri ke laut.
Ombak menggulungnya.
Sandy menahan nafas.
Tau bahwa butuh sepersekian detik untuk muncul ke permukaan.
Dia membuka matanya di dalam air.
Berusaha mencari posisi Reva.
Nafasnya habis.
Sandy naik ke permukaan. Berenang.
Menatap papan kosong di depan.
Sandy mengambil nafas. Lalu menyelam kembali.
Matanya mencari-cari.
Sosok tubuh melayang di depannya.
Sandy berenang semakin cepat.
Reva !!
Sandy menangkap tubuh Reva.
Reva pingsan.
Sandy berenang ke permukaan.
Membawa Reva.
Tangannya menjepit tubuh Reva yang terkulai.
Ombak datang.
Sandy melemaskan dirinya.
Mengikuti ayunan ombak.
Setelah turun, dia menarik papannya.
Dengan mengerahkan tenaga, dia mengangkat tubuh Reva agar berbaring di papan.
Sandy terengah-engah.
Velcro yang mengikat kaki Reva dengan papan dilepaskan lalu diikatkan di kakinya sendiri.
Sandy berenang mendorong papan.
Tangannya sesekali menepuk pipi Reva.
"Va !! bangun !!" teriaknya.
"Va ! bangun Va !"
"Reva !!"
__ADS_1
Kepanikan mulai merambati dirinya.
"Va!! Kamu harus bangun.
aku udah capek-capek nolongin kamu.
Bangun Va !!" katanya terus mendorong sekuat tenaga.
Matanya menangkap teman-temannya yang mendekat.
"Va... Jangan tinggalin aku
Inget Papa Mama kamu !"
Sandy terengah-engah.
Matanya memincing.
Sedikit lagi.
Di pantai orang sudah mulai berkumpul.
Semua melihat kejadian itu.
"Va !
Bangun Va..
Kamu harus bangun.
Kamu hutang nyawa sama aku !
Kamu harus bayar !!"
Sandy terus berbicara.
Saat kakinya sudah mulai menginjak pasir, langkah Sandy semakin cepat mendorong pasir.
Lalu dia mengangkat tubuh Reva dari papan.
Berlari ke pantai.
Hati-hati direbahkan nya tubuh Reva yang lunglai.
Dia membetulkan letak leher Reva.
Jarinya ditekan untuk mencari detak nadi.
Tidak ada.
Tangannya diletakkan di dada dan mulai menekan.
Sandy menghitung hingga seratus.
Melakukan kompresi.
Dia lalu berhenti.
Meletakkan telinganya di dada.
Mencoba mendengar kan detak jantung.
Tidak terdengar apapun.
Reva masih tetap diam.
Sandy mendongakkan kepala Reva
Menjepit ujung hidungnya lalu meniupkan nafasnya ke dalam mulut Reva.
Dua kali
Terdengar nafas tersentak dari arah orang yang menontonnya.
Sandy tidak peduli.
Dia kembali meletakkan tangannya di dada dan mulai melakukan kompresi kembali.
Lalu berhenti.
Reva masih tetap diam.
"Ayo Va...
Ayo !!" bentaknya.
Dia kembali membuka mulut Reva.
Menjepit hidungnya lalu meniupkan nafas.
Saat dia hendak melakukan kompresi kembali, Liu sudah menggantikannya.
Sandy diliputi rasa cemas luar biasa.
"Ayo Va !
Kamu harus kembali.
Tega kamu ninggalin Aku !" bentaknya menatap Reva.
Liu sudah selesai melakukan kompresi.
Sandy kembali menghembuskan nafasnya di mulut Reva.
Kali ini dengan sedikit keras.
Terdorong oleh rasa cemasnya.
Reva masih diam.
Sandy menunduk lagi.
Lalu...
Reva terbatuk.
Lalu batuk lagi.
Sandy menghembuskan nafas lega.
Reva batuk-batuk.
Sandy mengangkat kepala Reva.
Meletakkan di pangkuan.
"Om.." sapa Reva lemah.
Sandy tertawa. Lega.
"Mas.." katanya.
"Mas..." jawab Reva.
Sandy tertawa.
"Baru kali ini kamu nurut."
Reva tersenyum lemah.
"Kamu bikin cemas, Va." bisik Sandy
Reva mengangguk.
"Maaf Mas." pelan.
Sandy kembali tertawa.
Dia tidak peduli ditonton banyak orang.
Dia lalu menggendong Reva.
"Sini San !" kata Michael.
__ADS_1
Mobil sudah siap.
Sandy masuk dengan menggotong Reva.
Reva menyandarkan kepala nya di bahu Sandy.
Menutup matanya.
Nafasnya pelan.
Dan semakin pelan.
Sandy memundurkan kepalanya.
Berkerut.
Menatap tajam.
Lalu....
"Kel.. cepet... Kel !!" teriak Sandy panik
"Va...!!
Reva.!!" bentak Sandy.
Reva diam.
Tangannya jatuh.
"Ya Tuhan..."
Sopir hotel tancap gas.
Segera menuju rumah sakit yang dia ketahui paling dekat.
"Va...!!
Please.. please...
Cepetan Mas..." teriak Sandy dari belakang.
Sopir hotel yang panik membelok tajam menghantam palang parkir.
"Gak papa Pak..
Saya ganti...saya ganti..." kata Michael.
Sopir langsung tancap gas menuju UGD.
Mengerem mendadak.
Langsung turun dan membuka pintu belakang.
Sandy berlari.
Michael bergegas membuka pintu.
Sandy masuk dan langsung berteriak.
"Emergency mas !!
Emergency."
"Kenapa ?" Dokter jaga bergegas menghampiri.
"Tadi tenggelam.
Saya kasih cpr.
Sadar.
Terus di mobil hilang kesadaran lagi." jawab Sandy.
Sandy meletakkan Reva di brankar.
Lalu mundur.
Dua perawat datang.
Tirai ditarik.
Sandy dan Michael mundur.
Pintu UGD dibuka.
Steven dan teman-temannya masuk.
Mereka menyusul tepat dibelakang mobil Sandy.
Steven menatap Sandy.
Melihat raut kecemasannya.
"Gimana ?" tanyanya cemas.
"Tadi di mobil pingsan lagi." jawab Michael.
Steven terdiam.
Dari dalam terdengar dokter melakukan kejut jantung.
Sandy berdoa diam-diam.
Ya Tuhan.
Kembalikan Reva.
Kembalikan Reva.
Aku janji akan menjaga dia.
Aku janji akan merawat dia.
Terus. Seumur hidupku, doanya.
Pintu terbuka.
Tia, Robert, Biliyan, Cindy, Jenny masuk.
Tia mendekati Michael.
"Gimana ?" tanyanya berbisik.
"Tadi di mobil pingsan lagi.
Itu lagi...." Michael menunjuk tirai yang tertutup.
Alarm dari hemodinamik berhenti menjerit dan sekarang suara detak teratur terdengar.
Sandy menegang.
Tanpa sadar langkahnya mengayun mendekati tirai.
Cindy menggapainya.
Sandy menoleh. Menepis.
Tangannya bersedekap.
Dia sedang ingin sendiri.
Cindy mundur.
Terpukul dengan penolakan Sandy.
Dia memandang Sandy.
Memperhatikan.
Mempelajari.
...⛰️🍎🎋...
__ADS_1