Kamu Milikku

Kamu Milikku
Kehidupan Tenang Aira part 1


__ADS_3

"Aku tidak tahu, Addrian, untuk sementara ini mungkin aku akan fokus kembali dengan pekerjaanku mencari uang agar kebutuhanku dan Langit tetap terpenuhi walaupun neneknya Langit berjanji akan terus membiayai kebutuhan kami, meskipun kami tinggal di sana, tapi aku tidak mau. Aku akan berusaha sendiri."


Aira memeluk Shelomitha dengan erat. "Aku minta maaf ya, Mitha, jika aku sudah membuat kehidupan kamu selama ini tidak berjalan dengan baik, aku sendiri tidak tahu kenapa mas Dewa bisa berubah seperti ini padahal waktu kenal dia dulu orang yang menyenangkan dan sangat baik?"


"Aku tidak menyalahkan kamu, Aira, Dewa terlalu mencintaimu dia tidak bisa menerima segalanya semoga dia mendapatkan kebahagiaannya saja."


"Aku doakan semoga kamu akan bahagia."


"Terima kasih, Aira, terima kasih kamu ternyata sangat baik padaku, dan aku sangat jahat sama kamu waktu itu."


"Sudahlah! Tidak perlu dibahas lagi, masalah itu aku sudah melupakannya."


"She, kamu jangan lupa jika ada apa-apa hubungi aku atau Aira, anggap kita adalah saudara kamu."


"Iya, Addrian, terima kasih kamu memang sahabat terbaikku, mungkin aku akan pergi ke rumah kedua orang tuak, bukan untuk apa-apa. Aku ingin meminta maaf pada mereka semoga saja mereka akan memaafkanku nantinya, dan mau menerima Langit."


"Aku dan Mas Addrian akan mendoakan kamu selalu."


Mereka bertiga berbicara hingga malam.


"Nadin, aku senang berkenalan dengan kamu. Kamu cantik dan juga baik."


"Terima kasih Langit, kamu juga baik


"Apa aku tidak tampan, ya? Kenapa kamu tidak mengatakan aku tampan?"


"Iya, kamu sangat tampan, tapi aku tidak mau berpacaran dengan kamu."


"Berpacaran? Memangnya kamu tahu arti berpacaran?"


"Tahu. Temanku malah di sekolah bilang kalau dia ingin jadi pacarku. Kalau berpacaran nanti dia memegang tanganku jika berjalan berdua. Aku tidak mau berpacaran karena berpacaran hanya untuk orang dewasa kita masih kecil.


"Kalau begitu kita berteman saja Nadin."


"Baiklah, kita berteman."


"Oh ya! Aku akan pindah ke London nanti kamu minta tante Aira untuk menghubungiku jadi kita bisa bicara."


"London itu di mana? Apa di dekat sini? Kalau didekat sini aku langsung saja ke rumah kamu."


"Bukan di dekat sini, Nadin. London itu sangat jauh, kalau mau ke sana harus naik pesawat terbang."


"Hah? Pesawat terbang? Aku tidak berani nanti kalau jatuh bagaimana?"

__ADS_1


Langit terkekeh mendengar pertanyaan Nadin. "Tidak akan jatuh karena ada pilot yang mengendarainya dengan baik."


"Oh ... begitu! Kenapa kamu harus ke sana? Kenapa tidak tinggal di sini saja?"


"Mamiku tidak mau tinggal dekat dengan papiku karena kalau tinggal dekat papiku pasti mamiku akan menangis."


"Langit, kamu masih punya ayah, ya? Kalau ayahku sudah meninggal, ibuku berada dalam penjara. Jadi, aku tinggal dengan tante Aira dan Om Adrian." Nadin terlihat sedih dari wajahnya.


Langit mengeluarkan sapu tangan miliknya, dia mau menghapus air mata Nadin dengan sapu tangan itu. "Sudah jangan menangis, kamu seperti mamiku saja suka menangis."


"Terima kasih, Langit, sapu tangan kamu bagus sekali."


"Itu aku diberikan oleh mamiku, dia yang membuatnya sendiri. Mamiku suka sekali membuat baju-baju, kapan-kapan aku akan meminta mamiku untuk membuatkan baju yang sangat bagus untukmu."


"Terima kasih, Langit."


"Bawah saja itu sapu tanganku, kamu harus menyimpannya, ya?"


"Iya akan aku simpan."


Tidak lama mereka ke ruang tamu dan mengajak Langit untuk pulang.


"Mitha, kalau kamu mau berangkat ke London, jangan lupa memberitahu kita, ya?"


"She, jaga dirimu baik-baik, jaga juga Langit dan kamu harus benar-benar melupakan Dewa, jangan menyiksa dirimu sendiri."


"Iya, Addrian, terima kasih sekali lagi. Kalau begitu aku pergi dulu."


Malam itu Nadin diajak bermain oleh Addrian sampai dia tertidur dan kemudian Addrian membawanya ke dalam kamarnya.


Di dalam kamar Aira tengah memberi ASI pada Andrei.


"Apa Nadin sudah tidur, Mas?"


"Sudah. Tadi dia bercerita juga jika diberi Langit saputangan dan dia menunjukkan saputangan itu. Mereka berdua anak-anak yang lucu."


"Sebenarnya tadi, aku juga ingin mengajaknya main, tapi Mas tahu sendiri Andrei tiba-tiba terbangun dan menangis."


"Iya tidak apa-apa, sayang, Nadin juga tahu hal itu."


Aira melihat Andrei sudah tertidur dan dia meletakkan ke dalam box bayinya.


"Sayang, apa kamu lelah? Sini biar aku pijitin."

__ADS_1


"Jangan, Mas, kamu sendiri juga lelah." Aira bersandar pada dada suaminya. "Mas, apa kamu yakin jika Shelomitha dapat benar-benar melupakan Mas Dewa?"


"Aku tidak tahu, kita hanya bisa berharap saja karena pria seperti Dewa tidak perlu dia pikirkan terus-menerus."


"Tapi kalau hati sudah terlanjur mencintai, juga akan sangat susah melupakan jika dia tidak menemukan orang baru atau tidak mau membuka dirinya."


"Kita lihat saja nanti aku benar-benar pusing sebenarnya hari ini."


"Ada apa, Mas? Apa ada masalah di kantor?"


"Aku membutuhkan seseorang untuk membantu pekerjaanku. Aira, kamu tahu sendiri jika Citra sudah membuat kaki Mba Mona seperti itu.


"Iya, Citra benar-benar jahat sampai tega menyakiti Mba Mona seperti itu."


"Aku sedang mencari orang yang tepat untuk menjadi sekretarisku, tapi aku belum mendapatkannya."


Kenapa, Mas? Apa tidak ada yang melamar pekerjaan di sana yang memenuhi kriteria yang Mas cari?"


"Sebenarnya ada dan memenuhi, hanya saja mereka tidak cuma pintar dalam pekerjaan, tapi juga-- ." Addrian melirik ke arah istrinya.


"Tapi juga apa, Mas?" Addrian hanya tersenyum. "Mas jangan membuatku penasaran seperti itu. Katakan apa maksudmu?"


"Mereka pintar dalam merayu bosnya. Ya, bisa dibilang seperti itu."


"Kamu jangan genit ya, Mas! Ingat kamu sudah memiliki seorang anak."


"Memangnya aku pernah genit dengan para wanita? Mereka yang coba merayuku, aku tidak pernah merayu mereka, kamu saja yang aku rayu selama ini."


"Kalau begitu kamu tidak perlu mencari sekretaris baru lagi, biar aku saja nanti yang menjadi sekretaris pribadimu. Bagaimana?"


"Kamu serius ingin bekerja di perusahaanku? Lalu, bagaimana dengan Andrei?"


"Andrei nanti biar aku minta tolong mama atau kalau tidak kita tunggu Bibi Anna keluar, pasti Bibi Anna mau."


"Baiklah kalau begitu, tapi sebelum bekerja kamu harus menjalani tes dulu karena tidak sembarangan yang bisa menjadi sekretaris pribadiku."


"Memang ada tes seperti itu? Setahuku hanya menunjukkan CV saja dan melihat kemampuannya dalam bekerja."


"Memang benar seperti itu, tapi khusus kamu berbeda, Sayang, kamu harus menjalani ujian dulu untuk lulus atau tidak menjadi sekretarisku."


"Nama ujiannya apa kamu bisa dengan baik membuat atasan kamu ini bahagia atau tidak?" Tangan Addrian sudah berada pada kancing baju Aira.


Satu per satu kancing itu dibuka oleh Addrian. "Dasar bos mesum, mana ada ujian seperti ini untuk menjadi sekretaris pribadi?"

__ADS_1


__ADS_2