Kamu Milikku

Kamu Milikku
Menggendong Sybill


__ADS_3

Reva menggendong Sybill, bayi mungil adik Billy.


Tak henti-hentinya dia mencium.


Setelah orang tua Robert dan Michael pulang, baru dia punya kesempatan menggendong Sybill sepuasnya.


Dua hari lusa tidak ada kuliah.


Jadi dia memutuskan untuk ikut dengan Robert dan Michael sepulang latihan jiu jitsu.


Biliyan dengan senang hati menerima bantuan menggendong Sybill.


Pintu terbuka.


Tia masuk.


"Va..." sapanya sambil duduk di sebelah Reva.


"Kamu diajakin manggung bareng tuh.


Sama anak-anakku.


Tinggal drummer aja..


Mereka gak punya."


Reva mencium sekali lagi.


"Buat kapan Tante ?"


"Kawinannya Elle."


"Oh... Tante Elle mau kawin?"


Tia mengangguk.


"Kapan ?"


"Dua bulan lagi.


Mau ya ?


Kasian..gak enak kalo gak ada drummer nya.


Mereka bikin grup..Bikin lagu baru juga.


coba deh dengerin." kata Tia sambil membuka ponselnya.


Alunan suara tiga penyanyi wanita terdengar. Diiringi oleh gitar dan keyboard.


Ada tiga lagu.


Reva mendengarkan sambil mengetukkan kakinya mengikuti irama lagu.


"Tapi aku cuma bisa Sabtu Minggu, Tante." katanya.


"Gak papa..


Mereka juga mau kok jalan-jalan ke sana.


Ada satu orang yang kuliah di sana juga.


Adik kelas kamu. Ambil technologi management."


"Apa nama grupnya, Tante ?"


"SHE."


"Cewek banget ya..." komentar Reva.


"Iya..makanya butuh kamu, Va.


Jarang banget ada drummer cewek.


Padahal mereka pingin spesial band cewek."


"Eh..tapi..Tante.


Aku kan gak bisa ikutan terus kalo mereka manggung."


"Gak papa.


Tapi yang penting...nanti pas acaranya Elle, kamu ada.


Soalnya..sekalian launching lagu baru mereka."


Reva mengangguk-angguk.


"Lagunya enak-enak lho Tante.


Siapa yang nyiptain ?"


"Dua lagu mereka.


Satu lagu dari Jim.


Tuh..lagu ketiga.


Melow banget kan ?"


Reva tertawa.


"Khas Jim.


Kenapa sih dia suka melow gitu ?"


"Tau tuh !


Padahal... cewek nya gonta ganti terus.


Beberapa bulan lalu...si Cindy tuh.


Sekarang sih udah ganti."


"Cindy ?


Tahan berapa lama ?" tanya Reva ingin tau.


Tia tertawa.


"Dua minggu."


"Astaga..."


"Tante tanya..kenapa putus ?


Terus katanya...males...banyak tuntutan."


Reva tertawa..


Sybill berkedip-kedip mendengar tawa Reva.


"Ihh...lucu banget sih kamu !!"


Tia menowel pipi Sybil.


"Om gak tergoda, Tante ?


Adek buat Jason ?"


Tia tertawa.


"Tergoda juga..."


"Tante ?"


"Aku sih mau banget, Va..

__ADS_1


Nanti deh...


Abis launching single."


Terdengar pintu kamar di buka.


Biliyan mendekat.


"Kirain Reva ngomong sendiri." katanya sambil mencium Tia.


"Ihhh..Tante !!


Aku gak segitu gilanya yaa.." bantah Reva.


"Lagi ngomongin apa ?" tanya Biliyan sambil duduk.


"Adek buat Jason."


Biliyan memajukan bibirnya.


"Sebetulnya kalo lu mau Ti, bisa aja.


Lu kan gak perlu nurut banget sama Michael." katanya.


Tia tertawa.


"Ci...lu gak tau adek lu kayak apa ngeyelnya."


Reva menatap Sybill dengan sayang.


"Hmm...kalo Jason punya adek....


Kayak Mommy apa Papinya ya ?" katanya bergumam.


"Biasanya kalo perempuan sih..nurun dari bapaknya, Va." jawab Biliyan.


"Putih, sipit, hidung mancung." kata Tia.


"Jason matanya bulat." kata Reva.


Tia dan Biliyan saling berpandangan.


Tia lalu berdehem.


"Ini lagi ngomongin anak Michael apa anak Sandy atau anak Steven nih ?" tanyanya jail.


"Steven." jawab Reva tanpa Sadar.


"Eh...maksudku anak Om dong, Tante !!" katanya cepat-cepat menyadari kesalahannya.


Pipinya memerah karena malu.


Tia dan Biliyan tertawa.


"Oh..jadi Steven ya, Va ?" ledek Biliyan.


"Eh..enggak Tan !" bantah Reva.


"Udah resmi, Va ?


Gosipnya santer lhoo..." senyum Biliyan.


Reva memerah.


"Ih..Tante...


Gosip kok di denger." elaknya.


"Va..." kata Tia lembut.


Reva mengangkat matanya.


Menatap Tia lalu Biliyan.


"Tante kan tau..


"Kenapa kamu langsung ngambil kesimpulan begitu ?


Kan belum tentu juga, Va..."


Reva menunduk.


"Yah...pokoknya aku taunya begitu, Tante.


Jadi...


Mau gossip kek..


Mau bener kek...


Yang jelas...ini cuma sementara.


Gak akan berlanjut seperti Tante atau Tante Bili.


Aku....


Ehmm..aku cuma menikmati saja dulu.


Menikmati yang bisa kunikmati sekarang." katanya sambil mencium Sybill.


Sybill menggapai dengan tangan mungilnya.


Seakan mengerti kesedihannya.


Reva tersenyum menatap Sybill.


"Tante...


Kalo aja aku punya ASI, udah aku culik nih Sybill."


"Enak aja...


Terus aku gimana, Va ?


Aku kan juga butuh menyusui..bukan dia aja yang perlu disusui." jawab Biliyan.


"Ya udah, Va.. dua-duanya aja di culik.


Biarin Om kamu tidur sendiri." tukas Tia.


"Hm....bagus juga idenya.


Kita kabur aja... berempat.


Cewek-cewek." kata Biliyan.


"Mau kemana ?" tanya Reva.


"Ke gunung." jawab Tia.


"Hm..tiga hari.


Eh..enggak.


Seminggu !!" kata Biliyan.


Reva memajukan bibirnya, mencibir.


"Gaya Tante-tante ini...


Seminggu mau kabur dari suami.


Emang bisa ?


Eh....emang mau ?" cemoohnya.


"Mau dong !" kata Biliyan.

__ADS_1


"Bah !! kita liat nanti.


Seminggu ?


Sehari aja udah disusul sama Om." kata Reva.


"Taruhan Va ?" tanya Tia.


"Apa taruhannya ?" tanya Reva.


"Kamu maunya apa ?"


"Aku mau duit aja deh.


Tante ?"


"Hmmm...


bukan duit boleh ?" tanya Tia.


"Apa?"


"Temenin Om Sandy sebulan."


"Hah ?!"


"Temenin Om Sandy.


Seminggu." kata Tia.


"Aku tambahin duitnya.


Aku ikut taruhan sama kamu." cetus Biliyan.


"Berapa ?" tanya Reva.


"Enam bulan uang kontrakan apartemen." jawab Tia.


"Delapan." kata Reva.


"Kali dua." tambah Biliyan.


Reva menatap mereka berdua bolak balik.


"Deal.


Emang kenapa Om Sandy ?" tanya Reva.


"Gak tau.


Akhir-akhir ini murung.


Barangkali kamu bisa bikin dia seneng.


Waktu dulu sebelum mutusin Cindy, dia kan liburan sama kamu, Va.


Mukanya cerah." jawab Biliyan.


"Eh..tapi..nemenin apa dulu nih ?" tanya Reva.


"Nemenin aja, Va...


Kalo kamu lagi ke Methrob, kamu jangan di pantry terus.


Ke ruangannya."


"Oo..beneran cuma nemenin kayak gitu ?" Reva memastikan.


Tia mengangguk.


"Iya...cuma kayak gitu."


Reva menunduk menatap Sybil.


Dia kembali mencium.


Tia dan Biliyan saling berpandangan.


"Ti... Sandy jadi beli rumah." kata Biliyan.


Reva mendongak. Mendengarkan.


"Iya Ci, gue tau.


Kan gue yang bikin design interior nya." jawab Tia.


"Oo...kirain udah jadi dari sononya." kata Biliyan.


Tia menatap Reva sejenak.


"Dia mau selera Indonesia.


Jawa.


Dia kan tinggal lama di rumah gue yang di sana.


Jadi dia minta dibikinin yang senada.


Biar betah katanya."


"Berarti nanti istrinya kudu suka sama selera Jawa ya Ti." kata Biliyan sambil melirik Reva yang sedang menunduk menatap Sybill.


"Yaa....istrinya mungkin udah suka sama selera nya dia.


Makanya bisa dijadiin istri." jawab Tia.


"Emang Om Sandy udah punya calon, Tante ?" tanya Reva.


"Mungkin."


"Kan beli rumah gak harus ada calon, Va."


"Iya, Tante." jawab Reva.


"Tapi rumah lebih repot ngurusnya." sahut Biliyan.


"Ko Robert juga mau lho." kata Tia.


"Iya.


Emang tempat yang dipilih Sandy bagus sih." kata Biliyan.


"Bagus banget.


Mas Michael juga pingin katanya." kata Tia.


"Hmm...lu mau Ti?" tanya Biliyan.


Tia memandang Biliyan.


"Lu mau, Ci ?" Tia balik bertanya.


"Kita kayak sekarang aja.


Deretan. Tetanggaan."


Biliyan tersenyum lebar.


"Bener.


Kayak sekarang.


Kita semua."


Tia dan Biliyan saling berpandangan lalu melirik Reva.


...☘️🎀🌴...

__ADS_1


__ADS_2