Kamu Milikku

Kamu Milikku
Pembicaraan Masa Depan Niana.


__ADS_3

Citra mengatakan jika Aira memang waktu itu memasak dan rasanya keasinan, tapi Addrian tetap menghabiskannya.


"Aira jarang memasak mungkin memang bawaannya bayi yang sedang dia kandung."


"Memang ada semacam hal itu?" tanya Arlan pada Niana.


"Tentu saja ada, Mas Arlan. Tetanggaku hamil juga begitu. Dia yang orangnya memang sangat rajin dan supel, mendadak malas melakukan pekerjaan dan hobinya tidur terus saat dia hamil."


"Aku tau masalah itu, tapi apa Aira harus malas terus seperti itu? Kebetulan aku di sini jadi bisa membantu dia, tapi aku juga merasa tidak enak jika tiap hari Addrian makan dengan masakan aku, bukan istrinya."


Niana seketika tampak kesal dengan ucapan Citra. Niana merasa seolah Citra ini ingin menjelekkan sahabatnya secara tidak langsung.


"Niana, kamu juga ikut sekalian ke kampus?"


"Aku nanti saja, Mas, aku mau membereskan rumah Aira dulu, lagi pula aku masuk kampus siang hari ini."


"Ya sudah, kalau begitu aku akan pergi mengantar Citra dulu."


Niana mengangguk dan dia membantu Citra mengambil kruknya.


Setelah Citra pergi, Niana mulai membereskan rumah Aira, tapi Niana tidak masuk ke dalam kamar Aira karena memang dia tidak mendapat izin dari pemiliknya.


"Kamar Citra perlu dibersihkan apa tidak ya?" Niana tampak berpikir, dia mencoba membuka pintunya, tapi ternyata dikunci. "Sebaiknya tidak perlu, nanti malam saja kalau dia butuh bantuan untuk dibersihkan."


Niana tidak mau membuang waktu, dia segera membersihkan semuanya dan bersiap untuk dijemput oleh Arlan.


"Kamu siapa?" tanya seorang wanita tua yang menghampiri Niana yang sedang membuang sampah di halaman.


"Saya Niana, Nek, Nenek tinggal di sini?"


"Iya, rumahku di seberang sana. Aira, mana? Kenapa nenek tidak melihatnya?"


"Nenek kenal Aira? Dia sedang di rawat di rumah sakit karena alergi makanannya kambuh."


"Oh Tuhan! Lalu, keadaan Aira serta bayinya bagaimana?"


"Mereka baik-baik saja, Nek."


"Syukurlah. Aira gadis yang baik, dia suka sekali memberi nenek makanan setiap hari karena nenek memang tinggal sendirian di sini."


"Dia memang sahabatku yang sangat baik."


"Kamu sahabat Aira? Bukan gadis yang juga menumpang sementara di rumah Aira?"


Niana menggelengkan kepalanya. "Saya hanya menemani Citra yang tinggal di rumah Aira karena Citra kakinya masih sakit."

__ADS_1


"Gadis itu kenapa tinggal di rumah Aira, padahal dia memiliki rumah yang cukup bagus di beberapa blok dari sini?"


"Dia tinggal di rumah Aira karena dia mendapat perlakuan buruk dari pamannya di rumah, Nek."


"Perlakuan buruk pamannya?" Wajah wanita tua itu terlihat tampak heran


"Iya, dia kerap disiksa oleh pamannya di rumah saat pamannya pulang dengan keadaan mabuk. Bibi dan sepupunya tidak berani membelanya."


"Jadi, dia tinggal dengan paman dan bibinya? Tapi kenapa aku tidak pernah melihat ada seorang pria di rumahnya? Aku hanya melihat seorang wanita yang usianya kepala empat dan anak kecil berusia enam sampai tujuh tahun."


"Mungkin pamannya waktu itu keluar kota."


"Tapi aku memang sama sekali tidak pernah melihat ada seorang pria di rumahnya karena setiap hari aku berbelanja di toko depan rumah gadis itu."


"Nanti coba aku tanyakan pada Citra, Nek."


"Dia itu gadis yang jahat juga, beda dengan Aira yang baik sama anak kecil. Nenek pernah melihat dia memarahi gadis kecil yang tinggal di rumahnya hanya karena bajunya terkena ice cream yang gadis itu bawa."


"Oh ya?"


Tidak lama ponsel Niana berbunyi dan itu dari Arlan. Arlan mengatakan akan segera menjemputnya, tapi di tunggu di mini market dekat rumah Aira karena Arlan harus membeli sesuatu di sana.


"Nek, saya permisi dulu, kapan-kapan kita lanjutkan lagi bicaranya." Niana tersenyum manis dan pergi dari sana.


Niana menyapanya, dan terkejut dia disodori oleh kakak laki-laki Aira dengan sebuah coklat dan sekotak permen.


"Ini apa, Mas?"


"Untuk gadis manis biar tambah manis."


Niana tersenyum tidak percaya jika pria yang sudah lama dia kenal, tapi baru menjalin hubungan dengannya ini bisa romantis. Padahal selama ini Mas Arlan terkesan cuek orangnya.


"Memangnya dalam rangkah apa Mas Arlan memberiku ini?"


"Hari ini tepat kita satu bulan jadian, dan ini hadiah satu bulan kita."


Niana mengernyitkan dahinya. "Satu bulan? Bukannya kita sudah satu bulan lebih ya?"


"Tidak mungkin, kita jadian baru satu bulan dan tepatnya hari ini."


"Lebih, Mas!" seru Niana meyakinkan.


"Em ... kalau begitu dengan siapa aku jadian satu bulannya, ya?" Arlan tampak berpikir.


Niana mendelik mendengar apa yang dikatakan oleh kekasihnya itu. "Mas Arlan!"

__ADS_1


"Aku hanya bercanda, Niana. Maaf kalau aku lupa berapa lama kita jadian karena ingatanku cukup payah."


"Mas Arlan kenapa mendadak begini? Aku tidak menyiapkan apa-apa."


"Kalau kamu mau memberiku kado, itu gampang sekali. Bagaimana kalau kita ke hotel saja?"


"Mas Arlan! Apa ini sifat asli Mas Arlan yang tidak aku ketahui selain playboy?"


Sekali lagi pria itu tertawa dengan senangnya.


"Aku hanya bercanda. Aku minta maaf, Ya." Arlan mencubit kecil hidung Niana.


"Tidak apa-apa, Mas. Mas Arlan juga katanya ingin bicara sesuatu denganku. Apa itu, Mas!"


Arlan memegang tangan Niana. Tatapan mata Arlan pun terlihat lekat mematri kedua mata gadis pemilik wajah lembut itu.


"Niana, kalau nanti kita tidak berjodoh, apa yang akan kamu lakukan?"


Niana langsung dapat menangkap maksud dari kekasihnya itu.


"Mas Arlan tenang saja karena aku sudah menguatkan hatiku dari sekarang jika suatu saat nanti kita tidak berjodoh."


"Lalu, apa rencana kamu nantinya?"


"Mungkin aku akan menghabiskan waktuku untuk bekerja membantu kedua orang tuaku membiayai adik-adikku. Itu saja."


"Apa kamu tidak akan menikah?"


Niana sekali lagi melihat heran pada Arlan. "Tentu saja aku akan menikah, Mas, tapi jika aku sudah menemukan pria yang tepat untukku."


Arlan menarik Niana mendekat ke arahnya. Tangannya pun mengusap lembut pipi Niana.


"Jangan menikah dengan orang lain, tetaplah sendiri dan aku akan menjamin kehidupanmu, Niana," terang Arlan dengan nada lirih.


"Maksud Mas Arlan kalau aku tidak menikah dan Mas Arlan memiliki istri, aku akan dijadikan simpanan begitu?"


Arlan terdiam sejenak. "Kalau kamu bersedia, aku akan menikahi kamu secara siri dan kita diam-diam dari keluargaku."


Niana malah terkekeh. "Kenapa tertawa? Ada yang lucu?"


"Tentu saja lucu. Mas Arlan tidak sadar kalau aku ini seorang wanita juga? Mana mungkin aku menyakiti hati sesama wanita."


"Tapi aku juga tidak bisa melepaskan kamu, Niana. Kamu gadis yang sangat baik dan tulus mencintaiku."


"Wanita yang nanti menikah dengan Mas Arlan juga akan tulus menjadi istri Mas Arlan."

__ADS_1


__ADS_2