
Mami Sandy uring-uringan.
Sejak di telpon oleh Cindy yang mengabarkan bahwa Sandy memutuskan hubungan dengannya.
Cindy bercerita pada Mami dengan berurai air mata.
Termasuk kecurigaannya terhadap gadis yang merupakan keponakan dari Tia.
"Siapa namanya tadi ?" tanya Mami.
"Reva, Mam.." jawab Cindy tersedu-sedu.
"Dia berani godain Sandy ?"
"Iya Mam.
Dan sekarang...hu..hu...hu..."
Cindy betul-betul menangis.
"Udah..cep..cep..
Cindy tenang dulu.
Mami telpon Sandy.
Nanti kalo perlu Mami kesana." kata Mami.
"Mami mau ke sini ?" tanya Cindy kaget.
"Iya.
Mami mau menyadarkan anak Mami.
Udah bagus dapet kamu, kok malah dilepas."
Cindy kembali menangis.
"Mami cepetan ke sini.
Ya ?
Tinggal sama Cindy aja." katanya manja.
Mami tersenyum.
"Iya..iya..
Ntar Mami kesitu.
Eh..tapi Cindy sibuk gak ?
Kan syuting dramanya lagi ongoing ?"
"Ah..enggak papa Mi...
Pokoknya Mami ke sini.
Bantu Cindy menyadarkan Sandy.
Sandy harus cepet di sadarkan Mi..
Nanti keburu...
Nanti...huhuhu...." Cindy kembali menangis.
"Hush....
Jangan ngomong yang enggak-enggak.
Sandy anak baik.
Dia nurut kok sama Mami.
Nanti kita sama-sama menyadarkan dia.
Ya...
Udah jangan nangis." kata Mami menyabarkan Cindy.
Setelah beberapa lama lagi bertukar kata, Mami menutup telponnya.
Dia merenung.
Dia memang jarang melihat Sandy saat liburan kemarin.
Dan Reva ?
Dia malah belum pernah melihat gadis itu.
Keponakan Tia ?
Seperti apa itu keponakan Tia ?
Satu kampus dengan mereka semua, begitu cerita Cindy.
Malamnya saat makan malam.
"Pi... Sandy putus." kata Mami membuka pembicaraan.
"Putus ?
Sama yang artis itu ?" tanya Papi tidak peduli.
"Cindy, Pi.." Mami membetulkan dengan sabar.
"Hm..
Ya gak papa.
Namanya anak muda.
Masih nyari-nyari." jawab Papi.
"Tapi...
Aduh..Pi !!
Apa kurangnya Cindy ?
Cantik, terkenal, artis papan atas.
Terus...kemarin itu...keliatan lhoo...kalo dia cinta banget sama Sandy.
Kalo mereka kawin, Cindy pasti bisa bikin Sandy bahagia, Pi !"
"Yang bisa bikin Sandy bahagia ya Sandy sendiri, Mi." jawab Papi.
__ADS_1
"Ah..Papi nih !
Kalo laki-laki punya istri sempurna kayak Cindy, adem dia....
Gak lirik sana lirik sini." bantah Mami.
"Mi !
Gak usah ikut campur urusan Sandy.
Dia sudah dewasa
Kalo dia memutuskan untuk gak mau lagi pacaran sama Cindy, Mami harus terima keputusannya.
Sandy lebih tau daripada kita.
Kan dia yang ngejalanin."
"Tapi Pi.."
"Pokoknya Papi gak mau Mami ikut-ikutan urusan mereka.
Sandy pinter.
Papi percaya sama keputusan dia." tutup Papi.
Mami masih menatap Papi dengan rasa tidak percaya.
Setelah berdiam diri beberapa waktu..
"Pi..kapan Maminya Michael mau nengokin cucu ?" tanya Mami.
"Bulan depan.
Kenapa?
Mau ikutan ?" tanya Papi.
Mami mengangguk.
"Iya Pi...
Udah lama kita enggak pelesiran ke sana"
"Hayukklah kalo mau bareng mereka.
Nanti Papi tanya sama Pak Hermawan." jawab Papi.
Mami tersenyum.
Pokoknya dia harus ke Taiwan !
Satu setengah bulan kemudian....
"Billy !
Turun dong nak.
Kasian opa gendong kamu terus." tegur Biliyan pada Billy.
Billy dengan cemberut menoleh pada Biliyan.
Lalu menunduk di dada Papi Robert.
"Gak papa ya Billy.
Opa seneng kok. Udah lama gak ketemu." kata Papi Robert.
Jason pun cemberut.
Mereka sedang di mobil menuju kantor Methrob.
Ini hari Jumat.
Seperti biasa, Biliyan dan Tia datang ke kantor.
Kali ini bersama keluarga mereka.
Papi Mami tadi ingin ikut.
Beramai-ramai mereka masuk ke kantor.
Jason dan Billy langsung berlari ke pantry mencari Reva.
Tapi Reva belum datang.
Jason dan Billy lalu berlari ke ruangan Sandy.
"Om !!" teriak mereka berdua.
Sandy mengangkat matanya lalu tersenyum lebar.
"Oh..udah pada datang ya ?" sapa Sandy sambil berdiri dan menghampiri keduanya.
Dia membiarkan keduanya mencium pipinya.
Robert muncul di pintu lalu berdecak.
"ck...ck..ck....
Anak Papi...belum ketemu Papi tapi udah langsung nyamperin Om." tegur Robert.
Billy senyum-senyum.
Dia mengambil mobil-mobilan dari rak Sandy lalu menghampiri Robert.
Mereka lalu menuju pantry.
Sandy berkerut.
Tidak ada Reva disitu.
"Reva belum datang ?" tanyanya.
"Belum." jawab Tia.
Satu jam kemudian telepon Tia berdering.
"Tante...
Minta maaf..aku hari ini gak bisa datang ke sana?" kata Reva.
"Oh...kenapa? Sibuk ?" tanya Tia menatap Sandy yang juga sedang menatapnya.
"Iya Tan...
Nanti malam juga gak bisa ikut makan malam, Tan.
__ADS_1
Ada acara.
Minta maaf Tan.." kata Reva dari seberang telpon.
"Iya gak papa Va.
Nanti kapan-kapan kita bisa makan malam bareng lagi." jawab Tia.
"Kenapa ?" tanya Sandy.
"Reva gak bisa ikut. Ada acara katanya." jawab Tia.
"Nanti malam juga ?" tanya Sandy memastikan.
Tia mengangguk.
Sandy berdiri diam sambil melipat tangannya.
Dia sedikit kecewa.
Empat jam kemudian.
Mereka semua duduk di meja di restoran tempat mereka biasa berkumpul.
Sandy tadi menjemput dulu Papi Maminya di apartemennya dan kemudian menyusul teman-temannya.
Dia duduk diantara Tia dan Mami Robert.
"Akhirnya kita bisa kumpul lagi kayak gini." kata Mami Michael.
"Sayang Mama kamu gak bisa ikut, Tia." sahut Mami Robert.
"Iya Tante.
Mama harus dampingin Papa ke acaranya Eyang." jawab Tia.
"Mudah-mudahan....lain kali bisa lebih lengkap." sahut Papi Michael.
Sandy menatap satu kursi yang kosong di samping Mami nya.
"Halo..."
Sandy mengangkat matanya.
Terperanjat melihat Cindy berdiri di dekat meja mereka.
"Aah...
Cindy....
Ayo sini..duduk...duduk.
Mami udah siapin tempat duduk buat kamu." sapa Mami Sandy dengan wajah cerah.
Semua yang ada di meja saling berpandangan.
Cindy tersenyum.
"Halo semua..." sapanya dengan senyum manis terkembang di bibirnya.
"Halo Cindy.
Aku gak tau kalo kamu mau ikutan." sapa Tia.
"Iya..
Tante yang ngajak." jawab Mami Sandy.
"Oh....kalo gitu silakan.
Ada kursi kosong di samping Maminya Sandy." kata Mami Michael.
Cindy lalu mendekat.
Duduk di samping Mami Sandy.
"Sudah lama ?" katanya.
"Ah enggak..baru aja datang." jawab Mami Sandy.
"Apa kabar semua ?
Baru datang ya ?
Sandy kok gak ngomong kalo Mami Papi mau datang ?" kata Cindy.
"Ya..kenapa harus bilang ?" jawab Sandy pendek.
Mami Sandy menatap Sandy.
"Kok gitu San...
Kasih tau dong sama Cindy kalo Mami mau datang." jawab Mami.
Sandy memilih tidak menanggapi.
Dia diam saja.
Cindy sedikit mengkerut.
"Ayuk kita mulai..
Udah lengkap nih.." ajak Mami Sandy.
Kembali yang lainnya saling berpandangan dan memandang Sandy.
Malam itu Sandy lebih banyak diam.
Dia marah sekali.
Mami lagi-lagi mencampuri urusan pribadinya.
Sementara Cindy banyak melirik Sandy.
Mencoba melibatkan Sandy dalam obrolannya.
Mami Sandy pun demikian.
Terus berusaha melibatkan Sandy.
Mengingatkan Sandy bahwa baru kemarin ini, Sandy dan Cindy adalah pasangan yang saling mencintai.
Dan sebaiknya mereka segera melanjutkan ke jenjang yang lebih serius.
Mengingat teman-teman Sandy juga sudah berkeluarga.
Tia, Michael, Robert dan Biliyan berusaha sebisa mungkin untuk mengubah arah pembicaraan.
__ADS_1
Tapi Mami Sandy terus kembali berbicara tentang perkawinan.
Dan Cindy serta Sandy sebaiknya segera meresmikan hubungan mereka.