
"Va..kamu ambil baju kamu dulu di kamar.
Aku mau kamu tidur di kamarku." kata Sandy.
Mereka sedang berjalan-jalan di dek. Menghirup udara malam.
Reva menempel di tubuh Sandy.
Mencari kehangatan sekaligus pernyataan kepemilikan.
Walaupun sudah bertunangan.
Walaupun akan menikah dalam waktu dekat.
Tapi Reva tadi melihat cara Cindy menatap tunangannya.
Dan dia merasa tidak aman.
Instingnya mengatakan bahwa perempuan itu ingin merebut Sandy dari tangannya.
Naluri posesifnya bangkit.
Walaupun Sandy cinta, tapi cinta itu juga harus dipelihara, di pupuk, dibesarkan.
Dan itu tugas dia.. Reva.
Mereka berbelok ke arah kamar Reva.
Di dalam kamar, Reva mengambil satu piyama dan sepasang dalaman.
Memasukkan nya ke dalam kantung kertas.
Sandy berdecak.
Dia mendekati lemari Reva.
"Eh..eh..Om...
mau ngapain ?! " protes Reva saat Sandy membuka lemarinya.
Sandy tidak menjawab.
Dia memilih-milih beberapa baju, mengambilnya dari gantungan, melirik ke bawah tempat baju dalam di letakkan.
Meraupnya lalu memasukkan semua ke kantung kertas.
Sandy menatap Reva.
Menantang nya untuk protes.
Tapi Reva tidak mengatakan apa-apa.
Malah bibirnya tersenyum.
Dia menyukai sikap posesif Sandy.
Menyukai gayanya yang mempertahankan dirinya.
Memilihnya.
Membelanya.
Melindunginya.
"Yuk.." ajak Sandy.
Berdua mereka kembali menyusuri dek.
Sandy menggenggam tangan Reva.
Satu tangannya membawa kantung kertas.
Hatinya senang.
Dia tidak perlu berdebat dengan Reva.
Entah mengapa...Reva jadi menuruti kemauannya.
Sandy bukannya ingin menikmati Reva sekarang.
Tapi dia ingin menikmati liburan di Cruise ini tanpa harus bertengkar karena Reva merasa cemburu.
Sandy bukan orang yang suka konflik.
Dia suka kondisi tenang.
Reva makin merapatkan tubuhnya pada Sandy.
Udara malam yang dingin dan gaun malam yang agak terbuka membuat kulitnya meremang.
"Kenapa ?" tanya Sandy saat mereka melewati kolam renang.
"Dingin Om." katanya.
Sandy melepaskan jasnya dan memakaikannya pada Reva.
"Om nanti kedinginan." kata Reva.
"Ah enggak.
Aku kan pake lengan panjang." kata Sandy.
"Yuk ahh..ke kamar aja." ajak Sandy.
"Sebentar lagi Om..
Aku pingin nikmatin laut."
Mereka bersandar di pagar.
"Kalo liat laut...
aku hampir kehilangan kamu, Va.." kata Sandy pelan.
Reva memiringkan tubuhnya.
"Makasih ya Om..
Aku gak pernah ngucapin terima kasih yang layak untuk Om karena udah nyelamatin hidupku."
Reva berjinjit mencium pipi Sandy.
Sandy menerimanya dengan hati berbuncah.
Dia menunduk, membalas ciuman Reva.
"Jadi apa aku kalo kamu gak ada, Va ?" bisiknya.
__ADS_1
"Ya jadi orang, Om." senyum Reva menatap mata Sandy.
Menikmati keteduhan di dalamnya.
"Kamu hadir waktu aku hilang arah, Va.."
"Om...
Om ini kan cuma lagi patah hati." senyum Reva.
Sandy diam.
"Kamu tau, Va..
Cindy itu pacar serius pertama aku."
Deg.
Pacar serius ?
Berarti.. Om Sandy dulu berniat serius mau nikahin Cindy, batin Reva.
Perasaan cemburu langsung melingkupi hatinya.
"Kalo dia pacar serius, terus aku apa, Om ?" tanyanya memancing.
"Istri." jawab Sandy pendek.
"Istri ya.." kata Reva termenung.
Nada suaranya membuat Sandy menoleh.
"Kamu mikir apa ?
Istri itu punya status lebih tinggi.
Punya hak atas suaminya."
"Iya." jawab Reva pendek.
"Kamu tuh mikir apa ?"
"Pacar biasanya lebih dicintai dibanding istri.
Istri itu..karena perempuan itu memang dipandang pantas untuk mendampingi suaminya.
Tapi pacar..kekasih...menempati lubuk hati paling dalam." jawab Reva menerawang.
Sandy berdecak tidak sabar.
Direnggutnya pinggang Reva.
"Bagiku..istri itu lebih dari pacar, Va.
Kamu menempati seluruh lubuk hatiku.
Dan ini bukan gombal.
Aku gak berani ngambil perempuan cuma karena alasan pantas jadi istri.
Aku mau hidup sama dia seumur hidupku.
Jadi.. aku harus cinta dia, Va.
Aku cinta kamu, Va.
"Yah..pokoknya..
Rule number one, Sandy Gunawan gak boleh selingkuh.
Rule number two, Sandy Gunawan cuman boleh cinta sama Revalina Anindya Djoyodiningrat.
Rule number three..."
"Rule number three, Revalina Anindya Djoyodiningrat cuman boleh cinta pada Sandy Gunawan dan tidak boleh selingkuh." kata Sandy menyela ucapan Reva.
"Ihh...Om..
Bikin aturan sendiri dong..
Masa nebeng punya aku ?" kata Reva tertawa.
"Kan kita bakal bersatu, Va.
Jadi bikin satu aturan aja.
Lagian...
Masa aku doang yang harus cinta dan gak selingkuh.
Kamu juga dong." protes Sandy.
Bibirnya dicebikkan sedikit.
Wajahnya semakin kekanakan.
Reva tertawa.
Dia memandang Sandy dengan sayang.
Mereka kembali berjalan.
"Om...
Beneran kita pulangnya pas udah dekat waktu nikah ?" tanya Reva.
"Hmm..iya.
Papi Mami aku sama Papa Mama kamu yang nyiapin semua.
Kita cuma tinggal dateng, nikah dan...
Ehemmm.. malam nya.." Sandy memutus perkataan nya.
"Dan malamnya ?
Resepsi ?"
"Malamnya belah duren..." bisik Sandy di telinga Reva.
Reva memerah.
Dia memikul pelan lengan Sandy.
"Om !!
Kan Udah sepakat.
__ADS_1
Tunggu enam bulan ya.."
"Aku gak pernah bilang iya lho."
"Om.. please.."
"Enggak janji."
"Om...please.
Enam bulan.
Setelah itu..
Aku milikmu, Om.
Seutuhnya." bujuk Reva.
Sandy tidak menjawab.
Enam bulan
Bukan waktu sebentar.
Istrinya tapi tidak bisa dia sentuh.
"Tapi kita tetep sekamar."
"Iya Om."
"Tapi aku tetap boleh nyentuh kamu."
"Hmm...iya."
"Bermesraan."
"Ee...oke."
"Buka semua."
"Om ..!"
"Boleh buka semua.
Boleh aku sentuh semua.
Boleh aku milikin kamu semua.
Semua.
Kecuali...itu."
"Om..."
"Itu syarat dari ku." kata Sandy dengan nada yang tidak mau dibantah.
Reva diam.
Dia tau... permintaan nya memang berlebihan untuk seorang istri..
Tidak boleh meniduri istri yang sudah sah dinikahi.
Tapi dia belum mau hamil.
"Reva..." tegur Sandy.
Reva menatap Sandy.
"Om kuat ?"
"Hmm ?
Kuat apa ?"
"Om kuat nahan ?
Kalo udah semua..eh..
Emmm..kalo udah semua, terus udah gak ada penghalang lagi..
emang..Om kuat nahan ?"
Sialan nih bocah...Tau aja kalo gue mau manipulasi, gerutu Sandy dalam hati.
"Hmm..
Liat nanti.
Lagipula..kamu kan istriku, Va."
Reva terdiam.
Kalau sudah jadi istri, memang segalanya menjadi hak suami.
Timbal balik dari tanggung jawab suami terhadap istrinya.
Lahir dan batin. Dunia akhirat.
Mereka terus berjalan menuju kamar Sandy.
Sandy lalu memasukkan kartunya.
Pintu terbuka.
Sandy menahan pintu, mempersilakan Reva untuk masuk duluan.
Reva langsung menuju ke kamar mandi setelah mengambil baju salinnya.
Sandy sudah membuka bajunya dan menenteng kausnya saat Reva membuka pintu kamar mandi.
Reva terkesiap.
Terpesona dengan kotak-kotak perut Sandy dan otot lengannya.
Matanya bertemu pandang dengan Sandy.
Sandy tertawa.
Dia mengacak-acak rambut Reva saat melewatinya dan masuk ke kamar mandi.
"Astaga...
Kalo setiap hari kayak gini terus, boro-boro enam bulan.
Gak nyampe sehari, aku yang minta ditidurin sama Om." kata Reva bergumam sendiri.
...🌴🍇🎀☘️...
__ADS_1
--