
"Citra, kamu bisa tidak pergi dulu dari rumahku, biarkan aku bicara dengan suamiku." Aira menatap tajam pada pria di sampingnya dan yang sangat dia cintai itu.
"Aira, aku mohon agar kamu jangan bertengkar dengan Addrian. Aku mengatakan hal ini hanya ingin membuat hatiku lega, tidak ingin kamu dan Addrian sampai bertengkar."
"Citra, aku bilang pergi dari rumahku aku ingin bicara berdua dengan suamiku."
"Aira aku benar-benar minta maaf. Aku tidak menyangka jika hal ini sampai terjadi."
Aira berjalan mendekat dan menatap tajam pada Citra. "Bukankah ini yang kamu inginkan, Citra?" Citra tampak terkejut mendengar apa yang baru saja Aira katakan. "Sekarang keluar dari rumahku. Pergi!" bentaknya marah.
Citra berjalan keluar dengan menangis, tapi setelah dibalik pintu dia mencoba menahan tawanya.
"Sebentar lagi Addrian akan benar-benar jadi milikku dan kamu akan benar-benar lenyap dari kehidupan Addrian."
Addrian sekali lagi mencoba menjelaskan kepada Aira tentang semua yang terjadi saat itu. Aira mendengarkan apa yang dikatakan oleh suaminya, tapi air matanya tidak dapat ditahannya, dia menangis dengan sekencang-kencangnya. Pria yang sangat mencintai Aira itu pun memeluk istrinya, dia tidak ingin melihat Aira menangis seperti itu. Addrian juga berharap kejadian itu tidak pernah terjadi.
"Mas, aku bener-bener tidak dapat berpikir, seketika aku membayangkan kamu bersama dengan Citra, dan itu sangat menyakitkan. Mas, untuk sementara aku mau pulang ke rumah mama."
"Sayang, jangan berkata seperti itu, kita bisa cari jalan keluar untuk masalah ini. Citra bilang dia akan menjauh dari kehidupan kita, dia tidak akan menuntut apa-apa."
"Bukan itu masalahnya, tapi apa yang terjadi di antara kalian, mau di sengaja atau tidak, itu sangat menyakitkan." Aira akhirnya berjalan pergi masuk ke dalam kamar, dia mencoba mengemasi beberapa pakaiannya.
"Addrian yang melihat itu menghentikan apa yang dilakukan oleh istrinya. Kamu tidak boleh pergi dari sini. Ini rumah kamu, sayang, aku mohon jangan seperti ini dan mama tidak perlu tahu dulu masalah ini, kita akan selesaikan masalah ini secara baik-baik."
"Tapi aku tidak ingin melihat kamu, Mas." Aira kembali menangis. Adrian benar-benar bingung harus berbuat apa?
"Sayang, kamu tenangkan dulu hati kamu, biar aku yang keluar dari sini aku akan tinggal di apartemen Mama sampai kamu benar-benar lebih tenang, tapi aku mohon jangan berbuat hal yang tidak tidak. Aku sangat mencintaimu, Aira, aku bahkan tidak pernah memikirkan wanita lain, selain kamu." Addrian kemudian berjalan pergi dari sana.
Mungkin apa yang dia lakukan Addrian ini lebih baik. Jika dia terus di sana untuk saat ini yang ada mereka akan bertengkar. Addrian tidak khawatir karena ada yang tetap menjaga Aira diam-diam.
__ADS_1
Hari itu di rumah Aira keadaan benar-benar sepi, bahkan Aira tidak menyalakan lampu di rumahnya. Rumah Aira tampak gelap.
Niana yang kebetulan lewat sana mencoba datang ke rumah Aira. Dia bersama dengan Kenzo.
"Na, apa Aira ada di rumah, ya?"
"Tidak tahu, tapi kenapa lampunya mati? Ini, kan sudah malam. Kenapa tidak dinyalakan? Apa mereka pergi , ya, Na? Dahal aku ke sini niatnya meminta oleh-oleh dari Singapura sama Addrian."
Niana mencoba memanggil nama Aira. Aira yang sedang berbaring di atas sofa di ruang tengah tampak terkejut, dia mengelap air matanya dan berjalan menuju pintu. Aira juga tidak tidak lupa menyalakan semua lampu.
"Aira, kamu kenapa?"
"Na ...!" Aira seketika menangis dan memeluk sahabatnya itu dengan erat. Kenzo dan Niana tampak saling melihat dengan bingung.
"Kamu kenapa kakak ipar? Addrian mana? Dan kenapa tadi rumah kalian lampunya tidak dinyalakan?" Aira tidak menjawab, dia masih saja menangis dalam pelukan Niana.
Niana tahu jika seperti ini, Aira tidak akan mau diajak bicara dulu, dia pasti akan menangis dengan sekencangnya dan sampai lega.
"A, jangan menangis terus-menerus. Ingat, kamu sedang hamil apa lagi bayimu sudah besar itu di dala, dia akan merasakan juga apa yang sedang ibunya rasakan."
"Sebenarnya ada apa sih kakak ipar? Dan di mana kakakku? Dia tidak mungkin meninggalkan kamu dalam keadaan seperti ini. Dia sudah pulang, kan, dari Singapura?" tanya Kenzo.
"Kami baru saja bertengkar."
"Apa? Kalian bertengkar? Memangnya ada apa?"
Aira akhirnya menceritakan semua yang terjadi.
"Kamu serius dengan apa yang kamu katakan?"
__ADS_1
"Oh my God! Tidak mungkin kakakku berbuat seperti itu. Dia itu sudah benar-benar berubah, Ai. Dia sangat mencintai kamu."
"Aku tahu Addrian sangat mencintaiku, tapi apa yang terjadi dengan dirinya dan Citra benar-benar membuatku tidak bisa menerima semua ini.
Adrian mengatakan jika mungkin saja teman-temannya sudah mengerjainya dengan mencampur minumannya, tapi tetap saja dia dan Citra sudah--." Aira tidak bisa meneruskan ucapannya.
Niana hanya bisa memeluk sahabatnya itu dan mencoba menenangkannya.
"Lalu, sekarang di mana Addrian?"
"Dia pulang ke apartemen mamanya, mungkin hal ini lebih baik karena kita bisa sama-sama menenangkan diri."
"Kamu salah, dia seharusnya berada di sini, apa lagi kamu sedang hamil besar, bagaimana jika terjadi sesuatu dengan kamu di rumah?"
"Aku tidak tahu, Na, aku benar-benar bingung. Saat melihat wajahnya, aku seolah terbayang saat dia bersama Cinta, dan itu sangat menyakitkan, Na."
"Mungkin benar apa yang dilakukan Addrian, sebaiknya kalian saling menenangkan diri dulu. Kalau begitu aku akan pergi ke apartemen mama dan sebaiknya kamu di sini saja, Na, untuk menemani Aira.
"Kenzo, aku harap Bunda, mama dan ayah tidak perlu tahu kejadian ini dulu. Aku juga tidak akan memberitahu mamaku, kita akan mencari jalan keluarnya.
Dulu sebelum menikah Addrian sering melakukan hubungan dengan wanita lain, Aira tidak peduli, tapi sekarang dia sudah menjadi istri Addrian dan itu sangat memukul hatinya mengetahui suaminya tidur dengan wanita lain.
Aira dan Adrian tidak saling berkomunikasi selama dua hari dan selama dua hari Niana menemani Aira di rumah itu. Niana benar-benar khawatir dengan Aira, dia tidak berani meninggalkan Aira.
Aira pun beralasan kepada mamanya jikaa dia ingin berlibur di luar kota bersama dengan Addrian dalam beberapa hari.
Addrian yang berada di dalam kantornya pun sering termenung. Jujur saja dia sangat merindukan Aira.
"Addrian, bagaimana dengan Aira? Apa aku sebaiknya menemui dia lagi dan menjelaskan jika dia tidak perlu memikirkan hal ini karena aku tidak akan menyalahkanmu atas apa yang terjadi pada kita?
__ADS_1
"Aku minta tolong, Citra, jangan temui dia dulu, biarkan dia lebih tenang."