Kamu Milikku

Kamu Milikku
Bedanya Yang Serius


__ADS_3

Reva berjalan di belakang semua orang.


Dia sudah sering datang ke rumah Paman Andi.


Mereka sedang melihat-lihat rumah yang baru dibeli Sandy.


Paman Andi sendiri akan pindah seminggu lagi.


Mereka sedang membereskan barang-barangnya.


Dan sekarang Paman Andi yang berjalan di depan sedang menunjukkan kamar-kamar dan ruangan-ruangan yang ada di rumah itu.


Reva memandangi Sandy.


Tadi dia terkejut dengan kenyataan bahwa Sandy lah yang menyelamatkan dirinya.


Bukan sekedar menariknya dari laut tapi sampai menggendongnya ke rumah sakit.


Dan PCR.


Ini laki-laki yang sudah menyelamatkan hidupnya dan kemarin baru saja menyerahkan rumah dan tanah seharga hampir enam milyar padanya.


Itu uang semua.


Bukan daun.


Apa namanya kalau bukan serius?


Reva mengernyit.


Sandy menoleh.


Dia merasa sedang diperhatikan orang.


Reva sedang menatapnya.


Mata mereka bertatapan.


Reva lalu menunduk, pipinya memerah.


Malu karena ketahuan sedang memandang Sandy.


Mata Sandy melembut.


Bibirnya tersenyum.


Sandy terus mengikuti Paman Andi sampai dapur dan kemudian perlahan tanpa kentara dia memelankan langkahnya.


Reva menengadah.


Menatap Sandy yang tanpa disadari sudah berjalan di sisinya.


Rombongan lalu memutar kembali.


Melewati kamar utama yang tadi belum disinggahi.


Kamarnya menghadap ke depan.


Dengan dua lapis jendela kayu berukir yang besar.


Tidak ada kaca.


Sandy menahan tangan Reva.


Dia mengajak Reva sedikit masuk ke kamar tidur utama itu.


Sandy menoleh


"Aku beli rumah ini bukan karena kamu.


Aku beli rumah ini karena memang suka sama suasananya.


Aku suka sama orang-orangnya.


Aku juga suka sama keluarga kamu.


Dan rumah ini..bakal jadi tempat aku dan anak istriku untuk tinggal kalo kami sedang ada di Indonesia."


Reva menangkap kata 'kami'.


"Kami.


Om pakai kata kami.


Berarti bukan aku ya Om..." senyumnya lega.


Sandy menatapnya.


"Bukan kamu.


Sekarang.


Aku kan belum kawin, Va.


Kalo nanti kita udah kawin, baru aku pake kata kita." senyumnya jail.


"Om !!" sentak Reva.


Sandy terkekeh.


"Kamu gitu amat sih nolak aku, Va.


apa aku sejelek itu ya?" tanyanya dengan raut dibuat memelas.


"Om itu ganteng banget.


Banget.


Tapi...


Aku bukan tipe yang Om sukai.


Jangan dipaksa, Om.


Om ini kan karena mau lepas aja.


Coba nanti kalo udah lepas.


Gak bakalan Om inget aku." senyumnya.


"Kita masih ada taruhan yang harus dihadapi, Va." senyum Sandy.


Reva cemberut.

__ADS_1


"Daaan..karena kamu tercatat sebagai pemilik rumah ini juga, aku mau minta tolong.


Kamu dekor kamar ini.


Ini kamar utama.


Buat aku sama istriku.


Aku pingin ada tempat tidur kayu berukir dengan kelambu diatasnya.


Kamu pilih deh, Va.


Siapa tau jadi tempat tidur kamu juga." kata Sandy sambil mengedipkan matanya.


"Iya..itu bakal jadi tempat tidur aku.


Tanpa Om !" sergah Reva.


Sandy membungkuk.


Mendekatkan wajahnya pada Reva.


"Ah ..


Aku jadi ngebayangin kamu tidur di situ, Va.


Sama aku.


Kita..


ehmm....kita baru aja.."


Sandy berdehem


"Dan rambut kamu, Va..


Tergerai berantakan di atas bantal putih.


Dan kamu...ehemm..senyum manja ke aku." lanjutnya.


Mata Reva terbelalak.


Sandy tertawa terbahak-bahak melihat reaksi Reva.


Reva memerah.


Mata nya memandang Sandy yang sedang tertawa.


Tampak santai dan... senang.


Hih !!


Om Sandy bersenang-senang dengan mempermainkan aku !


Bibir Reva cemberut.


"Ehem...!!"


Mereka berdua menoleh.


Michael muncul di pintu bersama Robert.


"Ngapain lu duaan di sini ?" tanya Robert menaikkan alisnya dengan jenaka.


Sandy melempar senyum.


Sandy diam sebentar


"Kami..." lanjutnya pelan di telinga Reva.


Reva kembali menatap Sandy sambil melotot.


"Om !!" sentaknya.


Wajahnya kembali memerah.


"Ya ampun San..


kasian dong anak orang.


Belum sembuh benar udah lu godain." kata Robert.


Sandy tertawa sementara Reva kembali memerah.


"Eh..Kel..


Server nya lu taro di kamar ya ?" tanya Sandy sesaat kemudian.


Michael mengangguk.


"Sebetulnya bukan di kamar.


Itu kamar sebelahnya tapi gue jebol.


Biar...ehem..biar kalo Tia pingin gangguin gue pas gue kerja...ya...bisa langsung aja." tawa Michael ikut mempermainkan Reva.


"Hmm..."


Sandy melangkah sedikit.


Memandang seluruh kamar.


"Di sana aja jebolnya.


Itu ke kamar sebelah kan ?"


Michael mundur, keluar sedikit dari pintu untuk melihat arah yang ditunjuk Sandy.


"Iya... Taro aja di situ.


Tapi lu jadi berkurang jumlah kamarnya."


"ah..gak papa.


Lagian...kalo ada banyak orang kan nanti malah ganggu kita ya, Va ?" jawab Sandy.


Reva menghela nafasnya.


Dia tidak menjawab.


Michael dan Robert tersenyum.


"Rumah ini kan emang atas nama kalian berdua." kata Michael.

__ADS_1


"Aku gak minta, Om !" sentak Reva cemberut.


"Iya sih kamu gak minta." jawab Michael.


"Tapi perlu dipertimbangkan juga kalo ada orang yang ngasih rumah ke kamu, apalagi dengan nilai sebesar ini...


Kamu harus tau kalo orang itu serius, Va.


Bukan mau sekedar main-main.


Macarin kamu abis itu ninggalin begitu aja.


Dia mau hubungan yang serius.


Ke jenjang yang lebih legal." kata Robert.


"Om dulu juga ngasih sebagian kepemilikan Om sama Tante.


Jauh sebelum kami kawin.


Waktu Om tingkat satu." tambah Michael.


Reva mendelik.


"Om berdua ini lagi promosi ya ?


Aku belum mau kawin Om !


Nanti..lulus dulu." tandas Reva dengan muka merah.


"Ya gak papa.


Tapi yang penting kamu tau dulu..


Ada orang yang serius sampe beli rumah atas nama kamu." kata Robert.


"Ya silakan Om...


Tapi aku gak mau..


Aku sadar diri kok Om..


Aku ini bukan tipenya om Sandy.


Om Sandy aja yang belum nyadar.


Makanya...tunggu deh enam bulan setelah dia putus.


Putus beneran." tolak Reva.


Sandy tersenyum.


"Ini anak emang ngeyel Bet.


Makin lu teken makin gede resistensi nya


Biarin aja..


Kita liat enam bulan lagi." katanya.


"Om pasti kalah.


Dan Om bakal nyesel udah mau taruhan sama aku."


"Tuh..liat..


Ngeyel nih anak !" kata Sandy sambil menjitak kepala Reva.


"Aduh..


Om !!


Kok aku dijitak sih !!"


"Abis..kamu nakal.


Dikasih tau gak mau denger.


Sama orang tua..masih ngeyel."


Reva tertawa.


"Nah tuh..Om sadar...kalo udah tua.


Makanya aku gak mau sama Om.


Aku aja manggil Om !" balas Reva.


"Kamu kan disuruh manggil Mas !"


"Gak mau !


Enakan manggil Om.


Biar Om sadar diri.


Kalo Om itu...ehmmm...


Eh..." Reva tidak jadi melanjutkan omongan nya.


"Apa ?


Kalo aku apa ?" tanya Sandy mendekati Reva.


Reva mundur sedikit.


Dia tertawa.


"Bet...yuk ahh..kita keluar." kata Michael.


"Iya...biarin mereka nyelesein dulu urusannya.


Gue gak mau denger." kata Robert.


Tapi ada orang lain selain mereka berdua yang mendengar perdebatan itu.


Tito mendengarkan dari luar di balik jendela.


Ada satu orang lagi yang mendengar.


Papa berdiri sedikit tersembunyi di balik pintu kamar yang bersebelahan.


Dahinya berkerut.

__ADS_1


Rumah ini milik Reva ?


...🌄🍇🎋...


__ADS_2