
"Reva lagi balas dendam." cetus Tia.
Semua orang di meja mengamati kelompok itu.
"Balas dendam kayak gitu ?
Aku juga mau !" cetus Greg.
Elle melirik.
"Coba aja kamu bikin kayak Sandy kemarin, aku juga bakal balas dendam.
Barang kamu melayang !" semburnya.
Greg tertawa.
Sementara Daniel tetap diam.
Dia memperhatikan meja Reva.
Di meja Reva....
"Aku haus.." rengek Selina manja.
Aaron menjentikkan jarinya memanggil waiter.
Mereka semua memesan minum kecuali Sandy dan Reva.
Minuman lalu diantarkan.
Sandy mengeluarkan kartunya.
Dia membayar minuman mereka semua.
Hatinya sedang senang.
Reva kembali ke pangkuannya.
Betul-betul dalam arti yang nyata.
Reva memang duduk di pangkuan nya.
Artinya Reva sudah tidak marah lagi.
Mereka tetap bertunangan.
Dan rencana pernikahan tetap berjalan.
Kemarin hatinya resah sekali.
Apa yang harus dikatakannya pada Papinya bila tau bahwa dia batal menikahi Reva gara-gara Cindy.
Papinya sudah suka sekali pada Reva.
Dan memang tidak sreg dengan Cindy.
Apalagi Papi dan Maminya ikut membantunya menjalin hubungan dengan Reva.
Dan dia hampir mengacaukan semuanya.
Dan sekarang ?
Disuruh mentraktir satu club pun dia bersedia saking leganya.
Sandy membelai paha Reva yang polos.
Gerakannya dilihat oleh semua orang di meja.
Sandy tersenyum tipis.
Dia melepaskan jasnya.
Menutupi paha itu dari pandangan orang.
"Makasih Sandy" kata Mini.
"Sering-sering aja.." kata Selina.
Sandy tertawa.
"Aku lagi syukuran.
Tunangan ku udah gak marah lagi."
Reva tertawa.
Dia bertukar pandang dengan para personil SHE yang lain.
"Kalo gitu, sering-sering marah aja, Va.
Biar kita sering ditraktir.." cetus Jasmine menyeringai.
"Jangan !
Aku suka dia begini.
Kalo aku harus sering-sering traktir kalian biar dia begini terus, aku ikhlas kok.." kata Sandy.
Reva dan teman-temannya tertawa.
Reva lalu turun dari pangkuan Sandy.
"Mau kemana?"
"Ah..enggak, duduk di sofa aja."
"Hmm..."
Sandy membiarkan Reva turun tapi satu tangannya tetap memeluk pinggang Reva dengan posesif.
Tak jauh dari situ...
Mata Cindy tak bisa berhenti menatap ke meja Reva.
Bibirnya cemberut.
Aaron juga ?!
Dia tau bahwa Aaron playboy kelas berat.
Itu juga yang membuat dia hanya senang bermain-main saja dengan Aaron.
Tapi...
Sekarang ini dia merasa marah sekali.
Bahkan Aaron pun bersikap tidak peduli padanya tadi.
Huh ?!
Dia tidak akan mau diajak main lagi oleh Aaron.
Cindy disenggol.
"Udah gak usah diliatin.
Bikin sakit hati..." kata Helen.
Cindy menoleh.
Hatinya terbakar amarah.
"Kalian mau ke meja itu enggak ?
Kayaknya mereka lagi ditraktir Sandy tuh." katanya pada teman-teman semeja.
Silvie menatap meja Reva.
Bibirnya merekah.
"Yuuk kesana !
Kita nyari minum gratis !" katanya.
Berlima Mereka berbondong-bondong mendatangi meja Reva.
__ADS_1
"Waah.. pesta nih...
Ikutan dong.." kata Silvie.
Helen langsung menjentikkan jarinya memanggil waiters.
Waiters datang dan mereka langsung memesan minum.
Sandy sudah tegang.
Dia takut Reva kembali marah.
Tapi saat melirik Reva, dia tetap tersenyum dengan bibir seksinya.
Sandy kembali tidak tahan.
Dia menyambar bibir Reva.
Reva membalasnya tak kalah bergairah.
Sandy turun ke leher.
Menggigit sedikit leher Reva.
Reva mengeluarkan suara mend*s*h.
Yang terdengar jelas oleh semua yang ada di meja.
Cindy memalingkan muka.
Marah dan sakit hati.
Helen menatap sinis.
"Sana !!
Cari kamar !" sentak Mini dengan suara keras.
Reva berhenti.
Jarinya mengusap bibir Sandy.
"Ngapain nyari ?
Aku udah sekamar kok.
Ini pemanasan." katanya.
Sandy menyeringai.
Sepertinya malam pertama bakal dipercepat.
Dan...
Klausul Reva tidak berlaku lagi.
Kalau ini cara untuk mengikat Reva padanya, dia akan lakukan.
Masalah prinsipnya sendiri untuk menikmati malam pertama bersama istri yang sah bisa diketepikan dahulu.
Mengingat dan menimbang kejadian kemarin.
Waiter datang membawa minuman.
"Siapa yang bayar nih ?" pancing Helen.
"Ehmm..
Tadi Sandy yang nraktir kita semua." kata Mike.
"San...bayarin dong.." todong Silvie.
Sandy kembali mengeluarkan kartunya.
Dia menyodorkannya pada waiter.
Saat waiters hendak mengambil, Reva merebutnya.
"Enggak...enggak...
Aku gak mau traktir kalian !" katanya.
"Milik Sandy, milik ku .
Uang Sandy berarti uangku.
Begitu perjanjiannya.
Jadi aku berhak menentukan kapan Sandy boleh memakai uangnya."
Mereka semua terpana.
"Tapi kalian kan baru tunangan aja.
Bahkan yang kawin pun enggak begitu amat, Va !" protes Silvie.
Reva menoleh.
"Aku boleh atur uang kamu atau enggak ?" tanyanya menantang Sandy.
Sandy tidak ambil pusing.
"Boleh.
Terserah kamu." katanya pendek.
"Haissh...
Menyebalkan sekali !!" kata Silvie.
Reva tertawa.
"Kamu datang bareng orang yang salah.." cetus Mini.
Silvie memandang Mini lalu melirik Cindy lalu kembali pada Reva.
Matanya bersinar mengerti.
"Jadi siapa nih yang bayar ?" desaknya.
"Tadi siapa yang ngajakin ke sini, bilang bakal ditraktir minum ?"
"Cindy."
"Cin..tanggung jawab nih.
Bayarin...
Kan kamu tadi yang bilang bakal dibayarin Sandy."
Cindy memerah.
Dia tidak menyangka akan dipermalukan seperti ini.
Dia tadinya ingin mengerjai Reva.
Menunjukkan padanya bahwa Sandy masih takluk padanya.
Bersedia membayar minuman untuk dia dan teman-temannya.
Dia tidak menyangka Reva berani melarang Sandy membayari minuman mereka dan Sandy menurutinya.
Reva menatap Sandy.
Mencari tanda-tanda memberi perhatian.
Sandy balas menatapnya.
Reva sama sekali tidak tersenyum.
Kartu di tangannya diberikan pada Sandy.
Saat Sandy sudah memegang kartu, tangan Reva menuntun tangan Sandy yang memegang kartu menelusuri lehernya.
Dibawa turun ke bawah menuju belahan dadanya.
__ADS_1
Sandy yang awalnya tersenyum, membeku.
Dia menarik Reva mendekat.
Sama sekali tidak mempedulikan sekitarnya.
Dia menarik dagu Reva mendekat.
Mencium Reva dengan bergairah.
Sementara itu, Cindy masih terjebak dengan masalah pembayaran.
Cindy bukannya tidak mampu mentraktir minum, tapi ini masalah harga diri.
Dia tidak pernah ditolak laki-laki.
Dia menoleh pada Aaron.
"Aaron...
Kamu yang bayarin ya ?" manja Cindy.
Aaron yang merasa kasihan melihat Cindy terpojok mengiyakan.
"Oke.."
Aaron mengeluarkan kartunya.
Waiters pergi membawa kartu Aaron.
Reva dan personil SHE saling berpandangan.
Saling memberi kode dengan mata.
Selina yang tadinya duduk memepet Aaron segera menjauh.
Else juga menggeser duduknya.
"Va...
Udah dong..." kata Jasmine.
Reva dan Sandy melepaskan bibir mereka.
Masih saling memandang.
"Kenapa ?" tanya Reva masih memandang Sandy.
Tidak melepaskan pandangannya.
"Turun lagi yukkk...
Udah gak asik di sini...
Yuk.." ajak Else.
"Yuk.. Mas.." ajak Reva.
Sandy menyambut tangan Reva.
Mereka semua berdiri.
Mike ikut berdiri.
Dia mengikuti kemanapun Mini pergi.
Henry mengambil tangan Jasmine.
Selina dan Else sudah mendului.
Aaron menatap mereka menjauh.
Dia ditinggal ?
Begitu saja?
Kenapa ?
Karena Cindy datang ?
Aaron menipiskan bibirnya.
Dia tidak bisa mengikuti mereka karena kartunya masih dibawa oleh waiters.
Jadi dia terpaksa menunggu.
Di sana sedang slow dance.
Sandy memeluk Reva.
Reva mengalungkan tangannya di leher Sandy.
Sandy mendekapnya erat.
Reva merasa puas.
"Aku cinta kamu, Va.." bisik Sandy di telinga Reva.
Reva menunduk.
Dia tidak menjawab.
"Va..." tegur Sandy.
Reva mengangkat kepalanya, menatap Sandy.
"Aku pingin kamu nerima aku seutuhnya.
Membalas cintaku, Va.."
Reva tidak menjawab.
Dia berjinjit, mencium bibir Sandy sekilas.
Diam-diam Sandy sedikit kecewa.
Reva tidak menjawab pernyataan cinta nya.
Entah karena malu atau...
Atau...
Sandy membuang pikiran buruknya.
Mereka sudah sejauh ini.
Sebentar lagi akan menikah.
Dia ingin istrinya mencintainya.
Sama seperti Tia dan Biliyan yang mencintai Michael dan Robert.
Tapi dia harus sabar.
Salahnya sendiri yang membiarkan Reva menjalin hubungan dengan Steven.
Membiarkan perasaan Reva tumbuh berkembang pada orang lain bukan padanya.
Harusnya sejak dari Lombok dia mengikat Reva.
Tapi..
Reva pasti tidak mau.
Dia masih berhubungan dengan Cindy.
Ya sudah...
Sudah terjadi.
Toh dia sekarang memiliki gadis ini.
Cinta bisa dipupuk seiring berjalannya waktu.
Tapi dia juga harus berubah.
__ADS_1
Reva ternyata sensitif.
Dia tidak bisa melihat miliknya dekat dengan orang lain.