
Keluarga Niana saling berbincang dengan Arlan. Dari kejauhan, Tatiana yang melihat seolah ingin berkata, jika dia tidak marah Niana dan Arlan memiliki hubungan, dan bukan karena status sosial, tapi ini lebih ke arah janji yang dulu pernah keluarga Arlan ucapkan pada keluarga sang wanita. Di sana juga ada sebuah hutang budi yang mungkin tidak akan bisa ditebus dengan cara apapun.
"Addrian, mana Aira?"
"Loh, Aira bukannya sudah berjalan ke sini, Ma?" Addrian tampak bingung.
"Dia tidak ke sini, bukannya tadi kamu menyusulnya, Addrian?"
"Aku akan mencarinya, Ma."
"Mama ikut dengan kamu."
Mereka berdua berjalan mencari di mana Aira. Entah kenapa tiba-tiba perasaan wanita yang melahirkan Aira itu tidak enak.
"Mama ke sana dan kamu ke sana saja, Addrian."
"Iya, Ma. Aira ini kenapa tiba-tiba tidak ada?"
Mereka berjalan di sekitaran taman yang ada di halaman kampus itu. Mama Aira yang melihat sebuah lorong menuju ke kelas tampak ada cahaya di sana. Dia yang penasaran akhirnya berjalan menuju arah cahaya itu.
"Kamu jahat sekali, Noura. Apa salahku sama kamu?" Aira menahan perutnya dengan salah satu tangannya, dan tangan satunya memegang erat pada pegangan anak tangga.
"Kamu yang sudah membuat aku benar-benar hilang dari hati Kak Addrian. Aku membencimu, Aira! Aku sangat membenci kamu." Tangan Noura mendorong tubuh Aira, tapi Aira masih bisa menahan karena pegangannya.
"Apa yang kamu lakukan pada putriku?" Tatiana marah dan menarik tangan Noura yang mendorong Aira.
Plak
Sebuah tamparan keras tepat pada pipi Noura.
"Tante berani menamparku?"
"Tentu saja, bahkan aku bisa membunuh kamu kalau kamu berani menyakiti anak dan cucuku."
"Tante, ini salah paham," ucap Hany.
"Diam, kamu! Sini kamu." Tiba-tiba tangan mamanya Aira menarik rambut Noura dengan kasar dan menyeretnya dari anak tangga.
__ADS_1
"Sakit! Lepaskan!"
"Mama!" Aira sangat kaget dan dia perlahan turun dari anak tangga.
"Tante, lepaskan temanku, atau aku nanti tuntut Tante.
"Aku tidak takut! Aku yang akan menuntut kalian karena sudah berani mengeroyok anakku dan hampir melukai bayi dalam perutnya."
Noura dibawa sampai ke halaman di mana acara perpisahan berlangsung.
Addrian yang baru datang setelah berlarian mencari istrinya tampak terkejut melihat ibu mertuanya dengan tangan yang menjambak pada Noura.
"Mama, ini ada apa?"
Tangan Tatiana melepaskan jambakannya dari rambut Noura. "Sekarang, katakan apa yang kamu lakukan pada putriku?"
"Aira yang sudah lebih dulu mencari masalah denganku. Dia menggoda Kak Addrian sehingga Kak Addrian sampai berpaling dariku."
Plak
Sekali lagi tamparan diterima oleh Noura. "Hei! Kamu kenapa menampar putriku?" Seorang pria dengan setelah jas formalnya berdiri di samping Noura sekarang.
Amanda dan keluarga Addrian lainnya berdiri di sana dengan wajah speechless.
"Ma, ibunya Aira ternyata jika marah sangat menakutkan, ya," ujar Kenzo pada mama Amanda.
"Kamu tidak tau, jika Tatiana itu juara sabuk hitam karate."
"Serius, Ma?" Kenzo tampak kaget.
"Serius, dan gadis itu sudah berani membangunkan singa betina yang sedang tidur."
"Kamu jangan bicara sembarang. Mana buktinya jika anakku mendorong anakmu dari anak tangga?"
Tatiana berjalan mendekat ke arah pria yang adalah ayah Noura. "Aku adalah buktinya, dan aku melihat dengan mata kepalaku sendiri anak kamu mau mendorong putriku yang sudah berpegangan di anak tangga. Kalau kamu tetap membela putrimu, maka aku akan dengan nyawaku melindungi putriku. Aku tidak takut sama kamu." Tatap tajam Tatiana.
"Yah, mama ...."
__ADS_1
"Biarkan mama kamu melakukan yang ingin dia lakukan. Mama kamu akan marah jika apa yang dia perjuangkan kita halangi."
"Tapi mama berhadapan dengan pria itu sendirian, Yah."
Terlukis senyum miring pada sudut bibir ayah Aira. "Kamu tidak perlu takut. Mama kamu bisa mengatasinya."
Addrian yang berdiri di samping istrinya, tampak marah mendengar jika Aira hampir saja dicelakai.
"Om, tadi aku menolong seorang gadis muda. Dia bilang jika dia salah satu keluarga dari mahasiswa di sini, dan dia tersesat mencari kamar mandi. Aku mengantarnya, tapi ternyata dia adalah orang suruhan Noura untuk menggiringku di lorong belakang."
"Pa, ini semua salah Aira. Dia sudah merebut kekasihku dari awal dia masuk ke kampus ini, bahkan saat masih sekolah dulu. Aira selalu saja mencari muka pada para pria. Dia seperti gadis murahan."
Plak
"Kamu jangan berani menampar anakku!"
"Don't! Don't you dare touch my wife. Your daughter has done things that are considered criminal, and I will make sure your daughter gets punished," Daddy Addrian pun akhirnya turun tangan.
"Jaga mulut kamu! Menantuku itu gadis yang baik. Kamu dengar, Gadis Gila! seperti apa yang dikatakan oleh suamiku, bahwa kamu akan mendapatkan hukuman atas percobaan mencelakai menantuku," ancam mama Amanda.
Noura melihat pada Addrian. "Kak Addrian, aku sangat mencintaimu. Sangat sulit untuk melupakan kamu dari hidupku. Aku lakukan semua ini karena aku mencintaimu, Kak." Tangan Noura memegang lengan Addrian.
"Seharusnya kamu tidak melakukan hal ini. Aku kasihan sama kamu, Noura, aku juga sudah katakan jika aku sama sekali tidak menyukaimu, tapi kamu memaksa. Aku minta maaf jika sudah membuat kamu sakit hati, tapi aku minta tolong sama kamu agar jangan pernah berpikiran untuk menyakiti istriku karena Aira adalah nyawaku."
"Kenapa kamu sangat mencintainya? Apa yang tidak bisa aku lakukan yang Aira bisa lakukan? Aku cantik, kaya, pintar dan aku pasti bisa menjadi gadis yang kamu banggakan."
"Cukup, Noura. Mencintai tidak hanya tentang wajah cantik dan kepintaran. Sekali lagi aku katakan, jika ada hal dari diri Aira yang tidak kamu miliki. Sebaiknya kamu menjauh dariku dan istriku," Addrian menekankan kata-katanya.
"Kak, aku mencintai kamu?"
"Jangan menyentuh putraku. Kita akan selesaikan masalah ini di pihak berwajib." Amanda menarik tangan Noura. Ayah Noura pun tampak kaget, dan acara malam ini berjalan dengan suatu masalah yang akhirnya Noura harus ditahan. Mama Tatiana akan membuat Noura tidak bisa keluar menggunakan jaminan apapun karena dia tidak mau anaknya dalam bahaya.
"Kamu tidak apa-apa, kan sayang?"
"Aku tidak apa-apa, Ma."
"Addrian, kamu sebaiknya mengajak Aira memeriksakan kandungannya yang lebih jelas untuk benar-benar memastikan bayi kalian baik-baik saja."
__ADS_1
"Iya, besok aku akan ke rumah sakit membawa Aira untuk periksa. Aku juga khawatir dengan istri dan anakku."