
"Kring,,,kring,,,kring"
Dering telepon menyapa Celi, saat ia menikmati sarapan paginya.
"Halo.."
"Woi Lo ngak ke kuliah ya hari ini?? suara cepreng memekakkan telinga celi, siapa lagi kalau bukan sahabat keponya "Lili"
"Bisa ngak sih kalau di telpon itu ngomongnya biasa aja huh,, gue ngak budek kali" sahut Celi.
"Serah gue lah, suara, suara gue.! kok sewot amat"
"Aiiss,, kenapa bisa gue punya sahabat kepo kayak lo sih" sahut Celi pura-pura kesal.
"Udah takdir Lo lah,, pake nanya?? Lili sewot
" Huhhh,,,Celi memutar bola mata malas, mendengar ucapan Lili dari seberang telpon.
"Gue ngak kuliah hari ini,,, ada panggilan mendadak, dan nanti juga gue ada kerjaan dari Rian"
"Panggilan mendadak?? Jangan bilang Lo mau pulang ke istana??sahut Lili yang selalu mengatakan rumah keluarga Celi istana, ya maklumlah, secara Lili hanya anak dari keluarga sederhana, saat melihat rumah Celi, jelas saja Lili tak berkedip, karena baginya rumah bak istana itu hanya ada dalam mimpi negri dongeng bagi Lili.
"Huhh,, selalu saja begitu, ucap Celi terkekeh, karena Lili selalu berlebihan bila berhubungan hal yang mewah, dan selalu norak dan kepo habis-habisan.
"Ya sudah kalau begitu, gue hanya pasrah, karena gue bakal sendiri di kampus tanpa teman "gila" gue, ucap Lili dengan lesu.
"Jangan sedih, ntar kita ketemu kok, sahut Celi yang tahu saat ini Lili cemberut karena tak bersama di kampus.
"Maksud Lo??
"Bagaimana kalau kita nanti ketemu di Mall, temenin gue belanja untuk kebutuhan Cafe, bagai mana?? tanya Celi.
"Ok,,, siap princes.! sahut Lili semangat.
"Ya sudah kalau begitu, kita ketemu di Mall jam 2, dan tutup telponya, karena Lo bisa telat nanti, ucap Celi mengingatkan.
"Ok, by"
"By"
Sambungan pun berakhir, Celi yang sudah selesai dari sarapannya, bergegas keluar dari rumah kostnya, dan akan pulang ke mansion karena keluarganya meminta Celi datang pagi ini, entah urusan apa, dan begitu mendadak, tapi yang jelas Celi yang penurut, tak ingin keluarganya kecewa padanya, jadi dia datang memenuhi keinginan keluarganya.
Celi yang sudah berada di gerbang mansion dengan motor metic kesayangannya itu, mengklakson agar security membukakan gerbang, securty yang melihat Nona muda itu pun langsung begegas cepat membukakkan gerbang.
"Salamat pagi pak Roy, sapa Celi yang selalu ramah, bahkan tak pernah bersikap sombong dan angkuh, dan bagi Celi siapa pun yang bekerja dalam keluarga mereka sudah di anggap Celi keluaganya, itulah yang membuat seluruh pekerja di mansion itu begitu kagum dan sangat menyukai karakter Celi yang selalu ramah, sopan apa lagi sangat baik hati.
" Selamat pagi Non,, sahut pak Roy dan membungkuk hormat.
Celi memarkirkan motornya di garasi, berjalan masuk untuk bertemu orang-orang tercintanya, siapa lagi kalau bukan mom dan daddynya.
"Pagi mom, daddy, sapa Celi mencium kedua paruh baya itu yang sedang menikmati sarapan paginya.
" Pagi sayang" ucap mereka serempak.
"Ayo sarapan dulu sayang" ajak mom nya.
"Celi sudah sarapan mom, sahut Celi tersenyum hangat, dan sudah duduk di hadapan kedua paruh baya itu.
" Bagaimana kuliahmu nak?? tanya sang daddy.
"Lancar dad'
"Apa ada hal serius, mom dad, karena meminta Celi datang mendadak?? bertanya to the point.
"Aissh kamu ini, apa harus ada yang serius, maka kamu akan pulang?? ucap momnya yang tak habis pikir dengan putri semata wayangnya itu.
"Ya tidak juga sih,, sahut Celi terkekeh, melihat mom nya itu cemberut.
__ADS_1
" Daddy yang ada perlu denganmu, sahut daddynya menyambut ucapan Celi.
"Hmm, Celi hanya berdehem dan tersenyum kikuk, karena ia sudah paham apa tujuan daddynya meminta ia datang ke mansion pagi ini.
Levi Quera dan Yayuk istrinya, mengajak Celi untuk duduk di ruang keluarga, agar lebih santai saat bicara.
Sementara Celi yang sudah yakin apa yang akan di bicarakan daddynya itu pun, hanya bersikap tenang dan biasa saja, karena ia sudah biasa akan hal itu.
" Celi,, daddy tahu kamu pasti akan menolak apa yang akan daddy katakan, tapi sebelum daddy bicara pada hal itu, daddy ingin tanya satu hal, ucap Levi terdengar serius dan membuat Celi sedikit berdebar.
"Ya,, katakanlah dad, apa yang ingin daddy tanya, Celi akan mendengarkan, ucapnya selalu sopan dan bicara lembut karena itulah karakter Celi.
" Apa kamu setuju kalau mom dan daddy akan menghabiskan masa tua kami di negara D??
"Maksud daddy?? tanya Celi sedikit tak paham.
" Daddy dan mom, akan tinggal di negara D, di tanah kelahiran daddy, ucap mom nya menimpali.
"Mengapa mom dan daddy, tiba-tiba ingin tinggal di sana?? tanyanya mulai tak tenang.
" Daddy akan meneruskan perusahaan disana, dan masalah perusahaan di sini sementara akan daddy serakan pada Jon, tangan kanan daddy, karena kamu tak mau mengelolahnya, untuk sementara biarlah demikian, sahut sang daddy lagi.
"Lalu bagai mana dengan mansion ini?? tanya Celi lagi yang terlihat mulai tak izin kedua orang tuanya pergi ke negara D.
" Tentu kamu yang akan tinggal di sini" seru sang mom menimpali.
"Mom,,
Ucap Celi terhenti yang tak ingin tinggal di mansion, karena ia lebih suka tinggal di rumah kostnya dan hidup apa adanya.
" Mom tahu kamu tak akan mau tinggal di mansion, tapi kan kamu bisa pulang sesekali nak, ucap sang mom paham dengan Celi.
"Apa daddy percaya dan yakin, kalau Jon bisa menghandel perusahaan disini, karena tak hanya satu, daddy punya di beberapa kota besar" ucap Celi yang membuat alasan membatalkan keinginan kedua paruh baya itu.
"Mau gimana lagi, daddy punya putri yang bisa mengelolahnya, tapi sayang putri daddy tidak tertarik dunia mewah dan jabatan, daddy kan tak bisa memaksa putri daddy itu" ucap Levi menyindir Celi dengan wajah murung di buat-buat.
" Masalah perusahaan, daddy akan katakan pada Jon, agar melaporkan segala sesuatunya padamu, dan kalau kamu tak keberatan kamu boleh berkunjung sesekali, melihat situasi perusahaan, dan tentu daddy juga akan memantau dari sana, ucap Levi semakin membuat Celi terpojok.
"Dad,,
Jujur Celi tak ingin kalian pergi, ucapnya dengan lesu, " bisakah kalian pergi setelah Celi wisuda?? berharap kedua orang tuanya menyetujui hal itu, namun Celi tak sadar ia sudah terjebak permainan dari kedua paruh baya itu, dan inilah poin yang di tunggu Levi dan Yayuk sejak tadi.
"Satu syarat" ucap Levi membuat Celi terbelalak.
"Syarat apa dad?? tanya Celi bingung.
" Apa syaratnya?? jika kami mau menunggu hingga kamu wisuda, ucap Levi bernegosiasi pada putri kesayangannya itu.
"Wahh, sepertinya ini sudah di rencanakan?? ucap Celi yang berpikir sudah masuk jebakan.
Namun kedua paruh baya itu hanya tersenyum manis, merasa tak bersalah dan merasa menang, karena kali ini mereka yang akan pegang kendali.
Melihat senyum kemenangan dari mom dan daddynya, Celi langsung bersandar lemas di sandaran sofa.
" Baiklah,,, apa syaratnya, ucap Celi tak bisa lagi mengelak, dan kedua paruh baya itu pun tersenyum manis dengan jawaban Celi yang sudah menyerah.
"Setelah wisuda, kamu harus kembali ke mansion, dan memimpin perusahaan kita, ucap Levi tak ingin basa-basi lagi.
Celi yang mendengar pun, melotot penuh, bukan main rencana mom dan daddynya, akhh, bisakah kalian memberikan satu piala terbaik untuk mereka yang begitu pintar berakting, Celi tak habis pikir.
Mau tak mau Celi pun memutuskan untuk menerima keputusan daddy, lebih tepatnya syarat gila dari kedua paruh baya itu, toh ia juga masih akan menjalani kuliahnya setahun lebih, dan mungkin selama itulah berkelananya akan berakhir,dan ia akan kembali menjadi Celi yang akan berurusan dengan aturan kedua paruh baya yang tersenyum menang saat ini.
" Baiklah, Celi setuju, tapi Celi juga ada syarat buat mom dan daddy, ucapnya membuat Levi dan Yayuk, saling pandang, lalu mengangguk tanda setuju.
"Katakan sayang, apa pun itu kami akan lakukan bila memang itu membuatmu tenang dan nyaman, ucap Yayuk lembut.
" Celi setuju setelah wisuda, Celi akan kembali dan mengurus perusahaan, tapi Celi minta, Celi tak ingin ada drama perjodohan kelak, ucap Celi dan membuat Levi dan Yayuk tersenyum akan syarat Celi, toh mereka memang tak niat dengan hal begituan, biarlah Tuhan yang menentukan itu, dan itu adalah hak Celi, karena kelak rumah tangganya dia yang akan menjalani dengan pilihannya sendiri, dan tak ingin mengambil resiko, kelak Celi merasa haknya di rampas mereka, dan mereka akan menyesali itu karena melihat putrinya yang tak bahagia dengan pernikahaan terpaksa.
__ADS_1
"Daddy dan mom setuju, ucap Yayuk, mengacungkan jempolnya, membuat mereka semua tertawa lucu, karena bisa-bisanya antara anak dan orang tua pakai syarat hanya untuk hal itu, namun itulah membuat mereka selalu bahagia, karena tidak ada kekangan dan aturan yang berlebihan dalam keluarga itu.
"Ok, kesepakatan deal, ucap Celi serta memeluk hangat mom dan daddynya.
" Celi ada urusan, jadi izinkan prices kalian ini pergi dulu"mencium kedua paruh baya itu bergantian.
"Baiklah,, baiklah,, karena tak akan ada yang bisa melarangmu pergi,hati-hati di jalan, jangan ngebut" ucap Yayuk melihat Celi menuju pintu keluar mansion.
Setelah Celi pergi dan tak terlihat lagi, Levi dan Yayuk bertos ria, karena rencana mereka berhasil, terlihat wajah bahagia dari kedua paruh baya itu.
Lili yang sudah stand by, menanti Celi dengan segelas jus di depannya, di dalam Mall tempat ia dan Celi bertemu.
Tak lama menunggu, Celi yang sudah tahu Lili dimana, berjalan mendekati Lili yang asik dengan ponselnya.
"Braakkk,,, Celi sengaja mengebrak meja, melihat Lili yang asik dengan ponselnya, dan tak menyadari Celi sudah berdiri di hadapannya.
" Astaga,,, ucap Lili kaget hampir saja ponselnya jatuh"
"Apaan sih, ngak lucu tahu"ucap Lili yang kesal, karena Celi membuatnya spot jantung.
" Habisnya, princes cantik begini datang, malah ngak di sambut, asik sama ponsel jelek itu, cantikan Gue kali, ucap Celi kepo menirukan gaya Lili bicara.
"Hahahahaaaa" tertawa terbahak karena itu adalah cara kedua sahabat itu bersenda gurau, menghiasi ikatan persahabatan yang terlihat seperti saudara itu.
"Lo, ngak pesan minum Cel??
" Tidak,, Gue tadi udah kenyang karena makan drama di mansion, ucap Celi yang masih kesal tapi tak membuat ia menyesali keputusannya.
"Wajarlah Cel, orang tuamu begitu, secara hanya Lo anak mereka, Gue aja heran, kenapa ada seorang princes, tapi ingin hidup sederhana, padahal ya, yang Gue lihat nih, seperti si "Bohay kampus" sombongnya ketulungan, seolah tak tahu bahwa, " Di atas langit masih ada langit" ucap Lili mengatai si "Bohay" yang tak lain si "Rita" teman satu kampus mereka, wanita angkuh dan sombong, hanya orang tuanya memiliki Shouroom Mobil, tapi sombongnya aduhai.
"Udah,, jangan bahas dia, lama-lama moodku jadi tambah rusak karena dia" ucap Celi yang tak suka, bila sudah berhubungan dengan si "Rita Bohay" itulah julukan di buat Lili karena "Rita Bohay" sombong, juga tak malu dengan penampilan sexynya menunjukkan lekuk tubuhnya pada kaum hawa di kampus.
"Ok,,, mari mulai bertualang, ucap Lili karena tujuan mereka adalah membeli kebutuhan Cafe yang di minta "Rian" sahabat dan pemilik Cafe tempat Lili dan Celi bekerja.
Saat semua barang yang di butuhkan mereka sudah dapat, Celi dan Lili mengantri di tempat pembayaran, namun karena lelah dan haus, saat Celi melihat ada seorang pria menerobos antrian ia pun tidak terima, dan dia tak tahu siapa pria itu, padahal pria itu adalah yang berkuasa pada Mall tempat mereka berbelanja saat ini, dan Celi merasa pria itu tidak turut dalam antrian, tak terima, dia pun berteriak geram, hendak melabrak pria tersebut.
" Hei tuan..!!!! apa anda tak lihat?? kami mengantri begitu panjang, tapi apa yang anda lakukan, anda seenaknya menerobos tak menghargai kami yang sudah lama berdiri.!! ucap Celi dengan wajah yang nampak kusut menahan haus dan lapar sejak tadi, karena pengunjung Mall yang padat.
Pria yang di tegur dan hardik Celi itu pun tak merespon, ia berjalan melewati Celi yang sudah terbakar karena tak di tanggapi.
Berjalan santai merasa Celi hanya wanita yang terlalu lebay, pikirnya.
Celi tak terima dengan sikap pria itu pun, menarik lengan pria tersebut, dan karena pria tersebut tak menyadari Celi yang reflek menarinya, oleng dan
"Sombong sekali anda tuan, "Bruukkkkk"
Celi tertimpa pria itu di lantai,dan semua orang pun tersenyum bahkan sangat lucu melihat situasi saat itu.
Pria tersebut melotot dan menatap Celi tajam, namun Celi memejamkan matanya, karena merasakan wajah pria itu sangat dekat dengan wajahnya.
Pria itu pun sempat tersenyum saat melihat wajah polos Celi, dan dadanya berdebar, sedetik kemudian pria itu bangun dari atas tubuh Celi, dan berkata
"Wanita sinting.!!!
Ucap pria itu berlalu meninggalkan Celi yang masih terlentang di lantai, saat mendengar suara pria itu Celi membuka matanya, dan merasa malu karena para pengunjung menatapnya tersenyum kikuk, dan Celi tak melihat pria itu lagi.
Lili yang sebelumnya pamit ke toilet, dan saat kembali Lili melihat Celi memperbaiki penampilannya, mendekati Celi dan bertanya.
"Ada apa denganmu Cel?? tanya Lili bingung melihat Celi bukan di barisan antrian.
" Haaah, Celi menghela nafas kasar, niat hati ingin melabrak namun malah Gue yang dapat sial" ucap Celi dan melihat barisan antrian yang cukup panjang dan ia akan masuk baris terakhir, batinya menjerit.
""Siaaaalll""
Next
Hai kakak, aku udah mulai ya,, dan aku mohon dukungannya, semoga awal cerita ini kalian suka, dan setia selalu ya menunggu Up dari arthor recehan ini.
__ADS_1
Salam sehat