
Setelah menanggung malu yang cukup dramatis, orang suruhan Dewa akhirnya sampai di kantor, dengan beberapa paper bag di tangannya, dan tentu saja barang pesanan Dewa untuk penyamaran mereka menuju lokasi sang kekasih hati.
"Bagai mana? semua pesanan saya lengkap kan?"
"Semua beres bos, hanya saja yang tidak beres image saya"
"Hah..! hari gini kamu mikirin image, apa kamu tahu saya menyuruh kamu membeli semua barang itu, saya bahkan akan lebih mempertaruhkan image saya"
"Maksudnya bos??
" udah...! jangan banyak tanya, sekarang tutup pintu itu rapat-rapat, jangan sampai ada yang masuk ke dalam, kalau sampai ada yang masuk, kepala mu akan ku kirim sebagai desain untuk properti rumah hantu.!!
"Glek"
"Segitunya si bos, saya kan selalu siap perintah"
"Ya sudah, lakukan dan duduk setelah itu, perhatikan apa yang akan kami lakukan, biar kamu nggak banyak tanya"
Mengunci pintu ruangan Dewa, sesuai perintah atasannya, dan setelahnya ia pun mengikuti arahan yang tadi Dewa katakan, takut nanti salah lagi, mending nurut aja, begitulah pikiran sang bawahan itu.
Sementara Dewa dan Rafa, sibuk mengeluarkan barang yang ada di dalam paper bag, setelah barang memastikan lengkap, Dewa dan Rafa pun mulai beraksi untuk penyamaran mereka.
"Lo pakai yang warna merah, Gue yang hitam, biar mommy pangling ngelihat penampilan Lo" Rafa pun sengaja menyuruh Dewa memakai gaun berwarna merah, dengan dalih,agar mommy nya tidak mudah mengenali Dewa, padahal Rafa sebenarnya menghindari gaun yang menurutnya warna yang sangat norak, bahkan terlalu cetar menurutnya, membayangkan saja ia memakai gaun itu, sudah bergidik ngeri, apa lagi kalau benar-benar memakainya, bisa alergi dia.
"Lo serius kan, kalau Gue pakai warna merah tante pasti pangling??
" Nggak usah banyak tanya, entar waktu kita habis, yang ada sia-sia penampilan kita"
Dewa yang merasa masuk akal dengan ucapan Rafa, tidak lagi bertanya, ia langsung menyambar gaun yang berwarna merah itu, dan membawanya menuju kamar mandi, dan jangan tanyakan soal si bawahan Dewa, bingungnya tidak ketulungan, dengan perangai kedua bosnya itu, tapi ia taku untuk berkomentar, yang ada ia akan menjadi bulanan kedua bosnya itu, jadi meski bingung, ia hanya menikmati pemandangan yang ada di hadapannya, tanpa ingin bertanya.
Setelah Dewa keluar dari kamar mandi, dengan gaun warna merahnya, Rafa bahkan terbahak tak tertahankan, karena menurutnya penampilan Dewa memang sangat norak, sesuai dengan gaun warna merah itu.
"Apaan sih, Lo kan yang bilang kalau nih gaun cocok buat Gue..!
" Cocok sih, tapi kok Lo mirip banget sama yang nongkrong di lampu merah"
"Sialan Lo, ngatain Gue banci ya, udah cepatan sana ganti bajunya, keburu telat"
__ADS_1
Sambil menahan tawa, Rafa pun pergi ke kamar mandi dengan gaun hitam yang akan ia kenakan.
Dan jangan tanya bawahan Dewa yang menahan sakit perut, karena tidak bisa leluasa tertawa, karena akan kena amukan Dewa kalau sampai ia menertawai penampilan bosnya itu.
Rafa yang sudah mengenakan gaun hitamnya, Dewa yang sibuk dengan riasan make up nya, yang menurut Rafa Dewa sudah seperti badut, tapi ya sudahlah, yang penting misi mereka berhasil, dan ia bisa membantu Dewa untuk bertemu dengan si Cita, walau hanya sebentar.
Setelah di rasa siap, Rafa dan Dewa pun bergegas untuk pergi, namun sebelumnya mereka memberi instruksi pada sang bawahan, agar pada saat di luar ruangan nantinya, tentu saja banyak pasang mata para karyawan yang akan melihat mereka, namun jika ada yang bertanya, sang bawahan cukup menjawab, bahwa mereka calon model untuk produk sabun mandi.
Sang bawahan dengan sigap mengangguk paham, tentu ia tidak bisa menolak perintah, jadi dengan gaya yang elegan, Rafa dan Dewa keluar dari ruangan, sudah tentu mereka berjalan bak wanita sosialita, agar semakin meyakinkan.
Di luar ruangan mendadak ricuh, karena para karyawan yang tadinya tidak ada melihat adanya tamu yang datang ke perusahaan, kenapa tiba-tiba, sudah ada dua wanita yang cantik, namun terlihat berotot, mereka bahkan ada yang menebak bahwa Rafa dan Dewa bukan wanita sungguhan, namun siapa yang berani berkata itu dengan lancang, karena sang bawahan Dewa begitu aktif dalam menggiring dua wanita jadi-jadian itu keluar dari ruangan menuju Lift khusus tentunya, dan sampai di dalam Lift, Rafa dan Dewa yang sempat tidak begitu nyaman bernafas, karena sorot mata para karyawan, bernafas lega, saat pintu Lift tertutup rapat.
"Sial.!! kok perasaan Gue seperti buronan yang lagi di incar ya, iih Gue harap ini yang pertama dan terakhir" ujar Rafa yang juga mendapat anggukan dari Dewa, dan mungkin mereka merasakan hal yang sama.
Setelah sampai di lantai bawah, Dewa dan Rafa langsung masuk ke dalam mobil, dan sangat terburu-buru, takut banyak mata yang akan semakin curiga pada mereka, dan sang bawahan pun langsung tancap gas, menuju mall X yang sudah Dewa katakan.
Tak lama mereka pun sampai di parkiran Mall X, dan dengan gaya yang cukup menyakinkan sang bawahan pun, membukakan pintu mobil dengan hati-hati, dan membungkuk hormat saat Rafa dan Dewa yang keluar dari dalam mobil.
Jangan tanyakan kedua wanita jadi-jadian itu, dengan Masing-masing mengibaskan kipas di tangan, dan dengan tas sandang mini yang menjadi pelengkap dandanan mereka, mulai berjalan masuk ke dalam Mall.
Rafa yang tadi saat di mobil bertanya pada Atika yang lagi menikmati kebersamaan dengan mertua dan Cita, mereka sedang di sebuah butik lagi asik melihat gaun yang cocok untuk mereka.
"Lo gimana sih?? nggak sabaran banget, Gue tahu Lo kangen sama si Cita, hampir saja kita ketahuan, kalau sampai terjadi, Gue pasti nggak akan di lepasin mommy, yang sabar dikit dong..!!
" Iya maaf, habis Gue udah nggak tahan"
"Sedikit lagi Bro, Lo pasti berhasil, jangan gara-gara Lo gegabah, kita bisa babak belur di sini"
"Iya oke, ya udah mari beraksi"
Dewa dan Rafa pun memasuki butik, dengan berjalan meliuk-liuk, Dewa dan Rafa begitu percaya diri dengan penampilan mereka, apa lagi saat pelayan butik, menyapa mereka, membuat kedua wanita jadi-jadian itu semakin bersemangat, berarti penyamaran mereka sangat sempurna, begitulah yang ada di pikiran mereka.
Melihat Felix yang begitu antusias memilihkan gaun untuk Cita, Dewa sengaja meminta gaun yang sama seperti yang di pilihkan Felix untuk Cita, membuat ketiga wanita yang beda usia itu pun langsung menoleh ke arah sumber suara.
Rafa langsung cepat-cepat mengalihkan pandangannya dari ketiga wanita tersebut, dan berpura-pura mencari gaun yang lain, karena tidak tahan dengan sorot mata sang mommy dan istri tercintanya.
Namun Dewa, tidak memperdulikan tatapan ketiga wanita itu, ia masih dengan percaya diri meminta gaun yang sama, dan hal hasil, Felix pun bersuara.
__ADS_1
"Maaf, gaun ini udah lebih dulu kami pilih, jadi kalau tidak keberatan, anda bisa cari yang lain"
"Oh, maaf nyonya, apa gaun ini untuk para wanita-wanita cantik ini"
Dewa sengaja mendekat, bahkan karena tidak tahannya, ia bahkan menoel noel pipi Cita dengan gemasnya, dengan berpura-pura, memuji kedua wanita cantik itu.
"Hmm, tapi kok anda begitu sok akrabnya dengan putri saya, tolong tangan anda di kondisikan"
Felix, tidak menyukai sikap wanita jadi-jadian itu, yang begitu lancang menoel pipi Cita, menurutnya terlalu sok dekat.
"Oh maaf nyonya, saya hanya gemas,, karena putri anda sangat mirip dengan putri saya,, hihihi"
Dewa pun kembali menol pipi Cita, baginya itu sudah cukup melepaskan rindunya, menyentuh kulit dan melihatnya, sudah cukup, betapa tersiksanya ia, hanya ingin melihat kekasihnya pun, harus dengan cara menjadi wanita jadi-jadian, sungguh mengenaskan.
Felix yang tak suka, akhirnya geram, dan dengan cepat menepis tangan Dewa dari pipi Cita, dan hal hasil, Felix pun merasa curiga, saat merasakan tangan Dewa yang kekar, bahkan Felix pun semakin mengamati penampilan dan wajah Dewa.
Rafa yang melihat mulai ada sinyal bahaya, langsung menarik Dewa, dan ingin membawa Dewa secepatnya dari tempat itu.
"Maaf nyonya, teman saya sudah membuat anda dan putri anda tidak nyaman, kami permisi"
Felix pun jadi mengalihkan perhatiannya pada Rafa, yang tiba-tiba datang menarik Dewa, namun sedetik kemudian, Felix pun tersenyum menyeringai, karena ada yang tidak di ketahui oleh Rafa dan Dewa, bahwa penyamaran mereka sudah ketahuan.
Saat Rafa menarik Dewa dengan sembarang, tak sengaja, tempelan kumis yang menutupi kumisnya Dewa, tersibak, hal hasil, Felix langsung bisa melihat siapa aslinya kedua wanita jadi-jadian itu, dan saat Dewa dan Rafa ingin pergi dari butik itu, dengan Rafa yang terus menarik tangan Dewa, akhirnya langkah mereka terhenti, karena seruan seseorang, yang tidak lain adalah sang ratu macan.
"Tunggu.!!!!
Dewa dan Rafa pun berhenti melangkah, namun bukannya menoleh kebelakang, justru mereka saling pandang, seolah tahu keadaan sudah di ujung tanduk, dan ketika mereka hendak melarikan diri, ternyata Felix sudah lebih dulu memberi kode para pengawalnya, yang saat ini sudah stand by di depan pintu masuk butik.
Rafa yang melihat itu, langsung gelisah, apa lagi saat, langkah demi langkah dari belakang mereka semakin mendekat, dan tak lagi bisa menghindar, dan tentunya harus menyerah.
"Bawa dua orang ini, dan jangan biarkan mereka kabur sampai saya kembali"
Perintah mutlak pun langsung keluar dari sang ratu macan, namun saat para pengawal akan menyeret mereka, Rada pun mencoba membujuk mommy nya, bahkan ia minta pertolongan sang istri, tapi siapa yang bisa melawan perintah si ratu macan, mau tidak mau harus pasrah, dan persiapkan diri untuk urusan selanjutnya.
Menjerit lah Hai para wanita jadi-jadian 😂😂😂😂
Toloooooonnnnngggg..!!! 🤣🤣🤣
__ADS_1
Next..