Ketegaran Hati Wanita Miskin

Ketegaran Hati Wanita Miskin
Berapa Tahun??


__ADS_3

Hening, seperti tak ada tanda-tanda kehidupan dalam Vila mewah itu.


Semenjak Atika mengetahui kebenaran tentang ayahnya, Atika jadi banyak diam.


Penghuni Vila itu melakukan aktivitas masing-masing, seolah menahan nafas, bicara hanya seperlunya saja.


Pagi ini Rafa dan Dewa melakukan rapat, melalu Video Call, berhubung karena masalah pabrik belum kelar sepenuhnya, membuat Rafa belum bisa pulang.


Bibi Lana menghela nafas panjang, saat melihat Atika yang melamun membersihkan kolam renang.


Setiap kali Bibi mengajak Atika bicara, Atika hanya diam tanpa menanggapi ucapan Bibi, hingga Bibi merasa serba salah.


Rafa yang belum mau cerita, menjelaskan tentang ayah Atika yang sedang menjalani perawatan, Rafa berpikir biarlah untuk sekarang ini Atika membencinya sebesar apa pun, sampai pak Danu benar-benar di nyatakan sembuh.


Rafa yang baru saja mengakhiri rapatnya, menyuruh Dewa pergi ke pabrik, karena Rafa sedang tidak mood pergi ke mana pun.


Rafa pun berjalan ke arah jendela kaca di ruang kerjanya, dari sana Rafa bisa menikmati taman belakang dan alam yang asri membuat Rafa sedikit tenang, menikmati pemandangan itu.


Rafa yang menikmati pemandangan itu, melihat Atika sedang membersihkan kolam renang, melihat wajah sendu Atika, membuat Rafa sesak, Rafa bisa merasakan Atika yang banyak diam dan melamun karena sosok ayahnya yang sangat di rindukan Atika saat ini.


Rafa memperhatikan Atika cukup lama dari ruang kerjanya.


Sesekali Rafa melihat Atika yang menghapus air matanya, dan Rafa yakin Atika sedang menangis memikirkan ayahnya saat ini.


Rafa tak sanggup lagi melihat keadaan Atika yang seperti itu, hingga pertahanannya runtuh, dan berniat bicara pada Atika saat ini juga.


Rafa pun turun ke bawah, menemui Bibi Lana agar menyuruh Atika datang ke ruang kerjanya, hari ini juga Rafa akan menuntaskan segalannya.


"Bik, suruh Atika sekarang juga ke ruang kerjaku.!! ucap Rafa datar.


" Baik tuan.!


Bibi pun keluar dari dapur, menuju kolam renang, menemui Atika, dan menyampaikan perintah tuan mudanya itu.

__ADS_1


Rafa pun beranjak menuju ruang kerjanya, menunggu Atika di sana, Rafa sudah bulat dengan keputusannta saat ini, kalau pun Atika memilih pergi dari sini, Rafa tidak akan memaksa Atika lagi pikirnya.


"Tika, tuan muda memintamu datang ke ruang kerjanya, ucap Bibi hati-hati, karena tahu Atika masih kecewa dan marah.


Atika tidak menjawab perkataan Bibi Lana, hanya menatap Bibi Lana sebentar, lalu berjalan meninggalkan Bibi Lana yang masih berdiri di dekat kolam renang.


Atika pun naik ke atas, menuju ruang kerja Rafa, langkah gontai itu terlihat dari perasaan Atika yang sedih, dan pikirannya pun tidak fokus sama sekali.


Atika pun membuka pintu ruang kerja Rafa tanpa mengetuk lebih dulu, baginya tidak pantas lagi menghormati orang yang sudah mengecewakan dan membohonginya.


Pintu terbuka menampilkan Atika yang berjalan menuju meja kerja Rafa, dengan tatapan kebencian Atika bersikap tak punya tata kramah sedikit pun.


Rafa yang melihat Atika sudah berdiri di hadapannya, mempersilahkan Atika untuk duduk di kursi yang ada di seberang mejanya.


Atika pun duduk, dan membuang tatapannya ke arah lain, jelas hal itu membuat Rafa semakin sakit, karena Atika terlihat enggan menatap Rafa.


" Maaf karena sudah tak jujur padamu, ucap Rafa membuka pembicaraan dan berusaha tenang, agar emosinya tidak terpancing melihat sikap Atika yang berada di hadapannya.


"Itu tak perlu.! bukankah itu tujuan anda, bisa membolak-balikkan hidup si miskin yang tak berdaya seperti saya, dengan kekayaan dan kekuasaan anda.!! ucap Atika lantang, tanpa menatap lawan bicaranya.


" Baik.! kau bisa putuskan untuk pergi dari sini dan aku tidak akan menahanmu lagi, untuk masalah ayahmu, aku berjanji akan mengembalikan padamu, saat beliau sudah benar-benar sembuh, dan maaf kalau aku melakulan ini karena kekataan dan kekuasaanku seperti yang kau katakan.!! ucap Rafa menahan sesak di dadanya, berpikir Atika tidak pernah mandangnya dari sudut ketulasan.


"Saya tidak akan pergi dari sini, sampai ayah kembali, dan katakan.!! " Berapa tahun" yang akan saya habiskan untuk melunasi uang yang anda keluarkan untuk ayah saya.!! Lagi dan lagi Atika melontarkan kata-kata yang menyakiti perasaan Rafa.


"Cukup.!!! Rafa mengepalkan tangannya, dan nada suara yang tinggi, membuat Atika terlonjak, dan menatap Rafa dengan tatapan setajam silet.


" Pergilah ke mana pun yang kau inginkan, aku tak butuh balas jasa, atau apa pun itu darimu, pikiranmu terlalu sempit, tak bisa melihat yang menolongmu bukan karena balasan tapi karena hati.


"Selama kau kembali bekerja di Vila ini, apa pernah aku menindasmu?? tidak kan!!


"Aku bahkan menahan semua perasaanku, emosi, egois, harga diriku, semua ku redam karena menjaga perasaanmu.!!


"Apa aku pernah berkata kasar padamu semenjak kau tinggal di Vila ini lagi, tidak kan.!!

__ADS_1


" Tapi bagimu hanya kebencian dan kebencian yang tertanam, bahkan bukan hanya matamu yang tertutup, tapi hatimu juga tertutup hanya karena aku pernah melakukan kesalahan telah bersikap kasar, dan menuduhmu waktu itu.!!


"Penyesalanku, perasaanku, ternyata hanya kau nilai sebagai tujuan yang tidak jelas, meski ku aku aku menyimpan rasa untukmu, tapi aku menahan itu semua karena kau membenciku, segala yang berhubungan denganku juga kau benci, hingga aku selalu berusaha menepis segala perasaanku padamu, dan ternyata hanya aku yang memiliki perasaan besar padamu, dan kau hanya menganggap aku hanya manusia yang kejam.!!


Deg


Jantung Atika pun berdebar kuat, bahkan air matanya sudah mengalir deras, tak pernah terpikir Atika, Rafa akan mengungkapkan segala sesak dan perasaannya selama sebulan ini, Atika menyesal telah membuat Rafa sakit hati karena perkataannya.


Rafa yang sudah kalut, bahkan nafasnya memburu, menahan amarah yang tidak terlampiaskan, di tambah mendengar isak pilu Atika membuat dada Rafa semakin sesak, hingga Rafa memutuskan untuk kembali.


Rafa pun mengambil ponselnya, dan menghubungi nomor Dewa.


" Siapkan keberangkatan, pulang sekarang.!! ucap Rafa langsung mematikan sambungan ponselnya.


Menurut Rafa, lebih baik tak menunjukkan lagi wajahnya di hadapan Atika, Rafa tak ingin Atika benar-benar pergi dari Vila, meski ia mengatakan pada Atika mengambil keputusan untuk pergi, karena Rafa tahu Atika tidak punya tenpat tinggal dan tujuan yang pasti.


Rafa pun meninggalkan Atika yang menangis di ruang kerjanya. Rafa membereskan barang-barangnya di kamar, dan tak lama Rafa keluar dengan menarik kopernya.


Atika yang baru keluar dari ruang kerja Rafa, bertepatan Rafa yang juga keluad dari kamarnya, Atika melihat koper yang di tarik Rafa, membuktikan perkataan Rafa tidak sedang bergurau.


Air mata Atika pun mengalir deras, tak menyangka akibat perkataannya tadi Rafa akan pergi dari Vila.


Jujur Atika merasakan perasaan tak rela Rafa pergi, entah kenapa ia ingin mencegah kepergian Rafa.


Atika yang mendapatkan perhatian Rafa dan selalu mengutamakannya, sebenarnya Atika juga menyimpan rasa pada Rafa, tapi Atika tidak mau mimpi terlalu jauh, karena menyadari status mereka bagai langit dan bumi, hingga Atika pun sengaja selalu bersikap cuek, menepis perasaannya.


Atika masih berdiri dekat ruang tamu Rafa, melihat Rafa berjalan dan Dewa sudah menunggu di bawah.


"Bik, saya pergi, kalau Atika memang masih mau tinggal di sini tidak masalah, tapi kalau dia mau pergi, jangan halangi langkahnya, ucap Rafa pamit pada Bibi Lana.


Bibi Lana hanya mengangguk, meneteskan air matanya, menatap Atika yang berdiri di atas, Bibi berharap Atika menghentikan langkah tuan mudanya itu, tapj sepertinya Atika tidak punya niat sedikit pun.


Next.

__ADS_1


Jangan lupa jejaknya ya Guys.


Salam Arthor.


__ADS_2