Ketegaran Hati Wanita Miskin

Ketegaran Hati Wanita Miskin
Hanya Sandiwara


__ADS_3

Setelah berlalu seminggu, kejadian dimana Celi mengetahui kebohongan Rafa, selama itulah mereka belum bertemu, karena Celi tak ingin lagi melihat Rafa, Rafa yang terus berusaha pun tak putus asa, walau hatinya terasa sakit, melihat Celi mengabaikannya, seolah tak pernah mengenal satu sama lain.


Sama halnya dengan Rian, meresakan sakit dan frustasi karena Lili, tak lagi mau bekerja di Cafenya.


Di setiap kesempatan Rian selalu saja membuat cara agar Lili mau bicara dengannya namun hasilnya selalu nihil.


Tatapan tajam, benci selalu terpancar di wajah Celi, kebohongan Rafa, drastis merubah sikap Celi yang lembut dan penuh perhatian itu, tak lagi terlihat pada Celi.


Rafa yang sudah bertekad, meski Celi akan marah dan menamparnya, ia akan terima, asal Celi mau bicara padanya dan memaafkannya.


Rafa yang terus membuntuti Celi dan Lili, mencari celah agar ia bisa membawa Celi untuk bicara.


Saat ini Celi dan Lili, sedang menikmati makan siang di salah satu restauran, Celi sudah tak perduli lagi dengan yang namanya status, ia bahkan tidak lagi menutupi siapa dia yang sebenarnya.


Ingin mencairkan suasana hati, Celi mengajak Lili makan siang di restauran yang terbilang mewah.


Rafa yang melihat dari persembunyiannya, merasa sesak dan hatinya seperti di iris sebilah pisau, melihat Celi makan dengan tatapan kosong, dan hanya beberapa suap makan yang masuk ke dalam mulutnya, setelah itu Celi hanya mengaduk-aduk makanannya, terlihat pikirannya tak fokus pada makanan di depannya.


Lili yang melihat Celi dengan tatapan kosongnya, jadi tak selerah dengan makanan di depannya, karena pikiranya juga terarah pada Rian, apa kami berdua wanita yang terlihat bodoh di mata kalian, batin Lili pilu.


Sesaat Celi tersadar dari lamunannya, ia pun menatap Lili yang bengong sama sepertinya.


Celi menghembuskan nafasnya kasar, dan Lili menyadari itu saat mendengar helaan nafas Celi yang berat.


"Aku ke toilet sebentar Li,, ucap Celi dan di angguki Lili.


Celi pun berjalan ke arah toilet, tanpa ia sadari sepasang mata membuntutinya, karena Celi yang tak fokus pada sekitar ia tak begitu memperhatikan sekelilingya, hingga Rafa terus mengikuti ke mana tujuan Celi.


Saat Rafa menebak Celi menuju toilet, berpikir inilah saatnya ia bicara pada Celi, walau apa pun resikonya nanti, Rafa sudah tidak perduli, yang pasti ia ingin segera bisa mengembalikan kepercayaan Celi terhadapnya.


Saat Celi masuk ke toilet wanita, ia terkejut mendengar suara pintu yang terkunci, Celi pun berbalik melihat siapa yang mengunci.

__ADS_1


Saat berbalik Celi terpaku di temapatnya, seperti patung pajangan, menatap siapa yang berdiri di hadapannya.


Rafa yang melihat Celi berdiri dengan tatapan tajam, merasakan sakit, karena tatapan mata yang dulu penuh cinta itu, berubah jadi tatapan kebencian.


Celi tanpa bicara, dan memang tak ingin bicara, berjalan menuju pintu toilet, ingin segera pergi, karena tak sudi baginya satu ruangan bagi Rafa, pria yang sudah membohonginya.


Namun,, belum sempat Celi meraih hendel pintu toilet, Rafa menarik tangan Celi mencegah langkahnya untuk keluar.


Celi yang merasakan tangannya di tarik, tak berbalik sedikit pun, bahkan ia menghempaskan tangan Rafa, dengan sekuat tenaganya, namun tidak berarti apa-apa, karena Rafa sangat kuat menggengam tangan Celi.


Celi yang sudah marah dan emosi pun, reflek berbalik dan..


Plaaakkk.!!!!


Celi menampar Rafa, bahkan air matanya sudah mengalir deras.


Rafa yang mendapat tamparan itu, tersenyum miris, ia meringis merasakan perih di bibirnya, karena Celi cukup kuat menamparnya, karena wajar orang yang emosi pasti punya kekuatan lebih, untuk melampiaskan kemarahannya.


" Maaf,,, aku mohon maafkan aku, ucap Rafa lagi.


Namun Celi hanya diam tak menanggapi bahkan memalingkan wajahnya ke arah lain, karena tak ingin melihat wajah Rafa apa lagi tatapan mata itu, jujur Celi sangat mencintai Rafa, tapi rasa sakit di bohongi, membuat ia seperti wanita yang begitu bodoh di mata Rafa.


"Aku mohon,,, maafkan aku, aku akui kebodohanku, yang tak memikirkan perasaanmu saat mengetahui hal ini, aku rela kamu menghukumku dengan apa saja, tapi jangan hindari aku, demi cinta kita, ucap Rafa sendu, melihat Celi tak ingin menatapnya.


" Bukankah cinta itu juga sandiwara?? ucap Celi sedikit meninggikan nada bicaranya.


Deg


Rafa bagai di hantam batu besar, mendengar perkataan Celi. Sakit, sungguh sakit yang di rasakan Rafa saat ini.


"Tidak.!! itu bukan sandiwara, aku tulus mencintaimu, ucap Rafa meyakinkan Celi.

__ADS_1


" Tulus.,!!?? ucap Celi menatap Rafa sinis, lalu memalingkan lagi wajahnya, menghindari kontak mata dari Rafa, karena Celi sejujurnya tak mampu melihat tatapan sendu milik Rafa.


"Aktingmu bahkan sangat membuatku kagum, dan sungguh luar biasa, ucap Celi lagi.


" Siapa pun akan kagum dengan akting terbaikmu, dan sepertinya aku akan memberimu trophi, untuk hasil kerja kerasmu, yang sudah membuatku percaya, dengan ucapan manismu selama ini, bahkan aku terbuai dengan menantikan episode-episode cerita sandiwaramu itu, ucap Celi mengeluarkan seluruh gemuruh yang seminggu ini, ia pendam dan meledakkan di waktu yang tepat.


Rafa langsung lemas, tubuhnya merosot ke lantai toilet, ternyata Celi sangat membencinya, dan sepertinya ia mendapat karma karena sudah membohongi Celi.


Tangis pilu Rafa, tidak membuat Celi luluh, walau sebenarnya Celi tak tega, apa lagi melihat Rafa bersimpuh memohon maaf darinya, sungguh Celi juga merasakan sakit melihat pria yang di cintainya tak berdaya di hadapannya.


Celi belum ingin memaafkan Rafa, menurutnya ini hukuman untuk Rafa, membuat jarak sementara waktu, dan ingin melihat sejauh mana Rafa mempertahankan cinta mereka, dan tentunya itu akan membuktikan ketulusan yang sesungguhnya, serta perlahan akan mengembalikan kepercayaan Celi pada Rafa.


"Carilah wanita yang lebih baik dariku, dan mari sudahi hubungan ini, ucap Celi dan pergi meninggalkan Rafa yang terpaku mendengar ucapan Celi, seolah dunia runtuh menimpanya, hilang sudah harapan, yang ada tinggal penyesalan.


Lili yang merasa Celi sudah sangat lama pergi ke toilet, bergegas menyusul Celi, namun masih beberapa langkah, Celi sudah berjalan menuju meja tempat makan mereka tadi.


" Kok,, lama amat, apa terjadi sesuatu?? tanya Lili hawatir.


"Tidak,,, tadi saat di toilet ketemu teman SMA, kami ngobrol sebentar, sahut Celi berbohong.


" Aku kirain kamu kenapa-napa, masih hawatir.


"Jangan hawatir, aku tidak kenapa-napa, ucap Celi dengan senyum terpaksa, karena suasana hatinya sedang tidak baik.


Lili yang mengamati wajah Celi, tahu kalau Celi menutupi sesuatu darinya, tapi Lili tak ingin memaksa Celi bercerita untuk saat ini, dan ia juga paham bagaiman perasaan Celi saat ini.


Celi dan Lili pun pergi meninggalkan restauran itu, sementara Rafa yang baru keluar dari toilet terlihat begitu berantakan, wajah kusut, mata sendunya, kaki lemahnya yang melangkah, menunjukkan ia tidak dalam keadaan baik, hingga beberapa orang melihat Rafa terlihat aneh, karena Rafa seperti kehilangan raganya.


Next


Mohon tinggalkan jejak ya Guys.

__ADS_1


Salam Arthor.


__ADS_2