Ketegaran Hati Wanita Miskin

Ketegaran Hati Wanita Miskin
Sederhana Itu Damai.


__ADS_3

Suasana Vila sedikit ricuh pagi ini, Bibi Lana dan beberapa pekerja lainnua sibuk memasak dan menghias taman belakang sesuai permintaan tuan muda mereka.


Bibi Lana yang mendapat telpon pagi tadi dari Rafa, tersenyum bahagia, karena akhirnya ke dua mahluk lawan jenis itu, sudah saling mengungkapka perasaan cinta masing-masing.


Rafa menugaskan Bibi Lana untuk masak banyak hari ini, dan membuat penyambutan sederhana atas kepulangan Rafa dan Atika ke Vila dengan status yang baru.


Rafa ingin membagi kebahagiannya, pada penghuni Vila, hari ini ia rencanakan hanya mrnghabiskan waktu di Vila, Rafa ingin Atika merasakan memiliki keluarga, dan tidak merasa sendiri lagi, dan tentunya melakukan hal kebersamaan bersama penghuni Vila.


"Sudah selesai sayang?? tanya Rafa melihat Atika yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Atika merasa geli dengan ucapan Rafa, wajahnya bersemu merah, karena malu, jujur ini kali pertama ada yang memanggilnya dengan sebutan sayang, selain hanya menyebut namanya, sebagian malah menyebutnya begitu buruk, apa lagi para gadis di komplek mereka yang selalu memanggilnya "gadis kumuh".


Mengingat hal itu membuat Atika jadi murung, ia pun nundukkan kepalanya. Rafa yang melihat perubahan di wajah Atika mengerutkan dahinya, berpikir Atika tidak menyukai panggilan sayang pada Atika.


" Kenapa hm?? ucap Rafa menarik Atika duduk di sofa, masih menggunakan handuk dan belum memakai bajunya.


"Apa kamu tidak suka aku panggil dengan sebutan itu?? tanya Rafa lagi menatap mata Atika dalam.


Atika pun menggeleng lemah, air matanya pun jatuh, ia terharu dengan kelembutan Rafa, yang selalu sabar menghadapi kekurangan Atika dalam hal apa pun.


Rafa yang melihat Atika menangis, merasakan sesak di dadanya, mendekap Atika dari samping, menghapus air mata Atika lembut.


" Apa yang kamu pikirkan?? katakan jangan memikulnya sendiri, ucap Rafa yang merasa Atika memikirkan sesuatu karena tiba-tiba sedih.


"Atika hanya takut, kebahagiaan ini hanya sesaat, dan Atika akan merasakan lagi di buang dan di jauhi orang-orang, ucap Atika terisak.


" Hei.! apa yang ada dalam pikiranmu, itu tidaka akan terjadi selama kamu berdiri di sampingku, ucap Rafa meyakinkan Atika.


"Percaya padaku, mulai saat ini, tidak akan ada lagi yang memandangmu sebelah mata, atau pun menghinamu, karena aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi, jadi buang pikiran itu jauh-jauh, dari sini, dan ini, ucap Rafa menunjuk kening dan dada Atika.


Atika pun mengangguk paham, menghapus air matanya dan tersenyum manis pada Rafa yang selalu membuat hatinya nyaman dan tentram.


" Bersiaplah, ini bajumu, kita akan pulang ke Vila pagi ini, ucap Rafa memberikan pakaian Atika yang di beli Dewa sesuai perintah Rafa.


Atika pun mengambil bungkusan baju dari tangan Rafa dan masuk ke kamar mandi.


Atika bengong saat melihat pakaian yang baru ia keluarkan dari bungkusnya, gaun berwarna pink, yang sangat cantik.

__ADS_1


Atika yang tak pernah menggunakan baju sebagus dan semewah itu, membuat ia menangis lagi, tangannya bergetar memindai gaun itu, "Tuhan apakah ini sebagian jawaban dari doa-doaku??" batin Atika yang meneteskan air matanya, yang tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.


Rafa yang menunggu Atika dari tadi, belum juga keluar dari kamar mandi, berpikir terjadi sesuatu pada Atika hingga ia pun mengetuk pintu kamar mandi sedikit panik.


Tok, tok.


"Tika, apa kamu baik-baik saja??


Atika yang bengong pun terperanjat, karena terharu ia sampai lupa memakai bajunya.


" Atika baik-baik saja tuan, sebentar lagi selesai, sahut Atika dari dalam.


Rafa yang mendengar suara Atika, bernafas lega, ia pun kembali duduk di sofa dan memeriksa beberapa email di ponselnya.


Suara pintu yang terbuka, mengalihkan pandangan Rafa, melihat Atika yang keluar dari kamar mandi, dengan gaun selutut menampilkan Atika yang sedikit berbeda, Rafa pun mengembangkan senyumnya, melihat sosok yang terlihat berbeda di matanya.


Atika yang melihat senyuman Rafa, sedikit malu, ia merasa lucu dengan baju gaun itu yang tidak pernah ia pakai selain baju kaos yang kedodoran dan celana pendek selutut, itu pun Atika dapat dari orang-orang yang peduli padanya.


"Tidak cocok ya tuan?? tanya Atika sedikit canggung.


Rafa pun menggeleng, gaun yang di pakai Atika, sangat pas dan cocok.


"Rapikan rambutmu, kita akan segera pergi, Dewa sudah menunggu di bawah, ucap Rafa lagi, dan Atika pun mengangguk paham.


Atika menyisir rambut sebahunya, mengikat tengah rambutnya, dan membiarkan rambutnya tergerai menambah kecantikan yang natural dalam diri Atika, karena tak ada bedak, dan lipstik, Atika hanya tampil seadanya.


Melihat Atika yang sudah selesai, Rafa pun mengajak Atika untuk keluar dari kamar hotel tersebut.


Namun Atika terlihat ragu, berpikir, orang-orang akan menilai Arika wanita yang buruk, karena keluar dari hotel bersama seorang pria, apa lagi Rafa bukan orang sembarangan.


" Kenapa lagu hm?? tanya Rafa yang melihat Atika tetap berdiri di tempatnya.


"Atika takut, orang-orang akan menilai Tika yang tidak-tidak saat keluar dari kamar bersama tuan, ucap Atika jujur.


"Selama kamu merasa tidak melakukan hal yang melewati batas, jangan pikirkan orang lain, mereka hanya tahu menilai, tapi bukan merasakan apa yang kamu lakukan dan alami, ucap Rafa lagi, membuat Atika yakin untuk keluar.


Rafa menggandeng tangan Atika erat, saat mereka berjalan melalui orang-orang yang menatap mereka, Rafa tidak memperdulikan tatapan itu, toh mereka tidak melakukan dosa apa pun, meski mereka tidur bersama dalam satu kamar.

__ADS_1


Mereka pun sampai di loby hotel, mendapati Dewa yang sudah siap siaga menunggu di sana.


Dewa pun membukakan pintu mobil untuk bosnya itu dan Atika.


Dewa menyetir dengan kecepatan sedang, sesekali Dewa melirik ke belakang lewat kaca mobil, tapi tidak berlangsung lama, karena suara mencekam yang tiba-tiba mengingatkannya, dan membuat Dewa panas dingin.


" Kalau kau masih ingin melihat dunia yang indah ini, kondisikan matamu itu.! dan menyetirlah dengan fokus, ucap Rafa geram, membuat Dewa menelan ludahnya kasar.


Tak lama, mereka pun tiba di Vila, securty yang melihat mobil tuan mudanya itu, menunduk hormat, dan saat mobil sudah berhenti di pelataran Vila, beberapa pekerja sudah berdiri rapi menyambut kedatangan tuan mudanya dan calon Nona muda mereka


Bibi Lana yang sudah berdiri di ujung para pekerja, tepat di dekat pintu masuk, meneteskan air matanya, saat melihat tuan mudanya dan Atika turun dari mobil.


Sungguh Bibi Lana begitu bangga pada tuan mudanya itu, yang begitu tulus pada Atika yang sangat terbilang jauh kasta itu, tapi tuan mudanya sama sekali tidak melihat sisi kasta sosial antara Atika dan tuan mudanya, apa lagi pada para pekerja di Vila.


Atika yang melihat Bibi Lana menghapus air matanya, berlari memeluk Bibi Lana, wanita paruh baya yang selalu ada untuk Atika dalam untung dan malang.


"Bibi, ucap Atika menangis tersedu dalam dekapan Bibi.


" Suutt, jangan menangis, Bibi bahagia kalau Tika juga bahagia, ucap Bibi merenggangkan pelukannya, menghapus air mata dan mencium pipi Atika hangat, layaknya seorang ibu.


Rafa yang melihat pun tersenyum, ia tahu Atika sangat menyayangi Bibi Lana, dan tentunya Rafa akan memperlakukan Bibi dengan baik agar Atika bisa mendapatkan kasih sayang seorang ibu yang sudah lama hilang dalam hidup Atika.


Mereka pun masuk ke dalam Vila, Rafa yang langsung menggandeng tangan Atika, membuat para pekerja tersenyum bahagia.


Atika ternganga, saat tiba di taman belakang, hiasan yang bagus dan tulisan yang begitu indah membuat dada Atika berdebar hebat, bahkan langkahnya terhenti saat membaca tulisan yang ada di depannya, "Jadilah pelengkap hidupku, dalam sakit dan sehat, dalam untung dan malang, dan melangkah bersama, dalam genggaman erat cinta kita" pemilik hatimu "Rafa"


Atika yang tak bisa membendung tangisnya pun, menangis haru, sungguh ia tidak pernah memimpikan ini semua, para pekerja yang melihat Atika menangis, ikut terharu dan meneteskan air mata, siapa yang menduga Atika yang selama ini begitu hina di mata orang-orang justru jadi sebongkah berlian yang bersinar, karena ketulusan cinta tuan muda mereka pada si gadis penghuni gubuk usang itu.


"Kau mau kan jadi pelengkap hidupku?? tanya Rafa yang mendekap erat Atika yang menangis haru.


Atika pun mengangguk cepat, bahkan tangisnya semakin pecah, tak pernah terbayang atau pun memimpikan semua yang di rasaakannya saat ini.


" Suutt, jangan menangis lagi, dan mulai hari ini, aku tak ingin ada tangis pilu selain tangis bahagia, ucap Rafa menghapus air mata Atika lembut.


Makanan yang sudah terhidang rapi, membuat semua orang sudah tidak tahan lagi untuk menunda selerah yang manjakan lidah itu, mereka pun makan bersama, dengan suasana kebahagian yang tak terucap dengan kata-kata, meski tidak mewah tapi ingatlah "Sederhana itu damai"


Next.

__ADS_1


Jangan lupa jejaknya ya Guys, karena jempolnya makin dikit, yang ikhlas, semoga rezekinya di lancarkan.


Salam Arthor.


__ADS_2