
Cuaca dingin menyeruak di sore hari, derasnya hujan tak dapat menyejukan kegundahan Rafa saat ini.
Ucapan Atika yang pedas, di Atika, di artikan Rafa sebagai pembatas antara dirinya dan Atika, hanya sebatas memenuhi pilihan yang di berikan Rafa, sebagai bayar jasa selama Atika tinggal di tanak kepemilikan Rafa.
Langit yang kian mendung, seolah menunjukan perasaan Rafa yang berkabut, niat baiknya yang di artikan Atika seloah penindasan, hingga Rafa tak punya pilihan, mengesampingkan perasaannya, dan pasrah akan kebencian Atika.
Jujur, semenjak Rafa melihat keadaan Atika yang memprihatinkan, dan keadaan ayahnya yang sakit-sakitan, membuat hati Rafa tersentuh, di tambah cerita dari Bibi Lana tentang kehidupan Atika selama ini membuat Rafa berniat membahagiakan Atika lewat caranya sendiri.
Penyesalan yang di tunjukkan Rafa, tak berpengaruh pada Atika yang sudah kecewa di awal, saat Atika mengetahui siapa Rafa.
Atika yang polos, mengira kesalahan kecil yang di buatnya, bisa di maafkan oleh Rafa, ternyata harapannya salah, bahkan Atika di usir dari Vila dengan cara ancaman melalui Bibi Lana, di tambah lagi sikap arogan Rafa, ketika Atika ketahuan membawa makanan dari Vila sungguh membuatnya sangat sakit, karena harapan satu-satunya bagi Atika bisa membawa makanan hanya dari Vila, namun yang terjadi, tidak saja makanan yang gagal di bawa, tapi hinaan dan tuduhan Rafa, lebih sakit di rasakan Atika.
Dreettt
Ponsel Rafa berdering, "Momy" tertera nama di layar ponselnya, Rafa tersenyum melihat, dan mengangkat panggilan itu.
"Halo Mom..
" Heh anak nakal.! bisa-bisanya tidak memberi kabar sama Momy, apa kamu mau momy kutuk huh.!! kesal Felix yang hampir seminggu tidak dapat kabar dari Rafa.
Rafa pun terkekeh mendengar ocehan momy nya yang terdengar kesal dari seberang.
"kalau di kutuk jadi pria tampan, Rafa mau aja di kutuk mom, tertawa senang, karena menggoda sang momy.
" ngak di kutuk juga sudah tampan kok anak mom, tapi kalau mom kutuk jadi kodok sepertinya seru juga tuh, ucap Felix balik menggoda Rafa.
"Masa momy tega ngutuk anak sendiri jadi kodok??
" Hahaa, momy bercanda sayang, gimana kabar di sana.??
"Masih dalam proses mom, dan Rafa belum bisa pulang.
" Baiklah, mom mengerti, jaga diri baik-baik, jangan lupa makan sayang, ucap Felix mengingatkan.
"Tentu mom, momy juga jaga kesehatan, kalau masalah di sini cepat selesai Rafa akan secepatnya pulang mom.
__ADS_1
" momy akan menunggu sayang, kalau gitu momy tutup ya.
"Ok mom, by.
" By, sayang.
Sambungan pun berakhir, tak lama Rafa yang hendak keluar dari kamarnya di kejutkan Atika yang sudah berdiri di depan pintu kamarnya, hendak mengetuk pintu, namun belum sempat Atika mengetuk, pintu lebih dulu terbuka.
Atika yang kaget pun terpekik, namun sesaat ia sadar apa tujuannya kesana.
"Maaf tuan ada tamu untuk anda, dan sedang ada di bawah, ucap Atika yang bersikap biasa saja pada Rafa.
Rafa tak menjawab, tatapannya datar dan dingin, bahkan ia tak menghiraukan Atika, berjalan meninggalkan Atika yang masih berdiri terpaku di sana.
Rafa sebenarnya tak sanggup bersikap demikian pada Atika, namun karena Atika yang sudah lebih dulu memasang pembatas antara mereka, hingga Rafa pun tak ingin membuat Atika semakin membencinya.
Atika yang melihat sikap dingin dan datar Rafa, merasakan sesak, karena sikap Rafa yang menanggapi ucapan Atika, padahal jelas-jelas baru saja Atika bicara pada Rafa, apakah karena waktu itu aku bicara ketus padanya, hingga tuan bersikap dingin padaku?? batin Atika, menyesali ucpannya kala itu.
Rafa yang sudah bicara pada tamu yang di beritahukan Atika tadi, Rafa melirik Atika yang baru saja turun, terlihat jelas wajah sendu Atika, Rafa tahu Atika sedih karena sikapnya tadi, tapi menurut Rafa itu yang Atika inginkan.
Atika pun berjalan menuju dapur bermaksud membuatkan teh untuk tamu dan Rafa.
"Terima kasih Nona, ucap tamu itu, tersenyum manis pada Atika.
" Sama-sama tuan, silahkan di minum, sahut Atika lembut dan tersenyum hangat pada tamu tersebut.
Rafa yang melihat kelembutan dan senyuman Atika menanggapai ucapan tamunya, mengertakkan giginya, giliran denganku, gadis ini begitu ketus dan cuek, tapi lihatlah pada tamu itu, ia bahkan tersenyum dan penuh kelembutan saat bicara, batin Rafa, menghela nafasnya panjang, kesal.
Atika pun kembali ke dapur, melanjutkan pekerjaannya yang tertunda, tapi Bibi Lana justru meminta Atika untuk menata makanan di meja makan.
Tak lama Rafa dan tamu pun selesai dengan obrolan mereka, tamu itu pun pamit, namun sebelum pergi, lagi dan lagi tamu itu menyapa Atika dengan sopan.
"Mari Nona, ucap tamu itu tersenyum manis.
" Silahkan tuan, tersenyum menunduk hormat pada tamu itu.
__ADS_1
Atika tak menyadari, sikapnya barusan membuat Rafa semakin geram, melihat Atika bahkan begitu hangat pada tamu itu, Rafa masih berdiri di sisi sofa, menatap Atika tajam dan dingin.
Atika yang di tatap hanya menunduk, dan kembali merapikan makanan, dan sesekali ia melirik Rafa, yang ternyata masih menatap Atika.
Tentu hal itu membuat Atika jadi tak fokus, hingga tangannya menyenggol gelas hingga jatuh dan pecaahan gelas melukai kaki Atika.
Atika pun meringis, saat pecahan gelas itu mengenai kakinya, untung hanya goresan yang tidak terlalu lebar.
Atika melihat Rafa pergi, bukannya menolong, membuat Atika merutuki sikap Rafa, namun sesaat Atika menyesali umpatannya, karena ternyata Rafa mengambil kotak obat.
"Obati dengan ini.! sepertinya kau sangat senang di sapa tamu tadi, hingga fokusmu hilang.! ucap Rafa ketus dan duduk di sofa.
Atika yang mendengar pun geram. " Heh tuan kejam, ngak sadar apa, tatapan tajammu itu yang membuat aku jadi terluka begini.! sembarang saja kalau bicara" tentu ucapan itu hanya di dalam hati Atika, namun jangan tanya tatapan Atika tak kalah tajam, karena kesal dengan ucapan Rafa.
Drama tatapan tajam pun usai, saat Dewa muncul dari kamarnya, yang sudah merasakan lapar.
Dewa sempat melihat bosnya dan Atika yang berperang dengan tatapan masing-masing, namun Dewa hanya menggeleng, tak niat untuk bertanya.
Atika yang sudah selesai mengobati lukanya, kembali bergabung di meja makan, dan di sana sudah duduk Rafa, Dewa, dan Bibi Lana.
Mereka pun memulai menyantap malan malam, saat makan Rafa pun berkata.
"Apa Bibi sudah menerima uangnya?? tanya Rafa sambil mengunyah makanannya.
" Sudah tuan, Bibi sangat berterima kasih tuan, ucap Bibi Lana.
"Sama-sama Bik, setidaknya Bibi tahu cara bagai mana berterima kasih, ucap Rafa yang tentunya menyindir Atika, yang tak mengucapkan terima kasih tadi saat memberikan obat luka pada Atika.
Atika yang sadar perkataan Rafa jelas tertuju padanya, mendongak, menatap Rafa tajam, sedetik kemudian Atika melepas sendok makannya dan berdiri, meninggalkan meja makan, pergi ke kamarnya.
Dewa dan Bibi pun menatap kepergian Atika bingung, tapi tidak dengan Rafa, ia masih kesal pada Atika yang bicara lembut dan tersenyum pada tamunya tadi.
Haddeeeehhh..!!!
Next.
__ADS_1
Jangan lupa jejaknya ya Guys.
Salam Arthor.