
Sehabis makan malam, semua anggota keluarga pun berkumpul di ruang keluarga.
Cita yang masih canggung dengan keadaan sekitarnya, masih terlihat kaku saat bicara pada orang-orang yang baru pertama kali ia temui.
Namun, dalam hitungan beberapa menit saat berbincang di ruang keluarga, Cita yang tadinya merasa canggung, justru semakin sulit mengerti situasi, saat karakter yang sesungguhnya terlihat di hadapannya sendiri.
"Selama belum bekerja di kantornya Rafa, kamu tinggal di mana Cita?? Felix pun memulai obrolan ringan terlebih dahulu.
" Di kampung bunda, tapi sebelum bekerja di kantornya pak Rafa, Cita bekerja di salah satu hotel X, dan itu awal..,
"Dan kami tidak sengaja bertemu di sana tante" Dewa yang tak di tanya justru menyambung dengan sembarang pembicaraan mereka, seolah tak ingin Cita bicara lebih banyak soal masalah itu, entah apa yang di pikirkan Dewa saat ini.
"Yang di tanya siapa, kok malah yang jawab siapa?? Felix yang menjawab pun, merasa curiga dengan gelagat Dewa yang tiba-tiba menjawab, sementara Cita belum selesai dengan ucapannya.
" Kebiasaan kamu ya Dewa, yang di tanya itu Cita bukan kamu" Aliando pun justru ikut kesal karena tingkah Dewa barusan.
"Maaf om, saya hanya spontan saja" alasan Dewa.
"Spontan kepalamu, jangan bilang kamu takut ada sesuatu yang terjadi saat pertama kali kalian bertemu"
Felix pun langsung bisa menebak isi kepala Dewa, yang mencoba membatasi pembicaraan Cita tadi.
"Apa benar itu Cita??
Aliando justru sengaja bertanya pada Cita, seolah punya rencana yang akhirnya akan memojokkan Dewa, dan tentunya itu adalah hal keseruan bagi Aliando, yang akan mendapat amukan dari istrinya pada Dewa tentunya.
Cita yang di tanya pun, langsung melempar tatapan pada Dewa, dan saat bertemu pandang pada Dewa, sungguh Cita bingung, saat wajah memelas Dewa begitu mengibah, seolah memberi sinyal agar Cita tidak bicara panjang lebar, karena akan berakibat kena amukan sang ratu macan.
"Bicara yang sebenarnya sayang, dan lihat bunda, jangan lihat yang lain"
Felix yang tahu wajah memelas Dewa, paham akan adanya sesuatu yang tidak enak pada saat mereka bertemu pertama kalinya.
__ADS_1
Mendengar ucapan Felix, Dewa pun berkali-kali menelan ludahnya dengan susah payah, dan sedikit menggeser duduknya menjauh dari sang ratu macan, membuat ancang-ancang, agar bisa kabur dari amukan sang ratu macan.
"Waktu itu, ada acara di hotel X, nggak sengaja mas Dewa terkena tumpahan minuman, dan saat itu kami sempat adu mulut, dan mas Dewa sangat kesal, hingga melaporkan saya pada atasan Cita, dan nggak tahu ceritanya gimana, kemudian harinya Cita justru di kasih pilihan, dan mau tidak mau Cita terpaksa memilih, dan berujung bekerja di kantornya pak Rafa sebagai OG bunda"
Tatapan tajam beberapa pasang mata pun, langsung menghujam Dewa yang seolah akan menguliti tubuhnya, setelah mendengar cerita dari Cita.
Tak lagi bisa mengelak, karena apa pun alasannya, tetap saja si Dewa yang malang akan mendapat imbas dari cerita sang kekasih yang sangat polos.
"Apa seseorang tidak mau menjelaskan ini??
Felix pun menyindir Dewa yang diam membeku, bak es batu yang enggan mencair.
Sementara yang lainnya justru tersenyum senang, melihat Dewa yang terlihat salah tingkah, bagai mana caranya agar ia selamat dari sang ratu macan, bahkan ia berkali-kali melempar tatapan memelas pada Rafa, agar dapat membantunya, namun Rafa seolah tidak paham akan air muka yang Dewa tunjukkan, apa lagi melihat kegelisahan Dewa, membuat Rafa ingin sekali tertawa keras, yang sama sekali tidak bisa mengatasi kondisi saat ini, padahal kalau di kantor atau di luar sana, masalah yang sangat genting sekali pun Dewa orang yang paling bisa di andalkan, tapi tidak di situasi saat ini, karena bawaannya semakin horor dan membuat merinding, karena dua pasang mata seakan ingin menelannya hidup-hidup.
Cita yang polos pun semakin bingung, melihat kegelisahan dan kebungkaman sang kekasih, berpikir kenapa harus takut mengatakan yang sebenarnya, toh jujur lebih baik dari pada berbohong, itulah yang di pikirkan Cita.
"Ayolah mom, mommy kan tahu sendiri pertemuan pertama itu nggak selalu indah dengan siapa pun kita pertama kali bertemu"
Rafa yang tidak tega melihat Dewa, akhirnya mencoba mencairkan suasana.
Mendengar ucapan mommy nya, Rafa pun langsung gelagapan, padahal niat hati ingin membantu Dewa dari amukan si ratu macan, justru ia jadi ikut di kambing hitamkan, dan menyesal jadi sok pahlawan pada si Dewa.
"Tidaklah mom, anakmu ini kan orang baik dan tidak sombong" Rafa pun membela diri, bahkan sok cool saat bicara.
"Hah.!! jangan lupa siapa yang dapat penyesalan, saat sudah salah sangka dengan seseorang, dan hampir stres lagi"
Felix pun langsung menembak dua belas pas pada Rafa, yang mungkin lupa dengan masa lalunya, dan Felix tidak ingin, orang di sekitarnya melakukan hal demikian, mengingat betapa sakitnya ia rasakan dulu, saat pertama kali bertemu dengan sang suami, yaitu Aliando, dan karena penyesalan yang besar jugalah pada Aliando, yang susah banyak menorehkan luka pada Felix di masa lalu, mendukung sikap istrinya, yang tidak ingin, orang sekitarnya, apa lagi keluarganya melakukan hal yang menyakiti hati, bahkan mempersulit hidup orang lain.
Rafa yang mendapat sindiran pun langsung menunduk malu, namun saat ia hampir terbawa suasana masa lalu, Atika justru langsung paham dengan situasi, mengusap punggung sang suami dengan lembut, sebagai isyarat bahwa itu hanya masa lalu, dan sudah berlalu, menguatkan suaminya lewat sentuhan lembut, agar tidak lagi mengingat hal itu, dan juga tidak menyalahkan mama mertuanya, karena Atika yang sudah tahu bagai mana cerita masa lalu mertuanya dulu, itulah yang membuat Felix tidak menyukai sikap seperti itu, walau salah atau tidak sengaja, bicara baik-baik, dan tidak perlu kasar atau pun mempersulit orang lain dengan kekuasaan yang kita miliki.
"Maafkan Dewa tante, saat itu aku khilaf, karena terbawa emosi, dan juga tidak mencari tahu dulu siapa Cita, dan bagai mana kehidupannya, dan karena rasa penyesalan itu jugalah, Dewa berusaha agar mendapat maaf dari Cita, maafkan Dewa tante"
__ADS_1
"Bug"
Serangan mendadak pun tak terelakkan, karena tepat sasaran, saat bantalan sofa mengenai kepala Dewa, dan semua orang hampir terbahak, tapi tidak ada yang berani, karena sang ratu macan lagi mode serius saat ini, hingga mereka menahan tawanya, dan hanya tersenyum miring.
"Maaf aja tentu tidak cukup kan??, dan ada perhitungan untuk itu"
Felix pun langsung menyerang Dewa, dan siapa pun tidak ada yang berani membantah itu, karena ujungnya akan ikut terkena imbasnya.
"Saya kan sudah menyesal tante, bahkan sudah mendapatkan maaf dari Cita"
Dewa yang tahu apa tujuan ucapan sang ratu macan, mencoba agar mendapat ampunan.
"Yang menentukan itu cuma tante, dan kalau kamu masih membantah, akan dua kali lipat.!!
Skakmat Felix, langsung membuat Dewa bungkam, dan tak berani lagi bicara, hanya bisa pasrah apa pun nantinya hukuman yang akan ia jalani dari sang ratu macan.
Cita yang masih tidak paham, dan kenapa ceritanya seolah hal penting untuk di bahas, dan menjadi permasalahan yang berujung hukuman pada sang kekasih, apa lagi seperti yang di katakan Dewa, Cita sudah memaafkan sang kekasih, dan bahkan mereka menjalin hubungan, karena sudah saling terbuka dan memaafkan satu sama lain, namun justru ceritanya membuat petaka pada sang pujaan hati.
"Malam ini Cita tinggal di sini, dan kamu pulang sendiri, jangan coba untuk merayu atau membujuknya agar kamu bisa membawanya dengan alasan yang tidak masuk akal, dan itu sudah keputusan tante.!!
Dewa yang mendengar pun langsung melotot kaget, karena tidak terima kekasih hatinya di tahan di sana, berusaha mencari alasan masuk akal, agar bisa membawa Cita pulang bersamanya.
"Tapi, selain bekerja Cita juga ada kuliah tante, dan tentunya tante nggak akan membiarkan Cita bolos kuliah"
"Kalau begitu, selama sebulan ini Cita akan tinggal di sini, dan akan kuliah dari sini, dan kamu Rafa, jangan membuat potongan apa pun pada Cita, karena sebulan ini Cita tidak akan bekerja, dan untuk selanjutnya, Cita bekerja di sana tidak lagi sebagai OG, buat Cita bekerja dengan jurusan perkuliahannya saat ini, sebagai karyawan magang, sampai Cita benar-benar sudah menyandang gelarnya, barulah Cita bisa kamu tempatkan sesuai dengan ke mampuannya.
Dan kamu, jangan coba-coba untuk mencuri kesempatan bertemu dengan Cita, kalau tidak ingin mendapat akibatnya, sebulan itu sudah waktu yang singkat tante berikan, dan kalau sampai kamu melanggarnya, selamanya kamu tidak akan bisa bertemu Cita, paham.!!
Cita yang mendengar penuturan dari Felix pun, semakin tidak habis pikir, kenapa cerita masa lalunya jadi berimbas begini, dan ini sangat konyol bagi Cita, dan kenapa semua orang yang berada di sana tidak ada yang berani membantah, bahkan bertanya padanya pun tidak ada, apakah Cita bersedia tinggal di mansion itu apa tidak, justru semua ucapan sang ratu macan mutlak dan tidak bisa di ganggu gugat.
"Paham tante"
__ADS_1
Sahut Dewa dengan lesunya, dan jangan tanya hati nya saat ini menjerit ngilu, padahal rencananya setelah makan malam, ia berencana mengajak Cita ke suatu tempat, namun kini rencana itu hanya tinggal hayalan semata, dan siapa yang berani menentang perintah si ratu macan, karena akan panjang urusan bila berani menentang apa yang sudah menjadi keputusannya, pasrah dan tentunya harus kuat dengan menjalani hari-harinya selama sebulan ini tanpa melihat dan bicara pada sang pujaan hati.
Next.....