
Sudah tiga hari Rafa dan Atika tinggal di Vila, semenjak pulang dari hotel.
Rafa yang tidak mengekang Atika dalam hal apa pun, membuat Atika senang.
Meski Atika sudah jelas sebagai kekasih Rafa, bukan berarti Atika jadi bersikap melunjak pada para pekerja.
Sebenarnya Rafa tak ingin Atika bekerja seperti biasanya, tapi bagi Rafa dengan membiarkan Atika melakukan yang menurut Atika baik, tentu Rafa tidak melarang hal itu, seperti saat ini Atika juga melakukan Aktivitas yang sama seperti para pekerja lainnya, dan Rafa senang melihat Atika yang berbaur tanpa rasa terpaksa dan canggung.
Atika merapikan makanan di meja makan, untuk sarapan pagi seperti biasanya.
Rafa yang baru turun dari kamarnya, sudah rapi dengan pakaian kantornya.
"Selamat pagi sayang.
" Eh, sudah rapi rupanya, ucap Atika sedikit kaget yang tak melihat Rafa turun karena membelakangi tangga.
Rafa tersenyum hangat, setiap kali melihat Atika yang bersikap apa adanya, membuat Rafa sangat nyaman, apa lagi Atika yang selalu membuat Rafa selalu gemas dengan kejahilan Atika, yang selalu menggoda Bibi Lana dan Dewa.
"Makan yang banyak, ucap Atka menyodorkan piring yang sudah di isi Atika.
" Makasih sayang, ucap Rafa mengelus lembut kepala Atika.
"Sama-sama.., sahut Atika lembut dan hangat, dan senyum yang selalu terukir di bibir manisnya.
Dreett
Ponsel Rafa berdering saat suapan terakhir, mengambil ponselnya dan melihat masih nomor yang tak di kenal tertera di sana.
Sudah dua hari Rafa melihat panggilan tak terjawab dari nomor yang tidak di kenalnya itu
Rafa sengaja tak mengangkat, karena merasa tak penting mengira hanya salah sambung.
Namun ini sudah hari yang ketiga, nomor yang sama masih menghubungi ponselnya.
Karena penasaran Rafa memutuskan mengangkat panggilan itu.
" Halo
Deg
__ADS_1
Jantung Rafa pun berdebar mendengar suara wanita dari seberang telponnya.
Rafa masih diam, menatap Atika yang duduk di sampingnya, takut Atika berpikir yang tidak-tidak, karena pemikiran Atika masih begitu polos.
Rafa pun menekan tombol loudspekear, agar Atika juga mendengar pembicaraan mereka, ia tak ingin Atika berpikir ia menyembunyikan sesuatu dari Atika.
"Hm, ada apa?? sahut Rafa dingin.
Atika yang duduk di samping Rafa, mendengar suara seorang wanita menghentikan makanannya, bertanya dalam hati, siapa wanita yang menelpon Rafa, pikirnya.
Atika berusaha tenang, meski hatinya sedikit tak nyaman karena seorang wanita yang menghubungi kekasihnya itu, mendengar saja, berpikir Rafa membesarkan suara ponselnya agar ia juga bisa mendengar, tak ingin menyembunyikan sesuatu dari Atika.
"Aku hanya ingin tahu kabarmu??
"Apa itu penting?? sahut Rafa ketus.
"Aku minta maaf untuk yang sudah terjadi, ucap Celi dari seberang sana.
Yah, wanita yang menghubungi Rafa adalah Celi, yang sudah dua hari selalu menghubungi Rafa, baru kali ini ada jawaban.
" Kalau bukan hal penting, jangan hubungi ke sini lagi, ucap Rafa geram, karena Celi membahas hal yanh sudah ia buang jauh-jauh dari hati dan pikirannya.
"Maafmu sudah tidak berarti apa-apa lagi, seperti kau yang sudah ku anggap tak ada, ucap Rafa dingin mengepalkan erat tangannya.
Deg
Atika melihat Rafa berubah dingin, tangannya yang terkepal membuat Atika berpikir wanita itu adalah wanita yang pernah ada dalam hati sang kekasih, dada Atika pun sesak mengetahui ini semua, tapi masih berusaha tenang mendengar pembicaraan mereka.
" Maaf sudah membuatmu kecewa, dan aku menyesal, ucap Celi yang sudah terisak di seberang.
"Semua sudah berlalu, dan aku harap kau mengerti maksudku, dan aku sudah melupakan yang berhubungan tentangmu, hiduplah dengan pilihan masing-masing, dan aku harap ini yang terakhir kau menghubungiku, karena aku tak ingin kekasihku berpikir aku punya hubungan lebih denganmu, karena ia juga mendengar kita bicara saat ini, ucap Rafa sengaja, agar Celi tahu Rafa sudah bahagia dengan Atika, dan Atika pun tak berpikir macam-macam tentang dirinya.
Celi pun menangis histeris di seberang sana, mengetahui Rafa sudah punya penggantinya, merasa tak rela, karena Celi masih mencintai Rafa.
"Aku adalah korban, apa sedikit pun tidak punya rasa iba padaku?? ucap Celi di sela isak tangisnya.
" Lalu bagai mana denganku?? kau hanya memikirkan perasaanmu, dan berpikir hanya kau yang terluka.! ucap Rafa yang semakin tak tahan dengan ucapan Celi.
"Karena yang terjadi bukan keinginanku.! ucap Celi masih tak mau mengalah.
__ADS_1
" Cih, egois.!! kalau bukan keinginanmu, tak semudah itu kau percaya pada omongan pria bre*****k itu, dan menemuinya tanpa izinku, kau anggap apa aku.!!! ucap Rafa membuat Celi bungkam.
"Jangan pernah mengharapkan yang tak akan bisa kau gapai, kalau takdir harus mengatakan lain, aku lebih memilih mati dari pada..
Tut, tut, tut.
Panggilan terputus, Celi tak sanggup lagi mendengar kata-kata yang menyakitkan dari Rafa, hingga memutuskan panggilan itu sepihak.
Rafa yang emosi dan geram, melempar ponselnya hingga hancur berkeping.
Braakk.!!
Atika yang melihat dan mendengar pembicaraan itu, sempat merasa tak nyaman, namun mendengar ucapan Rafa pada wanita itu membuat Atika yakin pada Rafa yang tidak memiliki rasa apa pun lagi pada wanita itu, yang ada hanya kebencian, terlihat dari tatapan mata dan ucapan kasar Rafa pada wanita itu.
Atika mengelus punggung Rafa lembut, ia tahu suasana hati Rafa yang tidak baik, apa lagi ia mendengar semua, Atika yakin Rafa berpikir telah menyakiti perasaan Atika.
" Maaf, ucap Rafa lirih merasakan usapan di punggungnya, membuat Rafa sedikit tenang.
"Aku tidak apa-apa, dan kamu sudah berusaha jujur di hadapanku, dan aku tidak akan melepas apa yang sudah jadi milikku.! ucap Atika tegas membuat Rafa lega.
"Terima kasih, ucap Rafa memeluk Atika erat, dan berpikir ia akan menjadikan Atika miliknya seutuhnya, agar dunia tahu Atika miliknya seorang dan Atikalah wanita yang berhak berdiri di sampingnya.
" Jangan pikirkan lagi, berangkatlah kerja, karena si gadis gubuk ini akan menunggumu pulang, ucap Atika mengedipkan sebelah matanya, mencoba mencairkan suasana dengan sikap jahilnya itu.
Rafa pun tersenyum bahagia, karena Atika bisa mengerti keadaannya, mencium kening Atika lembut, lalu pamit pergi ke pabrik.
Dewa yang memperhatikan dua sejoli itu sejak tadi, tersenyum senang, melihat Atika yang berjiwa besar, sungguh wanita yang pantas untuk di pertahankan, batin Dewa.
Atika masih berdiri melihat kepergian Rafa dan Dewa, menghela nafasnya dalam, berharap hubungannya dengan Rafa baik-baik saja, dan ia tidak akan kecewa pada laki-laki yang di cintainya, semoga, harapan Atika.
"Cari tahu keberadaan wanita itu, dan beri dia peringatan keras.!! aku tak ingin Atika tertekan karena masalah ini, meski tadi ia terlihat tenang, tapi hatinya tidak, karena ia hanya berusaha menenangkan aku dan menutupi kesesakkannya, ucap Rafa yang masih memikirkan kejadian tadi, di dalam mobilnya.
" Siap bos, seuai perintah anda.!
Next.
Jangan lupa jejaknya ya Guys.
Salam Arthor.
__ADS_1