
Dokter masih sibuk memeriksa Atika di ruang UGD, sementara Rafa bagai cacing kepanasan di luar UGD, yang di temani Mark juga Sonia.
Mark yang melihat Rafa tidak tenang, membujuk Rafa untuk duduk, dan sabar.
"Rafa, jangan seperti ini, kamu harus yakin istrimu akan baik-baik saja" ujar Mark yang pusing melihat Rafa, mondar mandir nggak jelas.
"Bagai mana aku bisa tenang, duduk manis di sini, sementara aku nggak tahu bagai mana keadaan istriku di dalam sana.! ujar Rafa, yang tidak perduli dengan ucapan Mark.
" Bukan begitu Raf, kalau kamu lebih tenang sedikit, tentunya kamu lebih bisa berpikir jernih, dan tidak memikirkan hal-hal yang buruk" ujar Sonia ikut menimpali.
Rafa tak menjawab ucapan Sonia, bahkan menurutnya ucapan kedua sahabatnya itu, hanya untuk menenangkannya sesaat, tapi pikiran bahkan detak jantungnya sama sekali tak bisa tenang, sebelum dokter yang memeriksa istrinya memberikan keterangan.
Nenek Mila yang juga berada di sana tak bicara apa pun, malah hanya bisa meneteskan air matanya.
Berdoa dalam hati, bahkan menyebut nama ibu Atika, Nenek Mila jadi teringat dengan keponakannya itu, yang sempat tinggal bersamanya dulu.
Saat Rafa ingin bicara pada Nenek Mila, Tiba-tiba pintu ruang UGD terbuka, menampilkan seorang dokter wanita, yang keluar dari ruang UGD itu.
Melihat itu Rafa langsung berjalan cepat mendekati dokter wanita itu.
"Bagai mana keadaan istriku Dok??
" Kami sudah memeriksa keadaan ibu, sepertinya ibu mengalami dehidrasi, bahkan tubuh nya sangat lemah, karena asupan makanan yang kurang, dan, _
Dokter menggantung ucapannya, berpikir apakah sebaiknya bicara empat mata soal hal yang serius tentang keadaan pasiennya itu.
"Apa dokter, katakan pada saya, jangan ada yang anda tutupi" ujar Rafa yang tak bisa menahan, ingin tahu istrinya mengalami hal apa.
"Baiklah, saya akan jelaskan, kalau bapak tidak keberatan saya katakan di sini. Ibu mengalami hal serius, karena terlalu lemah, bayi yang ada dalam kandungan ibu juga mengalami penurunan detak jantung yang lemah, jadi saya sarankan Ibu lebih baik di bawa ke rumah sakit yang lebih memadai, karena ibu harus menjalani perawatan intensif saat ini, kalau tidak makan akan fatal untuk janinnya" ujar Dokter wanita itu menjelaskan, serta menyarankan membawa pasiennya itu ke rumah sakit yang lebih baik, karena kemungkinan akan melakukan operasi, karena keadaan janin terlalu lemah, untuk bertahan.
Rafa yang mendengar penjelasan dokter, merasakan dadanya semakin sesak, jantungnya berdetak lebih keras, bahkan kakinya gemetar, seolah dunianya runtuh saat itu juga, dan tanpa bisa ia bendung lagi, air matanya pun berderai begitu deras, tak sanggup mendengar keadaan istrinya yang memprihatinkan.
"Ini bukan waktunya untuk lemah Raf, ayo kita bawa Atika segera, agar tidak semakin fatal, seperti yang di katakan dokter" ujar Mark, yang mengesampingkan perasaan berat Rafa saat ini, karena menurutnya Atika dan janinnya harus segera mendapatkan perawatan yang lebih baik, atau pun tindakan medis yang berkualitas.
Mendengar ucapan Mark, Rafa pun tersadar, bukan saatnya untuk terpuruk, dan ia pun langsung menghubungi anak buahnya untuk menyiapkan Jet pribadi nya, dan akan membawa Atika ke kota asalnya.
Para petugas rumah sakit pun sibuk mempersiapkan segalanya, karena itu adalah bagian dari tanggung jawab mereka.
Ambulans yang sudah di persiapkan untuk membawa Atika, menuju bandara Jet pribadi Rafa, dan segala keperluan lainya juga sudah beres, bahkan dokter menempatkan dua orang perawat yang berpotensi untuk ikut, takut ada hal yang tidak di inginkan terjadi.
Dengan hati-hati, mereka membawa Atika masuk ke dalam Jet pribadi, dan sebelumnya Rafa meminta anak buahnya untuk mengantar Nenek Mila pulang ke rumahnya, sekalian berpamitan pada Nenek Mila.
__ADS_1
Sonia dan Mark, tetap setia mendampingi Rafa, dan mau tidak mau Rafa, pun tak lagi bisa menyembunyikan keadaan ini dari daddy nya, ia pun menghubungi daddy nya, memberitahu keadaan Atika saat ini. Tapi Rafa berpesan pada daddy nya agar tidak mengatakan pada sang Mommy, karena keadaan mommy nya juga saat ini sedang tidak baik.
Tak terasa mereka pun sudah tiba di bandara pribadi Rafa, di sana sudah ada mobil ambulan dan beberapa tim medis yang berkualitas untuk membawa dan memeriksa keadaan Atika.
Setelah Dewa mendapat berita dari Rafa, Dewa langsung menghubungi pihak rumah sakit, dan mempersiapkan segalanya untuk kepentingan Atika.
Dua perawat yang ikut mengantar, bergabung dengan para tim medis yang sudah menunggu.
Di dalam ambulans, Dokter Leo meminta rekam medis Atika sewaktu di periksa di rumah sakit sebelumnya, dan setelah mengetahui, Dokter Leo langsung memerintahkan untuk menyuntikkan obat pada Atika, agar tidak bisa bertahan selama perjalanan menuju rumah sakit.
Kedua perawat yang ikut dari kota Y pun, merasa takjub dengan apa yang mereka lihat, hingga berpikir wanita yang saat ini mereka tangani bukalah wanita sembarang, dilihat dari kemewahan upaya dari keberangkatan, hingga mereka tiba, melihat para tim medis yang ada serta ambulans yang begitu mewah, membuat dua perawat itu semakin yakin, mereka sedang bekerja pada orang yang tidak sembarangan.
Rafa yang setia duduk di sebelah istrinya yang terbaring lemah, apa lagi membuatnya semakin kacau, mesin monitor yang selalu berbunyi, seakan membuat Rafa tak sanggup, membuat pikiran nya berlarian ke mana-mana.
Tak lama mereka pun sampai di rumah sakit, semua petugas langsung heboh menyambut kedatangan sang nona muda, bergerak cepat dan jangan sampai melakukan kesalahan, karena itu akan fatal bagi karir mereka, yang di anggap tidak becus dalam bekerja.
Atika pun di turunkan dari mobil ambulans, Dokter Leo langsung menyuruh petugas untuk menyiapkan ruang operasi, dan memanggil dokter kandungan yang akan melakukan operasi pada Atika.
Melihat kondisi lemah Atika, tidak menjamin janinnya baik-baik saja, hingga mereka harus mengambil keputusan untuk melakukan operasi sesar, menyelamatkan janin yang sudah begitu lemah di dalam kandungan Atika.
Dokter Leo juga memanggil Rafa, menjelaskan pada Rafa, bagai mana keadaan sesungguhnya, meski demam tinggi yang Atika alami sudah mereda, tapi saya tahan tubuh yang lemah, mempengaruhi janin Atika, dan harus segera di keluarkan, kalau tidak kecil kemungkinan bayi itu selamat.
Rafa pun tak bisa mengatakan apa pun lagi, ia hanya berserah pada dokter untuk melakukan yang terbaik pada istri dan calon anaknya.
Tak lama daddy nya pun tiba di rumah sakit, berharap ia akan mendapat pelukan hangat sang daddy dan memberinya semangat, justru berbanding terbalik, Rafa malah mendapatkan tamparan keras dari sang Daddy.
"Plaaakkkkk.!!!
Sonia dan Mark yang melihat pun,, sontak terkejut, melihat pemandangan di hadapan mereka.
Sonia jadi semakin merasa bersalah, dan iba melihat keadaan Rafa, apa lagi saat ini, melihat Rafa di perlakukan demikian, Sonia semakin tak tega.
" Apa yang bisa kamu jelaskan pada daddy sekarang.!! katakan.!! teriak aliando yang sudah kembali menarik kerah baju Rafa. Amarahnya sudah sangat memuncak, istrinya yang sakit, dan sekarang menantunya keadaannya cukup serius, membuat Aliando tak bisa tahan, meluapkan amarahnya pada Rafa.
Rafa yang di tampar, dan di bentak daddy nya hanya diam dan meneteskan air matanya, bahkan ia tak melawan sedikit pun.
"Apa setelah semua ini terjadi kamu jadi bisu hah.!!! Aliando masih menarik kerah baju Rafa.
" Om, jangan seperti ini om, semua terjadi di luar dugaan Rafa juga om" ujar Mark yang merelai Rafa dan daddy nya.
Aliando yang geram, mendorong Rafa dengan keras, hingga terjerembab ke dinding rumah sakit.
__ADS_1
Rafa bahkan tak berani menatap daddy nya, ia rela mendapatkan pukulan apa pun, asalkan itu bisa menebus kesalahannya, dan istri serta calon anaknya baik-baik saja, sesuai harapannya.
"Panggil Leo kesini, katakan padanya saya mau bicara" ujar Rafa pada seorang perawat yang sedang berlalu.
"Baik tuan besar" sahut perawat itu cepat, dan berlari menuju ruangan dokter Leo.
"Permisi Dok, Tuan besar meminta anda menemui beliau di depan ruang operasi" ujar perawat itu, dengan nafas yang tersengal-sengal.
Leo yang mendengar perintah dari Aliando, tanpa bertanya apa pun, langsung berdiri, dan pergi menemui sang Tuan besar itu.
"Kalau sudah begini akan semakin rumit urusannya, karena percuma memberi keterangan pada si somplak itu, karena hanya tahunya marah, dan marah saja, huh.! batin dokter Leo, sepanjang ia berjalan.
Melihat Leo berjalan dan mendekat padanya, Aliando yang tadinya duduk, langsung berdiri, dengan tatapan yang tajam seolah ingin menelan dokter Leo, hidup-hidup.
"Kamu memanggil ku Di?? ujar dokter Leo yang sudah berada di hadapan Aliando.
" Kalau menantu dan cucu ku tidak selamat, maka yang akan membayarnya adalah kamu.!! ujar Aliando yang langsung memvonis dokter Leo.
Leo yang mendengar, langsung melotot tak percaya, merasa ucapan sahabatnya itu tak masuk akal, seolah-olah, dialah yang membuat Atika dan calon anaknya berujung demikian.
Namun dokter Leo tak ingin melayani kegilaan sahabatnya itu, karena kalau pun ia membela diri, tidak akan berguna, tetap sama hasilnya, ia akan selalu salah.
"Tim dokter sudah melakukan yang terbaik, dan upayakan segala yang berbentuk serius pada menantu juga calon cucu mu, kamu tenanglah, para dokter sedang melakukan tugasnya, dari pada kamu marah-marah, menghabiskan energi mu, lebih baik kamu berdoa untuk yang terbaik pada mereka" ujar dokter Leo, bukannya membela diri atas tuduhan yang bukan ia lakukan, malah memberi saran yang baik pada Aliando, dan cukup tenang saat berbicara.
"Kau sudah berani mengatur ku??
Mendengar itu dokter Leo, ingin sekali menabok mulut sahabatnya yang somplak itu, tapi dia bisa buat apa, yang berkuasa itu adalah si somplak Aliando.
" Bukan mengatur, tapi kalau kamu berpikir dengan marah-marah di sini, bisa menyelamatkan Atika dan calon cucu mu, maka lakukanlah, dan tidak akan ada yang berani melarang mu.!! ujar dokter Leo, yang langsung skakmat pada Aliando.
"Saialan.!! dasar dokter cabul.!! ujar Aliando yang selalu menyebut Leo begitu, karena dulu sering membuatnya cemburu kalau istrinya selalu membanggakan dokter Leo.
" Terserah, tapi aku belum pernah mencabuli mu kan?? ujar dokter Leo tak mau kalah.
"Cih.!! enyahlah kau dari sini, aku risih berdekatan dengan mu.! ujar Aliando lagi.
" Risih.?? memangnya siapa yang memintaku datang kesini?? ujar dokter Leo yang geram, ingin sekali memberikan tonjokkan pada sahabat gilanya itu.
Perdebatan antar sahabat itu tak luput dari pandangan Sonia dan Mark, bahkan sonia sempat ingin tertawa, tak menyangka sifat daddy nya Rafa sedikit lucu ternyata, padahal tadinya Aliando sudah sangat emosi pada Rafa.
Haddeh, ternyata orang tua sulit juga di pahami, sebesar apa pun amarahnya, ternyata itu hanya keluar dari mulutnya saja, namun tak bisa memungkiri hati nuraninya.
__ADS_1
Next...
Up lagi ya Sob, tetap dukung. 🙏🙏🙏