
Mengetahui kondisi ayah mertuanya yang cukup serius, Rafa memerintahkan pada Dewa agar menempatkan pak Danu di rumah sakit terbaik dan perawatan yang terjamin.
Rafa yang sudah tiba, langsung menuju rumah sakit, tempat pak Danu di rawat, sebelumnya Rafa sudah menugaskan para anak buahnya untuk menangkap orang-orang yang terlibat, yang sudah berani melakukan perbuatan keji pada ayah mertuanya itu.
Di rumah sakit banyak pasang mata melihat kedatangan Rafa, mereka jelas tahu urusan apa sang pewaris JW grup itu datang ke rumah sakit itu, tentu karena seorang pria paruh baya yang terbaring lemah di ruang VIP itu.
Rafa pun masuk ke dalam, melihat ayah mertuanya terbaring lemah dan mata yang tertutup, dada Rafa pun sesak dan mengepalkan tangannya, melihat beberapa luka tusukan di tubuh pak Danu membuat Rafa semakin geram dan membayangkan, keadaan istrinya bila tahu keadaan ayah mertuanya yang cukup memprihatinkan, Rafa pun duduk di kursi yang ada di sebelah ranjang rumah sakit itu, ia pun mengelus pelan tangan pak Danu dan hatinya teriris melihat luka yang cukup parah di dada pak Danu.
Merasakan sentuhan di kulit tangannya, pak Danu pun membuka mata, menoleh ke samping dan melihat Rafa menantunya menggenggam erat jemari tangannya, melihat menantunya menangis pak Danu pun menatap sendu pada Rafa.
"Ayah maaf, ucap Rafa lirih lidahnya keluh, tak sanggup untuk melanjutkan kata-katanya, sebagai seorang anak Rafa merasa tak becus menjaga ayah mertuanya, merasa sudah mengecewakan pak Danu dan Atika istrinya.
"Apa Atika tahu?? tanya pak Danu lemah.
"Tidak ayah, tapi aku tidak akan bisa menyembunyikan keadaan ayah pada istriku, ayah tahu kan Tika sangat berarti pada ayah, kalau dia sampai tahu dari orang lain, Tika akan membenci ku ayah, ucap Rafa menghapus air matanya.
"Untuk saat ini tahan dulu, ayah nggak mau Atika melihat keadaan ayah seperti ini, tunggu sampai ayah lebih membaik dan ayah yakin kau bisa menyampaikan pada Atika dengan perlahan, ucap pak Danu yang tahu sifat putrinya itu.
"Baiklah, aku ikut pada keputusan ayah, ucap Rafa tak ingin memaksakan pak Danu.
"Nak, jangan menyalahkan dirimu dengan kejadian yang menimpa ayah ini, ayah tahu kau terbebani karena ini, ini musibah dan tidak ada yang perlu di salahkan, ucap pak Danu menatap Rafa dalam.
Mendengar ayah mertuanya yang masih bisa menerima dan memaafkan orang yang mencelakainya, Rafa terharu, sungguh hati ayah mertuanya dan istrinya begitu mulia, walau tertindas masih bisa mengampuni, dan tanpa ada rasa dendam, tapi bagi Rafa masalah dan perbuatan orang-orang yang sudah melukai mertuanya itu, tidak akan melepaskan orang-orang tersebut, agar di kemudian hari kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi.
Waktu menunjukkan pukul 7:30, Atika berusaha tenang, menantikan suaminya pulang, duduk di balkon kamarnya, menatap jauh dengan tatapan kosong, memikirkan masalah apa yang sedang di hadapi suaminya hingga tak ingin berbagi padanya.
__ADS_1
Rafa yang mendapat laporan dari anak buahnya, sudah menemukan target yang melukai ayah mertuanya itu, namun dalang dan otak pelaku sesungguhnya masih dalam pencarian dan Rafa tak menerima kegagalan para anak buahnya untuk menemukan orang tersebut, dan mencari sampai ketemu.
"Jangan hubungi aku bila hanya memberitahukan kegagalanmu, dan ingat bila orang itu tidak kau temukan maka kepala mu yang jadi gantinya, ucap Rafa dingin, membuat anak buahnya itu melotot dan susah menelan ludahnya, dan meraba kepalanya, membayangkan kepalanya terlempar dan terpisah dari lehernya, membuat ia merinding sendiri dan dengan tegas menjawab Rafa dari seberang telpon yang masih terhubung.
"Siap bos, kami tidak akan mengecewakan anda.! ucapnya dan sambungan telepon pun terputus sepihak.
Malam semakin larut, Atika berrkali-kali melihat jam di dinding kamarnya, namun tidak ada tanda-tanda suaminya akan pulang, karena lelah dengan pikirannya Atika pun tertidur di atas sofa di kamarnya.
Rafa pun melihat arlojinya, sudah hampir larut malam, dan ia harus tiba di mansion secepatnya, agar Atika tidak semakin curiga dan banyak bertanya saat ia pulang, karena Rafa masih belum sanggup menceritakan musibah yang menimpa ayah mertuanya itu.
Atika yang sempat tertidur hampir dua jam, ia terbangun dengan nafas ngos-ngosan, dan jantungnya berdebar sangat kuat, keringat dingin memenuhi kening dan seluruh tubuhnya.
Atika pun pergi ke kamar mandi, membasuh wajahnya yang berkeringat, saat di kamar mandi Atika menatap wajahnya di cermin, terlihat pucat detak jantungnya masih berdegup tapi sedikit mereda, Atika pun teringat kembali mimpinya, yang bertemu dengan ayahnya dalam keadaan yang memprihatinkan, namun yang membuat Atika bingung, ayahnya justru tersenyum dalam mimpinya, padahal terdapat banyak luka di tubuh ayahnya dalam mimpi Atika, dan ketika Atika bertanya tentang keadaan ayahnya, ayahnya hanya diam dan tersenyum penuh arti dalam mimpi itu dan perlahan ayahnya menghilang dari penglihatan Atika dan membuat Atika menjerit histeris, hingga terbangun dari tidurnya, dan Atika pun menyadari kejadian yang seperti nyata itu hanya mimpi.
Suara pintu kamar yang terbuka menyadarkan Atika dari lamunannya di depan cermin kamar mandi, Atika dapat menebak suaminya baru pulang, dan Atika pun keluar dari kamar mandi melihat Rafa yang berjalan seraya membuka jasnya dan meletakkan di atas sofa kamar.
"Kamu sakit sayang?? tanya Rafa mendekati Atika menyentuh kening Atika merasakan suhu badan Atika, tapi keadaan suhu tubuh Atika tidak panas, dan Rafa pun mengerutkan keningnya heran, merasakan suhu tubuh Atika yang biasa, tapi kenapa dengan wajah istrinya yang terlihat pucat, pikirnya.
"Aku baik-baik saja, ucap Atika paham dengan raut wajah suaminya yang menghawatirkan keadaannya.
"Tapi wajahmu pucat sayang, ucap Rafa menatap lekat mata Atika.
"Aku tadi bermimpi, mungkin karena itu, ucap Atika berjalan dan duduk di sofa.
"Mimpi?? tanya Rafa masih bingung, dan ikut duduk di sofa di samping Atika.
__ADS_1
"Aku bermimpi ayah tadi.
Deg
Jantung Rafa langsung berdetak kuat, berpikir apa yang di mimpikan Atika tentang ayah mertuanya itu, namun Rafa bersikap biasa menanggapi agar tidak terlihat kaget dengan ucapan istrinya itu.
"Mimpi ayah?? tanya Rafa pura-pura, agar Atika menceritakan mimpinya dan memastikan mimpi itu berhubungan dengan musibah yang menimpa ayah mertuanya atau tidak.
"Iya, di mimpi itu, aku melihat ayah penuh dengan luka, dan ayah sama sekali tidak terlihat kesakitan, dan malah tersenyum padaku, namun saat aku bertanya, ayah tak menjawab, malah semakin tak terlihat dari pandanganku, dan aku tersentak dari tidurku dan berteriak tadi, mungkin karena mimpi itu wajahku terlihat pucat, karena aku merasakan ketakutan tadi, ucap Atika membuat Rafa tertegun.
Sungguh ikatan batin yang cukup kuat, antara ayah dan putrinya, pikir Rafa, mimpi istrinya sama persis dengan keadaan ayah mertuanya saat ini, Rafa pun semakin merasa bersalah karena merahasiakan keadaan ayah mertuanya pada Atika yang saat ini tengah terbaring lemah dan cukup memprihatinkan.
"Ada apa? apa ada sesuatu yang terjadi, tanya Atika menatap Rafa yang melamun dan menatap kosong.
"T t tidak apa-apa, sahut Rafa gugup.
"Apa ada masalah di kantor?? tanya Atika mencoba bertanya pada Rafa, melihat sikap gugup suaminya, Atika yakin suaminya sedang menyimpan sesuatu.
"Tidak ada masalah apa pun, jangan berpikir yang tidak-tidak, dan ini sudah cukup larut, sebaiknya kita istirahat, dan besok aku harus ke luar kota, dan aku sangat lelah seharian ini, ucap Rafa berbohong lagi, dapat di lihatnya istrinya semakin mencurigainya, tapi ia berjanji setelah kembali dari urusannya, besok ia akan jujur dan menceritakan semuanya pada istrinya, ia tidak ingin istrinya terlalu berpikir keras karena melihat perubahan sikapnya dalam beberapa hari ini.
Atika pun mengangguk, memahami situasi suaminya saat ini, melihat wajah lelah suaminya, Atika tak tega dan memilih untuk menahan rasa penasarannya, dan mencari waktu yang tepat untuk bicara lebih serius pada suaminya, berjalan mengikuti Rafa naik ke atas ranjang mereka dan beristirahat, walau pikirannya masih belum tenang, tak ingin menambah beban pikiran suaminya, dengan pertanyaan-pertanyaan, yang semakin membuat suaminya itu terbebani dan tertekan.
Next.
Jangan lupa jejaknya ya Guys.
__ADS_1
Salam Arthor.
"