
Celi yang sudah kembali dari toilet, tiba-tiba kepalanya pusing, seseorang yang menariknya waktu di toilet tadi, membuat seakan dunianya runtuh.
Rafa yang melihat sikap aneh dari Celi, menghampiri Celi yang terlihat pucat.
"Kamu sakit sayang?? tanya Rafa mengelus pipi Celi lembut.
" Hanya sedikit pusing, sahut Celi yang semakin tak tenang, berada di dalam pesta itu, apa lagi sepasang mata yang selalu mengawasinya dari tadi.
"Kita pulang saja, kalau begitu, ucap Rafa cepat, tak ingin terjadi apa pun pada sang kekasih.
"Aku baik-baik saja sayang, sedikit pusing bukan berarti aku sudah tidak kuat, ucap Celi yang menolak Rafa halus.
" Tapi..
"Ayolah sayang, jangan hawatir, ini hanya sakit kepala ringan, dan lagi ngak enak kalau kita langsung pulang, Lili akan kecewa pada kita, ucap Celi yang masih tidak ingin pulang.
Rafa pun mengalah, tak ingin memaksa Celi, toh memang mereka masih sebentar berada di pesta itu, jadi barang sebentar lagi tak masalah pikirnya.
" Ya sudah, kalau masih tak ingin pulang, tapi kalau makib sakit kamu, harus cepat bilang, karena aku tak ingin kamu kenapa-napa, ucap Rafa serius.
"Ok sayang, sahut Celi tersenyum tipis, dan menggandeng lengan Rafa mesrah.
Namun saat mereka berjalan, hendak bergabung dengan para tamu yang sebagian rekan bisnis sang kekasih, sepasang mata itu mengikuti langkan mereka, bahkan tatapannya tak lepas dari Celi.
Celi yang melihat tatapan seseorang itu, menjadi tak nyaman, dan ia pun pamit pada Rafa pergi bergabung dengan para temannya.
Rafa pun mengizinkan Celi bergabung dengan sahabat-sahabatnya.
Saat Celi bersenda gurau, dengan teman-temannya, tak sengaja ia menoleh saat tangan seseorang menyenggol lengannya, hingga tatapan mereka pun bertemu.
Deg
__ADS_1
Celi melihat tatapan itu, sama seperti tatapan waktu mereka bertemu, namun ia sadar keadaan saat ini sudah tidak lagi seperti di masa yang sudah lalu.
Sesaat Celi mengabaikan gurauan para sahabatnya itu, dan ia terlihat melamun, mengapa harus muncul di saat yang sudah tidak tepat, pikirnya.
Lamunan Celi pun buyar saat suara tawa temannya yang cukup kencang, hingga Celi menyadari ia hampir saja larut dalam pikirannya.
Rafa yang merasa sudah bosan, berniat untuk mengajak Celi pulang, dan Rafa harus menyiapkan keberangkatannya besok, ke negara xx, dan ia harus cukup istirahat, karena besok adalah hari yang akan melelahkan baginya.
Saat Rafa mengjampiri Celi, bertepatan tatapan Celi bertemu lagi dengan tatapan seseorang yang membuat ia tak nyaman, hingga ia tak sadar Rafa sudah berdiri di sampingnya.
Celi terkejut saat Rafa meraih pingganh rampingnya, dan hal itu membuat seseorang mengepalkan tangannya.
"Apa kita sudah mau pulang?? tanya Celi menampilkan senyum paksa, menghilangkan keterkejutannya.
"Ya, kamu tahu kan, besok aku akan ke kota xx, dan masih ada yang harus ku selesaikan sebelum berangkat, dan aku harus istirahat, karena besok akan sangat melelahkan, ucap Rafa menghela nafasnya berat, seolah tak ingin jauh dari sang kekasih, tapi ia tak ingin egois karena tanggung jawabnya sebagai Ceo.
" Baiklah, kita pulang sekarang, dan jangan hawatir aku akan baik-baik saja, ucap Celi yang paham dengan helaan nafas berat Rafa, yang berat meninggalkannya.
Saat mereka sudah tiba di parkiran mobil, sebelum Celi masuk, lagi dan lagi tatapan yang menganggunya pikiran dan hatinya sejak tadi, menatap sendu ke arahnya, namun Celi langsung cepat masuk ke dalam mobil tak ingin Rafa curiga padanya.
Mobil pun berjalan setelah Celi menutup rapat pintu mobil itu, dan ia masih melihat seseorang berdiri melihat kepergiannya bersama Rafa.
Sepanjang jalan, Celi hanya diam, Rafa mengira diamnya Celi karena kelelahan, jadi tak ada niat untuk mengajak bicara, dan membiarkan Celi nyaman sampai mereka tiba.
Tak lama mereka pun sudah sampai di rumah Celi.
Celi pun turun setelah Rafa mengecup keningnya dalam, sungguh Rafa merasakan perasaannya lain, seolah tak ingin jauh dari Celi, namun ia menipis perasaan itu, dan merasa hanya bawaan ia akan pergi besok.
" Istirahatlah, dan besok aku berangkat cukup pagi, tak perlu mengantarku, dan tentunya aku akan sangat merindukanmu, ucap Rafa mengenggam erat tangan Celi.
"Baiklah, aku akan menunggumu pulang, dan hati-hati, aku mrncintaimu, ucap Celi lembut mencium singkat bibir Rafa.
__ADS_1
Celi pun keluar dari mobil Rafa, dan ia pun melambaikan tangannya, saat mobil Rafa melaju dan meninggalkan halaman mansionnya.
Celi pun masuk, dan ia langsung menuju kamarnya.
Celi yang merasakan pikirannya semakin tak tenang, hingga bayang-bayang tatapan mata seseorang tadi masih melekat di pikirannya, memilih masuk ke kamar mandi, mengisi bathub dengan air hangat dan ia pun berendam sejenak, bermaksud menghilangkan bayang-bayang itu dari benaknya.
Rafa yang sudah sampai di mansionnya pun, merasa gelisah, seolah ada yang janggal, namun ia tak tahu apa itu, hingga ia sangat sulit untuk memejamkan matanya.
Padahal tadi ia berpikir untuk cukup istirahat, agar tidak terlalu lelah saat tiba di negara xx, malah jadi tidak bisa tidur.
Rafa pun mengambil foto Celi yang terletak tidak jauh di sisi ranjangnya, ia menatap foto itu, tersenyum, dan pikirannya pun berkelana sejenak, dan terbersit di benaknya, setelah ia pulang dari negara xx, ia akan mengatakan pada momy dan dady nya, akan melamar Celi, dan tentunya memberi sang kekasih kejutan, membuat momen yang akan mereka kenang kelak.
Akhirnya Rafa pun tertidur, dengan sejuta harapannya dan memeluk erat foto Celi dan terlihat damai.
Sementara Celi yang baru selesai dari berendam air hangat, ia pun menaiki ranjangnya.
Pikirannya yang lelah, perasaannya yang dilema, membuat ia tertidur dalam posisi kaki menggantung di sisi ranjangnya.
Sementara Rian harus menunda malam pertamanya, karena sang istri yang merengek minta tidur bersama ibunya, karena besok ayah dan ibunya serta kerabat dekat mereka akan pulang ke desa, hingga Rian tak bisa menolak permintaan sang istri.
Rian tak ingin egois, ia tahu istrinya sudah lama tidak bertemu dengan ibu dan ayah mertuanya, di tambah lagi mereka akan berangkat besok ke negara S untuk hanymoon, hadiah yang di berikan Rafa untuk pernikahaan mereka.
Akhirnya jadilah Rian hanya peluk bantal guling karena sang istri tak ada di sampingnya.
Sabar ya bang Rian, belum bisa buka gudang, heheheee.
Next
Jangan lupa jejaknya ya Guys.
Salam Arthor.
__ADS_1